Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 47 SAYANG! PUAS?


__ADS_3

“Kenapa? Ada yang lucu?” Asisten Je menatap tak suka terhadap Raya yang sepertinya menahan tawa. Wanita itu  terkejut dan menggeleng cepat.


“Tidak Tuan…”


“Hmmm”


“Mas?”


“Aku bukan kakakmu, ganti!” Ketusnya.


“Abang?”


“Apalagi itu?”


“Terus saya harus manggil apa?”


“Terserah, asal jangan yang itu” Jawab Asisten Je seenaknya.


Raya mengerutkan keningnya bingung. Ia heran kenapa laki-laki di depannya harus minta di panggil dengan sebutan lain, bukannya ketika mereka berhadapan dengan klien, ia akan tetap memanggil Tuan. Mau bagaimana pun keadaan mereka, di kantor Raya tetaplah seorang sekretaris yang harus profesional. Tidak lucu bukan kalau di hadapan orang banyak Raya harus memanggil sayang.


Eh!


Raya membekap mulutnya seraya menatap Asisten Je tak percaya. Masak iya laki-laki itu minta dipanggil sayang, nggak banget kali. Orang suka sewot, dingin, kaku, apa jadinya kalau di panggil sayang? Hah…gini amat nasib istri siri, mau manggil aja susah bener.


“Aku menunggu…” Desis Asisten Je tak sabar.


“Sayang…?” Kata Raya menyerupai bisikan.


“Apa kamu sariawan hingga disuruh memanggil saja harus bisik-bisik?” Asisten Je mendengus kesal.

__ADS_1


“Sayang! puas?” Sentak Raya yang seketika berbalik keluar membuka pintu, hampir ia menubruk Leon yang berdiri  membelakangi pintu. Laki-laki itu menoleh menyaksikan sendiri bagaimana wajah Raya yang kemerahan dan tawa berderai dari atasannya di dalam sana.


“HAHAHA”


Tanpa menghiraukan tatapan kedua orang itu, Raya bergegas menjauh dari ruang kerja itu.


“Leon!” Seru suara dari dalam yang sudah kembali dalam mode datar dan tegas.


“Ya Tuan”


“Ikutlah dengan istriku ke rumahnya, tugas kalian menjaga anak-anak selama kami ke luar kota” Perintahnya tegas  seraya melempar kunci mobilnya yang ditangkap dengan cekatan oleh Leon.


“Baik, laksanakan Tuan, kami permisi” Sebenarnya ada banyak sekali pertanyaan yang ingin ia dan saudara kembarnya sampaikan, tapi mendengar perintah mutlak tuannya, Leon dan Lani bergegas menyusul keberadaan Raya yang sudah sampai di depan pintu gerbang.


“Nyonya, mohon tunggu sebentar, kami akan mengantar Anda” Lani berlari tergesa mengejar langkah Raya.


“Maaf Nyonya, ini perintah Tuan Muda” Kembali Lani mencegah, sekarang bahkan ia telah berdiri di depan Raya, membuat wanita itu mengerutkan kening kesal.


“Rumahku hanya beberapa blok dari sini, aku bisa jalan kaki…”


“Tetap saja Nyonya…”


“Hah…baik, asal panggil namaku” Ancam Raya akhirnya tersenyum. Lani di buat gugup, tidak mungkin ia memanggil istri atasannya hanya dengan nama saja. Dimana sopan santunnya.


“Maaf…”


“Tidak ada yang dengar tahu” Sewot Raya menepis tubuh Lani agak kuat hingga membuat gadis itu tergeser tubuhnya ke samping kiri, ia sempat shock merasakan kekuatan wanita tersebut seperti bukan kekuatan biasa, ia saja sampai tergeser padahal ia memeiliki pertahanan tubuh yang kuat. Bertepatan mobil yang dikendarai Leon sampai di samping mereka, mau tidak mau, Raya akhirnya masuk juga dengan wajah cemberut. Reaksi itu benar-benar membuat dua saudara kembar itu merasa gemas.


“Mari Nyonya…” Leon keluar untuk membukakan pintu penumpang bagi Raya, sementara Lani menunggu sampai Raya masuk kemudian ia bergantian masuk ke kursi depan menemani Leon.

__ADS_1


“Nyonya…”


“Raya, umur kita sebaya sepertinya”


“Tapi…”


“Atau turunkan aku di sini!” Sentak Raya tak mau kalah.


“Baik Raya, rumahmu di Blok D no xx benar?” Leon akhirnya pasrah memanggil dengan nama saja.


“Benar sekali, oya kalian sudah menjadi asisten Tuan Je sudah berapa lama?”


“Sudah 5 tahun Nyo… eh, Raya” Kali ini yang menjawab Lani.


“Aku kok tidak pernah melihat kalian di kantor? Apa tugas kalian di lapangan? Tapi toko emas mana ada tugas lapangan ya, lagian kalau sudah ada dua asisten kenapa masih butuh sekretaris juga, kalian sepertinya juga sangat cekatan bekerjanya” Rentetan pertanyaan di sampaikan Raya. Leon dan Lani tersenyum tipis mendengar rentetan pertanyaan dan argument Raya.


“Kami bekerja di hotel milik Tuan Muda, Raya”


“Hotel? Jadi Tuan Je punya hotel?” Tanya Raya terkejut.


“Banyak dan tersebar di beberapa kota besar” Jelas Leon seraya mengarahkan mobil ke blok di mana Raya tinggal.


“Woaah, terus kenapa dia harus menjadi asisten kalau dia seorang bos?” Pertanyaan itu sepertinya lebih ke dirinya  sendiri.


“Tuan Muda tidak ingin diketahui oleh umum Ra” Jawab Lani.


“Hmmm” Raya mengangguk paham, cuma yang ia herankan bagaimana cara dia menangani hotel kalau tiap harinya ia selalu bersama Tuan Muda Alvero, bahkan bisa dikatakan sedetik pun Asisten Je tidak pernah keluar perusahaan selain ijin dari Tuan Muda.


“Kita sudah sampai Ra” Leon membuyarkan lamunan Raya, membuat wanita itu terkejut karena Leon sudah berada di sebelah pintu mobil dengan memegang daun pintunya, mempersilahkan Raya turun. Lani berdiri tegak di samping Leon.

__ADS_1


__ADS_2