
Mobil kesehatan kompi melaju cepat menuju rumah sakit. Fia sudah sangat lemas dan hampir pingsan. Sungguh ia ketakutan melihat Bang Rakit muntah sampai nyaris tak bertenaga.
Bu Jefri menggendong si kecil Arsene yang sangat mudah untuk di tenangkan. Di dalam ambulans itu hanya Fia yang paling histeris.
Fia tak sanggup bicara sampai tak sengaja bersandar di bahu Bang Ervan.
"Jangan nangis kenapa sih dek? Abang nggak apa-apa. Masih bisa nafas" kata Bang Rakit terbata tapi di dalam dadanya sudah bukan main kesalnya.
Saking sesaknya, Fia sampai setengah sadar mencemaskan Bang Rakit.
...
Setelah mendapatkan penanganan, kondisi Bang Rakit sudah lebih baik.
Dokter senior masuk ke ruang rawat Bang Rakit. Kepala rumah sakit yang merupakan dokter kandungan Fia dulu. Dokter Alam.
"Alhamdulillah Kapten Rakit bisa segera di tangani. Dari hasil lab ada faktor mabuk minuman keras di tambah keracunan tuba ikan" kata dokter Alam. "Bagaimana ini Kapten, kenapa bisa mabuk??" Teguran dokter Alam sedikit
"Siap salah dok. Saya hanya bertemu warga sekitar dan saling sapa lalu meminum welcome drink dari warga. Saya belum begitu terbiasa dengan minuman tradisional" alasan Bang Rakit yang lebih masuk logika dan bisa di terima akal sehat.
Fia pun terdiam karena memang jawaban Bang Rakit sesuai dengan logikanya yang sebenarnya juga tidak memahami apapun tadi.
"Oohh begitu, saya kira Danki mabuk-mabukan. Pelanggaran donk kalau sampai terjadi" kata dokter.
"Siap komandan..!!" Bang Rakit tak mungkin mengungkap alasan dirinya sampai mabuk apalagi nyaris mati keracunan tuba ikan karena ulah biang kerok tak lain dan tak bukan adalah Kapten Mumchemar Al Khobar.
...
Malam itu Fia menggendong Arsene sendirian mondar-mandir di kamar rumah sakit.
Bang Rakit mendesah panjang melihat wajah Fia sudah sangat kelelahan karena hari ini mereka baru datang ke kompi tapi malah sudah harus menerima tragedi.
"Kamu pulang saja.. kasihan Arsene ngantuk, dia capek"
Fia menggeleng sambil sesekali mencium pipi Arsene dalam gendongannya.
"Ada perawat disini. Rata-rata juga laki-laki. Daerah ini dingin dek, nanti Arsene nggak nyenyak tidur kalau kamu gendong" bujuk Bang Rakit lagi.
"Nanti Fia bisa tidur di sofa" jawab Fia.
"Dek..!!"
"Kenapa sih Abang usir Fia?? Abang nggak suka Fia ada disini??? Kalau Abang nggak suka Fia.. kita cerai saja"
"Astagfirullah.. kenapa sih harus ngucap kata itu lagi?? Nggak baik dek..!!!!" Tegur Bang Rakit sungguh tidak senang mendengar kata cerai dari Fia. "Ya sudah kalau nggak mau pulang, Arsene tidur disini sama kamu..!!"
"Abang tidur dimana?"
"Kamu nggak usah mikir Abang. Laki mau tidur di lapangan juga nggak jadi soal" Bang Rakit pun beranjak agar Fia bisa segera naik ke atas ranjang.
"Jangan Bang, Abang istirahat saja" kata Fia.
"Abang nggak mau berdebat dek.. cepat naik dan istirahat. Abang nggak mau kamu ngamar juga gara-gara kecapekan. Bisa nurut nggak sih???" Nada tinggi Bang Rakit membuatnya mati kata.
Fia segera menidurkan Arsene kemudian Fia naik ke atas ranjang.
Tak menunggu waktu lama, Fia benar-benar tertidur. Agaknya istri Kapten Rakit itu sudah sangat kelelahan hingga seketika terbuai ke alam mimpi.
...
"Hai bro.." sapa seseorang yang tiba-tiba masuk kamar bersama istri dan jagoan kecilnya.
"Kecilkan suaramu..!!!!" Bang Rakit menatap tajam dan kesal pada pria di hadapannya. "Berani sekali nyalimu datang kesini setelah merencanakan pembunuhan terhadap Kapten Rakit." Tegur Bang Rakit.
"Hahahaha... Kau ini berlebihan sekali, sekarang saja mau bisa bernafas dengan baik" jawab Bang Cemar.
__ADS_1
"Apapun yang berhubungan denganmu pasti tercemar." Gerutu Bang Rakit.
"Huusstt.. kecilkan suaramu..!!" Ucap Bang Cemar membuat ubun-ubun Bang Rakit nyaris berasap.
"Bang Rakit apa kabar? Salam kenal ya" sapa Gina dengan lembut.
"Alhamdulillah nggak sampai mati Gin" jawab Bang Rakit mendapatkan senyum geli dari Gina.
"Atas nama suami Gina. Gina sungguh minta maaf ya Bang..!!" Gina merasa prihatin dan merasa bersalah karena kelakuan tak berakhlak dari Bang Cemar.
"Nggak apa-apa Gin. Kami paham suamimu memang kurang satu ons" senyum Bang Rakit, ia juga tidak bisa berbuat banyak menghadapi tingkah Bang Cemar yang kadangkala membuat pencemaran.
Gina mendekati Fia. Agaknya ia sangat merindukan sahabatnya itu. Istri litting yang ikut satu hati dan satu perjuangan sama seperti suami mereka. "Kamu semakin cantik saja Fia. Selamat atas pernikahan mu dengan Bang Rakit. Semoga kamu selalu bahagia dan cepat mendapat momongan"
"Aamiin.. terima kasih banyak Gina."
"Sama-sama Bang."
"Kang.. ngomong-ngomong namamu langsung di plot Danyon untuk mengawasi latihan luar dua hari lagi ya?" Tanya Bang Empat yang baru memonitor informasi group besar Batalyon.
"Saya nggak berangkat, Ervan yang handle."
"Kalau urusannya sama Letkol Najib nggak bisa bro. Fabian saja sekarang masih mengontrol alutsista karena membangkang. Istrinya pun dapat tugas berat dalam organisasi" Jawab Bang Cemar mengingatkan.
"Tidak ada yang bisa menghakimi Kapten Rakit apalagi menyentuh Fia Seno Rakit. Berani dia lancang membuat keonaran.. dia akan terima lunas akibatnya"
"Hhh.. kalian berdua ini sama saja. Danyon juga nggak mau berurusan sama Abang." Desah Gina yang selalu aman bersama Bang Cemar.
"Ya harus. Senioritas itu boleh, tapi kalau sampai ada penindasan.. tak ada ampun lagi" kata Bang Rakit kemudian bersandar di sofa karena punggung tangan kirinya masih mendapatkan cairan infus.
***
Siang itu Bang Rakit sudah di ijinkan pulang. Sesekali terlihat dirinya sudah bisa bercanda dengan Arsene.
"Siap sudah Bang. Nanti saya yang berangkat..!!" Jawab Bang Ervan.
Terdengar suara lirih Bu Jefri memberikan rangkaian turunan tugas untuk ibu pengurus ranting di daerah operasi wilayah timur.
"Ada masalah apa Bu Jefri?" Sapa Bang Rakit.
Bu Jefri lumayan tersentak. Jika dulu Danki mereka masih punya gurat senyum yang menenangkan, kini Danki baru tidak memiliki aura senyum sama sekali.. begitu dingin, kaku, juga tatapan mata elangnya terlalu menusuk.
"Siap bapak. Ibu Najib mengirimkan beberapa file yang harus ibu kerjakan. Dari file kompi sendiri hingga file gabungan" Jawab Bu Jefri.
"Nanti salin copy file nya dan kirim ke email saya. Minta email saya di bagian administrasi kantor kompi ya Bu. Mulai sekarang rencana kerja untuk istri saya harus melalui saya dulu tanpa kecuali..!!" Ucap tegas Bang Rakit.
"Siap Pak Rakit"
:
Malam itu Bu Najib menghubungi Fia. Namun Fia belum juga mengangkat panggilan telepon karena dirinya belum memastikan tugas apa di limpahkan padanya sebab Bang Rakit masih meneliti semua tugasnya.
"Angkat saja. Aktifkan loud speaker..!!" Perintah Bang Rakit.
Fia pun menurut lalu mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Selamat malam Ibu Danyon. Ijin arahan..!!"
"Bu Rakit ini kemana saja ya. Kalau ada panggilan telepon dari saya segera di jawab. Saya paling tidak suka menunggu" kata Bu Najib di seberang sana.
"Siap salah ibu. Ijin arahan..!!"
"Saya sudah beri waktu dua jam untuk kerjakan file yang saya kirim. Mana file nya. Saya sudah di tunggu ibu pengurus ranting markas pusat??" Bentak Bu Najib.
"Apa saja pekerjaan mu Bu Rakit, tidak amanah dalam tugas..!! Membangkang dengan atasan..!!"
__ADS_1
Bang Rakit mengulurkan tangan meminta ponsel Fia.
"Apa Bang?" Bisik Fia.
"Mana ponselnya..!!" Pinta Bang Rakit.
"Ini urusan perempuan Bang" bisik Fia lagi.
Bang Rakit sudah tak sabaran.. ia merebut ponsel Fia.
"Selamat malam ibu Danyon yang terhormat..!!" Sapa Bang Rakit.
"Ooh.. eehh.. om Rakit"
"Menurut aturan kedinasan.. istri saya hanya menyelesaikan tugas intern kompi kami saja, tidak ada mengurusi laporan keuangan keluar masuk anggaran dana Batalyon. Saran saya kalau ibu memang miskin ya kerja keras.. jangan malah makan uang anggota." Jawab Bang Rakit.
"Maksud saya tidak begitu Om..!!"
"Oohh.. maaf Bu. Saya juga punya maksud untuk mengakhiri panggilan telepon. Terima kasih.. selamat malam" Bang Rakit mematikan panggilan telepon kemudian sibuk dengan ponselnya lagi.
"Iihh Abang.. Fia bisa kena masalah" protes Fia.
"Siapa mau cari perkara? Bilang sama Abang..!!" Kata Bang Rakit.
"Abang nggak tau sih, Bu Najib itu suka buat ulah."
Bang Rakit meletakan ponselnya dengan sedikit kasar lalu menatap mata Fia. Sebenarnya bukan niatnya seperti itu tapi gesture tubuh Bang Rakit memang tidak pernah kalem dan itu sukses membuat Fia ketakutan. "Abang nggak suka ada manusia usil sama keluarga Abang, nggak suka dengan pribadi sok kuasa. Abang tidak toleransi dengan orang yang berniat buruk sama kamu ataupun Arsene. Maka dari itu Abang yang handle semuanya. Sekarang jawab.. salah Abang dimana??"
Fia tertunduk sampai menangis.
"Astaga.. kalau Abang nasihati selalu nangis. Bisa nggak sih nggak usah pakai nangis segala. Sudah Abang bilang.. Abang nggak bisa lihat kamu nangis. Abang lembut saja kamu nangis. Gimana kalau kasar" tegur Bang Rakit.
Fia berganti menatap dan melirik Bang Rakit. Baru kali ini Bang Rakit sedikit ciut melihat tatapan tajam seorang wanita.
"Begitu Abang bilang lembut??? Abang nggak bisa bicara baik-baik ya sama perempuan?????" Teriak Fia sudah emosi. "Fia kurang apa sih hadapin Abang????? Kaku, dingin, pelit senyum, pemarah. Fia istrimu Bang, bukan ajudanmu..!!"
Bang Rakit melongo mendengarnya tapi ia menyembunyikan rasa kaget karena sikap Fia yang tiba-tiba ekspresif. "Ya terus kamu maunya Abang bagaimana?" Tanya Bang Rakit dengan nada sedikit lebih halus.
"Lembut sama Fia..!!"
Bang Rakit menarik Fia dalam dekapannya. Awalnya Fia menolak tapi Bang Rakit tetap mendekapnya.
"Apalagi?"
"Kenapa Fia nggak pernah di sayang?" Protes Fia.
"Oohh istri Kapten Rakit minta di sayang?" Jawab Bang Rakit menyimpan senyumnya.
Fia mengangguk pelan. "Bilang donk kalau pengen di sayang..!!" Goda Bang Rakit.
Bang Rakit mendekatkan wajahnya mencari bibir Fia tapi sesaat kemudian....
"Brooo......." Bang Cemar membuka pintu ruang tamu dan melihat adegan menuju perang mulut.
Bang Rakit terhentak kaget sedangkan Fia kebingungan menyimpan wajah gugupnya.
Bang Cemar melihat jam tangannya. "Ini baru mau adzan isya. Kalian mau fight?????" Tegur Bang Cemar tanpa dosa.
.
.
.
.
__ADS_1