
Flashback On
“Mama abang kenapa?” Tanya gadis kecil berusia 3 tahun yang berjalan mengikuti wanita muda di sebelahnya. Tangan mungilnya mencengkram erat rok bawahan wanita itu.
“Abang sakit sayang, kita bawa ke rumah sakit ya” Kata wanita muda itu penuh sesal.
“Kita telpon papa saja mama” Saran gadis kecil itu.
“Mama sudah telpon papa, papa akan segera ke rumah sakit, Iza jangan lepaskan baju mama ya, mama akan gendong abang.
“Iya mama” Gadis kecil itu mengangguk kemudian mengikuti mamanya berjalan di lorong rumah sakit menuju loby pemeriksaan.
Mereka langsung disambut oleh suster yang membawa brankar karena melihat kondisi anak laki-laki yang digendong wanita muda itu kelihatan sudah sangat lemas. Hati wanita itu mencelos menyaksikan putranya di bawa masuk ke ruang igd dengan kondisi badan panas tinggi dan hidung terus mengeluarkan darah.
Ia tidak pernah merasakan kondisi panik seperti ini, putra sulungnya itu memang sakit-sakitan sejak usia dua tahun tapi tidak sampai separah ini. Mulai dari rumah darah mengalir dari hidungnya tidak bisa dihentikan, segala Upaya alami dilakukan wanita itu tapi tidak membuahkan hasil.
Wanita itu memeluk gadis kecil di pangkuannya seraya berkaca-kaca, di dalam hati ia terus berdoa kesembuhan putranya.
“Abang akan sembuh kan mama?” Tanyanya pelan seraya mendongak menatap wajah mamanya.
“Iya sayang, abang pasti segera sembuh, kita doakan terus ya”
“Iya ma, Iza selalu doain abang supaya cepat sembuh” Wanita itu memeluk putrinya sangat erat.
Pintu igd terbuka dan munculnya dokter yang menangani putranya, namun wanita itu langsung cemas begitu melihat ekspresi dokter itu yang terlihat pasrah.
Dengan hati berdebar ia berdiri menggendong putrinya mendekati dokter tersebut.
__ADS_1
“Dokter, bagaimana kondisi putra saya, dia bisa sembuh kan?” Tanya wanita itu gugup.
Tampak dokter itu menghela nafas pelan kemudian tersenyum menenangkan.
“Ibu tenang dulu ya, putra ibu mengalami kelainan di tulang sum-sumnya hingga menyebabkan kondisi fisiknya selalu lemah, kalau tidak segera di tangani bisa berakibat fatal pada kondisi fisiknya” Jelas dokter tersebut.
Wanita itu mundur perlahan berusaha untuk menyesuaikan diri, ia memeluk erat putrinya yang hanya bisa memandang tanpa bisa mengerti apa maksud pembicaraan mamanya dengan dokter itu.
“Ap..apa yang harus saya lakukan dokter?” Tanyanya berat.
“Apa ibu mempunyai golongan darah A+?” Tanya dokter itu.
Wanita itu tersentak sehingga badannya kembali limbung dan akan terjatuh bersama putrinya, tapi ada sebuah tangan kokoh yang langsung menahan tubuh wanita itu membuatnya menoleh linglung. Sebab yang ia tahu golongan darahnya dan suaminya B, maka otomatis golongan darah anak-anaknya juga seharusnya B. Ia menggelengkan kepalanya bingung menhadapi kenyataan ini.
“Ada apa dengan kondisi putra saya dokter, kenapa sampai anda menanyakan pada istri saya golongan darah A+?” Tanya laki-laki itu serius.
Wajah laki—laki itu tiba-tiba mengeras, ia menoleh pada istrinya dengan pandangan bertanya, sebab ia merasa golongan darahnya B, jadi tidak mungkin putranya memiliki golongan darah yang berbeda dengannya. Wanita itu hanya menggeleng sambil mengeluarkan air matanya.
“Baik dokter terima kasih informasinya” Kata laki-laki itu akhirnya.
“Baiklah Tuan, saya tunggu kabar selanjutnya” Dokter itu mengangguk kemudian kembali lagi ke ruangan igd.
Laki-laki itu mengambil gadis kecil di gendongan istrinya kemudian menyerahkan kepada asistennya yang kebetulan mengikutinya untuk membawanya bermain di taman dulu.
“Jelaskan Arumi…” Tegas laki-laki itu dengan tatapan tajam.
Arumi nama wanita itu hanya bisa menggeleng.
__ADS_1
“Aku…aku tidak tahu…” Kepalanya tertunduk, ia tidak tahu harus menjelaskan apa.
“Apa dia bukan anakku?” Tuduh laki-laki itu tajam.
Arumi mendongak kaget.
“Bang Yu, dia anakmu, tidak mungkin aku….”
“Tapi darahku B Arumi sedangkan anak itu A+” Potong laki-laki yang dipanggil Yu tegas.
Arumi meraih tangan Yu lembut tapi langsung ditepis kasar oleh laki-laki itu.
“Sejak kapan kamu mengkhianatiku? Apa Meriza juga bukan anakku?”
“Yuwana, aku bukan wanita seperti itu!” Sentak Arumi tajam tanpa menyebut embel-embel bang lagi.
“Bukti sudah jelas Arumi, golongan darah anak itu berbeda denganku, sangat jauh, aku tidak bisa meneruskan…”
“Bang…jangan ucapkan lagi bang…aku tidak mungkin mengkhianatimu”
“Kamu masih berhubungan dengan si Johan brengsek itu?” Yuwana menatap Arumi tajam dengan pandangan menusuk menyadarkan Arumi pada kejadian lima tahun lalu ketika ia bertemu kembali dengan Johan.
Arumi menggeleng tak percaya pada apa yang diingatnya, ia memang pernah khilaf melakukannya sekali dengan laki-laki cinta pertamanya saat di bangku kuliah itu. Tapi ia sudah mengakhiri hubungan salah itu dan bertaubat walaupun ia tidak berani jujur pada suaminya.
Suaminya mengenal Johan sebagai saingannya ketika di bangku kuliah dulu. Keduanya selalu bersaing di bidang akademik, ternyata mereka juga bersaing masalah hati. Johan sudah berpacaran saat itu dengan Arumi dan Yuwana berusaha untuk merebut Arumi dari Johan karena ingin selalu berada di atas Johan.
TBC
__ADS_1