
Asisten Je membuka kamera kemudian mencium kening Raya.
Ceklik
Laki-laki itu tersenyum, menjadikan foto itu sebagai layar depannya kemudian mematikan hp dan memeluk istrinya erat.
“Aku tak akan melepaskanmu Raya, tidak setelah kau mampu membuat dadaku bergetar dan alergi ku lenyap” Ucap Asisten Je lembut, diletakkannya tangan Raya di dadanya, lalu Asisten Je pun tertidur dengan pulasnya.
***
Raya membuka matanya dengan malas, nyaman sekali tidurnya semalam. Hmmm, ternyata sofa juga bisa seempuk di ranjang ya…
Wanita membuka kedua matanya lebih lebar, ia menggeliatkan badannya sepuasnya sambil terucap lenguhan panjang dari mulutnya.
“Lho mengapa aku bisa tidur di ranjang, bukannya semalam aku tidurnya tuh di sofa” Serta merta Raya terduduk kemudian pandangannya langsung terarah ke sofa. Dilihatnya malah Asisten Je yang tidur di sofa. Ia bangun dan mendatangi suami sirinya itu, sejenak ia membungkuk untuk mengamati apa suaminya itu masih dalam posisi tidur. Tangannya melambai di depan wajah asisten itu, tapi tidak ada pergerakan.
Hembusan lega keluar dari mulut Raya.
“Huh, apa dia yang memindahkan ku ke ranjang? Aih…malunya, kenapa kamu malah enak-enak tidur Raya, hmmm… maaf ya sayang, malah kau yang tidur di sofa” Ucapnya tanpa menyadari kalimat terakhir yang ia ucapkan. Ia menegakkan tubuhnya kemudian berlalu ke kamar mandi.
Begitu mendengar pintu kamar mandi di kunci, mata laki-laki itu terbuka, menampilkan senyum smirk di wajahnya. Tidak tahu saja Raya, bahkan Asisten Je tidur dengan memeluk dan mengendus-endus pipinya. Baru setengah jam yang lalu ia pindah ke sofa, ia tak mau terjadi keributan jika Raya mengetahuinya.
(Hilih, modus aja kamu Je, curi-curi kesempatan dalam kesempitan: mbak author)
(Bukan modus ya, tapi membaca peluang, aku kan pria pebisnis: jawab Asisten Je)
(Sakarep mu wae lah asisten…: mbak author)
Asisten Je cepat-cepat menutup mata kembali begitu terdengar pintu kamar mandi di buka. Raya mendekati suaminya untuk membangunkannya terlebih dahulu baru melaksanakan sholat shubuh.
“Sayang bangun, sudah shubuh, sholat dulu” Raya menggoyang lengan laki-laki yang tampak pulas itu.
Asisten Je menggeliat, menguap kemudian bangkit menjadi posisi duduk.
“kamu kok sudah siap?” Suara dibuat seserak mungkin. (Eleh, modus lagi, ckckck: mbak author)
__ADS_1
(Diam kau thor: bentak Asisten Je)
“Iya, sudah waktunya sholat, mau jadi imam?” Tawar Raya, secara kini statusnya sebagai seorang istri yang harus menunggu suaminya siap untuk mengimami sholat.
“Oke, tunggu yah” Asisten Je bergegas ke kamar mandi dengan perasaan suka cita, merasa bahagia ketika di jadikan imam oleh istrinya.
Kini keduanya telah siap, seperti biasa Asisten Je meminta Raya memakaikan dasinya. Raya meminta suaminya itu untuk duduk di kursi, jantungnya tak akan aman kalau kejadian kemaren akan terulang kembali.
Selesai dengan persiapannya, keduanya menemui Sammy dan lainnya untuk sarapan bersama kemudian meluncur ke perusahaan untuk melanjutkan pekerjaan mereka selama di Medan.
Sesampainya di perusahaan, Raya dan Sammy kembali bergelut dengan pemeriksaan laporan keuangan. Asisten Je langsung menuju ruang rapat direksi.
Rapat telah berlangsung selama 4 jam penuh tanpa adanya interupsi, entah ada apa dengan asisten itu hari ini. Semenjak memulai rapat hingga kini, ia hanya marah-marah saja. Wajah dinginnya semakin dingin di tambah tegang dan aura mengancam dari sorot matanya.
Kuping para direksi sudah kenyang dengan ucapan pedas atasannya itu yang ternyata melebihi sang boss besar. Keringat bercucuran dengan tangan gemetaran. Semua laporan yang disampaikan para dewan direksi di matanya tidak ada yang benar. Bahkan beberapa sekretaris direksi sudah mulai terisak pelan ketakutan.
Salah satu direksi meminta ijin untuk ke kamar mandi, padahal setelah keluar ia segera berlari menemui Sammy dan Raya.
“Maaf Tuan Sammy, bisakan anda ke ruang rapat sekarang? Asisten Je semenjak tadi marah-marah terus, laporan kami tidak ada yang benar menurut beliau” Mohon direksi itu.
Raya dan Sammy saling pandang, Raya hanya menggeleng pasrah.
“Terima kasih Tuan, saya permisi” Pamitnya bergegas kembali ke ruang rapat.
“Ray apakah semalam kalian ada masalah di kamar?” Tanya Sammy yang menggunakan panggilan nama tanpa embel-embel nona atau nyonya. Memang Raya yang meminta, secara umur mereka tak jauh beda.
“Kami baik-baik saja”
“Terus kenapa bos marah-mayah yee”
“Mana ku tahu, emangnya marahnya Asisten Je ada hubungannya denganku?”
“Ya kali aja, kalian kan pasutri, siapa tahu Tuan Muda pingin itu tapi kamunya menolak…”
Pletak!
__ADS_1
“Kau tu ya, omes tahu nggak!” Sentak Raya seraya menjitak kepala Sammy keras. Tak tanggung-tanggung sakitnya.
“Kan cuma nanya, kalau nggak ya sudah, aduh sakit tahu ini, kamu beneran mah jitaknya” Sammy meringis seraya memijit kepalanya bekas jitakan Raya.
“Mau lagi?” Ancam Raya seraya tangannya sudah siap melayang ke kepala pemuda letoy itu.
“Aih…kejam nian” Kata Sammy menghindar dengan menjalan menuju ke arah ruang rapat.
Tok tok tok
Sammy masuk bersamaan dengan Raya, Asisten Je yang terus marah langsung terdiam melihat siapa yang masuk dan mengawasi wanita itu yang duduk jauh di seberang kursinya. Tampak di sebelah wanita itu Aditya yang baru bergabung malam ini mesem-mesem.
“Baru datang Ra? Dari tadi aku tidak melihatmu” Sapa Aditya di sebelahnya.
“Saya ada di ruangan keuangan Tuan bersama Sammy” Jawab Raya sopan.
“Ooo, aku kira kamu tidak jadi ikut” Raya menghela nafas.
“Maaf…” Katanya seraya menunduk, merasa bersalah mengingat kejadian di taman waktu itu.
“Santai saja, aku akan bahagia kalau kamu juga bahagia, cinta tidak harus memiliki kan?” Jawab Aditya tenang. Raya menoleh, masih merasa heran dengan sikap Aditya, ia hanya menggeleng-geleng tak mengerti.
“Ehm!” Asisten Je berdehem keras seraya menatap tajam ke arah Raya membuat wanita itu kicep, mau tak mau ia berjalan menghampiri Asisten Je. Laki-laki itu mengkode direksi yang duduk di sebelahnya untuk pindah dengan dagunya. Segera laki-laki baya yang disuruh langsung berdiri dan mempersilahkan Raya duduk diikuti oleh Sammy di sebelahnya.
“Silahkan nona”
Raya mengangguk canggung.
Rapat kembali dilanjutkan tanpa ada lagi ketegangan. Untuk mengusir kebosanan tanpa melakukan apa-apa, Raya mulai membuka hpnya. Aplikasi fb dibukanya dan ia berselancar riang di dalamnya tanpa peduli dengan suasana rapat. Sesekali ia tersenyum sambil men-scrool berbagai tampilan gambar. Namun…
“Sudah puas…?” Tanya Asisten Je kesal.
“Hei, kembalikan say….” Ucapan Raya terputus ketika menyadari suasana masih berada di ruang rapat.
“Tidak!” Asisten Je meletakkan hp Raya di sebelahnya.
__ADS_1
“Kembalikan sayang” Bisik Raya sangat pelan penuh tekanan.
TBC