
Raya memasuki mobil dan terkejut dengan tindakan yang dilakukan suaminya itu.
“Sayang, cukup. Jangan di garuk lagi, nanti akan tambah parah” Cemas Raya memegang tangan suaminya.
“Jijik” Lirihnya kesal.
“Kita ke rumah sakit ya”
“Permata” Lirih Asisten Je.
Raya melepas scraf di lehernya kemudian dengan terpaksa mengikat kedua tangan suaminya, tatapan laki-laki itu menajam tidak suka.
“Marahlah, dari pada lenganmu lecet dan terluka”
Raya segera mengemudikan mobil menuju permata hospital.
“HP” Kata Asisten Je
Raya mengeluarkan hpnya.
“Milikku” Kata Asisten Je lagi.
“Oh”
Raya meraba kantong jas Asisten Je dan menemukan benda pipih itu di kantong jas sebelah kanan. Raya segera mengambilnya.
“Stevano”
Raya menepikan sebentar mobilnya kemudian mencari kontak dengan nama Stevano. Ketemu.
Tut…tut…
“Ada apa Je? Tumben…”
“Maaf, Tuan Je sakit, ia mengarahkan nama anda” Kata Raya memotong ucapan Stevano.
“Apa? Cepat bawa ke sini” Seru Stevano panik.
“Baik” Raya menutup panggilan dan kembali meneruskan perjalanan menuju rumah sakit. Sejenak ia menoleh suaminya yang terus mendesis tak nyaman. Ia sendiri heran, selama ini ia bersentuhan dengan suaminya tidak ada reaksi berlebihan, bahkan sudah berapa kali mereka menyatu juga tidak ada reaksi apapun.
“Kenapa?” Tanya Raya masih tidak percaya.
Asisten Je hanya mendesah, malas sekali ia harus menceritakan kisah menjijikkan itu.
“Tidak penting” Sahutnya malas, matanya terpejam rapat tapi mulutnya mendesis.
“Kenapa aku tidak?”
“Kamu beda”
“Beda? Aku juga wanita, aku paham sindrom ini”
__ADS_1
“Kamu bukan mereka” Raya terdiam mendengar jawaban itu sampai mereka tiba di rumah sakit.
Tampak seorang dokter muda sudah menjemput mereka dengan wajah yang panik. Tanpa menunggu lama mereka bergegas menuju ke ruangan Stevano menggunakan lift khusus.
“Apa yang terjadi?” Tanya Stevano. Entah pada siapa dia bertanya, dia hanya mengharapkan jawaban yang jelas. Asisten Je terpaksa di beri suntikan penenang karena tangannya terus saja melukai lengannya bahkan merembet ke sekitar kulit di tubuhnya.
“Tadi ada yang sengaja menyentuhnya dan reaksinya langsung seperti itu” Jelas Raya pelan.
“Apa berbahaya ke depannya? Dia benar-benar tidak bisa bersentuhan dengan lawan jenis?” Tanya Raya lagi.
Stevano menghela nafas berat kemudian menggeleng.
“Ada memang sebagian orang mengalami reaksi yang berlebihan terhadap sentuhan lawan jenis, penyebab utama karena trauma pada suatu kejadian yang menetap di otaknya hingga reaksi apapun akan terjadi jika dia bersentuhan dengan lawan jenis” Jelas Stevano panjang lebar.
“Kenapa dengan saya tidak?” Tanya Raya heran.
Stevano mendelik sempurna.
“Kamu Raya?” Tanya Stevano seraya menutup mulutnya tak percaya.
Raya mengangguk bingung.
Stevano tertawa renyah seraya menggeleng-nggeleng.
“Akhirnya aku ketemu juga dengan wanita yang bisa menaklukkan si kejam itu” Katanya masih di selingi tawa. Raya mengernyit heran.
“Anda mengenal saya?”
“Ehm, dia sering cerita kalau bertemu dengan seorang wanita yang mampu menyembuhkan alerginya, kamu mempunyai seorang anak?” Tanya Stevano memandang takjub Raya.
“”Dua putri”
“Wow…wow…, apa ini, si kulkas itu menang banyak, sialan”
Raya hanya memandang jengah, Stevano langsung menjadi serius, menatap wanita di depannya lurus-lurus.
“Aku tidak berhak membuka apapun tentang Je, kamu bisa tanyakan sendiri nanti…, hanya aku ingin tahu siapa wanita yang berani menyentuhnya” Heran Stevano.
“Dia brand ambassador Panada Diamond yang tadi mengadakan pertemuan untuk kerja sama, tapi semua rusak akibat insiden itu, yang aku tahu tadi namanya Daliya” Jelas Raya mengingat kejadian di restoran tadi.
“Apa? Wanita itu ada di sini?” Tanya Stevano kaget.
“Ada di sini? Maksudnya dia tidak seharusnya di sini? Anda mengenalnya? Dia siapanya Tuan Je?” Berondong Raya penasaran.
Stevano gelagapan mendapati pertanyaan Raya.
“Ah…maksudku…dia…”
“Ehm” Deheman seseorang di belakang mereka tepatnya seseorang yang terbaring di ranjang pasien vvip yang ditempatkan khusus di ruangannya.
“Eh…sudah bangun saja kamu Je” Goda Stevano seraya mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
“Sialan” Desis Asisten Je marah.
“Oke…oke, gimana sekarang kondisimu” Stevano menyudahi bercandanya, di lihatnya kemerahan dan ruam di tubuh Asisten Je sudah mulai mereda karena sudah di suntik Stevano dengan cairan penetralnya.
“Kamu punya mata kan” Sarkas Asisten Je.
“Huh, tinggal jawab sudah baikan saja pelit amat, heran” Keluh Stevano.
“pergilah” usir Asisten Je malas.
“Hei ini ruang praktekku ya, harusnya yang pergi itu kamu” Protes Stevano tidak terima.
“Aku pasien” Katanya tak mau kalah.
“Iya, pasien gila”
“Sialan, pergilah sebelum aku kirim ke amazon” Ancamnya tajam.
“Oke…oke, buatlah seperti rumah sendiri” Stevano merotasikan matanya kemudian pergi dari ruangannya sendiri.
Raya mendekat ke ranjang Asisten Je kemudian menerima uluran tangan suaminya itu. Di genggamnya jemari suaminya dengan erat dan panik.
“Aku sudah baikan, jangan cemas” Senyum lembut Asisten Je seraya mengelus punggung tangan istrinya dengan jempolnya.
“Kamu sering mengalaminya?” Tanya Raya masih khawatir. Laki-laki itu menggeleng.
“Tidak semudah itu mereka menyentuhku”
“Titania dan Hanum…?”
Asisten Je masih tetap tersenyum, pandangannya sangat lembut.
“Kalian teristimewa di hatiku” Asisten Je menciumi tangan Raya.
“Karena itu kamu menikahiku?”
“Aku mencintaimu Raya, sungguh, sebelum kita sangat akrab aku sudah tertarik denganmu, dan saat aku menolong Hanum, di situ aku merasa heran, apa karena dia masih anak kecil yang tanpa dosa hingga aku tidak mengalami alergi” Kata Asisten Je seraya menerawang kejadian waktu di taman dulu.
“Titania juga pernah menepis tanganku saat menolong Hanum, saat itu aku hanya menatapi kedua tanganku tapi sama saja, reaksi gatal, panas, perih, ruam itu tidak pernah terjadi”
Raya mendengar penjelasan suaminya dengan seksama tanpa berniat untuk memotong pembicaraannya.
“Kamu juga sama, aku tidak merasakan reaksi apapun, dari situ aku merasakan bahwa perasaanku tidak salah, aku tahu sampai sekarang aku belum istimewa di hatimu, tapi aku mohon, jangan minta berpisah dariku, perjanjian itu sudah aku robek, aku tidak butuh kontrak, hatiku sudah jatuh sama kamu, jangan meminta berpisah dariku apapun yang terjadi…” Asisten Je menyudahi bicaranya seraya bangkit dari ranjang dan merengkuh tubuh Raya dengan erat.
“Aku merasa tersanjung” Raya balas memeluk suaminya, kepalanya menelusup dalam ke dada suaminya dengan nyaman.
“Terima kasih, aku akan berusaha untuk tetap berada di sisimu” Kata Raya, tanpa sadar air matanya meleleh membasahi kemeja suaminya.
Revian sangat mencintainya bahkan cinta itu sampai di bawa meninggal. Raya merasakan kembali cinta seorang laki-laki yang begitu tulus dan besar bahkan cinta itu lebih besar darinya. Ia baru bisa merasakan kenyamanan berada di sekitar suaminya. Apa itu cukup untuk menandakan bahwa ia juga mencintai laki-laki yang memeluknya ini.
TBC
__ADS_1