Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 95 Rencana di jodohkan


__ADS_3

“Leon, ruang kerja” Perintah Asisten Je melalui telepon, tanpa menunggu jawaban laki-laki itu langsung mematikan panggilan. Ia melangkah ke arah ruang kerja sambal membawa secangkir kopi buatan istrinya.


Leon memasuki ruang kerja Asisten Je dengan mengetuk pintu dahulu.


“Masuk” Perintah suara dari dalam.


Leon membuka pintu dan masuk ke dalam dengan sopan.


“Tuan, ada yang bisa saya bantu?”


“Raya sudah sampai dengan selamat?” Tanpa menjawab pertanyaan Leon Asisten Je malah menanyakan istrinya sudah sampai apa belum. Kadang Leon tidak habis pikir, jarak rumah mereka hanya beda 2 blok dan itu tidak jauh, jalan kaki tidak sampai membutuhkan waktu 10 menit. Tapi bagi Leon, perintah seringan atau seberat apapun yang datang dari tuannya, ia dan Lani akan melaksanakan perintah itu dengan sungguh-sungguh.


“Sudah Tuan, Lani baru saja kembali ketika Tuan memanggil saya” Jelas Leon.


“Hmmm” Asisten Je membuka lembaran-lembaran berkas pekerjaan hotel yang harus segera ia tanda tangani. Kesibukannya sebagai asisten Tuan Alvero tidak serta merta melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang CEO perhotelan mewah di Kota M.


Leon tidak berani mengganggu konsentrasi atasannya, di suruh berdiri menunggu sampai berapa jam pun tetap akan ia lakukan. Karena ia sangat paham, ketika ia dipanggil, berarti ada keadaan penting yang akan segera ia lakukan bersama Lani, hanya menunggu perintah dari tuannya saja.


Asisten Je melempar sebuah gulungan kertas padanya yang langsung ia tangkap dengan sigap.


“Cari informasi orang itu” Perintah Asisten Je singkat.


Leon membuka gulungan kertas itu dan mendapati sebuah nama Perempuan. Arumi Bestari.


“Lengkap”


“Baik Tuan, kami akan segera mencari informasi detail tentang wanita ini” Tidak ingin banyak tanya Leon segera pamit undur diri.


Sepeninggal Leon, Asisten Je melempar bolpoinnya ke meja kerjanya dengan kasar. Mengingat nama yang ia tulis tadi, moodnya langsung buruk. Sebenarnya ia tidak rela tangannya menulis nama dari wanita yang ia benci, tapi ia lebih jijik dan benci jika menyebutnya dengan mulutnya.


Tubuhnya bersandar perlahan ke sandaran kursi, pandangannya menerawang ke langit-langit ruangan. Ia memejamkan matanya mencoba untuk merefreskan pikirannya.

__ADS_1


Tubuh tegap itu bangun dari duduknya setelah menghabiskan kopinya kemudian melangkah keluar menuju dapur untuk mencuci cangkir. Ia menuju meja makan, ia tadi sempat melihat istrinya memasak sebelum pulang. Ah…kapan ia akan tinggal bersama keluarga kecilnya. Ia sudah tidak sabar.


Ia menatap binar melihat sepiring nasi goreng seafood dan segelas jus jeruk. Di lahapnya 2 sajian itu dengan semangat.


Hari ini lengkap seminggu Nona Meili berada di rumah sakit, dan waktunya untuk pulang. Asisten Je pasti akan selalu mengawal keluarga mereka dari pulang sampai tiba di mansion.


“Je, mana Raya? Kenapa dia tidak bersamamu?” Tanya Meili, wanita itu duduk di kursi roda yang di dorong oleh suaminya. Ibu mertuanya mengikuti mereka dari belakang seraya menggendong si kecil. Sementara ayah mertuanya berjalan di sampingnya.


“Dia bersama keluarganya Nona” Kata Asisten Je sopan.


“Biasanya ia selalu menemanimu” Sindir Meili membuat Asisten Je mendengus ringan.


“Ini kan hari Minggu Nona”


“Ah…iya, aku sampai lupa sama hari”


“Sayang…jangan memikirkan hal yang berat, kondisimu masih lemah” Peringat Alvero dengan cemas. Meili memutar bola matanya.


“Lemas apanya, kamu saja yang berlebihan, sehabis melahirkan itu wajar merasa lemas, tapi semua terbayar lunas ketika si buah hati lahir dengan selamat dan sehat” Ketus Meili.


‘Apa nanti aku juga akan bersikap seperti Tuan Alvero saat Raya melahirkan?’ Batinnya, tanpa sadar ia tersenyum membayangkan momen itu, yang sialnya sempat di lihat oleh Alvero.


“Ada yang lucu Je?” Tanyanya seraya menaikkan kedua alisnya.


“Ah, tidak ada Tuan” Kaget Asisten Je seraya menunduk pelan.


“Kenapa kamu tersenyum? Kamu mengejekku kan sebagai suami yang terlalu berlebihan? Kamu belum pernah merasakan menjadi suami, jadi kamu tidak tahu rasanya mengkhawatirkan kondisi istrimu yang habis melahirkan” Kata Alvero panjang lebar.


“Maaf Tuan” Sudahi saja perdebatan dengan kata maaf dari pada urusannya tambah panjang dan pastinya akan semakin tidak masuk akal.


“Makanya segera carilah istri agar kamu merasakan bagaimana mencintai dan mengkhawatirkan seorang istri” Kata Alvero.

__ADS_1


“Baik Tuan” Jawab Asisten Je.


“Baik-baik, emang semudah itu kamu mencari istri Je?” Tanya Meili seraya menertawakan jawaban Asisten Je barusan.


“Jangan cari wanita sembarangan, kamu harus tahu bibit bebet dan bobot wanita itu, jangan sampai kamu tertipu, kamu kan tidak pernah dekat dengan seorang wanita” Pesan Meili.


“Baik Nona”


“Apa perlu aku carikan Je?” Meili tiba-tiba teringat Raya, senyum manis terbit di bibirnya.


“Jangan Nona” Jawab Asisten Je cepat.


“Heh! Kenapa kamu sampai kaget begitu? Apa ada yang tidak aku ketahui selama ini?” Alvero memicing curiga memandang Asisten Je dari belakang.


Bulu kuduk Asisten Je tiba-tiba meremang, ia bingung antara jujur atau tetap menyimpannya. Kalau mau jujur, kedua anak gadis itu masih belum merestuinya sebagai ayah mereka. Kalau tidak jujur, ia takut ketidakjujurannya akan membawanya pada malapetaka.


Mereka memasuki mobil yang sudah di siapkan di depan lobby oleh supir. Kedua mertuanya menaiki mobil satunya dengan masih menggendong si kecil. Asisten Je memerintahkan untuk segera meluncur pulang ke mansion.


“Hahaha, kamu mengakuinya kan?” Ejek Alvero semakin gencar mengganggu Asisten Je dengan menendang kursi depannya dengan kakinya.


“Maaf Tuan, saya tidak paham maksudnya” Jawab Asisten Je sekenanya.


“Huh, dasar asisten lambat, urusan pekerjaan saja kamu nomor satu, begitu urusan wanita kamu bisanya cuma lola” Sindir Alvero sambil tersenyum mengejek.


“Maaf Tuan, saya mengakui kalau sudah menikah dengan Raya dan berharap Raya hamil, dengan begitu saya akan segera meresmikan pernikahan saya” Jawab Asisten Je sambil menggumamkan kalimat terakhir.


“Iya maaf-maaf terus saja kamu bisanya … kapan kamu nyari istrinya … gerak cepat dong” Ucap Alvero masih dengan nada menyindir.


“Maaf Tuan, sepertinya itu masalah privasi saya” Jawabnya sopan, lebih baik di tunda dulu sampai mereka berdua bisa berbicara berdua saja.


“Huh” Dengus Alvero keras, “Jangan hiraukan dia istriku, biar dia jadi bujak lapuk, baru tahu rasa dia” Sewot Alvero seraya memeluk istrinya dari samping. Wanita itu hanya tertawa mendengar kekesalan suaminya, ia juga merasa seperti ada yang disembunyikan oleh Asisten Je. Hanya ia tidak tahu, apa pemikirannya sesuai dengan kenyataan nantinya. Ia tidak mau berharap lebih. Berniat menjodohkan temannya malah jadi masalah rumit nantinya.

__ADS_1


“Sudahlah sayang, biarkan saja Asisten Je, kamu memang tidak berhak mengatur hidupnya” Meili berkata dengan bijaksana. Ia yakin saja sih ada yang disembunyikan oleh Asisten Je, secara tingkah laku laki-laki itu sedikit lebih terbuka.


TBC


__ADS_2