Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 80 Bilang saja takut


__ADS_3

Dokter dan perawat langsung datang ke ruang rawat Hanum dengan raut wajah yang tegang. Ada seorang kepala rumah sakit juga dan dua dokter lain. Mereka tentu saja khawatir ketika Asisten Je menghubungi dokter jaga. Mereka takut ada sesuatu diagnosis yang salah pada gadis kecil itu.


Semua dokter dan perawat tampak menatap takjub dengan kedekatan Asisten Je yang menggendong pasien mereka dengan lembut. Yah, rumor tetaplah rumor. Di kata orang, Asisten Je tidak suka disentuh, tapi nyatanya gadis kecil itu malah mendapat keistimewaan dalam gendongan pria itu.


“Asisten Je, ada yang bisa kami bantu?” Tanya direktur rumah sakit dengan ramah.


“Lepas infusnya” Kata Asisten Je datar membuat seluruh dokter dan perawat langsung merinding ngeri. Raya langsung mengambil alih bicara, daripada urusannya jadi ribet kalau berhadapan sama asisten galak itu.


“Dokter, bolehkan infus anak saya di lepas sekarang juga? Kondisinya sepertinya sudah mulai membaik kan?” Tanya Raya sopan.


“Boleh, Nyonya. Saya periksa dulu boleh?” Jawab dokter yang menangani sakitnya Hanum.


Raya mengangguk, “silahkan dokter”


“Harus ditidurkan lagi?” Tanya Asisten Je, karena merasa kasihan kalau terlalu banyak bergerak, lagi-lagi takut infusnya tercabut. Apalagi sepertinya Hanum merasa sangat nyaman berada dalam pelukan Asisten Je.


“Tidak apa-apa, Tuan. Di gendong saja” Balas dr. Ken, terdapat name tag di jas dokter itu.


Asisten Je mengangguk kemudian memposisikan tubuh Hanum untuk menghadap dokter, sementara ia duduk di ranjang.


“Halo cantik. Perutnya masih sakit?” Tanya dr. Ken tersenyum ramah.


Hanum menggeleng pelan seraya tertunduk malu ketika dipuji cantik oleh dokter, “Tidak dokter, mama sudah pulang, jadi Hanum tidak sakit lagi” Katanya lagi dengan manja, masih tetap berada di pangkuan Asisten Je.

__ADS_1


“Anak pintar, Hanum sudah boleh pulang kok, tapi infusnya dilepas dulu ya sama suster” Kata dr. Ken.


“Apa tidak bisa dokter saja?” Tanya Asisten Je datar. Ia meminimalisir sentuhan dengan wanita lain. Paham dengan permintaan laki-laki berkuasa itu, dr. Ken tersenyum mengangguk.


“Baik Tuan” dr. Ken mulai melakukan pelepasan infus dengan sangat hati-hati agar tidak membuat rasa sakit sedikitpun pada Hanum. Bisa gawat kalau saat melepas infus dan tiba-tiba terdengar jeritan kesakitan dari gadis kecil itu. Reputasi dokternya harus dipertaruhkan di sini.


Asisten Je meraih kepala Hanum dan menempelkan ke bahunya, agar ia tidak melihat saat selang infus di cabut. Hanum hanya menurut saja tetap dengan tingkah imutnya, bahkan sekarang ia mengayun-ayunkan satu kakinya yang menggantung di sisi ranjang.


“Pelan-pelan” Perintah Asisten Je begitu proses pencabutan mulai dilakukan. dr. Ken sampai berkeringat saking khawatirnya melakukan kesalahan. Padahal tugas dokternya sudah mencapai puluhan tahun. Dokter itu mengangguk dengan tegang namun tetap berusaha tenang.


Raya ingin sekali tertawa dengan kelakukan suaminya yang terlihat kekanakan hanya karena pencabutan selang infus. Raya jadi berpikir apa suaminya itu takut dengan jarum suntik. Terlihat mukanya yang tegang saat melihat dokter mulai mencabuti selang infus itu.


Hanum tidak akan menangis hanya karena di pasang atau dilepas infus. Raya mendekat ke samping suaminya kemudian tangannya terulur ke pipi pria itu dan menolehkan wajahnya untuk menghadapnya. Pandangan mereka bertemu.


“Sabar ya sayang, sakitnya hanya sebentar kok” Hibur Asisten Je lembut di telinga gadis kecil itu. Pipinya yang berisi menempel di bahu Asisten Je membuat bibirnya mengerucut lucu.


“Kamu takut jarum ya?” Goda Raya yang melihat keringat di kening Asisten Je, padahal ruangannya pakai ac.


“Tidak, aku hanya tidak tega melihat Hanum menangis” Bantah Asisten Je tak mau kalah.


Raya mencibir “Bilang saja takut, Hanum saja santai, tuh dia malah menggoyangkan kakinya. Kamu saja yang berlebihan” Ejeknya lagi.


“Diamlah!” Geram Asisten Je.

__ADS_1


“Dasar Singa Galak, aku tidak jadi menikah dengan mu saja” Bisik Raya di telinga Asisten Je seraya berjalan menjauh. Asisten Je berusaha meraih pergelangan tangan Raya, tapi terlambat, wanita itu berhasil menghindar dan duduk di sebelah Titania.


“Sudah cantik” Kata dr. Ken setelah menutup bekas infus di punggung tangan Hanum dengan plester. Jangan kaget bagaimana ekspresi dr. Ken, wajahnya berubah-ubah dari terkejut, takjub, sampai tidak percaya. Ia mendengar semua obrolan dari Asisten Je dan Raya. Baru kali ini ada yang mampu menggoyahkan Asisten Je yang terkenal dingin, datar, kejam, tak suka disentuh, batinnya dalam hati.


Asisten Je melihat tangan Hanum yang sudah diplester, ingin bangun tapi melihat Hanum yang malah tertidur lagi di bahunya membuat ia langsung terdiam.


Raya hendak keluar sambil menenteng tas di pundaknya.


“Mau kemana?” Tanya Asisten Je pelan.


“Mengurus administrasi terus pulang” Jawab Raya.


“Nyonya Je, administrasi sudah diselesaikan” Kata direktur rumah sakit dengan ramah.


“Raya dokter” Protes Raya kesal seraya melirik Asisten Je. Laki-laki itu hanya tersenyum tipis. Sementara Titania hanya memutar bola matanya jengah.


Namun Raya mengakui ia merasa terbantu dengan keberadaan Asisten Je. Biasanya ada prosedur administrasi saat masuk dan keluar dari rumah sakit. Dia bahkan kadang harus mengantre untuk menebus obat sebelum keluar. Tapi kini, semuanya dengan mudah bisa diselesaikan oleh suaminya.


“Terima kasih dokter”


“Sama-sama Nyonya, kami permisi dulu Tuan” Pamit direktur rumah sakit. Asisten Je hanya mengangguk datar.


Raya dibantu oleh Titania mengemasi barang-barang Hanum kemudian memasukkannya ke dalam tas.

__ADS_1


“Biar Lani dan Leon yang urus, kita langsung pulang saja” Perintah Asisten Je yang berdiri perlahan kemudian menuju pintu. Dengan cepat Leon dan Lani langsung tanggap dan mengemasi serta membawa semua barang yang ada di ruang rawat Hanum.


__ADS_2