
Akhirnya Lintar pun selesai mandi, dirinya salah tingkah melihat Bang Jenar yang sudah duduk di ranjang memainkan ponselnya.
"Ganti pakaianmu dan tidur disini" Bang Jenar membuyarkan kebingungan Lintar
Apa aku harus ganti pakaian disini. Aku tidak mau dia melihatku.
"Ada apa? kamu biasa menunjukan badanmu pada lelaki lain, tapi malu menunjukannya pada suamimu?" ledekan Bang Jenar membuat Lintar sangat tersindir.
Lintar berjalan tepat di depan Bang Jenar lalu berhenti di hadapannya, ia membuka handuk di rambutnya dan mengibaskannya pada Bang Jenar hingga tetesannya muncrat mengenai wajah Bang Jenar. Lintar sedikit membuka handuk di bagian paha dan nyaris terlihat pangkal pahanya, kemudian di bukanya bagian dada juga hampir terlihat ke bagian dalamnya. Mata Bang Jenar melotot hingga nyaris tersedak air liurnya sendiri. Bang Jenar mencoba untuk tenang walaupun jantungnya pun berontak berniat melompat dari tempatnya.
"Buka semua..!! kenapa tanggung sekali.. sampai tidak ada benangpun, Abang sudah sering melihat yang seperti itu. Kamu tidak ada apa apanya di banding gadis gadisku di club malam" Bang Jenar memainkan ponselnya lagi untuk mengalihkan pandangannya
Lintar berpindah dari hadapan Bang Jenar yang menguap mengantuk, dia segera memakai pakaiannya kemudian tidur di sebelah Bang Jenar.
Bang Jenar menoleh sekilas ke arah Lintar kemudian secepatnya memejamkan mata.
Mati aku kalau begini terus. Perasaan masih bisa di atur. Lah anak buah yang 'ini'???.
***
"Bi..suruh istri saya makan..buatkan susu dan telur setengah matang. Tanyakan dia mau apa ya bi. Saya mau berangkat kerja dulu sudah terlambat" pamit Bang Jenar.
"Iya pak, tenang saja"
-----
"Bi.. Bang Jenar sudah berangkat ya?"
"Sudah bu, ibu mau makan apa? minum susu dulu bu sama telur setengah matang"
__ADS_1
"Saya nggak suka semua bi" Lintar sedang tidak berselera makan.
"Di coba dulu bu, itu baik untuk tubuh" bujuk bibi
"Ya sudah bi" Lintar memaksakan memakan semua itu walaupun makanan itu terasa berhenti di kerongkongannya.
***
"Lintar harus merayu bandar itu untuk mengambil informasinya lagi. pergerakan perdagangan manusia sudah clear..hanya posisi mafia saja yang kita kurang info" titah komandan yang menangani bagian penyelidikan.
"Maksudnya.. Lintar harus menyamar sebagai wanita penghibur lagi??" tanya Bang Jenar.
"Iya..tapi kali ini dia harus merayu Wolfy" jawab komandan
"Apa tidak bisa dengan cara lain, berhadapan dengan Wolfy sangat berbahaya" Bang Jenar menolak
Bang Jenar masih terdiam di tempatnya. banyak pikiran yang berkecamuk dalam benaknya.
***
Malam hari berikutnya.
Setelah beberapa hari tidak pulang.. Bang Jenar harus merelakan Lintar untuk bertemu wolfy.
...
Lintar sudah bertemu dengan Wolfy. Wolfy pun memandangi tubuh Lintar yang begitu sexy.
"Apa tidak lelah memandangiku?" Lintar merangkulkan tangannya pada leher Wolfy.
__ADS_1
"Jadi kamu primadona rekomendasi Robert?" Wolfy tersenyum genit dan ingin menyentuh Lintar.
Bang Jenar yang duduk di kursi bar tepat di belakang Lintar merasa dadanya panas terbakar. Mau bagaimanapun saat ini status Lintar adalah istrinya.
Lintar memegang tangan Wolfy dan berbalik meraba Wolfy.
"Kamu tampan sekali sayang, mana ada wanita tidak tertarik padamu" Lintar mulai melancarkan rayuannya.
"Hentikan tanganmu, cari cara lain untuk merayunya" bisik Bang Jenar pada earphone Lintar yang terhubung dengannya.
Lintar masih mendengarkan perkataan Bang Jenar, tapi Wolfy sudah mencium bibir Lintar. Gadis itu sangat terkejut hingga mendorong tubuh Wolfy.
"B******n" umpat Bang Jenar mengepalkan tangannya.
"Kau menolakku?" geram Wolfy pada Lintar. Tangan Wolfy mencekik leher Lintar, tapi saat ini Bang Jenar belum bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan Lintar.
Wolfy menarik tangan Lintar dengan kuat menuju kamar yang tersedia di club malam tersebut. Bang Jenar membuntutinya diam-diam dan menghubungi rekan yang lain untuk berjaga keamanan di sekitar club malam.
B******n tengik, mau dia apakan istriku????
"Aku hanya terkejut saja sayang, kamu terlalu mendadak. Apa kamu sungguh ingin merusak malam kita?" bujuk Rayu Lintar sedikit meluluhkan amarah Wolfy.
.
.
.
.
__ADS_1