
“Tita, sayang bukankan itu Tita?” Asisten Je melihat sekumpulan anak remaja masih berpakaian seragam abu- abu keluar dari café warna warni. Tampak Titania bersama para remaja yang didominasi cowok sedang menunggu di pinggir jalan. Rupanya mereka memperdebatkan sesuatu, karena terlihat sekali seorang gadis yang bersama Titatia berbicara sambil melotot.
Asisten Je membelokkan mobilnya dan berhenti tepat di sebelah Titania. Gadis itu sampai terjingkat kaget dan lebih kaget lagi saat yang keluar dari kursi penumpang adalah Raya mamanya. Raut muka gadis itu mendadak gugup.
“Tita kok ada di sini?” Tanya Raya menatap heran putrinya. Titania hendak menjawab tapi pandangannya bergulir pada sosok yang keluar dari pintu sisi kanan.
“Mama kok sama dia?” Bukannya menjawab Titania malah balik bertanya. Raya menghela nafas pelan.
“Sayang, mama ada janji bersama teman-teman tadi di ocean dan bertemu dengan Tuan Je, jadi mama bareng” Jawab Raya tidak sepenuhnya berbohong. Ia memang kan tadi berkumpul sama teman-temannya.
“Apa kakak juga ada acara ini, kok jam segini sudah di sini?” Raya memindai semua teman Titania, hanya ada satu cewek sisanya cowok semua.
“Tita hanya sama Manda ma, mereka aja yang nguntit kami” Jawab Titania seraya melirik tajam ke arah mereka. Yang di lirik langsung gelagapan merasa bersalah.
“Tante, maaf saya Gery teman sekelas Tita dan Amanda, kami tadi pulang awal karena guru-guru sedang ada rapat, jadi saya dan teman-teman mengawal mereka berdua tante” Jelas Gery sopan.
“Pulang awal? Ya sudah, kakak mau bareng sama mama? Manda ada yang jemput atau..?” Tawar Raya. Gadis itu menggeleng tersenyum kikuk.
“Saya diantar jemput kok tante” Kata Amanda tersenyum.
“Baiklah, kita pulang kak?” Raya mengajak Titania tanpa berusaha menghakimi atau menyalahkan putrinya di depan teman-temannya. Titania mengangguk kemudian melambai pada Amanda, ia masuk ke kursi belakang. Raya dan Asisten Je juga berpamitan sopan pada remaja-remaja itu. Sementara Lani dan Leon menaiki mobil milik Leon sendiri yang langsung meluncur ke rumah.
“Maaf” lirih Titania dari belakang setelah mobil meluncur kembali di jalan raya.
Raya mencondongkan tubuhnya ke samping untuk menoleh ke arah putrinya, sementara Asisten Je hanya melirik sekilas dari kaca spion.
“Maaf untuk apa kak?” Masih posisi menatap putrinya.
Titania menunduk, “Harusnya kakak pulang saat pulang awal, tapi kakak malah main”
Raya tersenyum lembut mendapati putrinya mempunyai inisitaif meminta maaf dan mengetahui kesalahannya. Raya tidak pernah memarahi kedua putrinya jika mereka salah tapi lebih memberi pengertian bahwa perbuatan yang mereka lakukan bisa merugikan orang lain di sekitarnya.
__ADS_1
“Main juga perlu kok kalau tidak mengganggu kewajiban kakak, kakak boleh main sama siapa saja asalkan kakak bisa menjaga diri dengan baik dan tentu saja ijin” Kata Raya dengan intonasi yang pelan dan sabar.
Titania gadis yang dalam masa pertumbuhan, ia mulai mengenal bagaimana berteman dengan banyak orang dan lawan jenis. Tidak menutup kemungkinan nanti akan muncul rasa suka di hati Titania untuk lawan jenisnya. Untuk mengantisipasi itu Raya harus bisa menerapkan dan menekankan pergaulan aman sejak dini.
“Iya ma kakak ngerti, kakak di maafin kan?” Tanyanya masih belum lega karena Raya belum memaafkan secara langsung.
Raya tersenyum mengangguk, tangannya terulur ke hadapan Titania dan disambut dengan kedua tangan Titania lalu di bawa untuk diciumnya.
“Iya sayang, mama maafin kok”
Titania melepaskan tangan mamanya dengan tersenyum senang.
Asisten Je yang dari tadi mendengar percakapan ibu dan anak itu hanya bisa diam, ia belum pernah berpengalaman menjadi seorang ayah, jadi ia hanya bisa diam menyimak.
Sampai di depan rumah Raya, Titania pamit turun dulu lalu langsung masuk rumah.
“Jangan marah-marah” Tegur Asisten Je mengambil tangan kanan Raya, digenggamnya lembut.
“Iya, sekarang sudah nggak pernah kok” Akunya yang tentunya bohong sih. Haha. Tetap aja sama bawahan yang lain Asisten Je masih suka ngegas.
“Percaya kok” Kata Raya dengan ekspresi menggoda. Asisten Je meremas lembut jemari Raya.
“Jangan mulai ya, ntar si Mylano bangkit lagi…”
“Uuuhhh, ndak kuat…” Raya semakin menggoda suaminya seraya melepas jemarinya dan bergegas turun. Tidak dihiraukannya geraman ringan suaminya, ia malah tertawa menjauhi mobil. Sebelum masuk rumah ia berbalik sejenak dan mengucapkan I love you tanpa suara membuat Asisten Je mengerut tak paham.
“Apa sih?” Asisten Je menatap gemas istrinya namun istrinya itu hanya angkat bahu dan berbalik cepat, sepertinya sedang dalam mode kesal. Merasa tidak melakukan kesalahan yang memicu kekesalan istrinya Asisten Je melaju pelan menuju rumahnya sendiri.
Setelah selesai membersihkan diri Raya menghampiri Hanum yang sedang bermain di ruang tengah bersama Bu Arumi. Gadis kecil itu langsung berlari memeluk Raya begitu melihat kehadiran mamanya itu.
Gadis kecil itu menuntun mamanya untuk ikut duduk di karpet tebal ruang tengah. Terdapat buku gambar dan pensil warna yang pernah di belikan oleh Asisten Je di sana. Tampak gambaran Hanum yang mulai terlihat bagus dengan aplikasi warna yang lebih hidup.
__ADS_1
“Mama lihat warnaku, bagus tidak?”
Raya memegang buku gambar di tangannya dan lihatnya gambar itu dengan seksama, jari telunjuk dan jempolnya bergerak mengapit dagunya seolah berpikir keras. Sebenarnya ia hanya ingin menggoda Hanum agar gadis kecil itu penasaran. Dan benar saja…
“Jelek ya ma? Mama kok lama amat lihatnya?” Wajah gadis kecil itu sudah menatap sendu bahkan sudah bereaksi akan menangis. Raya tertawa lepas karena berhasil menggoda putrinya itu, dengan gemas di angkatnya Hanum ke pangkuannya dan diciumnya pipinya berulang-ulang.
“Kata siapa gambar adek jelek, ini malah sangat bagus, lihat warna gradasi pada langit yang adek buat, ini tampak ada semburat merah yang menandakan langit mulai senja. Adek kok pinter banget sih pilih warnanya” Puji Raya membuat Hanum tersipu malu tapi hatinya berbunga-bunga bahagia.
“Terima kasih mama, mama tahu nggak Nenek Rumi pinter lho menggambar dan mewarna, adek di ajarin sama Nenek Rumi” Aku Hanum tersenyum.
“O ya, Bu Arumi punya bakat terpendam nih berarti” Kata Raya seraya menoleh ke arah Bu Arumi. Wanita itu hanya tersenyum malu.
“Biasa saja kok nak” Jawab Bu Arumi tersenyum seraya menggeleng pelan.
“Saya pernah lho lihat ada kertas di meja dapur yang berisi sketsa baju, itu punya Bu Arumi kah? Maaf ya, Raya sengaja menyimpannya di kamar Raya, maunya Raya melihatnya dulu trus di buat gaunnya gitu, itu bagus banget lho Bu Arumi”
“Ah…itu hanya coret-coret iseng-iseng saja kok nak”
“Ibu sudah lama bisa mendesain baju?” Raya bertanya seraya meminta Hanum untuk kembali mewarnai gambar yang belum selesai.
“Sebenarnya sebelum ke luar negeri ibu dulu bekerja di Boutiq Santika di Balikpapan, ibu sebagai desaignernya, pemilik butik itu adalah teman ibu, jadi bisa dikatakan ibu dan teman ibu itu kerja sama. Tapi setelah ibu berpisah dengan suami ibu, ibu langsung pergi meninggalkan Indonesia. Sebenarnya ibu tidak sanggup meninggalkannya seorang diri, tapi ibu terpaksa harus mencari uang untuk kebutuhan kami nantinya.” Cerita Bu Arumi panjang lebar, ada setitik air yang hampir menetes di pelupuk matanya.
Raya mengambil tangan Bu Arumi kemudian digenggam nya lembut, ia merasa bersalah membuka kembali luka lama wanita baya itu.
“Maafkan Raya ya bu, maaf karena tidak tahu bagaimana masa lalu ibu”
“Tidak apa Nak Raya, ibu memang harus mengikhlaskan mulai sekarang, makanya setelah kembali dari luar negeri ibu bermaksud mengunjungi mantan suami ibu dan putri ibu, tapi ternyata mereka sudah tidak tinggal di rumah lama itu lagi. Dan… anak ibu satunya yang ibu titipkan di panti asuhan juga sudah tidak ada di sana, jadi rasanya semangat ibu sudah hilang. Ibu merantau jauh ke Malang berharap ibu bisa membuka lembaran baru dengan menekuni dunia ibu lagi, tapi ibu dipertemukan dengan keluarga Nak Raya yang sangat menerima ibu, ibu jadi sangat bahagia dan menganggap kalian adalah keluarga ibu sendiri” Bu Arumi akhirnya tidak bisa lagi menyembunyikan masa lalunya kepada majikannya, ia merasa bersalah karena menyembunyi kan hal yang besar. Kini ia merasa lega walaupun ia tidak bisa bertemu dengan anaknya setidaknya ia di anggap keluarga oleh Raya dan kedua putrinya. Itu sudah cukup bagi Bu Arumi.
Raya memeluk wanita baya itu dengan terharu diikuti oleh Hanum yang ikut memeluk Bu Arumi tanpa tahu apa maksudnya. Ia bahkan ikut menangis melihat Bu Arumi menangis. Gadis kecil itu memang memiliki perasaan yang lembut, melihat orang menangis maka ia akan tertular menangis pula.
TBC
__ADS_1