Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 23 Bu Arumi


__ADS_3

Terdengar sepeda motor Pak Malik


memasuki halaman dan terlihat seorang wanita setengah baya perkiraan usia 50an


turun dari boncengan belakang.


“Assalamu’alaikum Neng Raya, Bu Nanik,


anak-anak, Wah…lagi santai ya ini” Sapa Pak Malik.


“Wa’alaikumussalam” Jawab mereka


serempak.


“Iya nih pak, eh silahkan duduk dulu


pak, bu?” Raya mempersilahkan mereka duduk, ‘kok seperti pernah ketemu ya, tapi


dimana?’ Batin Raya.


“Terima kasih neng” Jawab Pak Malik


kemudian mempersilahkan wanita itu duduk.


“Ini neng yang mau membantu Neng Raya, namanya


Bu Arumi” Kata Pak Malik.


“Maaf neng, apa neng bersedia


mempekerjakan wanita yang sudah tua?” Tanya wanita itu, Raya terkejut


mendengarnya.


“Lho, ibu…saya malah merasa


berterimakasih ibu mau membantu saya membersihkan rumah, tapi apa ibu bersedia


menginap?” Tanya Raya.


“Menginap neng? Ibu tinggal sendiri


sih, jadi sepertinya tidak masalah neng”


“Kalau gitu kebetulan sekali, Bu Nanik


ini tetangga saya dan beliau yang mengurus keperluan kedua putri saya, beliau


meminta ibu untuk tinggal sama beliau” Jelas Raya seraya tersenyum, “Dan ini


Titania anak sulung saya, yang imut ini Hanum anak bungsu saya” Sambungnya


seraya mengelus kepala kedua putrinya bergantian.


“Iya terima kasih neng, salam kenal


anak-anak” Kata Bu Arumi yang sepertinya sangat menyukai lingkungan baru


tempatnya bekerja.


“Ya sudah, ibu mulai kapan bisa kerja


di sini?” Tanya Raya.


“Sekarang juga bisa neng”


“Benarkah? Wah baguslah, tapi panggil


saya Raya aja bu jangan pakai neng, ya?” Pinta Raya.


“Baiklah neng”


“Raya bu…” Protes Raya.


“Eh…iya Nak Raya” Ucap Bu Arumi gugup


membuat Raya tersenyum. Wanita setengah baya itu tersenyum dan merasa bersyukur


dalam hati karena mendapatkan majikan yang baik hati dan ramah, ia berjanji

__ADS_1


dalam hatinya akan mengabdi sampai masa tuanya habis.


“Oya bu, apa kita pernah ketemu ya,


kayaknya Raya nggak asing sama wajah ibu”


“Iyakah nak? Saya lupa e”


“Iya sih, Raya juga lupa dimana pernah


lihat ibu, Cuma wajah ibu mengingatkan Raya sama atasan Raya bu”


“Oya?”


“Uh! Pedes banget orangnya bu, umpama


cabe tuh ya, level 10 dah” Kata Raya disambut tawa seluruh yang mendengar tentu


kecuali Hanum karena ia tidak mengerti pembicaraan orang dewasa. Ia malah asyik


makan pisang goreng krispinya tanpa memperdulikan sekitarnya.


.


.


Bu Arumi selesai membereskan semua


pekerjaannya, mulai dari membersihkan rumah, mencuci baju sampai menyetrika dan


mencuci piring. Baginya ini adalah pekerjaan yang sangatlah ringan, dulu ketika


ia menjadi TKW di negeri orang, jam kerjanya hampir dikatakan 25 jam sehari,


padahal hanya ada 24 jam sehari. Itu menandakan bahwa pekerjaannya tidak pernah


habis. Setiap ada tamu, ia harus memasak sesuai permintaan tamu, sehari ia bisa


memasak sampai 20 menu bahkan pernah lebih. Apalagi kalau ada acara pesta besar,


pasti tidak ada kata menganggur untuk pembantu.


Di rumah Raya, ia merasa mendapatkan


keluarga ini menerimanya dengan lapang dada bahkan menganggapnya keluarga sama


seperti Bu Nanik.


Bu Arumi mengaku sebagai seorang janda


yang sudah tidak memiliki keluarga, ia mengaku sebatang kara, karena itulah


hidupnya selama ini ia buat melanglang buana ke negeri orang dan


berpindah-pindah negara untuk sekedar menjadi pembantu rumah tangga. Namun,


lama kelamaan kejenuhan menghampiri Bu Arumi, ia rindu negaranya, ia rindu


tanah kelahirannya, dan ia rindu dengan seseorang yang sampai sekarang ia tidak


tahu bagaimana kabarnya, wujud dewasanya, keadaannya. Terakhir, ketika ia


dengan sengaja meninggalkan seseorang itu saat usianya 30 tahun, dan selama ini


ia menderita bathin karena mengingat tatapan terakhir dari seseorang yang ia


tinggalkan. Tatapan kebencian walaupun di balik itu ia yakin ada tatapan sayang


sekaligus kecewa. Kini, di masa tuanya ia hanya ingin melihat seseorang itu


sukses dan menjadi kebanggaan orang lain, bukan seperti dirinya. Namun, sampai


kini setelah dua bulan ia tinggal di Malang, ia belum menemukan keberadaan


seseorang yang dicarinya dan hal itu membuatnya menyerah. Ia serahkan semuanya


kepada Yang Maha Kuasa, ia hanya berharap sebelum ajal menjemputnya, ia ingin


bertemu dengan seseorang itu dan meminta maaf. Itu saja harapannya untuk saat

__ADS_1


ini.


Bu Arumi terlihat setengah berlari


mendapati Raya yang kesusahan membawa beberapa tas plastik berisi berbagai


bahan makanan. Ia langsung membantu dengan membawa sebagian tas plastik itu ke


dapur.


“Nak Raya kok gak bilang kalau belanja


bahan-bahan, ibu kan bisa membantu tadi” Ucap Bu Arumi ramah.


“Tidak apa bu, Raya sudah biasa dari


dulu waktu di Jakarta begini” Kata Raya tersenyum.


“Lho Nak Raya bukan asli Malang?” Tanya


wanita setengah baya itu heran seraya menata bahan makanan di masukkan dalam wadah


dan dimasukkan ke dalam lemari es.


“Iya bu, Raya asli orang Jakarta, ini


mencoba merantau untuk mendinginkan perasaan bu”


“O gitu, suami Nak Raya nggak ikut


pindah ke sini?” Tanyanya lagi dengan menatap heran, namun raut wajahnya


langsung tidak enak begitu melihat wajah Raya yang sendu.


“Maaf nak, ibu…”


“Iya nggak papa bu, Bu Arumi kan nggak


tahu, Raya juga sih yang belum ngasih tahu juga, suami Raya udah meninggal


setahun yang lalu bu dan Raya pingin mencari suasana baru” Kata Raya mencoba tegar


membuat Bu Arumi merasa bersalah.


“Di sana Raya nangis terus nggak fokus


mau ngapa-ngapain, jadi Raya putuskan menjauh aja biar suasananya bisa


berubah.” Raya tersenyum, ia sudah bisa legawa menerima takdir yang


diperuntukkan Tuhan baginya, ia mengambil hikmah dari musibah itu, semoga ke


depannya ia bisa mengatasi dan menguasai manajemen masalah dalam hidupnya.


“Kalau melupakan jelas Raya nggak mau


bu, hanya Raya pingin cari suasana baru aja biar nggak nangis lagi, dan kedua


putri Raya merupakan malaikat kecil yang selalu membuat Raya bahagia dan akan


selalu menjaga mereka bu.” Ucap Raya mengakhiri ceritanya dengan tersenyum,


“Ibu jangan sedih gitu ah, senyum dong.”  Sambung Raya sambil menata ikan dalam wadah.


Bu Arumi tersenyum memandang wanita


muda di depannya, ia terharu dengan kehidupannya, masih muda tapi sudah harus


menanggung hidup tanpa kehadiran sosok suami yang seharusnya melindungi dan


menjaganya serta anak-anaknya. Namun ia merasa salut pada Raya, di usia yang


masih tergolong muda begitu sudah mampu melindungi dan menghidupi kedua anaknya


bahkan berkumpul bersama. Bu Arumi hanya mendesah dalam hati, bagaimana dengan


dirinya? Merasa punya seseorang tapi serasa sebatang kara. Ia hanya berharap,


apa yang ia lakukan sekarang bisa bermanfaat bagi orang lain walaupun nantinya

__ADS_1


ia tetap merasa sebatang kara sampai akhir hayatnya. Biarlah semua ia simpan


sendiri sampai akhir.


__ADS_2