Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 81 Aku kan bisa memberi kekuatan padanya


__ADS_3

Namun Raya mengakui ia merasa terbantu dengan keberadaan Asisten Je. Biasanya ada prosedur administrasi saat masuk dan keluar dari rumah sakit. Dia bahkan kadang harus mengantre untuk menebus obat sebelum keluar. Tapi kini, semuanya dengan mudah bisa diselesaikan oleh suaminya.


“Terima kasih dokter”


“Sama-sama Nyonya, kami permisi dulu Tuan” Pamit direktur rumah sakit. Asisten Je hanya mengangguk datar.


Raya dibantu oleh Titania mengemasi barang-barang Hanum kemudian memasukkannya ke dalam tas.


“Biar Lani dan Leon yang urus, kita langsung pulang saja” Perintah Asisten Je yang berdiri perlahan kemudian menuju pintu. Dengan cepat Leon dan Lani langsung tanggap dan mengemasi serta membawa semua barang yang ada di ruang rawat Hanum.


Dengan cepat pula mereka bergegas menuju ke mobil untuk memprsiapkan semuanya. Ketika Asisten Je yang masih menggendong Hanum dengan Raya berjalan di sampingnya menggandeng tangan Titania, mobil sudah siap di depan lobby Permata Hospital. Sementara Victor mengikuti di belakang mereka dengan setia.


Victor membukakan pintu untuk atasannya.


“Silahkan Tuan, Nyonya, Nona Muda” Victor mempersilahkan dengan membungkuk hormat.


“Jangan terlalu formal Tuan” Titania berdecih kesal. Dia paling tidak suka kalau dipanggil dengan embel-embel nona muda.


“Panggil saya Victor Nona Mu…”


“Namaku Titania, bukan Nona Muda!” Judes Titania seraya masuk ke dalam mobil dengan kesal. Victor menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya melirik keberadaan atasannya. Laki-laki yang dilirik hanya memandang datar.


“Dia lebih suka dipanggil Tita” Pesan Raya pada Victor pelan. Laki-laki tinggi kekar itu mengangguk seraya tersenyum.


“Kamu punya nomornya Nona Meili?” Tanya Asisten Je ketika sudah duduk di mobil, masih dengan memangku Hanum. Raya tidak enak melihatnya.


“Hanum tidak berat?” Bukannya menjawab, Raya malah bertanya tidak enak hati.

__ADS_1


“Tidak, telponlah Nona Meili, katakan kalau kita sudah pulang. Nona Meili sedang menunggu proses lahiran”


“Apa? Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?” Protes Raya panik.


“Gimana aku bilang, kamu sudah panik dengan keadaan Hanum” Jawab Asisten Je.


“Ah, iya maaf, Kak Meili ada di rumah sakit mana?”


“Permata Hospital”


“What? Dan kamu baru bilang sekarang? Aku kan bisa memberi kekuatan padanya tadi” Katanya menyesal.


“Makanya kamu telpon…”


“Diam! Aku tahu” Bentak Raya frustasi. Nona Meili istri dari CEO tempatnya bekerja yang sudah sangat baik padanya dan anak-anak. Kemanapun Nona Meili ingin pergi keluar entah itu belanja atau sekedar hang out pasti Raya akan diajak dan tidak ketinggalan anak-anak selalu ikut. Hubungan anak-anak mereka juga sangat akrab, bahkan Maudy sangat menyayangi Hanum.


Leon yang duduk di depan menahan tawa saling lirik dengan kembarannya, karena baru kali ini ada seseorang yang berani membentak seorang Asisten Je, dan laki-laki itu hanya diam.


Leon gelagapan kemudian menggeleng kuat.


“Maaf Tuan” ucapnya dengan nada menyesal.


“Huh…arogan” Lirih Titania masih terdengar di dalam mobil, Asisten Je hanya menatap datar ke arah gadis itu.


“Kenapa Kak Meili nggak bisa dihubungi sih” Gerutu Raya. Berkali-kali nada berdering berbunyi tapi tidak di angkat sekalipun. Ia berpikiran saat ini Nona Meili pasti sedang berjuang melahirkan. Ia berdoa dalam hati, semoga kelahirannya lancar dan ibu serta bayinya selamat sehat wal afiat.


“Setelah mengantar kalian, aku akan menemani Tuan Muda dulu”

__ADS_1


“Sampaikan salamku pada Kak Meili, aku akan mengunjunginya besok” Asisten Je mengangguk.


Asisten Je sampai di Permata Hospital dan langsung menuju ruangan di mana Nona Meili sedang proses melahirkan. Ia diantar oleh dokter jaga yang kebetulan melihat kehadiran laki-laki dingin itu.


Sampai di depan ruang bersalin ada Antoni yang menggantikannya menemani keseharian dan kesibukan selama ia melakukan audit. Laki-laki keturunan Cina itu berdiri menyambut Asisten Je.


“Gimana perkembangannya?” Tanya Asisten Je tetap dengan wajah andalannya walaupun dalam hatinya sedang gelisah.


“Masih belum ada penjelasan dari dalam, dokter masih menangani di dalam, sudah satu jam di dalam”


“Hemm” Asisten Je hanya berdehem kemudian berdiri di sebelah pintu ruangan bersalin, bersandar di dinding.


Di dalam ruangan Nona Meili ditemani oleh Tuan Alvero, sudah sejak semalam saat masuk ruang bersalin Tuan Alvero tidak pernah meninggalkan istrinya barang sedetikpun.


Suara tangis bayi pecah dan nyaring terdengar sampai ke luar ruangan bersalin. Tampak Asisten Je dan Antoni yang menunggu di ruang tunggu itu bernafas dengan lega.


Oeeee!


Oeeee!


Suara yang dinantikan bukan hanya oleh keluarga Tuan Alvero, namun semua orang yang berhubungan dengan nama besar Tuan Muda Alvero juga ikut menantikan.


Tampak dari kejauhan Tuan Besar Hardi dan Nyonya Besar Laras berlari kecil menuju ke arah Asisten Je dan Antoni berada. Kedua orang itu menunduk hormat sebagai salam.


“Bagaimana keadaan menantuku?” Tanya Laras.


“Alhamdulillah, sudah lahiran nyonya” Jawab Asisten Je sopan.

__ADS_1


“Syukur alhamdulillah” Laras menangkupkan kedua tangannya di dada.


TBC


__ADS_2