
Terdengar sepeda motor Pak Malik
memasuki halaman dan terlihat seorang wanita setengah baya perkiraan usia 50an
turun dari boncengan belakang.
“Assalamu’alaikum Neng Raya, Bu Nanik,
anak-anak, Wah…lagi santai ya ini” Sapa Pak Malik.
“Wa’alaikumussalam” Jawab mereka
serempak.
“Iya nih pak, eh silahkan duduk dulu
pak, bu?” Raya mempersilahkan mereka duduk, ‘kok seperti pernah ketemu ya, tapi
dimana?’ Batin Raya.
“Terima kasih neng” Jawab Pak Malik
kemudian mempersilahkan wanita itu duduk.
“Ini neng yang mau membantu Neng Raya, namanya
Bu Arumi” Kata Pak Malik.
“Maaf neng, apa neng bersedia
mempekerjakan wanita yang sudah tua?” Tanya wanita itu, Raya terkejut
mendengarnya.
“Lho, ibu…saya malah merasa
berterimakasih ibu mau membantu saya membersihkan rumah, tapi apa ibu bersedia
menginap?” Tanya Raya.
“Menginap neng? Ibu tinggal sendiri
sih, jadi sepertinya tidak masalah neng”
“Kalau gitu kebetulan sekali, Bu Nanik
ini tetangga saya dan beliau yang mengurus keperluan kedua putri saya, beliau
meminta ibu untuk tinggal sama beliau” Jelas Raya seraya tersenyum, “Dan ini
Titania anak sulung saya, yang imut ini Hanum anak bungsu saya” Sambungnya
seraya mengelus kepala kedua putrinya bergantian.
“Iya terima kasih neng, salam kenal
anak-anak” Kata Bu Arumi yang sepertinya sangat menyukai lingkungan baru
tempatnya bekerja.
“Ya sudah, ibu mulai kapan bisa kerja
di sini?” Tanya Raya.
“Sekarang juga bisa neng”
“Benarkah? Wah baguslah, tapi panggil
saya Raya aja bu jangan pakai neng, ya?” Pinta Raya.
“Baiklah neng”
“Raya bu…” Protes Raya.
“Eh…iya Nak Raya” Ucap Bu Arumi gugup
membuat Raya tersenyum. Wanita setengah baya itu tersenyum dan merasa bersyukur
dalam hati karena mendapatkan majikan yang baik hati dan ramah, ia berjanji
__ADS_1
dalam hatinya akan mengabdi sampai masa tuanya habis.
“Oya bu, apa kita pernah ketemu ya,
kayaknya Raya nggak asing sama wajah ibu”
“Iyakah nak? Saya lupa e”
“Iya sih, Raya juga lupa dimana pernah
lihat ibu, Cuma wajah ibu mengingatkan Raya sama atasan Raya bu”
“Oya?”
“Uh! Pedes banget orangnya bu, umpama
cabe tuh ya, level 10 dah” Kata Raya disambut tawa seluruh yang mendengar tentu
kecuali Hanum karena ia tidak mengerti pembicaraan orang dewasa. Ia malah asyik
makan pisang goreng krispinya tanpa memperdulikan sekitarnya.
.
.
Bu Arumi selesai membereskan semua
pekerjaannya, mulai dari membersihkan rumah, mencuci baju sampai menyetrika dan
mencuci piring. Baginya ini adalah pekerjaan yang sangatlah ringan, dulu ketika
ia menjadi TKW di negeri orang, jam kerjanya hampir dikatakan 25 jam sehari,
padahal hanya ada 24 jam sehari. Itu menandakan bahwa pekerjaannya tidak pernah
habis. Setiap ada tamu, ia harus memasak sesuai permintaan tamu, sehari ia bisa
memasak sampai 20 menu bahkan pernah lebih. Apalagi kalau ada acara pesta besar,
pasti tidak ada kata menganggur untuk pembantu.
Di rumah Raya, ia merasa mendapatkan
keluarga ini menerimanya dengan lapang dada bahkan menganggapnya keluarga sama
seperti Bu Nanik.
Bu Arumi mengaku sebagai seorang janda
yang sudah tidak memiliki keluarga, ia mengaku sebatang kara, karena itulah
hidupnya selama ini ia buat melanglang buana ke negeri orang dan
berpindah-pindah negara untuk sekedar menjadi pembantu rumah tangga. Namun,
lama kelamaan kejenuhan menghampiri Bu Arumi, ia rindu negaranya, ia rindu
tanah kelahirannya, dan ia rindu dengan seseorang yang sampai sekarang ia tidak
tahu bagaimana kabarnya, wujud dewasanya, keadaannya. Terakhir, ketika ia
dengan sengaja meninggalkan seseorang itu saat usianya 30 tahun, dan selama ini
ia menderita bathin karena mengingat tatapan terakhir dari seseorang yang ia
tinggalkan. Tatapan kebencian walaupun di balik itu ia yakin ada tatapan sayang
sekaligus kecewa. Kini, di masa tuanya ia hanya ingin melihat seseorang itu
sukses dan menjadi kebanggaan orang lain, bukan seperti dirinya. Namun, sampai
kini setelah dua bulan ia tinggal di Malang, ia belum menemukan keberadaan
seseorang yang dicarinya dan hal itu membuatnya menyerah. Ia serahkan semuanya
kepada Yang Maha Kuasa, ia hanya berharap sebelum ajal menjemputnya, ia ingin
bertemu dengan seseorang itu dan meminta maaf. Itu saja harapannya untuk saat
__ADS_1
ini.
Bu Arumi terlihat setengah berlari
mendapati Raya yang kesusahan membawa beberapa tas plastik berisi berbagai
bahan makanan. Ia langsung membantu dengan membawa sebagian tas plastik itu ke
dapur.
“Nak Raya kok gak bilang kalau belanja
bahan-bahan, ibu kan bisa membantu tadi” Ucap Bu Arumi ramah.
“Tidak apa bu, Raya sudah biasa dari
dulu waktu di Jakarta begini” Kata Raya tersenyum.
“Lho Nak Raya bukan asli Malang?” Tanya
wanita setengah baya itu heran seraya menata bahan makanan di masukkan dalam wadah
dan dimasukkan ke dalam lemari es.
“Iya bu, Raya asli orang Jakarta, ini
mencoba merantau untuk mendinginkan perasaan bu”
“O gitu, suami Nak Raya nggak ikut
pindah ke sini?” Tanyanya lagi dengan menatap heran, namun raut wajahnya
langsung tidak enak begitu melihat wajah Raya yang sendu.
“Maaf nak, ibu…”
“Iya nggak papa bu, Bu Arumi kan nggak
tahu, Raya juga sih yang belum ngasih tahu juga, suami Raya udah meninggal
setahun yang lalu bu dan Raya pingin mencari suasana baru” Kata Raya mencoba tegar
membuat Bu Arumi merasa bersalah.
“Di sana Raya nangis terus nggak fokus
mau ngapa-ngapain, jadi Raya putuskan menjauh aja biar suasananya bisa
berubah.” Raya tersenyum, ia sudah bisa legawa menerima takdir yang
diperuntukkan Tuhan baginya, ia mengambil hikmah dari musibah itu, semoga ke
depannya ia bisa mengatasi dan menguasai manajemen masalah dalam hidupnya.
“Kalau melupakan jelas Raya nggak mau
bu, hanya Raya pingin cari suasana baru aja biar nggak nangis lagi, dan kedua
putri Raya merupakan malaikat kecil yang selalu membuat Raya bahagia dan akan
selalu menjaga mereka bu.” Ucap Raya mengakhiri ceritanya dengan tersenyum,
“Ibu jangan sedih gitu ah, senyum dong.” Sambung Raya sambil menata ikan dalam wadah.
Bu Arumi tersenyum memandang wanita
muda di depannya, ia terharu dengan kehidupannya, masih muda tapi sudah harus
menanggung hidup tanpa kehadiran sosok suami yang seharusnya melindungi dan
menjaganya serta anak-anaknya. Namun ia merasa salut pada Raya, di usia yang
masih tergolong muda begitu sudah mampu melindungi dan menghidupi kedua anaknya
bahkan berkumpul bersama. Bu Arumi hanya mendesah dalam hati, bagaimana dengan
dirinya? Merasa punya seseorang tapi serasa sebatang kara. Ia hanya berharap,
apa yang ia lakukan sekarang bisa bermanfaat bagi orang lain walaupun nantinya
__ADS_1
ia tetap merasa sebatang kara sampai akhir hayatnya. Biarlah semua ia simpan
sendiri sampai akhir.