Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 15 Tugas Pertama Sekretaris Raya


__ADS_3

Hallow readers


Maap maap ya baru up, aku liburin upnya kalau sabtu minggu


Acara real time lebih padat yaaaa


Gak lama-lama deh....met baca readers


Terus dukung aku ya, like, komen, faforit, vote, kalau mau hadiah juga mau lhoooo....


Di perusahaan Diamond Jewerly sudah


tersebar gossip jika sekretarsi baru Asisten Je adalah seorang wanita yang


berjilbab yang pasti dandanannya membosankan dengan gamis dan jilbab yang


terulur panjang. Pasti tidak akan ada yang menyukai penampilan sekretaris baru


itu, secara baru kali pertama ini pihak perusahaan menerima karyawan yang


memakai baju tertutup dan berjilbab.


“Kalian tahu jika Asisten Je telah


memiliki sekretaris baru, iyuuu, katanya sih pakaiannya kuno pakai gamis dan


berjilbab gitu, aku penasaran sama penampilannya nanti seperti apa” Ucap salah


satu karyawan di bagian pramutamu yang bernama Siwi.


“Benarkah? Wah aku juga penasaran, gimana


jadinya sekretaris itu nanti ya” Sahut Rina karyawan yang lainnya.


“Pastilah dia tidak akan bertahan


selama seminggu, coba aja lihat sikap Asisten Je sama wanita…huh.. pandangannya


menakutkan” Kata Desi karyawan lain di bagian clening servis yang mulutnya


ember banget emang.


“Iya benar, aku sampai bergidik kalau


ketahuan menatapnya saja” Kata Siwi dengan tatapan memuja.


“Hah…sayang sekali … kenapa bukan aku


saja yang jadi sekretarisnya” Kata Siwi dengan membayangkan selalu berdekatan


dengan Asisten Je. Namun khayalannya langsung buyar ketika pundaknya dipukul


dengan keras oleh Desi.


“Jangan halu…jadinya gila ntar”


“pst…pst…mereka datang” Seru Rina


mengingatkan teman-temannya untuk berhenti bergosip dan berbaris rapi menyambut


kedatangan Asisten Je dan Raya yang kebetulan datangnya bersamaan. Raya


berjalan mengikuti di belakang Asisten Je.


Para karyawan yang tadi bergosip


terdiam melihat langkah dua orang yang tampak elegan dan seorang wanita


berhijab yang sangat cantik di belakangnya dengan tampilan yang sangat memukau


berbeda dengan penggambaran yang mereka lakukan tadi. Serentak mereka


menundukkan kepala penuh hormat dan menatap wajah Raya diam-diam. Ada kekaguman


tersembunyi di dalam hati mereka dan mengakui kecantikan dan kemodisan wanita


itu sehingga secara otomatis mereka menerima kehadiran wanita itu sebagai


sekretaris Asisten Je. Bahkan mereka punya persepsi yang sama bahwa Asisten Je


sangat cocok sekali dengan sekretaris barunya.


.


.


Para karyawan kembali berkumpul setelah


dua orang itu hilang di dalam lift.


“Wah…kalian lihat…apa yang dikatakan


Siwi tidak berguna, buktinya sekretaris itu sangat cantik dan modis, bak model


hijab, anggun sekali” Puji Desi dengan semangat.


“Iya benar, aku sih setuju saja kalau


misal Asisten Je jadian sama sekretaris itu, tahu nggak chemistrinya dapet”


Puji Rina antusias.


“Cih, itu kan hanya penampilan saja,


semua orang juga bisa kalau di dandani kayak gitu…” Kata Siwi masih tidak


terima.


“Sudahlah, jangan ngegosip pagi-pagi,


kerja-kerja, ketahuan dipecat mau kamu?” Sergah Rina, membuat para karyawan itu


bergeser kembali ke tempat masing-masing untuk melakukan tugasnya.


Asisten Je langsung masuk ke lift


khusus atasan tanpa memperdulikan keberadaan Raya, sehingga gadis itu langsung

__ADS_1


memilih lift khusus karyawan, dan dia berencana menuju ke departemen sekretaris


dulu untuk mengenalkan dirinya.


“Hallo assalamu’alaikum, perkenalkan


saya Raya Septiani yang akan bekerja sebagai sekretaris Asisten Je, mohon


arahannya ya semuanya” Kata Raya begitu sampai di ruangan departemen sekretaris


seraya menangkupkan kedua tangannya. Ada sekitar 5 orang sekretaris di sana


dengan bagian masing-masing, 3 perempuan dan 2 laki-laki.


“Wa’alaikumussalam” Jawab mereka semua.


“Hallo Raya, aku Teja sekretaris bagian


desain perhiasan”


“Hallo Raya, aku Wisnu sekretaris


bagian pelayanan”


“Hallo Raya, aku Weni, sekretaris


bagian urusan umum”


“Hallo Raya, aku Reni, sekretaris


bagian lapangan”


“Hallo Raya, aku Wita sekretaris bagian


humas” Mereka mulai mengenalkan diri mereka masing-masing dan Raya menyalami


satu persatu dari mereka kecuali untuk laki-laki Raya hanya menangkupkan kedua


tangannya di dada.


“Wah-wah ternyata sekretaris yang


dirumorkan berbeda jauh ya” Kata Weni membuat Raya mengernyit heran.


“Maksudnya rumor apa ya?” Tanya Raya


bingung.


“Ya…katanya sekretaris baru Asisten Je


itu wanita berjilbab dengan pakaian kuno, ternyata kamu modis sekali, bahkan


tampak cantik dan anggun” Puji Teja yang memang agak playboy. Raya hanya


tersenyum kikuk, sebelum ia menjawab sudah terdengar dering telepon di meja


kecil yang bertepatan di sebelah Weni.. Wanita itu langsung mengangkatnya dan


seketika menjauhkan benda itu dengan wajah pasi.


“Baik Asisten Je”


Telepon dimatikan sepihak membuat Weni


mengelus dadanya seraya menghela nafas, sabarrr.


“Kenapa Wen?” Tanya Teja agak waspada


melihat perubahan mimik Weni. Weni menatap Raya intens.


“Asisten Je meminta mu naik ke atas,


cepatlah, beliau paling tidak suka kalau ada karyawan yang lambat, apalagi


kalau beliau yang harus menunggu” Kata Weni khawatir seraya memandang Raya.


“Ya sudah saya ke ruangan sekretaris


Asisten Je dulu ya, nanti kita ngobrol lagi”


“Oke Raya….” Jawab mereka serempak.


Raya bergegas menuju ke ruangan Asisten


Je masih dengan membawa tas.


Tok


Tok


“Masuk” Raya membuka pintu perlahan dan


mendapati Asisten Je yang sedang duduk di kursinya. Laki-laki itu melemparkan


dokumen ke arah Raya, untung saja dia reflek bisa menangkap berkas itu dengan


pas. Gerakan itu membuat Asisten Je tampak terkejut, namun ekspresi wajahnya


kembali pada mode datar.


“Kalau gossip pulang saja!” Ketusnya


tajam.


“Maaf Tuan, saya sekedar menyapa”


“Lain kali langsung ke ruanganmu!”


Masih dengan nada datar.


“Baik Tuan”


“Tugasmu hari ini memastikan semua


syuting iklan berjalan lancar” Tegas Asisten Je tanpa memandang ke arah Raya.


“Baik Tuan, saya akan bekerja dengan

__ADS_1


semaksimal mungkin, terimakasih” Raya meninggalkan ruangan Asisten Je menuju ke


ruangan di sebelahnya tempat dimana dia bertugas.


“Hm…kupastikan kau akan menyesal dan


meminta mengundurkan diri” Kata Asisten Je sarkas.


Di dalam ruangannya Raya meneliti berkas


yang diterima dari Asisten Je, tertera seorang model lokal yang sudah


meramaikan kancah permodelan di Malang Raya, dan dia dalam masa kontrak untuk


memperkenalkan produk baru dari perhiasan di Diamond Jewerly. Banyak yang


mengatakan bahwa model ini sedang naik daun dengan arogansi dan kepercayaan


diri yang tinggi. Banyak yang merasa tidak cocok dengan kinerja model itu,


sehingga memungkinkan kerja Raya nanti akan ekstra. Dan itu sudah ada dalam


pandangan Asisten Je bahwa Raya tidak akan sanggup menghadapi model itu.


“Hmmm, Nitha Amelia ya, oke semoga bisa


bekerja sama dengan baik” Semangat Raya seraya mengangkat kepalan tangan


kanannya.


Seorang model yang menjadi brand ambassador


untuk iklan perhiasan mewah baru berusia 19 tahun, masih muda dan


kepribadiannya yang masih labil, bahkan dia dikenal dengan temperamen yang


buruk, suka menindas bawahan yang tidak sesuai dengannya, terkenal arogan dan


suka menang sendiri.


Sementara itu Asisten Je di ruangannya,


menanti dengan tenang keluhan yang akan dilontarkan oleh sekretaris baru itu.


“Wanita itu akan segera mengundurkan diri di hari pertamanya bekerja,


baiklah…kita lihat bagaimana model itu menyiksanya” Asisten Je tersenyum smirk


kemudian kembali fokus dengan beberapa berkas yang dilimpahkan atasannya


kepadanya dan mulai mengerjakannya dengan sangat teliti.


“Hah….” Raya mengeluarkan nafas cukup


keras untuk mengurangi kegugupannya. Ini pertama kalinya ia terjun sebagai


sekretaris yang menangani masalah periklanan dengan membawahi seorang model.


“Ayo…semangat Raya, kamu pasti bisa” Semangatnya, kemudian ia berjalan ke arah


pintu dan siap melaksanakan tugasnya. Berkas yang harus dipelajari dan


dilakukan oleh model itu telah diketik dengan rapi dan siap diserahkan nanti


begitu bertemu dengan model itu.


Raya tiba di lobi perusahaan untuk


menyambut kedatangan model bersama asistennya. Mobil mewah berhenti di halaman


perusahaan Diamond Jewerly, tampak seorang pria gemulai turun dari pintu sopir


dan berlari membukakan pintu mobil bagian belakang. Terlihat jelas seorang


gadis yang sangat anggun dan gemulai keluar dari dalam mobil. Ia memandangi


sekitar dengan pandangan angkuhnya, seolah hanya dia yang pantas berdiri dengan


kokoh di sana.


Model itu berjalan diikuti oleh asisten


gemulai tadi yang membawakan semua perlengkapannya, Raya menyambut gadis belia


itu dengan ramah. Sejenak model itu mengangkat alisnya terkesan meremehkan.


“Selamat datang di perusahaan Diamond


Jewerly Nona Nitha, senang bisa bekerjasama dengan anda” Sapa Raya dengan


santun dan sedikit membungkukkan kepalanya sebagai tanda hormat.


Nitha menatap Raya dengan seksama,


sejenak kemudian pandangannya berubah berbinar.


“Mbak Raya kan?” Todongnya antusias


seraya langsung mengambil kedua tangan Raya. Raya hanya terbengong dengan


reaksi gadis belia itu. “Lho…lho…ada apa ini, katanya seorang model yang


arogan, angkuh, suka menindas, lha ini….” Batin Raya bingung.


“Iya? Apa kita pernah bertemu ya,


maaf…” Reaksi gadis itu langsung tampak sedih.


“Memang sih pertemuan kita singkat


banget, bahkan aku belum sempat berterimakasih sama Mbak Raya berkat


pertolongan mbak tempo hari di bandara Abdul Rahman Saleh” Katanya menatap Raya


dengan ekpresi sedih. Raya langsung terbelalak kaget.


Flash back On

__ADS_1


__ADS_2