Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
S 2. 24. Tak peduli lagi.


__ADS_3

Bang Jenar mengangkat Lintar menuju kamarnya. Tak peduli dengan lingkungan sekitar yang terus memperhatikan mereka berdua.


"Kenapa Kapten Jenar mengangkat Lintar?" tanya Pak Gunawan pada rekannya.


"Pak Gunawan terlalu tua untuk menyenangkan gadis muda seperti Lintar Kalau Pak Jenar sudah jelas gagahnya. Sekali tembak mungkin langsung jadi Jenar junior" jawab Pak Wid yang tak kalah mata keranjangnya dari Pak Gunawan.


"Enak saja. Begini juga saya masih mampu.. hahahaha.." canda Pak Gunawan pada Pak Wid.


...


"Dek.. minum dulu" Bang Jenar memberikan minum pada istrinya.


Bang Jenar memercing merasakan tak nyaman pada tubuhnya..


"Keluar dari markas Intel itu. Abang nggak rela kamu bekerja seperti ini." kata Bang Jenar tak terima juga tidak tega berada di situasi yang penuh dengan salah paham.


"Kembalinya dari sini, Lintar akan turuti kemauan Abang, tapi tidak keluar dari instansi ya. Lintar cinta pekerjaan ini Bang"


"Sudah, di bahas kalau kita sudah sampai rumah saja. Yang penting anak kita baik-baik saja" jawab Bang Jenar.


tok..tok..tok...


Pak Gunawan mengetuk pintu kamar Lintar. Ia berniat mempermalukan Bang Jenar karena sudah membawa wanita ke dalam kamarnya dan membawa beberapa orang sebagai saksi.


"Siapa ya Bang?" Lintar bingung tak biasanya ada orang mengetuk pintu kamarnya selain petugas hotel.


"Kamu pesan sesuatu?" tanya Bang Jenar.


"Nggak Bang..!!"


Bang Jenar bangkit dari duduknya lalu berjalan untuk membuka pintu kamar.


Saat pintu terbuka ada Pak Gunawan dengan wajah penuh kemenangan menangkap basah Kapten Jenar yang benar berada di kamar Lintar.


"Nah.. benar khan apa yang saya bilang..!! Ada Kapten Jenar disini"


"Terus kenapa??" tanya Bang Jenar dengan santai.


"Lintar.. keluar kamu..!! Saya mau selamatkan kamu dari buaya darat ini. Saya tau kamu di bawa paksa sama Kapten Jenar ini khan?" tanya Pak Gunawan dengan menggebu. Pak Gunawan menerobos ingin masuk ke dalam kamar.


"Jangan ada yang berani melangkah mendekati Lintar..!!!!!" ucap tegas Kapten Jenar penuh ancaman.

__ADS_1


"Ayo masuk, kita selamatkan gadis itu" ajak Pak Gunawan.


Bang Jenar menghadang langkah Pak Gunawan dengan lengannya lalu melotot berkacak pinggang di hadapan Pak Gunawan.


"Pergi dari sini atau saya laporkan perbuatan anda yang sudah berani mengirimi baju tidak pantas pada istri orang"


Pak Gunawan tidak percaya dan tertawa mendengar ucapan Bang Jenar tapi tidak begitu dengan yang lain saat melihat raut wajah Bang Jenar yang terlihat serius.


"Anda tidak percaya????" tanya Bang Jenar lalu mengambil tasnya di samping tempat tidur Lintar.


Di depan Pak Gunawan, Bang Jenar mengambil surat nikahnya, dan benar disana tertera nama Bang Jenar dan Lintar.


"Buka mata anda dan lihat dengan jelas.. Lintar istri siapa..!!"


Wajah Pak Gunawan memerah menahan malu karena selama ini ulahnya menjadi terbongkar karena kebodohannya sendiri.


"Dalam tugas ada yang bisa di utarakan, ada yang tidak. Dalam hal ini. Lintar adalah istri saya. Karena kesalahan prosedur.. Lintar belum bisa membongkar identitas sembarangan. Dan mohon maaf.. Lintar sedang mengandung bayi saya" ucap Bang Jenar tegas.


"Jenar.. bisa ikut saya sekarang. Ada yang mau saya bicarakan..!!!" perintah ketua pusat.


"Siap..!!!"


...


plaaaakk....


Satu tamparan keras sebagai teguran keras untuk Kapten Jenar. "Sungguh benar atau hanya rekayasa kalau Serda Gitarja adalah istrimu????"


"Siap benar Komandan..!!"


"Kamu tau ini pelanggaran. Menikah tanpa naik di kantor"


"Ijin Komandan. Status Lintar sudah naik di Batalyon, tapi belum naik di kantor tempat Lintar berdinas. Seperti yang saya jelaskan tadi.. Ada kesalahan prosedur" jawab Bang Jenar.


"Satu lagi Jenar..!! Kenapa Lintar hamil saat ada ikatan dinas, apalagi dalam pekerjaan dinas luarnya" tanya Komandan.


"Itu.. murni kesalahan saya yang tidak berhati-hati" jawab Bang Jenar.


"Kamu memang ceroboh. Buat masalah saja. Bagaimana Lintar bisa mengawal dengan keadaan sedang berbadan dua" kata Komandan ikut pusing.


"Biar saya yang handle" kata Bang Jenar.

__ADS_1


"Nggak semudah itu Jenar.


-_-_-_-


"Mas, lapar..!!" kata Lintar saat Bang Jenar baru saja kembali ke kamar.


"Mau makan apa?" Bang Jenar melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan memang Lintar dan Bang Jenar melewatkan jam makan siang mereka karena kericuhan tadi.


"Di street food saja Bang. Katanya banyak makanan enak disana" ajak Lintar.


"Ayo..!! Baby kesayangan Abang pasti sudah lapar sekali"


...


"Waahh.. ini enak Bang..!!" Lintar membeli banyak sekali makanan tapi hanya sedikit saja yang ia makan. Lalu sisanya siapa lagi yang akan menghabiskan kalau bukan Bang Jenar.


"Abang nggak larang kamu beli ini itu ya dek. Tapi perutnya Abang nggak kuat nampung makananmu yang sebegini banyak" protes Bang Jenar.


"Lagian kenapa di habiskan sekali telan sih Bang. Untuk nanti khan bisa" jawab Lintar yang tidak pernah bisa salah.


"Enak ya kalau asal omong. Perut Abang sudah begah ini dek"


"Aahh.. itu ada nasi gurita. Lintar mau itu Bang" tunjuk Lintar menarik lengan suaminya agar membelikan permintaannya.


"Cukup dek. Beli makanan yang mau kamu makan tengah malam saja" tolak Bang Jenar.


Wajah Lintar langsung berubah mendung. Wajah itu nampak sedih sekali seperti Bang Jenar baru saja menyakiti dan menganiaya istrinya. Para pejalan kaki memperhatikan wajah iba istri Jenar itu.


"Astaga.. Ya sudah.. mau yang mana? Abang belikan" kata Bang Jenar mengalah.


"Coba kalau daritadi Abang nggak ajak ribut, pasti nggak akan di lihatin orang-orang" celetuk Lintar.


Bang Jenar mengusap dadanya. "Sabar-sabar.. kalau nggak sayang pasti sudah Abang telan kamu dek" jawab Bang Jenar tak ingin mencari ribut.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2