
Kembali ke The Edge Restaurant.
“Raya, kau menganggapku suami siri 2 bulan saja, tapi aku menganggapmu benar-benar wanita yang ku sukai. Aku sulit sekali berinteraksi dengan wanita, namun entah mengapa aku suka berinteraksi denganmu. Kedua anakmu aku juga sangat nyaman, bahkan alergi ku hilang jika bersentuhan dengan kalian. Jika diperbolehkan, aku ingin pernikahan ini terjadi selamanya, Raya” Ucap Asisten Je yang hanya berani di utarakannya di dalam hatinya, seraya memandang Raya yang sangat lahap menikmati hidangan yang tersaji di depan mereka.
“Mengapa kau memandangiku seperti itu, sayang?” Tanya Raya yang sudah terbiasa memanggil Asisten Je dengan sebutan sayang, yang membuat hati Asisten Je serasa melambung setiap saat.
“Malam ini kau sangat cantik Raya, aku ingin menciummu” Kata Asisten Je seraya mengerlingkan matanya. Raya memutar kedua bola matanya malas.
“No kiss to night” Kata Raya menggeleng tegas.
“Kenapa? Kita sudah sah sebagai suami istri, apa salahnya, itu termasuk hak dan kewajiban suami istri” Sanggah Asisten Je.
“Hah…aku tahu, tapi aku tidak mau menjadi pemuas nafsumu, enak saja” Sahut Raya kesal seraya bangkit dari duduk hendak melangkah pergi. Asisten Je segera menarik lengan Raya membuat wanita itu tertahan di kursinya.
“Jangan marah dong sayang, oke, aku hanya bercanda, tapi … maukah kau berdansa denganku? Please…” Raya menaikkan kedua alisnya. Benarkah di depannya ini asisten yang dingin, kaku, cuek, kejam? Yang dia lihat, malam ini laki-laki itu lebih terlihat manja.
“Hmmm, baiklah, hanya berdansa” Asisten Je mengangguk, kemudian berdiri dan mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Raya berdiri.
Mereka berdansa berdua dengan di temani alunan musik klasik dan keduanya menikmati malam ditemani kemerlap bintang yang menghiasi malam yang semakin syahdu.
Raya memejamkan matanya seraya bersandar di dada Asisten Je, jantung laki-laki itu sudah benar-benar tidak aman malam ini.
“Terima kasih sayang…” Lirih Raya.
“Untuk apa?” Laki-laki itu memandang wajah Raya yang masih memejamkan matanya. Tampak indah sekali di bawah temaram cahaya bulan.
“Karena mau meminjamkan dadamu untukku bersandar, aku sangat mengantuk” Ucap Raya santai.
Asisten Je tertawa.
“Dasar…kau ini, istri yang tidak punya perasaan, aku kira pernyataan romantis, ternyata mengantuk, kalau begitu kita pulang” Ajak Asisten Je. Untuk tim Aditya begitu audit selesai ia langsung berpamitan untuk menuju ke Kota Padang lebih awal. Tentu alasannya untuk menghindari drama kemesraan yang selalu ditayangkan secara gratis di depan matanya.
“Sammy, Man, kita langsung ke jet, malam ini juga kita berangkat” Titah Asisten Je begitu bertemu kedua bawahannya di lobby. Raya masih berada dalam pelukannya dalam keadaan yang sudah benar-benar tidur.
__ADS_1
“Siap Tuan” Sahut Darman.
Mobil melaju membawa mereka ke bandara. Sesampainya di jet, Asisten Je menggendong Raya menaiki jet dan berjalan ke arah belakang.
“Sammy aku mau membawa Raya ke kamar untuk istirahat, jangan membangunkan kami walaupun sudah landing, aku mau tidur sampai pagi” Titahnya tegas.
“Oke boss, aman” Jawab Sammy yang memang lebih familiar dengan atasannya termasuk panggilannya yang berbeda dengan lainnya.
Asisten Je membawa istrinya ke kamar dan membaringkannya di ranjang lalu melepaskan sepatu Raya kemudian sepatunya sendiri baru ikut tidur di samping istrinya. Direngkuhnya tubuh istrinya ke pelukannya, laki-laki itu ikut memejamkan matanya sambil menciumi kening dan pipi Raya.
“Aku ingin seperti ini setiap malam sayang, memeluk dan menciummu sepuasku, sungguh membuatku nyaman dan tenang” Ucapnya lirih, tak lama ia pun menyusul istrinya ke alam mimpi.
Raya perlahan mengumpulkan kesadarannya, mengapa badanku tidak bisa bergerak? Ia merasakan sebuah tangan memeluk perutnya dari belakang, sedangkan kakinya juga tak bisa bergerak karena dikungkung oleh kaki seseorang.
Ia memandang ke dirinya sendiri dan bernafas lega, semua pakaiannya masih tetap utuh pun dengan jilbabnya.
“Tuan…kau benar-benar…” Cicitnya kesal seraya mengangkat tangan asisten itu dari perutnya.
“Uh, kenapa berat sekali sih” Omelnya dengan masih berusaha menyingkirkan lengan besar yang malah mengeratkan pelukannya itu.
“Masih pagi, tidurlah lagi” Serak suara Asisten Je.
“Lepas dulu sayang, aku tidak bisa bergerak” Namun tangan itu tidak bergeming.
“Tuannnn”
“Hmmmm”
“Ayolah sayang, aku nggak bisa benafas nih, kau berat sekali, lagian kenapa tidur seranjang sih” Protesnya marah-marah.
“Aku kan suamimu, wajarlah kalau tidur seranjang”
“Dalam perjanjian tidak ada ya tidur seranjang, lagipun tidak boleh ada sentuhan, tapi kau sudah melanggar banyak aturan”
__ADS_1
“Itulah gunanya aturan di buat sayang, hmmm” Mata itu membuka sedikit.
“Huh, kamu lupa waktu interview di awal dulu, katamu tak suka disentuh wanita, tapi semenjak jadi sekretarismu, apalagi setelah menjadi istri sirimu, kau selalu menyentuhku seenakmu” Raya mengerucutkan bibirnya kesal.
Cup.
Raya membelalakkan matanya shock.
“Hahaha, morning kiss sayang” Kini mata laki-laki itu sudah sempurna terbuka tapi tangannya masih betah memeluk tubuh istrinya erat.
“Tubuhmu berbeda dari tubuh wanita lain, menyentuhmu malah membuatku merasa tenang dan damai berbeda dengan wanita lain yang membuatku jijik dan langsung alergi. Jadi jangan salahkan aku jika selalu ingin menyentuhmu, atau…” Mata Raya memicing curiga menunggu kelanjutan kalimat yang akan dilontarkan suaminya itu.
“Kau pake pelet ya? Hahahaha, aduh-aduh, sakit sayang” Asisten Je mengaduh merasa perutnya terasa panas. Cubitan kecil itu benar-benar membuat ia meringis kesakitan. Sammy tidak bohong berarti, cubitannya bukan main-main.
“Rasakan!” Raya kabur saat pelukan suaminya terlepas dan bergegas berlari menuju ke toilet.
“Kita ada dimana, kenapa toiletnya sempit sekali?” Tanya Raya begitu keluar dari toilet.
“Kita masih di dalam jet, sekarang kita berada di Padang”
“Padang? Fiuh, kota kedua i’am coming” Raya merentangkan kedua tangannya. Asisten Je tersenyum.
“Tunggulah di luar, aku ke kamar mandi dulu”
Raya mengangguk kemudian berlalu ke luar kamar, di kursi sudah duduk manis Sammy dan Darman menunggu kemunculan kedua tuannya.
“Sammy…”
“Eh…sudah bangun, mana boss?”
“Masih ke kamar mandi” Sammy mengangguk kemudian kembali memfokuskan kegiatannya ke hp, tentu untuk menghubungi perusahaan yang akan di tuju.
“Ayo kita ke hotel dulu, bersih-bersih, dalam 2 jam kita harus bekerja lagi” Asisten Je sudah berdiri di sebelah mereka, semuanya mengangguk dan bersiap.
__ADS_1
TBC