
Baru akan berbaring tidur, terdengar nada dering hp di atas nakas. Tanpa melihatpun Raya sudah tahu siapa yang menelpon malam-malam begini.
“Sayang…nggak bisa bobok” Rengek suara di telepon dengan suara yang dibuat mendayu. Raya sampai bergidik di buatnya.
“Ucapkan salam ketika mengawali pembicaraan” Kata Raya tanpa menggubris rengekan Asisten Je. Terdengar decakan ringan.
“Iya, assalamu’alaikum sayang”
“Wa’alaikumussalam”
“Ke sini dong say, aku bener-bener nggak bisa tidur nih”
“Hilih…aku yakin kamu hanya modus aja” Sergah Raya mencibir walaupun suaminya tidak melihatnya.
“Aku tahu bibirmu maju untuk mengejekku, rasanya aku ingin melum…”
“Tidak sopan!” Seru Raya malu langsung menutup telepon dan beranjak ke kamar mandi. Rencana mau tidur nyaman, gagal deh. Setelah mempersiapkan dirinya dengan berbagai printilan wanita Raya keluar dari kamar dengan membawa hp. Saat melewati kamar Titania, Cahaya dalam kamar sudah redup menandakan gadis itu sudah menyelesaikan tugasnya dan tidur.
Klik.
Perlahan Raya memutar kunci seminimal mungkin tidak menimbulkan suara, setelah terbuka ia kembali menguncinya dari luar dan bergegas menuju mobil yang sudah siap di depan rumahnya. Suaminya itu benar benar tanggap akan kebiasaan malam mereka. Hadew.
Dalam sekejap Raya sudah sampai di depan rumah Asisten Je. Raya tidak habis pikir, apa yang ditakutkan suaminya itu sampai-smapai harus di antar jemput, apa jadinya kalau mereka berjauhan nanti. Raya sampai tidak berani membayangkan.
“Lani, tidak bisakah kamu menolak perintah tidak masuk akal atasanmu itu?” Tanya Raya sebelum membuka pintu mobil.
“Maafkan saya nona”
“Huh, biasakan panggilan mu Lani, aku tidak suka mendengarnya” Sungut Raya seraya turun dari mobil, gadis di sebelahnya hanya meringis take nak hati. Perintah Asisten Je adalah segalanya bagi dia dan saudara kembarnya, setidak masuk akalnya seperti apapun tetap perintah itu akan dilaksanakan.
__ADS_1
Saat akan mengetuk pintu ternyata pintu sudah lebih dulu terbuka menampilkan sosok pria tampan nan gagah yang hanya mengenakan celana piyama. Dadanya yang bidang dengan perut yang sispex terekspos dengan sempurna. Raya terkejut melihat penampilan suaminya itu, dengan mata yang melotot marah di dorongnya tubuh suaminya masuk ke dalam dan segera menutup pintu sekaligus menguncinya.
“Harusnya aku yang marah karena kamu memutus telepon secara sepihak” Rajuk Asisten Je melihat kemarahan di wajah istrinya.
“Terus kamu ingin menunjukkan pada semua orang seberapa gagah tubuh kamu gitu, iya?” Raya mendorong dada Asisten Je dengan telunjuknya.
Laki-laki itu tersenyum menggoda.
“Jangan tersenyum!” Sentaknya seraya melewati tubuh Asisten Je untuk menuju ke dapur. Asisten Je berbaik dan menarik tubuh istrinya.
“Mau kemana? Aku kan ngantuk sayang…” Di peluknya perut istrinya dan di tidurkannya kepalanya di bahu istrinya.
“Aku haus, lapar” Cuek Raya dengan paksa melepas kedua tangan Asisten Je yang melingkar di perutnya. Laki- laki itu cemberut namun tetap mengikuti istrinya menuju ke dapur.
Raya mengambil panci untuk memasak air, kemudian beranjak ke kulkas melihat ada apa saja yang bisa di masak. Beneran, dia lapar banget. Ada sosis, telur, sayuran hijau. Ia berpikir kalau membuat nasi goreng akan membuat begah perutnya karena malam-malam makan nasi rasanya terlalu berat. Ia mengambil ketiga bahan tersebut kemudian melihat ke lemari makan. Ah…ada mie instans, tinggal satu tapi jumbo. Okelah sip.
Sebentar kemudian Raya membawa segelas jeruk panas dan semangkuk mie kuah yang asapnya masih mengepul. Ia sudah siap untuk menyantap mie tersebut.
“Ehm” Raya menoleh menaikkan kedua alisnya bertanya tanpa suara. Seolah mengatakan ada apa?
“Punya aku mana?” Masih mode merajuk. Raya mengangkat bahu acuh.
“Situ nggak minta”
“Tapi aku kan mauuuu” Raya menahan diri untuk tidak tertawa melihat ekspresi suaminya yang lucu bin nggemesin. Raya berdiri mengambil sendok lagi dan menyerahkan pada Asisten Je.
“Nggak mau… aku maunya di suapin” Rengeknya.
“Hadew… kemana Singa Galak itu ya” Raya menggeleng tak percaya, akhirnya mereka berdua makan mie semangkuk berdua dengan acara suap-suapan dan jeruk panas pun dinikmati berdua.
__ADS_1
Setelah menikmati acara romantisan tersebut, Asisten Je langsung membawa istrinya ke kamar untuk melanjutkan adegan yang sore tadi tertunda. Hayya….tahulah ya… kalau sudah adegan 18++, sudahlah kita tinggal aja mereka berdua. Hahahahaha.
(Mbak Author: ijin ngulik adegan seru nya Tuan Saga sama Nona Daniah ya Kak Shei)
(Asisten Je: Ah nggak modal lu Mbak, buat ndiri dong, jangan meres otak orang lain)
(Mbak Author: diem aja lu asisten galak, lu kudu manut sama aku)
(Asisten Je: gak guna dong otak lu=ekspresi menghina)
(Mbak Author: fine! Gue akan buat sendiri dan gue buat Raya meninggalkan asisten yang gila kembali pada Darren cinta sejatinya= tersenyum menyeringai)
(Asisten Je:panik: jangan dong thor, aku udah nggak bisa jauh dari istriku= ekspresi memelas)
(Mbak Author: makanya diem jangan berisik, lu manut lu aman= ekspresi mengancam)
(Asisten Je: iya-iya= ekspresi pasrah)
(Mbak Author: tersenyum menyeringai: he he he, gue buat lu menderita dikit kali yee, biar tahu rasa= ekspresi tertawa puas)
Dengan mata yang masih terpejam dan rasa kantuk yang masih menyergap, Asisten Je meraba tempat tidur di sampingnya. Tangannya yang biasanya melingkar di perut istrinya terasa hampa. Benar, tempat tidur di sampingnya kosong, seseorang yang biasanya dia dekap erat menghilang. Rasanya tidak nyaman kalau mendapati istrinya meninggalkan nya tanpa ijin begini. Asisten Je menoleh ke jendela, Suasana langit masih temaram menunjukkan masih pagi buta.
“Sayang!” Kepalanya menoleh melihat sekitar kamarnya tapi keberadaan istrinya raib. Apa dia pulang lagi tanpa ijin? Ia segera mengambil hp dan menghubungi Lani untuk memastikan Raya di antar pulang ke rumahnya, namun jawaban Lani yang mengatakan ia belum mengantar Raya membuat laki-laki itu khawatir.
Asisten Je bangkit dari kamar kemudian berteriak lagi lebih keras. “Raya!” Kali ini terdengar sahutan dari dalam kamar mandi.
“Aku di kamar mandi sebentar sayang, tidurlah lagi” Asisten Je menghela nafas lega, ia merasa tenang istrinya masih berada di sisinya. Asisten Je kembali menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur tapi tetap terjaga.
To Be Continued
__ADS_1