
Beberapa jam kemudian pekerjaan Raya telah selesai, ia benar-benar tak kenal lelah dalam mengerjakan tugasnya,
istirahat hanya ia gunakan untuk sholat magrib dan isyak, selebihnya ia hanya minum dari botol minumnya, kemudian melanjutkan sampai selesai. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, Raya mematikan laptopnya setelah menyimpan semua file dalam folder-folder yang rapi di buatnya, sehingga esok ia hanya tinggal mengeprint saja. Wanita itu merenggangkan otot-otot tubuhnya ke kanan dan ke kiri, setelah itu merapikan mejanya, meraih tasnya dan melangkah mematikan lampu. Ia melangkah tenang keluar ruangannya dan menghampiri ruang Asisten Je,
mengecek apa pria Srigala itu sudah pulang. Tampak lampu di ruang CEO Alvero telah padam menandakan penghuninya sudah pulang, sementara lampu di ruangan Asisten Je masih terang benderang.
Tok
Tok
“Masuk” Seru suara di dalam. Raya memasuki ruangan yang terlihat sudah rapi dan penghuninya sepertinya juga sudah siap untuk pulang. Raya tersenyum senang, akhirnya…bisa pulang juga.
“Kenapa kamu tersenyum? Mau tebar pesona, jangan harap ya!” Tegur Asisten Je tajam. Raya tersentak kemudian
merubah ekspresi wajahnya menjadi kesal.
“Tidak Tuan, tugas saya sudah selesai, saya mohon pamit pulang dulu” Pamitnya sopan.
“Siapa yang menyuruhmu pulang duluan?” Kata pria itu dengan seringai di bibirnya. Raya mendelik tak percaya.
“Tapi Tuan…”
“Tidak baik wanita pulang sendiri malam-malam, aku memberi tumpangan gratis padamu malam ini” Kata Asisten Je santai. Raya kembali membelalakkan matanya.
“Maksudnya Tuan?” Tanyanya bingung.
“Kamu bareng dengan saya, kurang baik apa atasan seperti ku mengantar bawahannya” Ucapnya ketus menyembunyikan aura senang di hatinya. Ah…gengsi amat sih Je…Je. Seru hatinya yang lain.
“Saya bisa pulang sendiri Tuan” Tolak Raya halus.
“Sudah, jangan suka membantah atasan!” Tegurnya tajam. Mereka melangkah beriringan menuju ke lift khusus pimpinan.
“Kenapa kamu menjauh di belakangku? Kau tidak suka berjalan dengan ku?” Tanya Asisten Je seraya menoleh ke arah Raya dengan tatapan intimidasi.
“Ah…bukan Tuan, saya merasa tidak pantas, e..saya pakai lift karyawan saja Tuan” Raya menyudahi pembicaraan
dengan melangkah ke lift karyawan, saat akan memencet tombol terdengar deheman keras di sampingnya.
“Segitu antinya kamu terhadap atasanmu hingga kamu tidak mau satu lift?!” Kata-kata Asisten Je terdengar sangat
menusuk.
“Bu…bukan begitu Tuan…”
“Masuk!” Perintah pria tinggi tegap itu dengan menahan lift khusus pimpinan agar tidak menutup. Mau tidak mau Raya akhirnya melangkah masuk ke lift dan berdua turun bersama. Tidak ada pembicaraan lagi sampai mereka tiba di tempat parkir. Raya hendak meraih pintu belakang namun deheman keras mengurungkan niatnya, hingga ia beralih membuka pintu depan dekat supir dan memasukinya dalam diam. Bagaimana ia akan menjenguk anaknya Pak Malik kalau begini? Tidak mungkin kan dia minta antar ke rumah sakit. Hah…gampanglah itu bisa di atur.
Mereka sampai di rumah Raya tanpa percakapan lagi dan setelah Raya turun Asisten Je langsung melajukan mobilnya menuju ke blok perumahannya.
__ADS_1
“Huh, dasar balok, arogan, Srigala!” Umpatnya kesal.
“Siapa yang Srigala ma?” Tanya suara di belakangnya membuat Raya terjingkat kaget.
“Ma syaa Allah Kak Tita, ngagetin mama aja deh, lho kakak dari mana? Ini sudah malam lho…” Raya memicingkan mata curiga dengan kedua tangan mendekap dada karena ekspresi terkejut tadi.
“Yee mama main curigaan aja, Hanum nggak mau pulang dari rumah eyang, sekarang malah tidur lagi, katanya bosan di rumah nunggu mama nggak pulang-pulang” Gerutu Titatia. Raya tersenyum lebar.
“Hmmmm, iya maafin mama ya sayang, tadi lembur lagi, mama nggak sempat kasih kabar, lagian mama tadi ngurusin anaknya Pak Malik yang kecelakaan di rumah sakit, jadi mama harus mengganti jam kerjanya” Kata Raya seraya merangkul putri sulungnya untuk masuk ke dalam rumah.
“Gimana ceritanya mam?” Tanya Titania penasaran.
“Mama belum tanya detail Pak Malik tadi, keburu kembali ke kantor, eh adek dijemput nggak yah.”
“Mama nggak kepingin mandi dulu? Bau ma” Ledek Titania seraya menutup hidungnya. Raya langsung mengendus bau tubuhnya di iringi tawa putrinya yang langsung menghambur ke kamarnya.
“Kakak…awas ya sudah goda-goda mama” Raya menggelengkan kepala mendengar tawa Titania yang berderai. Putri sulungnya itu jarang sekali tertawa, tersenyum pun hanya terbatas pada orang yang dia kenal akrab, jadi Raya hanya mendiamkan saja tingkah putrinya itu.
Setelah mandi dan berganti pakaian Raya bermaksud menjemput Hanum di rumah Bu Nanik, ia selalu sungkan gadis kecil itu akan membuat keributan dan menyusahkan dua wanita tua di rumah itu. Setelah berbasa basi sebentar dengan Bu Nanik dan Bu Arumi Raya menggendong Hanum untuk dibawa pulang dan di tidurkan di kamarnya. Setelah itu ia melihat ke kamar Titania sebentar karena lampu di kamar gadis itu masih menyala terang.
Tok
Tok
Raya membuka pintu dan mendapati gadis muda itu masih duduk anteng di meja belajarnya.
“Iya nih ma, Tita beresin proposal olim dulu”
“Wah ada olim apalagi nih? Dimana?” Kalau sudah mendengar kata olimpiade, telinga dan hati Raya langsung berdengung dan berdesir. Karena pasti lokasinya di luar kota yang di takutkan di luar negeri lagi. Dulu waktu olimpiade Fisika di Canada saja Raya memutuskan mengantar sendiri putrinya, waktu itu Hanum masih 6 bulan di kandungan Raya dan yang pasti kekhawatiran sang suami Revian tidak ketinggalan. Akhirnya, acara olimpiade sekolah malah menjadi ajang liburan keluarga.
“Hanya Jakarta ma”
“Oh, di dampingi guru kan?” Titania mengangguk.
“Tita sama Amanda, Felix dan Pak Dhani selaku guru pembimbing ma” Jelas Titania.
“Perlu mama temani?” Titania menoleh gerah ke arah mamanya yang sudah pasang mode khawatir.
“Ma…ini hanya Jakarta, lagian daddy nanti yang jemput dan tinggal di mansion”
“Jadi daddy sudah tahu duluan?” Tanya Raya sedikit kecewa, putri sulungnya memberi tahu informasi ini duluan kepada mantan suami pertamanya.
“Mama….” Titania langsung bangkit dan menabrak tubuh Raya dan memeluknya erat. Ia takut menyinggung perasaan wanita yang sudah merawat dan membesarkannya dengan perjuangan yang ia tahu sangat berat. Dulu ia sering merasa sakit hati mendengar cacian tetangga yang mengatakan mamanya seorang janda penggoda. Dan itu membuat perasaan Titania sangat lebih sayang kepada mamanya.
“Hmm, ya sudah mama lega kalau ada yang mengawasi dan menjagamu” Kata Raya pelan.
“Mama jangan marah” Raya sangat terkejut mendapati putrinya tersedu pelan di pelukannya. Di renggangkannya
__ADS_1
pelukannya sehingga ia bisa menatap wajah putrinya yang bersimbah air mata.
“Hei…mama nggak marah kok, kakak bisa berangkat olim dengan tenang, mama juga merasa tenang kakak di Jakarta karena ada daddy yang menjagamu, sudah jangan nangis dong…” Raya menghapus air mata yang
mengalir di pipi Titania kemudian mencium keningnya sayang.
“Dah, segera selesaikan terus langsung tidur, apa perlu mama bantu?” Titania menggeleng.
“Sudah selesai kok ma, tinggal menyimpan aja, maafin Tita ya ma” Gadis muda itu kembali memeluk mamanya erat.
“Iya…dah, putri mama yang cantik, selamat tidur” Raya mengelus kepala putrinya sayang kemudian beranjak keluar
dari kamar putrinya menuju ke kamarnya.
Raya mencari nama seseorang di data kontak telponnya kemudian segera mendialnya, pada deringan ketiga nomor itu langsung tersambung.
“Hallo Assalamu’alaikum Ra, lama sekali gak ada kabarnya nih, gimana juga kabar anak-anak Ra? Bagaimana kalian di Malang?” Berondong suara lembut di seberang sana membuat Raya langsung tersenyum kikuk.
“Wa’alaikumussalam, kami sehat semua Mbak Hanna, bagaimana kabar mbak dan keluarga?” Jawab Raya dengan ramah.
“Alhamdulillah kami juga baik Ra, oh ya Ra mama sama papa juga rindu banget lho sama kalian, empat bulan ini rasanya kalian menghilang tanpa kabar”
“Iya mbak, maaf, Raya langsung dapat kerja di sini dan langsung sibuk padat mbak, jadi nggak bisa berkirim-kirim
kabar”
“Oh gitu, yang penting jaga kesehatanmu dan anak-anak Ra.”
“Iya mbak…” Raya terdiam sejenak sampai suara Hanna kembali terdengar.
“Ra…ada yang mau disampaikan?” Tanya Hanna.
“”Eh…iya mbak, apa Tita sudah kasih kabar kalau akan ada even olim di Jakarta?” Tanya Raya hati-hati. Ia takut
menyinggung perasaan istri mantan suami pertamanya, malah dikira ia nanti yang ingin mencari perhatian. Sejak perpisahan mereka dulu, mereka sepakat mengikrarkan diri menjadi kakak adik jadi tidak mungkin ada hubungan special lagi antara mereka. Hanna pun juga merupakan wanita yang sangat perhatian dan penuh kasih sayang terhadap keluarga kecilnya.
“Iya Ra, Mas Ervin sudah bilang tadi pagi, kamu jangan khawatir ya Tita akan aman di sini, kamu fokus aja sama job kamu” Kata Hanna menenangkan kegelisahannya. Raya tersenyum miris.
“Iya mbak, aku titip Tita ya” Ada suara sumbang di nada bicaranya.
“Hei Ra, kayak sama siapa aja sih kamu, tenang aja, Mas Ervin pasti tidak akan mengijinkan Tita menginap di hotel
yang disediakan pihak manajemen olim, kamu tenang ya…” Hanna pasti paham sekali dengan kekhawatiran seorang ibu yang akan jauh dari putrinya walaupun hanya berlangsung selama 1 minggu.
“Iya mbak, terima kasih ya, salam sama semuanya ya mbak, Raya tutup dulu, Assalamu’alaikum”
“Oke Raya sayang, wa’alaikumussalam”
__ADS_1
Sambungan terputus dengan helaan nafas ringan dari Raya. Ia yakin dengan pasti daddynya Tita tidak akan membiarkan gadis muda itu bergerak sendiri.