
Tok
Tok
“Masuk!” Seru suara di dalam, Raya
langsung membuka pintu ruangan atasannya dengan pelan, semoga tidak ada
pekerjaan berat yang mengharuskan lembur lagi.
“Ada yang bisa saya bantu Tuan?” Tanya
Raya sopan.
“Siapkan berkas untuk meeting bersama
klien!” Perintah Asisten Je datar tanpa melihat ke arah Raya.
“Baik Tuan, saya siapkan dulu” Ucap
Raya seraya sedikit membungkukkan badannya dan berlalu keluar.
“Satu lagi, kamu ikut dan jangan bikin
malu!” Tegasnya datar, masih tidak menatap ke arahnya. Raya hanya mengernyit
heran, perintah apaan itu? Jangan bikin malu? Emang ia wanita apaan harus
membuat malu di hadapan klien. Huh!
“Baik Tuan” Raya berlalu menuju
ruangannya bersamaan pandangan Asisten Je yang kemudian menajam mengiringi
langkah Raya.
.
.
Setelah 30 menit menempuh perjalanan
dari kantor ke restoran tempat meeting, mereka berdua memasuki sebuah restoran
mewah itu, pelayan menanyakan reservasi mereka dan Raya mengatakan sudah
ditunggu oleh Tuan Aditya selaku orang yang mereservasi restoran. Pelayan
wanita itu mengantar mereka berdua ke arah sebuah ruangan yang memang di
khususkan untuk tempat meeting para pengusaha. Tampak 2 orang laki-laki gagah
dengan postur tinggi besar dengan tatanan rambut yang lebih mirip pria angkatan,
melambai ke arah mereka. Raya mengucapkan terima kasih kepada pelayan itu
kemudian mengikuti Asisten Je di belakangnya.
“Selamat siang Asisten Je, senang
berjumpa lagi dengan Anda.” Sapa seorang laki-laki yang tak kalah tampan dengan
2 laki-laki di kantornya, siapa lagi kalau bukan CEO Alvero dan Asisten Je.
Raya hanya tersenyum geli dalam hati.
“Selamat siang Tuan Aditya Prasaja”
Jawab Asisten Je datar seraya menjabat tangan pria itu.
“Sebentar, mana Edwin? Biasanya kamu
sama sekretarismu itu, ini kok sama…eh…nona? Kita bertemu lagi” Kata Aditya
sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Raya namun Raya hanya
membalas dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Pria dewasa itu
hanya tersenyum kecut.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
Tanya Raya seraya mengernyit heran, menghiraukan tatapan tajam Asisten Je di
sampingnya.
“Wah…segitunya kamu melupakanku? Kita
pernah satu bangku di pesawat, emm mungkin tiga atau empat bulan yang lalu?”
Katanya seraya memandang Raya dengan ekspresi kagum. Sementara Asisten Je hanya
menatap jengah.
“Ah…iya, maaf saya lupa Tuan, yang saya
ingat waktu itu laki-laki berseragam polisi” Jawab Raya jujur.
“Hahaha…iya kamu benar, bagaimana kabar
2 nona kecil itu?” Tanyanya kemudian dengan tersenyum.
“Alhamdulillah mereka baik Tuan” Raya
mengangguk ramah.
“Hm! Bisakah kita lebih fokus pada
meeting kita?!” Potong Aisiten Je mulai tidak sabar. Aditya dan asistennya yang
hanya diam saja dari tadi langsung kikuk mendengar teguran dari Asisten Je,
sementara Raya menoleh dengan tatapan gugup.
“Oke-oke, baiklah Asisten Je, kita
mulai saja meeting kita” Mereka sepertinya sudah biasa mengadakan meeting tanpa
dihadiri oleh CEO Alvero, selama ini kalau ada undangan meeting keluar selalu
saja Asisten Je dan sekretarisnya yang selalu hadir, bagi CEO Alvero Asisten Je
sudah benar-benar mampu mewakilinya dan memutuskan apapun sesuai dengan
keinginannya. Jadi semua rekan kerja bisnisnya sudah paham dan menerima semua
pengaturan itu.
2 jam telah berlalu dan mereka berhasil
membuat kesepakatan yang saling menguntungkan. Kini mereka tengah menikmati
hidangan yang tersedia di meja sambil bercanda. Kembali Aditya berusaha untuk
__ADS_1
tebar pesona kepada Raya.
“Oya, jadi siapa namamu? Dulu kita
tidak sempat berkenalan padahal kita sudah mendiskusikan berbagai hal dulu.”
Kata Aditya menatap Raya yang membuat sang asisten menatap geram. Ia sendiri
bingung kenapa sikapnya seperti tidak rela ketika ada yang berusaha untuk
mendekati Raya.
“Tidak usah tebar pesona terhadap
sekretarisku” Sergah Asisten Je ketus.
“Wah…wah, kenapa Asisten Je melarang,
apa…”
“Jauhkan pikiran kotormu ya!”
“Hahahaha, emang kau tahu apa yang akan
aku ucapkan?” Tanya Aditya tertawa seraya memicing curiga. Asisten Je hanya
mendengus kesal.
Drrtttt
Drrtttt
Raya mengambil hp yang bergetar di
dalam tasnya, di lihatnya panggilan dari Pak Malik yang sudah kelima kalinya,
segera ia angkat takutnya ada yang penting.
“Maaf Tuan, saya angkat telpon dulu ya”
Pamit Raya seraya memandang Asisten Je, setelah mendapat anggukan wanita muda
itu melangkah menjauh dari meja makan.
“Assalamu’alaikum, ada apa Pak Malik?”
“Wa’alaikumussalam, maaf neng bapak
mengganggu kerja neng, ini …” Kata Pak Malik terdengar ragu-ragu mengatakannya.
“Ada apa pak, katakana saja, apa ada
sesuatu yang terjadi di rumah?” Tanyanya tiba-tiba panik.
“Bu…bukan neng, ini anak saya mengalami
kecelakaan neng dan sekarang harus dioperasi, saya…saya”
“Pak Malik yang tenang ya, bapak
sekarang di rumah sakit mana, Raya akan ke sana”
“Bapak di rumah sakit Nirwana Bunda
neng”
“Baiklah, Raya akan kesana, bapak
“Baik neng, terima kasih” Kata Pak
Malik.
Raya segera mematikan telponnya dan
berlari mendekat ke arah meja makan dengan wajah panik.
“Tuan, bolehkah saya pulang dulu? Saya
mau ke rumah sakit…”
“Siapa yang sakit?” Tanya Asisten Je
melihat kepanikan Raya.
“Anaknya Pak Malik kecelakaan, sekarang
harus di operasi dan membutuhkan biaya banyak”
“Siapa Pak Malik?” Tanya Asisten Je
lagi.
“Supir saya Tuan”
“Di rumah sakit mana?” Kali ini yang
bertanya Aditya.
“Nirwana Bunda” Jawab Raya seraya
memasukkan hp dalam tas.
“Aku searah ke sana, ayo aku antar” Cepat
Aditya menawarkan jasanya, Raya menatap Asisten Je meminta persetujuan.
“Kenapa menatapku? Kau ingin aku yang
mengantarmu? Maaf aku sibuk” Kata Asisten Je ketus, padahal dalam hati ia
mengumpat habis-habisan kenapa harus mengatakan kalimat itu.
“Baiklah, saya anggap Anda menyetujui
saya pulang dulu, saya janji ketika urusan selesai saya akan segera kembali ke
kantor” Pamit Raya, berkas sudah rapi ia bereskan tinggal dibawa oleh Asisten
Je ke kantor. Segera Raya berlalu keluar dari ruang makan itu di ikuti oleh
Aditya dan asistennya.
“Baik Asisten Je, senang bekerja sama
dengan mu, aku ijin mengantar sekretarismu dulu ya” Goda Aditya tertawa sambil
berjalan keluar. Tangan Asisten Je terkepal sempurna dengan sumpah serapah,
tentu hanya dalam hati. Karena ego dari pria dewasa itu sangatlah tinggi.
.
.
__ADS_1
“Terimakasih Tuan Prasaja atas
tumpangannya, saya permisi masuk dulu” Pamit Raya keluar dari mobil.
“Adit saja, kamu belum memberi tahu
namamu”
“Raya Tuan Adit”
“Ck…Adit tanpa tuan, kau tidak perlu
teman untuk masuk?”
“Maaf tidak perlu Tuan, sekali lagi
terima kasih” Raya membungkukkan badannya kemudian segera berlalu masuk ke
dalam rumah sakit.
“Hmmm, menarik” Lirih Aditya pelan
membuat asistennya di depan terkejut. Sejak kapan tuannya tertarik dengan seorang
wanita?
Raya berjalan cepat menuju ke IGD rumah
sakit dan mendapati laki-laki tua dan wanita tua sedang terduduk lemas di depan
IGD.
“Pak Malik” Sapa Raya mengagetkan kedua
manula itu, yang segera berdiri menyambutnya.
“Neng Raya, terima kasih telah datang,
saya…” Pak Malik berkata dengan terbata.
“Dimana dokternya pak? Kenapa tidak
segera di operasi?” Sesal Raya. Wajah Pak Malik langsung murung.
“Kami tidak punya biaya neng untuk
operasinya” Kata wanita tua di sebelah Pak Malik. Pasti ini istri Pak Malik.
Pikir Raya. Wanita itu tersenyum kemudian mengelus punggung wanita tua itu
dengan pelan.
“Baiklah, tenang dulu ya bu, saya akan
menemui dokternya dulu” Mereka mengangguk mengiyakan dan Raya segera berlalu
menuju ke ruangan dokter yang menangani kondisi pasien.
Tok
Tok
“Masuk” Ucap suara di dalam. Raya
membuka pintu dan memasuki ruangan yang serba putih namun harum sekali, tidak
seperti di ruangan IGD tadi, bau obat yang menyengat hidung.
“Permisi dokter, saya keluarga pasien
yang kecelakaan di IGD”
“Oh…silahkan nona, mari silahkan duduk”
Raya tersenyum sopan kemudian duduk di
depan meja sang dokter keturunan China yang masih terlihat muda. Di atas meja
terdapat papan nama dr. Andrew Hendrawan, Sp. B.
“Begini nona, keadaan pasien saat ini
sangat kritis, kecelakaan itu menyebabkan tangan kanannya patah dan terdapat
gegar otak cukup parah, sehingga harus dioperasi”
“Baik dokter, tolong lakukan sebaik
mungkin dokter, saya akan membiayai operasi itu, saya ingin sekarang juga bisa
di operasi, apakah bisa dokter?”
“Bisa nona, kami akan segera menyiapkan
perlengkapannya, nona silahkan urus dulu administrasinya di depan, kami akan
melakukan yang terbaik untuk pasien” Kata dokter itu ramah.
“Baik dokter, terima kasih” Raya
mengangguk kemudian berlalu keluar menemui kedua orang tua pasien.
“Pak Malik dan ibu tenang dulu ya, in
shaa allah anak bapak akan segera di operasi, kita berdoa saja ya” Kata Raya
membuat kedua orang itu bernafas lega.
“Alhamdulillah neng, terima kasih
banyak ya, saya tidak tahu kalau tidak ada neng, bagaimana dengan anak saya,
saya akan…” Raya memotong kalimat Pak Malik.
“Pak Malik tidak usah memikirkan itu,
Raya senang membantu bapak karena bapak juga saya anggap sebagai pengganti
orang tua saya di sini”
“Ma syaa Allah neng, terima kasih
banyak neng” Kata wanita tua itu seraya menggenggam kedua tangan Raya dengan
terharu.
“Iya sama-sama ibu, kita berdoa saja
ya, ayo duduk dulu aja pak bu” Raya membawa mereka berdua untuk duduk di ruang
tunggu seraya berdoa dalam hati agar operasinya berjalan lancar dan anak mereka
bisa di selamatkan.
__ADS_1