
“Raya, keluar lo sekarang juga!” Teriak suara perempuan saat Raya menerima panggilan di hpnya. Wanita itu mengerutkan kening seraya menjauhkan hpnya dari telinganya. Di pandangnya nomor pemanggil.
Weni.
“Kenapa nadanya ketus banget, ada masalah apa nih. Perasaan aku ndak ada masalah sama mereka.” Gumam Raya bingung. Dia kembali menempelkan elektronik itu ke telinganya.
“Weni? Ada apa nih?”
“Nggak usah pakai nanya lo, keluar sekarang juga, gue tunggu di lantai bawah”
Tut tut tut.
Raya menghembuskan nafas panjang kemudian memasukkan hp ke dalam tas kecil dan berdiri untuk mendatangi Weni di lantai dasar.
Raya berlari kecil menuju ke lift karyawan, ia masih trauma untuk masuk ke ruangan suaminya, ia tidak mau menanggung malu untuk kedua kalinya apabila dua orang laki-laki itu masih berada di ruangan suaminya.
Keluar dari lift sudah di sambut wajah garang dari Weni. Gadis itu tanpa kata langsung menyeret Raya keluar dari loby menuju ke kantin perusahaan. Raya hanya pasrah tanpa bisa mengeluarkan protes apapun, mau bertanya saja sepertinya tidak di beri kesempatan oleh Weni.
Mereka berdua memasuki kantin, ralat, sebenarnya Weni yang tengah menarik lengan Raya untuk memasuki kantin. Weni terus menarik lengan Raya menuju ke meja yang sudah penuh dengan teman-temannya sesama sekretaris. Mereka semua memandang Raya dengan pandangan tajam, padahal sebelum kedatangannya mereka tadi tampak bercanda ria.
Weni dan Raya duduk di kursi yang kosong yang sepertinya sudah disediakan.
“Ada apa sih ini? Jangan pasang tampang serem bisa nggak sih?” Tanya Raya seraya memandang heran ke teman-temannya.
“Bagus ya, udah nggak merasa bersalah” Sindir Weni. Raya menoleh ke arah Weni semakin heran. Gadis itu dari tadi tidak ada ramah-ramahnya deh. Padahal kalua ketemu aja serasa nggak mau pisah dari tubuh Raya.
“Emang aku salah apa sih?” Raya masih bingung.
“Kamu sudah lupain kita semua” Kata Wita judes.
“Hah?” Raya melongo tak percaya.
“Hah heh hah heh, situ merasa berubah nggak sih?” Timpal Reni.
“Aduh, aku bingung bener, Ja, apaan sih” Raya menatap Teja meminta penjelasan. Laki-laki itu hanya mengangkat bahu.
“Tahu tuh” Jawabnya acuh.
“Kamu tuh ya, sejak pulang dari dinas luar nggak pernah lagi kumpul-kumpul, emang udah keenakan ya sama Asisten Je” Sergah Weni.
__ADS_1
“What?!” Raya menatap Teja. Apakah laki-laki itu memberitahu rahasia antara dirinya dengan Asisten Je? Teja menggeleng merasa terintimidasi dipandang tajam oleh Raya.
“Wen, kamu tahu sendiri kan gimana sibuknya aku setelah itu, bahkan Asisten Je tidak memberi kesempatan padaku untuk berleha-leha, terus di mana salahku nih, kalian sendiri juga sulit di hubungi. Kalian sengaja menghindar ya… apa ada yang berusaha mengkhi…” Jelas Raya seraya menatap Teja dengan pandangan menuduh.
“Apa sih, buah jauh pikiranmu ya, aku masih tutup mulut” Potong Teja tak terima.
“Kok jadi main rahasiaan, apa ada yang tidak kami tahu?” Tanya Weni dengan mata memicing menatap Teja. Laki-laki itu mendengus keras namun tetap diam malah tatapannya bergulir ke arah Raya membuat wanita itu gelagapan. Semuanya berganti memandang wanita itu dengan masing-masing tatapan menuntut.
“Hadew, tidak ada rahasia, dah pesen makan yuk” Raya melambaikan kedua tangannya menghindar kemudian hendak berdiri memesan makanan ke loket. Namun…
“Segitunya tidak percaya pada kita?” Weni memicing dengan bersedekap dada.
Raya menghela nafas pelan, perlahan ia duduk kembali seraya meremas kedua tangannya di atas meja.
“Kalau aku belum siap, bisakah aku cerita lain kali?” Tanyanya berusaha membela dirinya sendiri.
Diam.
Hening.
Semua pandangan mengarah ke Raya tanpa mengucapkan sepatah katapun, bahkan mereka tidak memberi kesempatan bagi Raya untuk mengelak lagi.
BRAK.
“Hehehe, kelepasan” Raya menggaruk pipinya yang tidak gatal.
“Haaahhh, ketahuan nih kayaknya… oke, aku akan cerita tapi kalian jangan kaget dan jangan sebar…” Ancam Raya menatap tajam semua temannya.
Ia mencondongkan badannya lebih ke tengah dan meminta semua temannya mengikuti gerakannya. Semua temannya meskipun bingung, mereka mengikuti tindakan Raya kecuali Teja, karena ia sudah tahu apa yang akan disampaikan oleh Raya.
“Aku sudah menikah” Bisik Raya.
Hening.
Sunyi.
Loading.
Raya menegakkan tubuhnya kembali sementara semua temannya masih belum ngeh denga napa yang di bisikkan oleh Raya. Beberapa saat kemudian…
__ADS_1
“What? Are you kidding me?” Weni yang bersuara terlebih dahulu.
“Kamu serius?” Wisnu menimpali.
“Kamu bercanda kan Ra?” Wita menatap tak percaya. Kini mereka semua kembali menatap Raya tak percaya.
Raya mengangguk mantab.
“Seperti yang kalian dengar barusan” Jawabnya.
“Siapa?” Wisnu kembali bertanya.
Raya diam, ia yakin teman-temannya akan shock mendengar jawabannya, tentu kecuali Teja, karena Teja yang menjadi saksi pernikahannya.
“Asisten Je” Raya kembali berbisik namun suara sesudahnya membuatnya menutup telinga.
BRAK.
“What The ****!” Seru Wisnu tak mempercayai pendengarannya.
“Apa?!” Seru mereka bersamaan. Raya dan Teja menutup telinga mereka.
“Jangan berisik kenapa sih, heboh amat” Kata Teja kesal.
“Kenapa kamu tidak terkejut, kamu sudah tahu lebih dulu dan tidak memberitahu kami?!” Intimidasi Wisnu.
“Hmm, aku saksi dari Raya, kan rahasia jadi yaaa tahu sendiri lah” Jawab Teja enteng.
Tidak ada yang mampu berkata-kata lagi, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, masih tidak percaya dengan yang mereka dengar. Tapi jawaban Teja jelas-jelas menepis keraguan mereka tentang apa yang di sampaikan Raya.
“Mbak Raya, sejak kapan?” Tanya Reni yang dari tadi hanya diam menyimak, ia lebih tenang dari pada yang lain.
“Sebelum perjalanan dinas” Jawab Raya menatap semua temannya, “Aku akan cerita semuanya, lengkap, tapi tidak sekarang, kasih aku waktu dulu, oke?” Sambung Raya.
“Ehm!” Deheman suara di belakang Raya membuyarkan atensi mereka, reflek mereka melotot memandang laki-laki yang berdehem tersebut.
“Sudah puas gosipnya!” Ketusnya hanya memandang Raya tanpa menghiraukan yang lain.
“Aku pamit dulu ya” Raya berdiri mengikuti Asisten Je yang sudah berlalu duluan. Teja angkat tangan menatap semua temannya yang seolah menghakiminya.
__ADS_1
“Jangan salahkan aku ya, semua itu salah Raya” Teja bergegas berdiri dan keluar dari kantin, padahal mereka semua tidak ada yang jadi makan hingga akhirnya denga lesu semua meninggalkan kantin melewatkan jam makan siang mereka yang berharga.
TBC