
Malang, malam hari.
Hanum menarik-narik lengan Titania kakaknya yang memeluknya dari belakang. Malam ini entah kenapa Hanum ingin tidur di kamar Titania, dia sudah beralasan sangat kangen dengan mamanya karena sudah hampir dua bulan mamanya belum juga pulang.
Walaupun selama ini ia sudah terhibur dengan video call dan keberadaan Lani dan Leon, ternyata perasaan hati gadis kecil itu sangat rapuh, ia sudah sangat merindukan keberadaan mamanya. Video call ternyata tidak bisa meredam kerinduan gadis kecil itu. Ia ingin mamanya hadir di hadapannya dan bisa dipeluk sepuasnya.
Titania membuka mata dan melihat ke arah Hanum, “kenapa?”
“Perutku sakit” Keluh Hanum seraya memeluk perutnya sendiri.
“Aku panggilkan Tante Lani!” Titania segera pergi keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar Tante Lani. Ketukan pintu di kamarnya membuat Lani membuka mata. Titania sengaja berlari menuju ke kamar Lani bukan ke kamar Bu Nanik dan Bu Arumi karena pasti wanita itu akan langsung tanggap. Apalagi akan memakan waktu lama kalau harus keluar rumah dulu.
“Tante, aku masuk ya.” Titania membuka pintu dan menghampiri Lani yang terbangun dan duduk di atas ranjang.
“Kenapa Kak Tita?”
“Perut Hanum sakit”
Lani segera menyingkap selimutnya dan turun dari ranjang lalu berlari ke kamar anak dari istri majikannya. Titania mengekor di belakangnya.
__ADS_1
Lani menghampiri Hanum yang sudah meringkuk di atas ranjang dan menangis, “sebelah mana yang sakit sayang?” Tanya Lani dengan cemas. Hanum menunjuk perut sampingnya, “mama…” Rengeknya dengan derai air mata.
Deg
Lani segera mengangkat tubuh Hanum dan mengusap punggungnya, “kita ke rumah sakit ya” Hanum mengangguk lemah di bahu Lani. Gadis itu paham kalau Hanum sudah sangat rindu dengan mamanya,hingga kerinduannya menyebabkan dia stress dan menyerang kram di perutnya hingga melilit.
Titania memberikan jaket Hanum pada Lani dan gadis itu segera memakaikannya dan berlari keluar, “Kakak Tita bisa memanggil Om Leon untuk mengantar kita ke rumah sakit?”
“Iya” Gadis itu segera berlari lagi keluar kamar dan menuju kamar belakang dan menggedor pintu kamar yang ditempati Leon. Pemuda itu langsung membuka matanya cepat, refleknya langsung bangkit, merasa kalau ada keadaan yang darurat. Pintu terbuka dan pemuda itu mendapati Titania berdiri di depan kamarnya.
“Ada apa?”
“Mama sakit….” Rengeknya mengkhawatirkan, perasaan Lani rasanya mencelos mendengar rintihan gadis kecil itu. Waktu dua bulan ternyata membuat gadis itu juga langsung mencuri perhatian Lani, gadis itu sangat menyayangi gadis kecil itu. Selama ini ia berusaha menghibur Hanum agar ia bisa merasa senang dan sedikit melupakan kerinduan kepada mamanya. Namun batas kesabaran kerinduan seorang anak terhadap mamanya ada batasnya, dia masih sangat kecil, perpisahan yang cukup lama itu sudah membuat hatinya merintih.
“Iya sayang, sabar ya, kita tunggu Om Leon, Hanum bisa peluk tante agar sakitnya terbagi” Lani memeluk erat gadis kecil itu, ia ingat waktu kecil dulu ketika ia sakit perut ibunya memberinya minuman yogurt untuk meredakan sakit perut.
“Kak Tita, tante bisa minta tolong?” Gadis itu mengangguk tanpa menjawab, “bisa ambilkan yogurt di kulkas?” Tanpa menunggu lama Titania langsung berlari ke dapur dan membuka kulkas untuk mengambil yogurt, dia berlari kembali ke ruang tengah dan memberikannya pada Lani.
“Terima kasih”
__ADS_1
“Sama-sama tante, Hanum akan sembuh kan tan?” Cemas Titania.
“Pasti sayang, kita tunggu Om Leon dulu, Hanum mau yogurt?” Yogurt mengandung probiotik tinggi yang baik untuk mengatasi sakit perut pada anak karena bisa membantu meningkatkan sistem imunitas dan meringankan gangguan pencernaan juga kembung pada perut.
Hanum mengangguk dan menerima yogurt yang sudah dibuka oleh Lani.
“Lani, ayo mobilnya sudah siap, sini biar Hanum aku yang gendong” Leon mengambil alih tubuh Hanum kemudian bergegas keluar menuju mobil yang telah siap di depan rumah. Lani dan Titania mengikuti dari belakang, ketika sudah sampai di mobil Lani masuk dulu dan memangku Hanum, Titania menyusul duduk di sebelahnya kemudian Leon segera memutari mobil, pemuda itu segera mengemudikan mobil menuju rumah sakit terdekat Permata Hospital.
“Tante, telepon mama..” Pinta Hanum dengan terisak-isak.
Lani melihat jam tangannya, menunjuk angka 10 malam, dia khawatir Raya dan Tuan Muda sedang lembur menyelesaikan urusan yang hampir selesai atau bahkan sedang istirahat. Bisakah ia menyela dan memberitahukan keadaan Hanum? Ia dilanda dilemma saat ini, lapor takutnya mengganggu aktifitas mereka, tidak lapor takutnya dianggap menyepelekan kesehatan Hanum.
“Hanum sayang, besok saja gimana? Mama besok sudah pulang, yah?”
Hanum semakin menangis dan meringkuk di pelukan Lani, “mama…aku kangen mama, aku ingin di peluk mama.” Ringik Hanum serak dengan masih terisak-isak. Titania di sebelahnya ikut menitikkan air mata melihat adiknya seperti kesakitan. Ia tidak tega melihat keadaan adiknya, tanpa pertimbangan lagi, ia mengambil hp di kantong celananya dan membuat panggilan video dengan mamanya. Hanum masih meringkuk lemas di iringi tangis yang menyayat hati.
Panggilan video tersambung dengan menampilkan wajah Raya di layar penuh.
“Mama…” Lirih Titania. Tampak pergerakan dari sampingnya, Hanum bangun segera meminta layar di hadapkan pada dirinya.
__ADS_1