
Sementara Asisten Je di ruangan kantornya sedang memarahi direktur pemasaran beserta stafnya yang tidak becus membuat laporan bulanan yang diminta. Ia banyak mengoreksi isi dari laporan yang dianggap semuanya tidak ada yang beres. Para bawahan itu hanya bisa menunduk pucat ketakutan menyaksikan kemarahan Asisten Je, mereka lebih baik menerima marahnya bos besar dari pada marahnya sang asisten karena marahnya asisten kadang tanpa kompromi. Entah apa yang terjadi sebelumnya, padahal biasanya laporan mereka selalu diterima dengan beres. Baru kali ini saja laporan mereka dikatakan salah.
“Perbaiki semua, saya tunggu hari ini juga!” Perintahnya tegas.
“Baik Asisten Je” Jawab direktur pemasaran dengan gugup.
‘Bilang saja kalau nggak sanggup, saya bisa mengganti sekarang juga!” Tekannya lagi dengan wajah kesal dan tegas.
“Tidak Asisten Je, kami akan memperbaikinya segera sekarang” Gugup laki-laki paruh baya itu semakin panik. Apa jadinya kalau mereka kehilangan pekerjaan ini, gaji yang menjanjikan walaupun harus memegang komitmen yang sangat tinggi, tentu kesetiaan yang tidak boleh di tawar. Mereka keluar dengan tergesa begitu mendapati lambaian tangan Asisten Je dengan kasar. Laki-laki gagah itu hanya mendengus kesal. Ia melirik ke jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Sudah hampir jam tiga dia belum kembali juga? Memang apa istimewanya laki-laki itu?” Geram Asisten Je. Ia juga
tak habis pikir kenapa perasaannya gelisah tak karuan. Apa yang terjadi dengan dirinya? Wanita itu hanya sekretarisnya, seorang janda anak 2, apa istimewanya coba? Pikirnya kesal. Namun, ia tidak bisa memungkiri hatinya, sedikit ia tertarik dengan sekretarisnya itu, ingat ya, hanya sedikit. Elah, itu kan pemikiranmu Asisten Je, sementara hatimu sendiri sudah sangat condong sekali pada wanita itu. Akui sajalah. Bisik hatinya yang lain.
Setelah 4 jam berlalu lampu di atas pintu kamar operasi itu padam, menandakan bahwa operasi telah selesai. Tak lama muncul dr. Andrew dan beberapa dokter lain yang menemaninya, mereka berbicara sebentar kemudian saling berpisah. dr. Andrew mendekati keluarga pasien yang sudah berdiri menghadapnya dengan harap-harap cemas.
“Bagaimana dokter keadaan anak saya?” Tanya Pak Malik dengan raut wajah yang sangat khawatir.
“Syukur puji Tuhan, operasi berjalan lancar pak, saat ini kondisi pasien masih belum sadarkan diri. Setelah biusnya
habis kurang lebih 2 jam ke depan, pasien akan siuman, kondisi kritisnya juga sudah lewat” Terang dr. Andrew.
“Alhamdulilah, terima kasih dokter” Kata Pak Malik lega dengan menggenggam erat tangan kanan dr. Andrew. Dokter itu tersenyum mengangguk.
“Sama-sama pak, tapi saya perlu berbicara sebentar dengan keluarga pasien” Kata dokter itu setelah tangannya
terlepas.
“Biar saya dokter” Raya mengajukan diri untuk ikut membicarakan kondisi pasien.
“Baik, mari ikuti saya nona” Dokter itu mengangguk kemudian berlalu menuju ke ruangannya.
“Bapak dan ibu tunggu di sini dulu ya”
“Baik neng” Jawab mereka serempak.
Raya duduk di depan meja dr. Andrew setelah ia memasuki ruangannya.
“Begini nona…” Dokter muda itu menjeda kalimatnya.
“Raya dokter.” Dokter itu tersenyum mengangguk.
__ADS_1
“Begini Nona Raya, kondisi pasien saat ini sudah stabil setelah menjalani operasi, tapi ke depan tetap harus dipantau terutama untuk gegar otaknya, kami belum bisa melakukan ct scan karena kondisi pasien belum pulih benar, mungkin tiga atau empat hari ke depan baru kita akan lakukan ct scan.”
“Baik dokter, upayakan yang terbaik untuk pasien, saya harap dokter melakukan penyembuhan sesuai prosedur.”
“Tentu Nona Raya, semua usaha akan kami lakukan sebagai pelayanan terbaik rumah sakit kami, jangan khawatir tentang hal itu, pelayanan utama adalah prioritas kami”
“Baiklah dokter, apa masih ada yang lainnya?”
“Sejauh ini tidak ada, saya sangat takjub dengan semangat hidup yang ditunjukkan oleh pasien, walaupun dalam
keadaan koma tapi dia punya semangat yang tidak pernah menyerah”
“Terima kasih dokter atas semuanya, kalau ada keluhan mengenai kondisi pasien dokter bisa menghubungi saya saja” Kata Raya seraya menyerahkan kartu namanya. Dokter itu menerimanya dengan santai kemudian mengangguk.
“Baik Nona Raya, terima kasih atas kerja samanya, saya akan melaporkan keadaan pasien setiap hari.”
“Baik dokter, kalau begitu saya permisi dulu” Raya menyudahi pembicaraan kemudian menganggukkan kepala sopan dan keluar dari ruangan dr. Andrew. Dokter muda itu hanya tersenyum kemudian kembali mengamati kartu nama di atas mejanya. Di raihnya kartu kecil itu dan mengelus tulisan di atasnya.
“Hmmm, wanita yang cantik, lemah lembut, sopan, semoga kita bertemu kembali Nona Raya” Gumamnya perlahan seraya tersenyum, kemudia ia memasukkan kartu itu ke dalam lacinya dan kembali menekuni pekerjaannya.
Kembali ke depan kamar operasi, Raya telah sampai dan mengatakan semua yang dibicarakan dengan dokter tadi, kedua orang tua itu bernafas lega mengetahui kondisi anaknya dalam keadaan yang baik-baik saja. Raya melihat jam di pergelangan tangan kanannya, jarum jam menunjukkan angka 4, ia harus segera kembali ke kantor kalau tidak mau mendapat auman srigala galak.
“Pak Malik, saya harus kembali ke kantor dulu, kalau ada apa-apa bapak telpon saya saja langsung, nanti tolong
“Ya Allah, saya terima kasih banyak neng, bagaimana saya harus membalasnya?” Kata Pak Malik dengan mata
berkaca-kaca. Sementara Ibu Asih sudah mengeluarkan air mata harunya mendapati majikan suaminya yang sangat baik dan perhatian.
“Pak Malik dan Bu Asih sudah saya anggap keluarga, jadi apapun yang menimpa bapak, saya juga ikut bertanggung jawab, saya pamit dulu ya pak bu, in shaa allah nanti saya sempatkan menengok dulu sebentar”
“Iya neng, sekali lagi terima kasih, hati-hati di jalan neng, apa perlu bapak antar neng?”
“Sudah nggak usah pak, bapak fokus di sini aja dulu ya, Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam” Jawab manula itu serempak. Raya segera berlalu keluar rumah sakit dengan memesan taksi online untuk mengantarnya kembali ke perusahaan Diamond Jewerly.
.
.
Raya menaiki lift khusus karyawan yang kebetulan berbarengan dengan beberapa temannya di bagian sekretaris.
__ADS_1
“Aduh Mbak Rayaaaa, untung mbak nggak ada di tempat” Kata Weni dengan nada gemas.
“Eh, emang ada apaan Wen?” Tanya Raya heran seraya memandang ketiga gadis di depannya.
“Huh, nggak bisa dibayangkan lagi deh mbak, pekerjaan kami serasa nggak ada yang bener di mata Asisten Je, beliau marah-marah terus, bahkan Pak Jemy direktur pemasaran juga kena semprot parah” Jelas Wita sambil geleng kepala.
“Masak sih?” Raya masih tidak percaya Asisten Je akan bersikap keras seperti itu, memang sih, biasanya ia akan
berbicara tegas dan tanpa di buat-buat, tapi marah sampai membuat seluruh divisi panik? Oh ayolah Raya yang tiap hari saja tidak sampai sepanik itu kali.
“Ih Mbak Raya nggak percayaan amat sih, hati-hati saja mbak kalau menemui Asisten Je, jangan membantah, iyain aja ya mbak” Kata Reni menguatkan argument Wita. Raya hanya mengangguk pasrah. Mereka berpisah di lantai 5 karena Raya masih harus naik satu lantai lagi.
Keluar dari lift, ia langsung menuju ke ruangan Asisten Je untuk memberitahukan bahwa ia telah kembali, jam kerjanya memang berakhir pukul 19.00, sekarang sudah pukul 16.20.
“Semoga tidak ada acara lembur-lembur dadakan” Doanya seraya mengetuk pintu Asisten Je.
Tok
Tok
“Masuk!” Seru suara tegas di dalam. Hiii, auranya kok mencekam ya, padahal kan belum masuk. Batin Raya bergejolak, ia membuka pintu perlahan dan tatapannya langsung beradu dengan mata tajam Asisten Je, serta merta Raya langsung menunduk pias.
“Maaf Tuan, saya agak lama…”
“Sudah puas senang-senangnya!” Sinis Asisten Je sembari menekuni berkas di depannya tanpa melihat raut wajah Raya yang langsung mengeras. Tangan wanita itu terkepal kuat.
“Saya ke rumah sakit Tuan, bukan senang-senang” Bantahnya tidak terima.
“Memang saya harus peduli gitu?! Jam kerjamu terbuang percuma 5 jam ini, jadi kamu harus menggantinya!” Katanya tanpa perasaan, sementara tanpa sadar bibirnya tersenyum tipis. Terdengar helaan nafas yang cukup keras membuat kepala laki-laki tampan itu mendongak.
“Kamu tidak suka?” Tanyanya tajam.
“Tidak Tuan, baik saya akan mengganti 5 jam kerja saya yang terbuang, saya permisi” Jawab Raya dengan sopan.
“Hmm” Gumam Asisten Je kembali menunduk, membuat Raya mendengus dalam hati, kedua tangannya memeragakan seolah akan mencekik leher asisten itu.
“Haaahhh, alamat lembur malam lagi, maafin mama anak-anak” Desahnya seraya duduk di kursinya. Di lihatnya berkas yang menumpuk di mejanya, sepertinya berkas baru yang sengaja di letakkan di mejanya, seingatnya tidak ada berkas apapun di mejanya saat berangkat meeting tadi.
Raya meletakkan tasnya di kursi melepas sepatu high hillnya kemudian melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat jamak takhir dhuhur dan ashar bersamaan karena tadi dia tidak sempat melaksanakan sholat dhuhur. Setelah selesai dengan ibadahnya, dia kembali ke kursi kerjanya dan mulai memilah berkas mana yang lebih penting untuk di dahulukan.
“Huh, semangat saja Raya, semakin cepat kamu kerjakan semakin selesai dan kamu bisa cepat pulang, oke…selamat bekerja lembur Raya” Wanita itu menyudahi keluhannya dan mulai mengerjakan berkas itu dengan teliti.
__ADS_1
Hallow readers.....selamat membaca aja deh, syukur-syukur mau nge-vote palagi hadiah....makasiiiihhhh bangget banget yah...