
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda
Jam ke 3-4 waktunya mapel fisika yang di ampu oleh Mr. Juna.
Terkenal sebagai guru killer, jika ada siswa terlambat maka konsekwensinya siswa tersebut tidak boleh masuk kelas dan hukuman lainnya tidak boleh mengikuti mapel berikutnya selama 1 kali.
Ajaib.
"Ta, jadi gimana rencana nanti sore?" Bisik Amanda di sebelahnya.
Tita menjawab dengan berbisik pula.
"Jadi"
"Yess, kita berdua aja lho ya, jangan sampai tahu si Gery" Runtuk Amanda seraya mendengus sebal. Sebabnya kalau sudah jalan bertiga sama si Gery pasti Idam, Johan, dan Lucky teman-teman sengklek Gery pada ikutan. Bukannya apa, mereka kalau sudah berkumpul, suasana jadi ramai kisruh dengan candaan empat sekawan itu.
"Iya, udah ah ntar ketahuan Mr. Juna tahu rasa lo" Baru saja Titania selesai ngomong sudah ada teriakan menggelegar dari depan kelas.
"Titania! Kamu ulangi lagi materi yang bapak jelasin, cepat!"
Titania dan Amanda sampai terlonjak kaget. Gadis itu menoleh melotot pada Amanda. Apes deh.
Banyak tatapan mata yang mengarah pada Titania dengan iba. Jangan ditanya lagi, kalau sudah membuat Mr. Juna kesal dan marah, tidak ada ampun bagi semua siswa, bahkan cewek sekalipun.
"I...iya pak" Titania menjawab dengan gugup, bukan karena takut ya tapi lebih karena kaget mendengar teriakan memggelegar dari Mr. Juna. Mungkin suara guru killer itu sampai di kelas sebelahnya.
"Maju ke depan, jangan bisanya cuma ngobrol ya!" Sindir Mr. Juna.
__ADS_1
Titania berdiri dan melangkah tenang ke depan, si ono menyenggol lengan Titania dan memberi gerakan semangat dengan mengepalkan tangannya ke udara. Titania hanya mengangguk.
Titania menghadap teman-temannya dan mulai menjelaskan materi yang di sampaikan oleh Mr. Juna.
"Besaran pokok adalah besaran yang menjadi dasar untuk menetapkan besaran yang lain. Satuan besaran pokok disebut satuan pokok dan telah ditetapkan terlebih dahulu berdasarkan kesepakatan para ilmuwan. Besaran pokok sifatnya bebas, artinya tidak bergantung pada besaran pokok yang lain.” Titania diam untuk mengambil nafas.
“Besaran turunan adalah besaran yang disusun dari besaran pokok. Satuan besaran turunan disebut satuan turunan dan diperoleh dengan menggabungkan beberapa satuan besaran pokok. Misalnya, satuan turunan dari luas. Luas itu diperoleh dengan mengalikan panjang dan lebar suatu bangun." Titania mulai menjelaskan.
"Nah, panjang dan lebar itu satuan pokoknya kan meter (m). Jadi, satuan turunan luas adalah Luas = panjang x lebar = m x m = m2. Paham ‘kan sampai di sini?” Titania melanjutkan dengan diakhiri pertanyaan yang meniru gaya Mr. Juna, membuat seisi kelas tertawa riuh sementara Mr. Juna hanya tersenyum kecut.
“Masih ada lho, yang terakhir adalah dimensi suatu besaran menunjukkan cara besaran tersebut tersusun dari besaran-besaran pokoknya. Pada sistem Satuan Internasional (SI), ada tujuh besaran pokok yang berdimensi, sedangkan dua besaran pokok tambahan tidak berdimensi. Cara penulisannya dinyatakan dengan lambang huruf tertentu dan diberi tanda kurung persegi. Untuk lebih jelasnya, perhatikan tabel yang sudah terpampang di papan ya” Titania membalik tubuhnya untuk menunjukkan tabel SI pada teman temannya.
“Kamu juga dapat mencari dimensi suatu besaran lain dengan cara mengerjakannya seperti pada perhitungan biasa. Untuk penulisan perkalian pada dimensi, biasa ditulis dengan tanda pangkat positif dan untuk pembagian ditulis dengan tanda pangkat negatif, seperti yang tertulis di papan.” Titania kembali menunjuk tabel penulisan perkalian pada dimensi di papan.
“Oke, supaya nggak bingung, sekarang kita lanjutkan lagi aja mendengarkan penjelasan Mr. Juna, setuju?” Tita mengakhiri penjelasannya dengan menghembuskan nafas panjang.
"Sudah Mister" Titania menoleh pada Mr. Juna.
Terdengar tepuk tangan meriah dari seisi kelas merasa kagum dengan kepintaran Titania.
"Hmm, jangan mentang-mentang kamu pinter terus boleh mengabaikan saya ya" Kata Mr. Juna dengan nada yang mulai rendah.
"Iya mister, maaf"
"Sudah duduk sana, jangan ulangi lagi"
"Baik mister terima kasih" Titania membungkuk perlahan kemudian berjalan menuju ke kursinya kembali.
__ADS_1
"Baiklah sekarang lihat di wa kalian, bapak sudah share tugas tentang besaran, satuan, dan dimensi yang tertuang dalam tabel, silahkan kamu lengkapi informasi yang kosong. Sekarang!" Tegas Mr. Juna.
Bisik-bisik pun terdengar mengiringi tugas yang diberikan Mr. Juna. Walaupun dengan eksresi tidak ikhlas, akhirnya mereka mengerjakan tugas sesuai petunjuk.
….
"Huh, capek banget dah, Mr. Juna kalau ngasih tugas gak tanggung-tanggung nih, udah harus diselesain hari ini juga" Keluh Gery. Kini mereka sedang duduk melingkar di kantin menunggu pesanan mereka datang. Formasi mereka saat ini, Gery, Idam, Johan, dan Lucky duduk bersebalahan, di depan mereka ada Amanda, Titania dan Felix. Ingat Felix kan? Iyap, betul, mereka bertiga yang mewakili olimpiade saint di ibukota Jakarta waktu SMP dulu.
"Makanya selalu belajar dong, jadi kita akan selalu siap kapanpun itu" Sindir Amanda sinis.
"Iya-iya paham siapa yang pintar" Balas Gery mencibir.
“Udah tahu nggak pintar masih aja ngotot masuk kelas unggulan” Sindir Johan.
“Diem lu, ngrusak aja” Sentak Gery meninju lengan Johan pelan.
“Lagian enakan sama kita-kita bos, nyante, tinggal datang, duduk, dengar, diam…” Sahut Idam.
“Molor trusss” Ledek Lucky menambah ruwet suasana.
“Diam lu semua, katanya teman kok malah njatuhin!” Bentak Gery marah.
"Emang kenyataan kan? Kita itu dituntut untuk selalu siap dalam keadaan apapun, karena kita kelas unggulan, gitu aja masih harus diingetin sih" Tambah Amanda memanasi suasana di sambut tawa berderai dari semua temannya.
Gery hanya meringis malu melirik Titania yang hanya tersenyum seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
TBC
__ADS_1