Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 24 Bertemu Lagi


__ADS_3

Tok


Tok


“Masuk!” Seru suara di dalam, Raya


langsung membuka pintu ruangan atasannya dengan pelan, semoga tidak ada


pekerjaan berat yang mengharuskan lembur lagi.


“Ada yang bisa saya bantu Tuan?” Tanya


Raya sopan.


“Siapkan berkas untuk meeting bersama


klien!” Perintah Asisten Je datar tanpa melihat ke arah Raya.


“Baik Tuan, saya siapkan dulu” Ucap


Raya seraya sedikit membungkukkan badannya dan berlalu keluar.


“Satu lagi, kamu ikut dan jangan bikin


malu!” Tegasnya datar, masih tidak menatap ke arahnya. Raya hanya mengernyit


heran, perintah apaan itu? Jangan bikin malu? Emang ia wanita apaan harus


membuat malu di hadapan klien. Huh!


“Baik Tuan” Raya berlalu menuju


ruangannya bersamaan pandangan Asisten Je yang kemudian menajam mengiringi


langkah Raya.


.


.


Setelah 30 menit menempuh perjalanan


dari kantor ke restoran tempat meeting, mereka berdua memasuki sebuah restoran


mewah itu, pelayan menanyakan reservasi mereka dan Raya mengatakan sudah


ditunggu oleh Tuan Aditya selaku orang yang mereservasi restoran. Pelayan


wanita itu mengantar mereka berdua ke arah sebuah ruangan yang memang di


khususkan untuk tempat meeting para pengusaha. Tampak 2 orang laki-laki gagah


dengan postur tinggi besar dengan tatanan rambut yang lebih mirip pria angkatan,


melambai ke arah mereka. Raya mengucapkan terima kasih kepada pelayan itu


kemudian mengikuti Asisten Je di belakangnya.


“Selamat siang Asisten Je, senang


berjumpa lagi dengan Anda.” Sapa seorang laki-laki yang tak kalah tampan dengan


2 laki-laki di kantornya, siapa lagi kalau bukan CEO Alvero dan Asisten Je.


Raya hanya tersenyum geli dalam hati.


“Selamat siang Tuan Aditya Prasaja”


Jawab Asisten Je datar seraya menjabat tangan pria itu.


“Sebentar, mana Edwin? Biasanya kamu


sama sekretarismu itu, ini kok sama…eh…nona? Kita bertemu lagi” Kata Aditya


sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Raya namun Raya hanya


membalas dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Pria dewasa itu


hanya tersenyum kecut.


“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”


Tanya Raya seraya mengernyit heran, menghiraukan tatapan tajam Asisten Je di


sampingnya.


“Wah…segitunya kamu melupakanku? Kita


pernah satu bangku di pesawat, emm mungkin tiga atau empat bulan yang lalu?”


Katanya seraya memandang Raya dengan ekspresi kagum. Sementara Asisten Je hanya


menatap jengah.


“Ah…iya, maaf saya lupa Tuan, yang saya


ingat waktu itu laki-laki berseragam polisi” Jawab Raya jujur.


“Hahaha…iya kamu benar, bagaimana kabar


2 nona kecil itu?” Tanyanya kemudian dengan tersenyum.


“Alhamdulillah mereka baik Tuan” Raya


mengangguk ramah.


“Hm! Bisakah kita lebih fokus pada


meeting kita?!” Potong Aisiten Je mulai tidak sabar. Aditya dan asistennya yang


hanya diam saja dari tadi langsung kikuk mendengar teguran dari Asisten Je,


sementara Raya menoleh dengan tatapan gugup.


“Oke-oke, baiklah Asisten Je, kita


mulai saja meeting kita” Mereka sepertinya sudah biasa mengadakan meeting tanpa


dihadiri oleh CEO Alvero, selama ini kalau ada undangan meeting keluar selalu


saja Asisten Je dan sekretarisnya yang selalu hadir, bagi CEO Alvero Asisten Je


sudah benar-benar mampu mewakilinya dan memutuskan apapun sesuai dengan


keinginannya. Jadi semua rekan kerja bisnisnya sudah paham dan menerima semua


pengaturan itu.


2 jam telah berlalu dan mereka berhasil


membuat kesepakatan yang saling menguntungkan. Kini mereka tengah menikmati


hidangan yang tersedia di meja sambil bercanda. Kembali Aditya berusaha untuk

__ADS_1


tebar pesona kepada Raya.


“Oya, jadi siapa namamu? Dulu kita


tidak sempat berkenalan padahal kita sudah mendiskusikan berbagai hal dulu.”


Kata Aditya menatap Raya yang membuat sang asisten menatap geram. Ia sendiri


bingung kenapa sikapnya seperti tidak rela ketika ada yang berusaha untuk


mendekati Raya.


“Tidak usah tebar pesona terhadap


sekretarisku” Sergah Asisten Je ketus.


“Wah…wah, kenapa Asisten Je melarang,


apa…”


“Jauhkan pikiran kotormu ya!”


“Hahahaha, emang kau tahu apa yang akan


aku ucapkan?” Tanya Aditya tertawa seraya memicing curiga. Asisten Je hanya


mendengus kesal.


Drrtttt


Drrtttt


Raya mengambil hp yang bergetar di


dalam tasnya, di lihatnya panggilan dari Pak Malik yang sudah kelima kalinya,


segera ia angkat takutnya ada yang penting.


“Maaf Tuan, saya angkat telpon dulu ya”


Pamit Raya seraya memandang Asisten Je, setelah mendapat anggukan wanita muda


itu melangkah menjauh dari meja makan.


“Assalamu’alaikum, ada apa Pak Malik?”


“Wa’alaikumussalam, maaf neng bapak


mengganggu kerja neng, ini …” Kata Pak Malik terdengar ragu-ragu mengatakannya.


“Ada apa pak, katakana saja, apa ada


sesuatu yang terjadi di rumah?” Tanyanya tiba-tiba panik.


“Bu…bukan neng, ini anak saya mengalami


kecelakaan neng dan sekarang harus dioperasi, saya…saya”


“Pak Malik yang tenang ya, bapak


sekarang di rumah sakit mana, Raya akan ke sana”


“Bapak di rumah sakit Nirwana Bunda


neng”


“Baiklah, Raya akan kesana, bapak


“Baik neng, terima kasih” Kata Pak


Malik.


Raya segera mematikan telponnya dan


berlari mendekat ke arah meja makan dengan wajah panik.


“Tuan, bolehkah saya pulang dulu? Saya


mau ke rumah sakit…”


“Siapa yang sakit?” Tanya Asisten Je


melihat kepanikan Raya.


“Anaknya Pak Malik kecelakaan, sekarang


harus di operasi dan membutuhkan biaya banyak”


“Siapa Pak Malik?” Tanya Asisten Je


lagi.


“Supir saya Tuan”


“Di rumah sakit mana?” Kali ini yang


bertanya Aditya.


“Nirwana Bunda” Jawab Raya seraya


memasukkan hp dalam tas.


“Aku searah ke sana, ayo aku antar” Cepat


Aditya menawarkan jasanya, Raya menatap Asisten Je meminta persetujuan.


“Kenapa menatapku? Kau ingin aku yang


mengantarmu? Maaf aku sibuk” Kata Asisten Je ketus, padahal dalam hati ia


mengumpat habis-habisan kenapa harus mengatakan kalimat itu.


“Baiklah, saya anggap Anda menyetujui


saya pulang dulu, saya janji ketika urusan selesai saya akan segera kembali ke


kantor” Pamit Raya, berkas sudah rapi ia bereskan tinggal dibawa oleh Asisten


Je ke kantor. Segera Raya berlalu keluar dari ruang makan itu di ikuti oleh


Aditya dan asistennya.


“Baik Asisten Je, senang bekerja sama


dengan mu, aku ijin mengantar sekretarismu dulu ya” Goda Aditya tertawa sambil


berjalan keluar. Tangan Asisten Je terkepal sempurna dengan sumpah serapah,


tentu hanya dalam hati. Karena ego dari pria dewasa itu sangatlah tinggi.


.


.

__ADS_1


“Terimakasih Tuan Prasaja atas


tumpangannya, saya permisi masuk dulu” Pamit Raya keluar dari mobil.


“Adit saja, kamu belum memberi tahu


namamu”


“Raya Tuan Adit”


“Ck…Adit tanpa tuan, kau tidak perlu


teman untuk masuk?”


“Maaf tidak perlu Tuan, sekali lagi


terima kasih” Raya membungkukkan badannya kemudian segera berlalu masuk ke


dalam rumah sakit.


“Hmmm, menarik” Lirih Aditya pelan


membuat asistennya di depan terkejut. Sejak kapan tuannya tertarik dengan seorang


wanita?


Raya berjalan cepat menuju ke IGD rumah


sakit dan mendapati laki-laki tua dan wanita tua sedang terduduk lemas di depan


IGD.


“Pak Malik” Sapa Raya mengagetkan kedua


manula itu, yang segera berdiri menyambutnya.


“Neng Raya, terima kasih telah datang,


saya…” Pak Malik berkata dengan terbata.


“Dimana dokternya pak? Kenapa tidak


segera di operasi?” Sesal Raya. Wajah Pak Malik langsung murung.


“Kami tidak punya biaya neng untuk


operasinya” Kata wanita tua di sebelah Pak Malik. Pasti ini istri Pak Malik.


Pikir Raya. Wanita itu tersenyum kemudian mengelus punggung wanita tua itu


dengan pelan.


“Baiklah, tenang dulu ya bu, saya akan


menemui dokternya dulu” Mereka mengangguk mengiyakan dan Raya segera berlalu


menuju ke ruangan dokter yang menangani kondisi pasien.


Tok


Tok


“Masuk” Ucap suara di dalam. Raya


membuka pintu dan memasuki ruangan yang serba putih namun harum sekali, tidak


seperti di ruangan IGD tadi, bau obat yang menyengat hidung.


“Permisi dokter, saya keluarga pasien


yang kecelakaan di IGD”


“Oh…silahkan nona, mari silahkan duduk”


Raya tersenyum sopan kemudian duduk di


depan meja sang dokter keturunan China yang masih terlihat muda. Di atas meja


terdapat papan nama dr. Andrew Hendrawan, Sp. B.


“Begini nona, keadaan pasien saat ini


sangat kritis, kecelakaan itu menyebabkan tangan kanannya patah dan terdapat


gegar otak cukup parah, sehingga harus dioperasi”


“Baik dokter, tolong lakukan sebaik


mungkin dokter, saya akan membiayai operasi itu, saya ingin sekarang juga bisa


di operasi, apakah bisa dokter?”


“Bisa nona, kami akan segera menyiapkan


perlengkapannya, nona silahkan urus dulu administrasinya di depan, kami akan


melakukan yang terbaik untuk pasien” Kata dokter itu ramah.


“Baik dokter, terima kasih” Raya


mengangguk kemudian berlalu keluar menemui kedua orang tua pasien.


“Pak Malik dan ibu tenang dulu ya, in


shaa allah anak bapak akan segera di operasi, kita berdoa saja ya” Kata Raya


membuat kedua orang itu bernafas lega.


“Alhamdulillah neng, terima kasih


banyak ya, saya tidak tahu kalau tidak ada neng, bagaimana dengan anak saya,


saya akan…” Raya memotong kalimat Pak Malik.


“Pak Malik tidak usah memikirkan itu,


Raya senang membantu bapak karena bapak juga saya anggap sebagai pengganti


orang tua saya di sini”


“Ma syaa Allah neng, terima kasih


banyak neng” Kata wanita tua itu seraya menggenggam kedua tangan Raya dengan


terharu.


“Iya sama-sama ibu, kita berdoa saja


ya, ayo duduk dulu aja pak bu” Raya membawa mereka berdua untuk duduk di ruang


tunggu seraya berdoa dalam hati agar operasinya berjalan lancar dan anak mereka


bisa di selamatkan.

__ADS_1


__ADS_2