Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 77 jangan-jangan kamu sudah terpesona ya


__ADS_3

Tepat pagi buta pukul 02.00, mereka sampai di bandara ARS Malang, sebuah mobil sudah menanti mereka dan segera meluncur menuju ke Permata Hospital.


Asisten Je keluar terlebih dahulu dari mobil, lalu menggandeng tangan Raya yang juga keluar. Wanita itu tidak menolak karena ingin segera menemani putrinya.


Profesor yang tidak lain adalah kepala rumah sakit sedari tadi sudah menunggu kedatangan Asisten Je yang diberitahu melalui kepercayaannya, Voctor. Profesor itu membimbing Asisten Je menuju ruang rawat Hanum di vvip.


Awalnya professor terkejut jika yangsakit adalah seorang anak kecil yang berhubungan dengan Asisten Je yang terkenal dingin dan tegas. Semua fasilitas terbaik diberikan pada Hanum karena tidak mau menyinggung sosok asisten kejam.


Profesor mengetuk pintu ruang rawat Hanum dua kali kemudian membukakan pintu untuk Asisten Je dan Raya, “silahkan Tuan, Nyonya”


Raya langsung menerobos ke ruangan dan mendapati Titania yang duduk di sebelah ranjang Hanum dengan Lani dan Leon berdiri di belakangnya. Sementara Victor tampak duduk di sofa langsung berdiri tegak mengetahui kehadiran atasannya.


“Mama…” Titania menghambur memeluk mamanya, entah kenapa, jiwanya seperti anak kecil yang tidak sanggup menanggung masalah seorang diri.


Raya menangkap tubuh Titania yang sudah semakin tinggi kemudian membawanya duduk di sofa, ia tidak mau tangis Titania mengganggu Hanum yang sedang istirahat.


Asisten Je langsung mengkondisikan Lani, Leon, dan Victor untuk berjaga di luar, sementara kepala rumah sakit juga ijin untuk kembali ke ruangannya seraya mengingatkan apabila membutuhkannya bisa langsung menemuinya.


“Jangan pergi jauh lagi ma, kasian Hanum, ia tidak bisa jauh dari mama” Kata Titania yang sudah bisa menguasai dirinya.


Raya menepuk punggung tangan putrinya sayang.


“Iya sayang, setelah ini mama hanya akan fokus di kantor saja”


Asisten Je membiarkan ibu dan anak gadis itu melepas rindu, ia masih belum berani untuk ikut bergabung dengan mereka. Ia hanya menemani Hanum dengan duduk di kursi pinggir ranjang.


“Jangan bawa mama bepergian jauh lagi tanpa Hanum” Kata Titania ambigu. Raya menoleh terkejut demikian juga Asisten Je.


“Maaf” Kata Asisten Je singkat, “Tita sudah makan?” Tanyanya berusaha untuk mengambil hati gadis itu. Titania hanya menggeleng lirih. Sebenarnya ia enggan berkomunikasi dengan laki-laki itu, tapi melihat usaha dan kepeduliannya terhadap Hanum membuat hatinya sedikit melunak.


“Aku carikan makan dulu, mamamu di pesawat juga tidak makan sama sekali” Asisten Je berdiri menuju sofa mendekati Raya dan menepuk bahunya pelan.

__ADS_1


“Aku pergi dulu” Raya mengangguk tersenyum kemudian membawa Titania mendekat ke ranjang Hanum.


Asisten Je keluar dari kamar, Leon, Lani dan Victor secara reflek mendekat untuk mendengar perintah selanjutnya.


“Kamu carikan makan untuk mereka”


“Baik Tuan, saya saja” Lani menawarkan diri, “Maaf Tuan, dari kemaren Non Tita tidak mau makan” Sambungnya. Asisten Je mengangguk faham.


“Sekalian cari untuk kalian, aku akan menghubungi Tuan Muda Alvero” Asisten Je memberikan kartu kredit pada Lani yang diterima oleh gadis itu dengan membungkuk sopan.


“Baik Tuan” Jawab mereka serempak.


Asisten Je menjauh dari mereka kemudian melakukan panggilan penting untuk melaporkan urusan selama audit di lapangan.


“Je, sudah sampai mana auditnya?” Tanya suara diseberang begitu telpon bersambung.


“Saya sudah ada di Malang Tuan Muda, masih ada 2 cabang lagi yang diaudit”


“Lah terus kenapa kamu pulang duluan?”


“Kendala seperti apa? Terus kenapa kamu ada di Malang” Tanya Tuan Alvero heran.


“Putri bungsu Raya sedang sakit, sekarang ada di rumah sakit Tuan”


“Oya, kenapa tidak bilang? Aku sekarang juga ada di rumah sakit”


“Siapa yang sakit Tuan?” Asisten Je langsung panik mendengar Tuan Muda Alvero di rumah sakit.


“Meili mau melahirkan, ini aku di ruang bersalin menunggu pembukaan masihan”


“Syukurlah Tuan, saya kira nona muda atau tuan muda yang sakit”

__ADS_1


“Hmmm, ini Meili mau bicara”


“Je”


“Ya nona”


“Sakit apa putrinya Raya?”


“Katanya sih sakit perut nona”


“Di rumah sakit mana? Kamu sudah urus dengan baik kan?” Nada suara Meili entah kenapa sangat cemas mendengar putri Raya sakit.


“Sudah ditangani dr terbaik nona, sekarang dia sedang istirahat, kami ada di Permata Hospital nona”


“Lho, aku disini juga Je, di ruang mana putrinya Raya”


“VVIP nona”


“Kamu jaga baik-baik itu anak Je, awas kalau kamu macam-macam” Ancam Meili.


“Baik nona”


“Je…kenapa kamu sepertinya sudah terbiasa dengan mereka?” Tanya Tuan Muda Alvero menyela pembicaraan istri dan asistennya.


Asisten Je tersentak, ia gugup sejenak.


“Itu…saya…hanya” Rupanya asisten itu masih belum bisa berkata jujur. Terdengar gelak tawa dari seberang.


“Je, Je, jangan-jangan kamu sudah terpesona ya dengan ibunya hingga kamu rela mengantarnya kembali ke Malang, padahal Banjarmasin jauh juga lho” Seru suara Tuan Muda Alvero.


“Malah saya sudah menikah dengan ibunya, Tuan Muda” Jawab Asisten Je, tapi hanya dalam hati ya. Haha, belum seberani itu ia jujur pada atasannya. Selama proses audit ia hanya memberikan kabar berupa pembenahan keuangan saja dan melaporkan kecurangan atau pelanggaran yang dilakukan oleh pimpinan cabang, semua keputusan mutlak diberikan kepada asistennya itu, jadi untuk masalah pribadi Asisten Je masih menutup rapat.

__ADS_1


Mengetahui Asisten Je yang tidak menjawab pertanyaan Tuan Muda Alvero, mereka berdua kemudian memutuskan untuk menutup telepon.


TBC


__ADS_2