Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 30 Persaingan Dua Hati


__ADS_3

Kepulangan Titania dan tim membawa keberhasilan yang gemilang, selain mendapatkan medali emas juga mendapatkan gelar ‘The Best Debate” yang membuat harum nama sekolah dan kebanggaan yang semakin tinggi terhadap keberadaan Titania dan tim. Sesuai yang dikatakan Jason bahwa ia hanya bisa mengantar sampai Surabaya setelah itu Jason kembali memesan tiket domestic ke bandara ARS dan langsung dijemput oleh Raya.


Sampai di rumah, Raya menyuruh putrinya membersihkan diri dulu baru makan siang. Untung hari ini Hari Minggu, jadi Raya tidak harus bingung ijin pada atasan untuk bolos.


“Akak…anen” Hanum langsung berlari memeluk Titania yang disambut gadis muda itu dengan menguyel-uyel pipinya gemas.


“Ih…makin mbul deh” Godanya namun tidak membuat gadis kecil itu cemberut malah tertawa senang.


“Mana olehna?” Tanya Hanum setelah duduk di meja makan, Raya dan kedua ibunya ikut mempersiapkan hidangan ke atas meja.


“Ada tuh di mobil, eits makan dulu” Cegah Titania ketika melihat Hanum akan beranjak dari kursi membuat gadis kecil itu cemberut.


“Iya, ayok makan dulu, nggak ada yang rebut oleh-oleh Hanum kok” Kata Raya yang sudah siap duduk Di kursi diikuti oleh Bu Nanik dan Bu Arumi. Setelah makan mereka bertiga berkumpul di ruang keluarga dengan Titania membawa semua penghargaan dan oleh-olehnya. Sementara Bu Nanik dan Bu Arumi membereskan meja makan.


Putri sulungnya sedang mengeluarkan beberapa barang dari tas besar yang ternyata isinya semua yang berhubungan dengan karakter my little pony mulai dari tas, sepatu, kaos, topi, sampai boneka, lengkap deh.


“Waaaaa” Teriak Hanum kegirangan.


“Banyak amat kak.” Kata Raya heran.


“Itu semua dari Mommy Hanna untuk Hanum ma” Jelas Titania.


“Ma syaa Allah, Mbak Hanna selalu saja ingat kesukaan Hanum ya” Raya bersyukur dalam hati, hubungannya dengan istri mantan suami pertamanya itu sangatlah baik, bahkan mereka layaknya saudara kandung.


“Mommy juga nitip ini ke mama” Titania menodorkan paper bag warna merah maroon ke Raya dan wanita itu langsung membukanya dengan pandangan takjub. Sebuah gamis lengkap dengan hijabnya yang terkesan sederhana tapi mewah rancangan desainer kondang.


“Wah, ma syaa Allah mama juga kebagian nih, kakak udah bilang makasih?” Titania mengangguk tersenyum.


“Aku juga beliin buat Eyang dan Nenek” Kata gadis itu seraya mengambil dua bungkusan kotak dan diberikan kepada dua orang wanita yang duduk di seberang mereka. Tampak kedua wanita itu berucap syukur dengan wajah yang bahagia, terutama Bu Arumi, ia merasa sangat dihargai di keluarga ini.

__ADS_1


“Terima kasih ya cah ayu” Kata Bu Nanik dan Bu Arumi bersamaan. Mereka kompak sekali bahkan panggilan ‘cah ayu’ pun sampai sama. Hal itu membuat semua yang berada di ruang tengah tertawa senang.


.


.


Sore hari…


Raya dan kedua anaknya berkunjung ke rumah sakit Nirwana Bunda untuk menjenguk putranya Pak Malik. Hari ini kondisi fisiknya sudah mulai membaik, tinggal kaki dan tangan kirinya saja yang harus selalu melakukan perawatan dan terapi. Rencananya besok sore Amri putra Pak Malik sudah diperbolehkan pulang, hanya dia tidak boleh dulu melakukan pekerjaan berat atau kegiatan yang melibatkan aktifitas kaki dan tangan agar kondisi retaknya tidak semakin buruk, itu akan sangat membahayakan kelanjutan ke depannya. Dan untuk ct scan harus menunggu waktu yang dijadwalkan oleh pihak rumah sakit.


“Neng, terima kasih banyak ya, bapak tidak tahu lagi bagaimana cara membalasnya neng” Kata Pak Malik dengan wajah sendu.


“Iya neng, ibu juga sangat bersyukur, lain kali akan kami…” Timpal Bu Asih yang langsung dipotong Raya.


“Pak bu, kalau kalian masih hitung-hitungan berarti kalian tidak menganggap Raya sebagai anak ya…” Ucap Raya dengan mimik wajah di buat sedih. Kedua manula itu langsung panik dan merasa bersalah.


“Neng, bukan begitu maksud ibu, ibu hanya…”


“Terima kasih Bu Raya atas kebaikannya…” Sahut Amri seraya menunduk.


“Panggil mbak aja Amri.”


“Eh…iya mbak, terima kasih” Amri tersenyum haru.


“Baiklah, besok sore Raya nggak bisa jemput dan antar ke rumah ya pak, karena tugas lagi banyak, besok pagi bapak ambil mobil ke rumah ya”


“Lho trus neng ke kantornya gimana?” Tanya Pak Malik tidak enak hati.


“Gampang itu pak, malamnya bapak kan bisa jemput saya lagi”

__ADS_1


“Oh iya neng, siap. Terima kasih sekali lagi”


“Iya pak, ya sudah Raya dan anak-anak balik dulu ya pak, ayo Kakak dan Adek salim dulu sama Kakek, Nenek dan Bang Amri” Pamit Raya seraya menyuruh kedua putrinya berpamitan juga.


“Kakek, uti, Anum pulang ya” Gadis cilik itu maju salim pada kedua manula dan Amri diikuti oleh Titania setelah itu mereka keluar untuk pulang.


.


.


Raya kembali beraktifitas seperti biasanya, dia benar-benar sibuk mempersiapkan berkas-berkas perjanjian  kesepakatan yang akan di pakai meeting persetujuan kerja sama dengan perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan, mereka berusaha mencari peluang yang lebih luas selain bisnis di bidang perhiasan. Meeting akan kembali di adakan di perusahaan Diamond Jewerly dengan mengundang pemegang saham termasuk Prasaja  Resot and Hotel.


Hingga akhirnya pukul dua siang semua undangan sudah hadir di ruang rapat, tinggal menunggu Alvero sebagai CEO Diamond Jewerly beserta asistennya, tak lupa sekretaris pribadi Asisten Je.


“Siapkan berkasnya, jangan sampai tertinggal atau terlewat satu informasi pun, karena ini kerja sama awal” Titah  Alvero kepada dua orang yang berdiri di depannya, siapa lagi kalau bukan Asisten Je dan Raya. Kedua orang itu mengangguk mantab.


“Baiklah kita ke ruang rapat sekarang”


“Baik Tuan Muda, silahkan” Asisten Je menyilahkan Alvero berjalan duluan kemudian di susul keduanya di belakangnya.


“Jaga sikapmu” Kata Asisten Je tiba-tiba membuat kening Raya berkerut heran.


“Maksudnya?” Tanyanya tak mengerti.


“Aku tahu dia tertarik padamu, jadi jangan tebar pesona di saat jam kerja” Bisiknya sinis agar tidak didengar bos  mereka. Raya langsung membelalakkan matanya.


“Saya selalu bersikap ‘profesional’ kalau Anda lupa Tuan” Tekan Raya pada kalimat ‘profesional’. Laki-laki itu


hanya tersenyum sinis.

__ADS_1


Mereka sudah memasuki ruang rapat dan terlihat semua sudah hadir. Saat Raya muncul terakhir pandangan sepasang mata langsung berbinar dan bersemangat.


“Selamat siang tuan-tuan semua, kita akan mulai meetingnya dengan masing-masing investor menyampaikan presentasinya” Sambut Asisten Je yang selalu tegas, lugas dan tanpa basa-basi dengan menanyakan kabar terlebih dahulu. Hal itupun sudah menjadi sesuatu yang biasa bagi para pengusaha itu. Alvero hanya mengamati semua presentasi dengan gaya yang elegan dan tegas, tanpa ada interupsi atau menyela, ia memperhatikan semua materi yang di sampaikan oleh masing-masing pemegang saham. Kesepakatan diambil dengan saling menguntungkan pihak pertama dan para pemegang saham, sehingga tidak ada yang merasa di rugikan.


__ADS_2