Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 8 Melamar Pekerjaan (2)


__ADS_3

Raya menyiapkan berkas-berkas lamaran


yang akan di bawa ke beberapa perusahaan yang ia lihat di facebook tadi malam.


Dan ia juga sudah membuat semua berkas itu dengan rapi dan dimasukkan dalam


map-map tersendiri. Ia menghitung ada sejumlah lima map. Ia berharap ada salah


satu berkas lamaran yang bisa lolos seleksi.


Suara musik dari hp nya tanda ada


dering telepon masuk, di lihatnya nama yang tertera, Pak Malik. Ia langsung


menggeser tombol gambar telepon berwarna hijau.


“Assalamu’alaikum, ya halo pak?”


“Wa’alaikumussalam, eneng jadi nggak


ngelamar kerja? Kalau jadi jam 08.00 tet harus sampai sana neng, biar nggak


ngantri banyak nantinya” Tanya suara Pak Malik di seberang telepon.


“Ehmm, gimana ya pak, syaratnya itu lho


yang bikin Raya ragu…”


“Kalo bapak nih neng, ya coba aja dulu


neng, siapa tahu neng di terima, bapak siap anterin kok neng”


“Gitu ya pak, ya deh, tapi Raya nggak


buat berkas lamaran kerja ini pak…tapi bapak tungguin kan ya, Raya belum tahu


jalan ini, takutnya pas selesai Raya pulangnya bingung”


“Ok siaaappp neng, dan nggak usah


berkas laraman neng kan syarat cuma KK sama KTP aja, jadi bapak jemput sekarang


ya neng” Ucap Pak Malik dengan semangat. Hih…yang mau ngelamar kerja Raya kok


yang semangat Pak Malik ya…ish..ish.


“Jadi jalannya nak?” Tanya Bu Nanik


yang keluar dari dapur dengan membawa segelas teh hijau kesukaan Raya.


“Eh..ibu, iya nih…Raya mau ngelamar


kerja, doain Raya diterima ya bu”


“Selalu nak, nak Raya orang baik pasti


ke depan akan selalu di mudahkan jalannya oleh Allah SWT.”


“Aamiin, oya bu, nanti sepulang melamar


kerja Raya nanti mau belanja keperluan dapur, ibu mau nitip apa?”


“Oalah ndak usah nak Raya, dipenuhi aja


kebutuhan nak Raya sama anak-anak”


“Baiklah, apa ibu punya rekom untuk


ikan?”


“Yang pasti kesukaan anak-anak saja


nak, masalah masak ibu beres dah…” Bangga Bu Nanik.


Raya tersenyum, “Jadi ngrepotin nanti


bu, Raya cuma minta jagain dedek jadi merembet nih…”


“Nggak papa nak, selama ibu bisa


kerjakan ya di kerjakan”


Raya kembali mengangguk kemudian


mendengar bel mobil berbunyi.


Tin..tin…tin, suara klakson mobil


dibunyikan.


“Kayaknya Pak Malik dah datang deh bu,


Raya berangkat dulu ya…”


“Iya nak, hati-hati”

__ADS_1


“Hanum…sini sayang, mama berangkat dulu


ya, doain mama biar dapet kerja biar bisa beli mainan yang banyak untuk dedek”


“Yeeee, mainan banak ya mama” Hanum


melompat kegirangan dengan memeluk Raya dan Raya mencium kening anaknya sayang.


Raya berlalu ke depan di iringi Hanum


yang digendong oleh Bu Nanik, Hanum melambaikan tangannya sampai Raya masuk ke


taksi dan Raya melemparkan ciuman jauh kepada anaknya yang di tangkap dengan


kedua tangan Hanum dan di masukkan dalam hatinya, membuat Raya tertawa lucu


melihat anaknya yang semakin hari semakin menggemaskan.


“Lucu ya neng putrinya” Kata Pak Malik


yang dari tadi memperhatikan interaksi ibu dan anak itu.


“Hehe iya pak, hiburan Raya itu”


“Iya neng, sudah siap neng, kita


berangkat?”


“Ayo pak”


Pak Malik menjalankan mobilnya menuju


perusahaan perhiasan terbesar di Kota Malang, tempat pertama Raya mencoba


peruntungan melamar kerja di sana.


Raya tiba di parkiran perusahaan


perhiasan sebelum jam 08.00, namun antrian sudah sangat panjang, bisa dikatakan


mengular.


“Kok banyak banget yang ngelamar ya


pak?”


“Tenang aja neng, kesempatan ini


datangnya tidak dua kali lho, saya kok sudah punya keyakinan neng yang bakal di


terima”


“Ya ayoklah neng, semangat neng, bapak


tunggu di pos saptam ya, sambil ngobrol sama teman lama”


“Baik pak…”


Jam 08.00 tepat pendaftaran di buka,


ada tiga pos yang melayani antrian tapi dengan karakteristik persyaratan yang


berbeda.


Pada pos pertama pelamar menyerahkan


KTP dan KK, dari situ jika usia sesuai persyaratan yaitu di atas 27 tahun akan


langsung masuk ke pos 2 yaitu pengukuran tinggi badan dan berat badan,


beruntung Raya memiliki tinggi 172 cm dengan berat badan 60 kg, jadi bisa


dibilang tinggi dan berat badannya termasuk ideal untuk ukuran wanita dewasa.


Pos selanjutnya yaitu pos 3 khusus penguasaan bahasa asing dimana mereka akan


di wawancarai langsung menggunakan Bahasa Inggris. Dari semua persyaratan sudah


pasti Raya lulus dengan sangat mudah, dan ia mendapat undangan lebih lanjut


untuk tes besok pagi di jam yang sama.


Raya berlalu mendatangi pos satpam


menemui Pak Malik yang masih asyik ngobrol dengan temannya.


“Pak Malik ayo pulang” Ajaknya seraya


menganggukkan kepala kepada satpam teman Pak Malik.


“Sudah neng? Gimana…lolos?” Tanya Pak


Malik.


“Tentu dong pak, besok Raya kembali

__ADS_1


lagi ke sini untuk tes selanjutnya”


“Alhamdulillah, ini mau langsung pulang


neng?”


“Antar ke supermarket bisa pak? Raya


mau belanja ini” Pintanya.


“Asiaapp neng” Pak Malik langsung


meluncur ke supermarket di dekat perusahaan.


.


.


Raya berkeliling mencari bahan untuk


satu minggu ke depan, semua jenis ikan, udang, ayam, daging, sosis, telur,


mentega dan jenis saus, sayuran aneka macam. Ia meneliti ke kereta dorongnya,


sepertinya sudah cukup, selain bahan tadi masih ada beberapa camilan dan


minuman, jadi ia rasa hari ini cukup itu saja. Ia masih menambah dua karung


beras, gula, kopi,dan bumbu dapur. Lengkap sudah, ia mendorong keretanya ke


kasir dan menunggu untuk dihitung.


“Semuanya 1.445.800 mbak” Kata kasir,


Raya menyerahkan ATM untuk pembayaran. Setelah selesai ia meminta tolong pada


salah seorang pramuniaga untuk membawakan kereta dorongnya ke mobil. Pak Malik


dengan sigap membantu pramuniaga itu memasukkan semua barang ke bagasi dan


beberapa di bagian tengah. Pak Malik mengantarkan Raya kembali ke rumah dan


bersedia mengantar kembali esok hari.


.


.


.


Raya menyiapkan makan malam ditemani


oleh Titania, gadis itu tengah mengupas kentang yang sudah dicuci bersih,


kemudian memasukkan ke rebusan air di panci. Hari ini Raya akan menyenangkan


lidah Titania dengan memasak mashed potato, bahan sudah lengkap, kentang, susu


cair, keju, saos. Sementara untuk Hanum yang jelas sosis panggang dengan saos


tomat dan lelehan keju.


Setelah berkutat selama 30 menit, kedua


masakan itupun jadi dan mereka berdua menatanya di meja. Hanum hanya


memperhatikan mama dan kakaknya tanpa bisa membantu. Ia ingin membantu tapi


mama bilang kalau sudah segede kakak baru boleh membantu.


“Nah….makanan sudah jadi….ayo kakak


adek cuci tangan dulu ya terus berdoa”


“Iya mama” Sahut mereka berbarengan.


“Hmmmm….enak ma, gak kalah sama mashed


potato di resto Jakarta” Puji Titania.


“Ah…masak sih, tapi terimakasih…kalau


Hanum gimana?”


“Emmm, enak cocicnya ma”


“Habiskan ya, biar cepet gede” Raya mengelus


kepala putri bungsunya. Raya senang sekali dengan perkembangan kedua putrinya


yang tidak mau bermanja-manja, ia bahkan sangat ingin sekali tiap hari menyuapi


Hanum, tapi gadis kecil itu bilang, mau makan sendiri seperti kakaknya,


walaupun belepotan, tapi bagi Raya itu sebuah anugrah, di usia yang masih 3

__ADS_1


tahun Hanum tumbuh menjadi gadis kecil yang tidak manja, dan tidak rewel.


To Be Continued


__ADS_2