
Aku doble up ya gaes, untuk menebus hari-hari kemaren yang tidak sempat up...
Selamat membaca readers, jangan lupa dukungannya juga ya, like komen vote hadiah, haha biarin lah dikata kemaruk...hahahaha
Jam 22.00 tepat…
Raya sudah berulang kali menguap, matanya pun sudah sesekali berair saking tak bisa diajak kompromi lagi. Asisten Je yang melihatnya menghentikan aktifitas mereka.
“Darman, antar Raya ke hotel dulu, nanti aku dan Sammy akan menyusul” Titahnya.
“Baik Tuan Muda, mari Nyonya” Ajak Darman sopan.
“Terima kasih tu…sayang, aku duluan yaaa” Ucap Raya hampir lupa dengan panggilan ‘khusus’nya. Asisten Je hanya menggeram kesal.
Sesampainya di kamar hotel Raya langsung mandi dan memakai baju tidurnya, tak lupa jilbab langsungan di kepalanya. Ia mengambil selimut cadangan di lemari dan sebuah bantal di bad lalu membawanya ke sofa yang ternyata super empuk.
Ia ingat janji pada putri kecilnya untuk menelepon. Sejenak ia mencari nomor Bu Arumi di kontaknya, sebentar kemudian nada tersambung langsung berbunyi dan deringan kedua terdengar suara di seberang.
“Assalamu’alaikum Nak Raya” Salam Bu Arumi tersenyum.
“Wa’alaikumussalam bu, anak-anak apa sudah tidur bu?” Tanya Raya, secara sekarang sudah pukul 22.30 malam.
“Belum nak, Hanum dari tadi menunggu telepon dari mu”
“Iya, ini baru bisa istirahat, tadi sampai tujuan langsung sidak bu, bisa sambungkan ke anak-anak dulu bu?”
“Iya, ibu akan ke depan ya” Raya mengangguk sabar seraya menata bantal dan selimut di sofa.
“Mama…” Jerit Hanum senang.
“Anak mama, kok belum tidur?”
__ADS_1
“Nunggu mama, katanya mau telpon” Rengeknya. Raya tersenyum, pasti saat ini gadis kecilnya itu tengah merajuk cemberut.
“Mama ubah vc ya, bentar” Raya menekan tombol kamera kemudian sebentar kemudian pihak sana menggeser dan muncullah wajah kedua anaknya yang sumringah.
“Mama…kangen” Rengek Hanum.
“Iya sayang, mama juga kangen, sabar yah, nggak lama kok”
“Mama sama siapa di kamar?” Bukan Hanum yang bertanya tapi Titania yang berusaha menyelidik siapa tahu ada orang lain di kamar mamanya.
“Sendiri dong, nih lihat kan?” Kata Raya seraya memutar kamera depan dan memperlihatkan seluruh kamar. Memang benar kan, saat ini ia sedang sendiri.
“Mama, aku tadi dapat 100 untuk gambaran bunga matahari aku” Lapor Hanum senang.
“Oya, wah bangganya punya anak yang pintar, mama seneng deh. Oya, sudah dulu yah, Hanum tidur udah waktunya bobok kan?”
“Iya, mama juga tidur yah, jangan sibuk-sibuk mama” Pesan gadis kecil itu dengan bibir mengerucut.
“Hati-hati aja ma di sana”
“Siap tuan putri, ya sudah ayo istirahat semua, mama tutup ya… muach. Assalamu’alaikum” Raya mengakhir dengan melambai pada kedua anaknya.
“Muach, sayang mama, waalaikumsalam” Jawab keduanya.
Layar hp pun mati, Raya meletakkan hp di atas nakas sebelah sofa kemudian beranjak mematikan lampu kamar hingga lampu redup yang masih menyala.
Tanpa menunggu lama, mata cantik itu sudah menutup sempurna dengan dengkuran halus keluar dari hidungnya.
2 jam kemudian…
Klek
__ADS_1
Terdengar pintu kamar di buka, yang pertama kali dilakukan sang pembuka pintu itu adalah mencari keberadaan Raya. Ia tersenyum tipis melihat Raya sudah terlelap di sofa.
Selesai mandi dan memakai celana boxer tanpa kaos. Ia menghampiri sofa kemudian mengangkat tubuh Raya ke ranjang. Ia ikut berebah di sebelahnya sambil mengoceh sendiri.
“Segitu takutnya seranjang denganku, emang apa juga yang akan aku lakukan padanya” Omelnya seraya melirik ke arah Raya yang tetap tertidur pulas tanpa terganggu sama sekali.
“Ceroboh sekali, gimana kalau ada orang lain masuk. Tapi … tidak mungkin juga ada orang berani masuk ke sini, dasar kau Je” Dia kembali mengomel sambil tersenyum smirk, tetap memandang wajah syahdu itu.
“Mengapa saat tidur ia bertambah manis ya?” Ucapnya gemes, laki-laki itu perlahan bergeser mendekati tubuh Raya, hidungnya mencium aroma wangi tubuh istrinya yang tertutup rapat. Perlahan tangannya mulai usil menoel pipi Raya.
1 detik
2 detik
Tidak ada pergerakan.
“Cih, tidak akan aku membiarkan kamu tidur di tunggui oleh orang lain, Sammy sekalipun” Omelnya kesal melihat reaksi Raya yang tak bergeming. Kenapa Sammy? Karena baginya laki-laki gemulai itu tidak akan berbuat macam-macam pada istrinya.
Sekali lagi Asisten Je menekan pipi Raya agak kuat kemudian mengusapnya dengan ibu jarinya. Hanya terdengar desahan ringan dari si empunya pipi membuat yang menoel semakin gemas saja.
“Andai kamu tidak marah, sudah aku uyel-uyel pipi gemoy ini, dan … bibirmu ini, sangat menggoda… boleh nggak ya curi dikit aja” Ucapan Asisten semakin ngawur dan liar. Reflek kepalanya maju mendekati bibir wanita itu lalu menciumnya sekilas.
“Kamu kan istriku, jadi sah aja kan aku sebagai suamimu menciummu” Belanya pada diri sendiri seraya terkekeh pelan, takut istrinya terganggu. Selang beberapa menit, takut istrinya bangun dan marah-marah, ia pun menyudahi ‘mainan menarik’ nya malam ini. Ia merebahkan diri di samping istrinya setelah sebelumnya memasang alarm jam 03.00 pagi.
Asisten Je membuka kamera kemudian mencium kening Raya.
Ceklik
Laki-laki itu tersenyum, menjadikan foto itu sebagai layar depannya kemudian mematikan hp dan memeluk istrinya erat.
“Aku tak akan melepaskanmu Raya, tidak setelah kau mampu membuat dadaku bergetar dan alergi ku lenyap” Ucap Asisten Je lembut, diletakkannya tangan Raya di dadanya, lalu Asisten Je pun tertidur dengan pulasnya.
__ADS_1