Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 107 aku masih menjadi istrinya


__ADS_3

Kembali ke aktifitas dua sejoli yang sedang di mabuk asmara.


Saat ini sang Singa Galak menjadi kelelahan setelah mengeksekusi Kucing Mungilnya, ia berbaring miring sembari memeluk erat istrinya.


“Pantesan saja Tuan Muda Alvero tak pernah mau berpisah lama dari Nona Meili, rupanya seperti ini rasanya” Ucapnya geli mengingat kedua atasannya itu seperti amplop dan prangko yang selalu menempel, bahkan tidak dibiarkannya sang prangko terlepas dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal.


“Istriku sayang, kamu jadi makan bareng temen-temenmu?” Tanyanya sambil kembali menciumi tengkuk istrinya membuat wanita itu mendengus kesal. Ingatkan Asisten Je ya, kalau Raya masih sangat lelah dengan kelakuan suaminya itu, ini masih cium endus saja.


“Ya iyalah, kamu sudah janji ngijinin aku lho sayang”


“Hmm, baiklah, aku akan panggil Lani kemari”


“Tidak bisakah aku pergi bersama mereka saja?”


“Tidak bisa, kamu harus selalu ada dalam jangkuanku sayang” Kecup Asisten Je di kepala Raya.


“Aku aman kok sama mereka, bukannya nanti kamu yang menjemputku, daripada mengganggu Lani” Masih berusaha nego.


“Hmmm”


“Jadi boleh?” Raya langsung berbalik menghadap Asisten Je. Asisten Je tersenyum lebar.


“Boleh sekali lagi?” Bukannya membolehkan dalam artian tidak di antar Lani tapi ternyata Asisten Je sudah kembali meraup wajah istrinya dengan tangannya yang sudah bergerilya ke mana-mana. Raya yang sudah tidak berkutik hanya bisa mengiyakan kemauan suaminya asalkan ia bisa bebas sore ini.


…..


Selesai mandi dan berganti pakaian dengan baju yang memang sudah disiapkan di almari di kamar Asisten Je, Raya keluar dari ruangan suaminya setelah memberi kecupan banyak di wajah tampan itu.


Asisten Je tertawa senang, “ternyata seperti ini bahagianya bisa memberikan kebahagiaan juga untuk sang istri dan jangan pernah melawan istri karena imbasnya akan menderita di malam hari, heheh” Asisten Je kembali berkutat dengan pekerjaannya dengan semangat setelah sebelumnya menelepon Leon untuk memantau Raya dari jauh.

__ADS_1


“Wen kamu hubungi teman-teman ya, kita berkumpul di lobby” Perintah Raya melalui panggilan hp.


“Wo wo wo, ada apa nih, masih jam tiga ini non” Kata Weni seraya melirik jam di dinding ruangannya.


“Udah nggak usah sok sibuk, kalau nggak mau ya udah, nggak ada ruginya juga buat aku” Ketus Raya.


“Oke-oke, ih…kamu jadi ngambekan sekarang ya, oke aku hubungi teman-teman” Raya mematikan panggilan tanpa memperdulikan ocehan weni.


10 menit kemudian mereka berenam sudah meluncur di jalan raya menggunakan mobil Teja. Rekomendasi restoran siap saji usulan dari Teja adalah Ocean Garden. Semua yang di mobil langsung setuju, para wanita sudah pasti berada di belakang dengan celotehan di dominasi oleh Weni dan Reni. 30 menit kemudian mereka sampai di Ocean Garden dan mencari tempat yang bisa di jadikan tempat berkumpul.


Resto ini menyajikan aneka masakan Indonesia yang cocok untuk sharing plate/berbagi. Resto ini juga cukup luas dan ditata dengan baik. Menu dan desain resto ini menjadikan tempat ini cocok untuk acara atau berkumpul bersama.


Konsep restoran keluarga ini adalah tradisional. Di mana bisa dilihat dari segi tatanan tempat baik interior dan eksteriornya dibuat seasri mungkin. Memadukan unsur kayu dan pepohonan, sehingga kesan nyaman bisa tercipta. Tak hanya konsepnya saja yang tradisional, menu makanan yang dihadirkan juga bermacam-macam.


Banyak sekali menu yang bisa dipesan di Ocean Garden. Menu-menu tersebut terdiri dari menu reguler maupun prasmanan (buffet). Mulai dari olahan ayam seperti ayam goreng, ayam bakar, ayam penyet, kemudian ada juga menu nasi goreng, ikan nila, kepiting, iga, sampai nasi tumpeng pun juga ada. Pokoknya komplit dan paket lengkap!


Soal harga, Ocean Garden juga menawarkan harga yang relatif terjangkau. Karena target mereka adalah keluarga dan masyarakat umum, jadi tidak heran jika harga yang ditawarkan pun masih bisa terjangkau. Khususnya juga untuk kalangan mahasiswa dan anak muda. Ada harga yang memang pricey, tapi jika dilihat dengan kualitas dan porsi makanannya yang dihidangkan menurut saya harga tersebut sangatlah wajar dan worth it. Karena restoran ini menggunakan bahan-bahan segar dengan kualitas bagus.


“Sekarang jelasin mbak, maksud kamu sudah menikah dengan Asisten Je itu beneran nyata?” Weni membuka pertanyaan sembari menunggu pesanan datang.


Raya menghela nafasnya pelan melirik Teja sebentar, laki-laki itu hanya menatap seraya menaikkan sebelah alisnya. Ia tahu Raya ingin meminta bantuannya untuk menjelaskan, tapi… big no, biarlah Raya yang menjelaskan secara detail. Toh yang bersangkutan sendiri yang akan membuka jati dirinya.


“Ehm” Dehem Raya untuk menetralkan suasana.


“Kalian ingat kan, aku jadin selama dua bulan?” Mereka yang mendengar Raya berbicara pada menganggukkan kepala tanpa berusaha menjawab.


“Nah, selama jadin aku diharuskan sekamar dengan Asisten Je…”


“What the ****!” Weni berseru tak percaya, namun segera menutup mulutnya tak percaya.

__ADS_1


“Ish, gak usah teriak kali” Cemberut Raya. Weni nyengir kuda tanpa menyanggah lagi.


“Aku di suruh menemani jadin beliau ke beberapa cabang Diamond Jewerly dan untuk menghindari kedatangan wanita nggak jelas, di suruhlah aku tinggal sekamar, tapi sebelum itu aku mengajukan syarat, nikah siri untuk menghindari hal-hal yang di larang agama, jadi sebelum berangkat itu kami nikah siri, karena bingung siapa yang jadi saksi, akhirnya aku meminta Teja untuk jadi saksi dari pihakku sementara Asisten Je memilih Pak Anthoni” Raya menjelaskan panjang lebar tanpa jeda membuat semua temannya terkecuali Teja tentunya melongo tak percaya.


Raya berdehem membuyarkan pikiran mereka.


“Aduh… segitu rumitnya jadi sekretaris Asisten Je, terus statusmu sekarang apa mbak? Apa masih tetap istrinya atau…?” Tanya Reni.


Raya mengangguk, “aku masih menjadi istrinya”


“Ehm-ehm, itu… sudah itu…?” Tanya Wita ragu-ragu dengan memeragakan dua jari telunjuknya di satukan.


“Apaan sih, gak jelas” Semprot Raya, namun wajahnya memerah malu kontan Weni, Rina dan Wita terkikik melihat perubahan wajah Raya. Sementara Teja dan Wisnu hanya menggeleng tak percaya obrolan cewek cewek malah menjurus ke 21+.


“Ada perubahan nggak mbak?” Tanya Wita.


“Maksudnya?” Raya mengerutkan kening heran.


“Secara Asisten Je tampak di luar garang, cuek, dingin, nah…kalau di kamar apa ya tetap begitu?” Tandas Wita tanpa malu-malu.


“Yang pasti melting lah perasaan aku….” Bukan Raya yang menjawab tapi Weni yang di sambut dengan tawa berderai teman-temannya. Raya hanya menggeleng pasrah tanpa bisa balas menjawab.


“Wah…Bang Teja mundur teratur sebelum berperang nih” Celetuk Weni.


“Apaan lo” Judes Teja mendelik.


“Hah? Mundur? Maksudnya?” Tanya Raya menatap Teja. Laki-laki itu menggeleng keras.


“Jangan hiraukan mulut ember Weni, dah tuh makanan datang, semua sudah clear jadi tinggal kita makan makan sekaligus merayakan kebahagiaan Raya, setuju?” Teja mengakhiri pembicaraan yang disambut teriakan meriah dari semua temannya. Ia cukup tahu diri dan tentunya ia belum terlalu jauh jatuh perasaan pada Raya sehingga ia tidak merasa terlalu kecewa atau sakit hati. Lagian, siapa yang berani memprovokasi seorang Asisten Je? Dia belum siap untuk kehilangan gaji yang sangat besar apalagi jadi pengangguran.

__ADS_1


TBC


__ADS_2