
Semua hidangan sarapan telah tersaji di meja makan, ada capjay, sosis panggang, daging lapis, dan tak ketinggalan gorengan tahu tempe.
Bu Arumi membersihkan semua perlengkapan dapur baru kemudian beranjak menuju kamar Hanum untuk memastikan anak itu sudah selesai dengan perlengkapan sekolahnya. Padahal Raya meminta Hanum untuk istirahat, tapi gadis itu kekeh minta masuk sekolah, katanya ia sudah kangen bertemu teman-temannya.
Sarapan pagi berlalu dengan khidmat, Bu Arumi pun telah menyiapkan bekal makan siang untuk Titania dan Hanum. Waktu menunjukkan pukul 06.30, waktunya anak-anaknya berangkat sekolah. Karena Titania sudah mulai masuk sekolah dan jarak sekolah dengan rumah jauh, jadi Pak Malik yang mengantar jemput Titania, tentu mengantar Hanum dan Bu Arumi dulu ke TK Pandu Wiyata.
Raya sudah siap dengan setelah pakaian kerja muslimah yang modis, tentu tetap menutup aurat dan tidak press body ya. Ia menunggu jemputan suaminya di teras, ia yakin pasti laki-laki itu akan cemberut sampai siang bahkan sampai malam lagi. Raya hanya menggeleng.
Tin tin
Tuh kan, belum lima menit Raya menunggu, suaminya sudah jemput saja. Raya melangkah mendekati mobil suaminya sambil menenteng paper bag berisi bekal makan suaminya. Benar kan, ngambek. Tidak turun, tidak membukakan pintu, tidak menoleh, tidak tersenyum.
Raya memasuki mobil dengan senyum-senyum lucu.
“Tuh bibir kenapa pak?” Goda Raya.
Asisten Je tidak menjawab hanya mendengus. Raya tergelak.
Saat terbangun tadi Asisten Je meraba-raba tempat di sampingnya, kosong, dengan cemas ia berusaha mencari keberadaan istrinya di sekitar kamar dan dapur. Ia baru sadar kalau Raya pulang ke rumahnya ketika menuju pintu depan yang dalam keadaan tidak terkunci.
“Duh duh, ternyata seorang asisten bisa ambekan juga ya” Goda Raya lagi seraya menoel dagu suaminya.
“Jauh-jauh sana!” Asisten Je masih dalam mode cemberut, namun tak urung telinganya memerah menerima perlakuan istrinya yang menoel dagunya.
__ADS_1
“Beneran boleh menjauh” Tantang Raya bersiap membuka pintu mobil yang dalam keadaan melaju di jalan raya.
Asisten Je terkejut kemudian menoleh, tangannya meraih lengan istrinya.
“Ya jangan lah” Kata laki-laki itu cemas. Raya tersenyum.
“Senyum dong, jelek lho kalau cemberut gitu, jadi ilang tampannya, aku mana mau punya suami jelek” Goda Raya lebih lanjut.
“Iya-iya, nih” Asisten Je tersenyum tapi cuma sebentar, setelah itu wajahnya kembali datar.
“Gak ikhlas ih, senyum tuh gini sayang…” Raya memberikan senyum terbaiknya pada suaminya, tubuhnya diposisikan menghadap suaminya. Laki-laki itu melirik gengsi.
“Berhenti tersenyum, itu hanya berlaku di depanku” Kata Asisten Je dengan nada lembut.
“Jangan ulangi lagi tahu, aku khawatir tadi pas bangun kamu udah gak ada di sisiku” Rajuknya.
“Iya maaf, lagian kalau anak-anak tanya aku mau jawab apa coba”
“Makanya segera pindah ke rumahku” Asisten Je menoleh sejenak. Raya memandang ke dapan.
“Titania sudah remaja, aku masih bingung nyampaikannya, kalau Hanum, dia bisa sih diajak ngobrol baik-baik”
“Apa perlu aku turun tangan?”
__ADS_1
“Eh…jangan-jangan, itu biar jadi urusanku, aku janji nggak akan lama, sabar dulu ya?” Raya memegang lengan kiri suaminya dengan kedua tangannya membuat senyum laki-laki itu langsung mengembang.
“Jangan lama-lama, aku nggak bisa berjauhan terus sama kamu” Rajuknya seraya mengambil jemari istrinya dan disatukan dengan jemarinya kemudian di bawanya ke bibirnya untuk dikecup.
“Rasanya aku sudah kecanduan deh sama tubuhmu” Kata Asisten Je menoleh ke istrinya.
“Emang aku ganja apa sampai bikin kecanduan segala” Cemberut Raya.
Asisten Je tertawa dan kembali menarik jemari sang istri yang masih tertaut dengan jemarinya dan dicium cium terus.
“Kamu bukan ganja sayang, tapi tubuhmu mengeluarkan aroma yang harum khasnya hingga aku nggak mau jauh-jauh dari kamu” Rayu Asisten Je tersenyum.
“Heleh dulu saja siapa yang bilang, nggak usah deket-deket, sentuh-sentuh, manja-manja, sekarang siapa juga yang deket-deket, sentuh-sentuh, manja-manja” Ejek Raya.
Asisten Je tersenyum malu tetap menyatukan jemari mereka.
“Iya-iya, tapi aku deket-deket, sentuh-sentuh, manja-manja kan cuma sama kamu baby…”
“Ish, aku bukan bayi, geli tahu di panggil baby…”
“Kamu itu imut sayang, wajahmu tuh tipe baby face, jadi selalu terlihat kayak bayi, jadi gemesin…” Asisten Je kembali membawa jemari Raya dan menciuminya.
TBC
__ADS_1