
Fia terisak, harga dirinya merasa tercabik. Ia mendorong Bang Rakit agar menjauh darinya.
Bang Rakit melepas pagutannya setelah Fia berontak dan menangis ketakutan. "Jangan pernah menguji laki-laki seperti tadi. Abang tidak pernah takut untuk melakukannya. Tapi dengan tidak menyentuh mu.. itu bukti Abang masih menjaga harga dirimu. Abang tidak ingin kita melakukannya karena terpaksa dan tidak ada alasan anak di dalamnya" ucap tegas Bang Rakit.
"Fia tidak ingin di kasihani. Fia sanggup hidup sendiri" jawab Fia.
"Abang tidak pernah menaruh belas kasihan pada wanita.............."
Fia menutup wajahnya dengan sedih. Dirinya terlihat frustasi dan tertekan.
"Karena Abang hanya mengasihi wanita yang Abang sayangi." Ucap Bang Rakit kemudian.
"Maka dari itu Abang tidak usah memaksakan" Fia masih terus teguh dengan pendirian.
"Suka atau tidak, saya akan menikahi kamu..!!!" Kata Bang Rakit. "Minggu depan Abang harus pindah tugas..!!"
"Fia nggak mau"
"Apa kamu ingin terus ikut dengan Papa dan Mama? Pikirkan itu..!!" Ucap tegas Bang Rakit kemudian menyambar ponsel dan menghubungi seseorang. "Vin.. tolong belikan makanan..!!"
***
"Aseeemm.. kamar sebegini mahal tapi anakku di gigit nyamuk. Apa saja kerja petugas disini..??" Katanya sambil menggerutu memakaikan minyak telon di tangan Arsene setelah itu beralih membenahi selimut Fia.
Tak lama ada perawat masuk ke kamar rawat Fia. "Ijin.. selamat pagi Kapten"
"Pagii.. kapan istri saya bisa pulang?"
"Siap.. nanti siang sudah bisa Kapten" jawab perawat wanita berpangkat Sertu tersebut sambil memeriksa keadaan Fia lalu mencatatnya.
"Oke.. terima kasih"
-_-_-_-_-
"Ijin Dan, selokan tidak bisa di tutup karena mengikuti jalan taman kota." Lapor Om Bastian.
"Duuhh.. buat selokan juga lebar sekali" gerutunya.
"Yang salah bukannya ibu ya Dan karena salah arus" tanya Om Alvin.
"Fia memang salah, tapi selokan itu lebih salah" jawab Bang Rakit mulai sedikit geram.
"Siaap..!!" Om Alvin dan Om Bastian memilih diam daripada harus berurusan dengan kapten.
"Ngomong-ngomong kalian berdua nanti bantu saya packing ya. Saya belum sempat packing karena ada beberapa peti barang yang harus saya bawa..!!"
Tangan Fia menggapai gelas di sampingnya saat ketiga pria sedang berunding tapi tanpa menoleh sedikitpun Bang Rakit tanggal membuka tutup gelas dan mengangsurkan gelas tersebut ke bibir Fia dan tetap memegangi gelas tersebut.
"Ijin Dan, jadi berapa banyak yang akan di bawa?"
"Lima belas peti" jawab Bang Rakit.
"Siap..!!" Jawab kedua ajudan.
__ADS_1
Fia hanya sedikit melirik pada pria kaku di sampingnya.
"Tadi info penghulunya bagaimana? Sepulang dari sini harus sudah ada di rumah panglima ya..!!" Perintah Bang Rakit.
"Siap.. sudah Komandan. Semua terkoordinasi dengan baik" jawab Serda Bastian.
"Siapa yang mau nikah Bang?" Tanya Fia cemas.
"Kita lah, siapa lagi???"
"Fia nggak mau nikah sama Abang" kata Fia amat sangat jelas di telinga Bang Rakit.
"Ini bukan permintaan. Ini keharusan..!!"
"Fia nggak cinta sama Abang" jawab Fia.
"Tapi Abang cinta." Sambar Bang Rakit dengan cepat. "Sudahlah jangan banyak ribut. Nikah sama Abang itu enak. Kamu bisa beli bakso sepuasnya. Kamu bisa sampai nginap disini karena pengen bakso khan?" Kata Bang Rakit setelah mendapat informasi kenapa sampai Fia bisa keluar kompleks sendirian.
Fia merasa jengah dengan kekakuan Bang Rakit. Sungguh hatinya sangat kesal bertemu dengan pria dingin jauh dari kelembutan. Dulu saat ia bersama Bang Zeni. Suaminya itu masih menyimpan sisi lembut dan penyayang walaupun sangat keras padanya, tapi Bang Rakit amat sangat jauh berbeda. Pria itu sangat kaku, dingin, pelit senyum, kasar dan pemarah.
Mungkin Abang hanya bisa senyum sama Arsene saja.
Fia menarik nafasnya dalam-dalam.
"Iya, Fia suka bakso" jawabnya.
"Pa_paa" tiba-tiba suara kecil menyapa Bang Rakit.
Bang Rakit menoleh dan tersenyum melihat Arsene menyapanya. "Ini perjaka bangun siang sekali. Kerja keras broo.. harga diri laki-laki itu bekerja." Kata Bang Rakit kemudian menghampiri Arsene. "Mandi dulu yuk sama Papa, kita makan.. terus kerja nyusun mainan donat. Mau nggak?"
...
Fia merasa Bang Rakit tak peduli padanya tapi pria itu sangat telaten mengurus Arsene. Mainan Arsene masih berantakan disana sini tapi kedua pria itu sudah terkapar tidur di ranjang dengan posisi memeluk membelakangi dan memakai gaya tidur yang sama pula.
"Bu Fia sudah bisa pulang ya" kata seorang perawat pria melihat Fia masih duduk di ranjang padahal jarum infus sudah di lepas.
"Pasien besar yang di sebelah saya ini tetap di rawat saja ya dok. Rasanya jiwa saya terancam kalau beliau ikut keluar dari rumah sakit"
Perawat tersebut tertawa mendengarnya, pasalnya Pak Rakit memang meresahkan. "Tapi beliau sayang sekali dengan ibu. Tidak tidur dan menjaga ibu semalaman padahal katanya beliau baru saja usai penerbangan dari Sudan"
Fia terdiam mendengarnya. Kesalnya semakin bertambah karena pada kenyataannya Bang Rakit sangat menyebalkan dan membuatnya kesal.
"Ya Tuhan.. suara apa ini berisik sekali." Bang Rakit terbangun memijat pangkal hidungnya.
"Ijin Dan.. ibu sudah bisa meninggalkan tempat." Lapor perawat tersebut.
"Saya minta obat sakit kepala donk Mas. Kepala saya sakit sekali" pinta Bang Rakit. "Aaaaaaahh" Bang Rakit menggelinjang semakin menjadi.
Refleks Fia turun dari ranjang dan memeluk Bang Rakit. "Kenapa Bang??"
"Ya Allah, cabut nyawaku saja. Aku tidak mau melihat dia lagi..!! Aku benci kamu Nena"
"Bang.. Abaaaanngg..!!" Fia mendekap erat tubuh Bang Rakit.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu masuklah Panglima dan Om Alvin.
"Ya ampun.. Rakiit..!!" Papa Galar segera menampar pipi Bang Rakit. "Bantu saya Vin..!!"
"Siap..!!"
"Kenapa tampar Abang Pa??" Protes Fia dengan wajah meremang merah.
~
"Rakit tidak bisa menerima kenyataan kalau ibunya seorang wanita malam dan mencarinya saat dia sudah jadi seorang perwira." Kata Papa setelah Bang Rakit lumayan tenang.
"Papa kenal dengan Papanya Abang?" Tanya Fia.
"Iya.. dia anak adiknya Papa. Anak Om Giras"
"Astagfirullah..!! Kok bisa pa??"
"Setelah Om Giras berpisah dengan Tante Nadine.. Om Giras stress berat.. hingga melakukan hal bodoh dan tidak sengaja melakukan perbuatan tercela dengan seorang wanita hingga wanita itu hamil"
"Lalu Tante Rizka tau Pa?"
"Tante Rizka belum tau. Jadi Tante Rizka itu istri ke tiga nya Om Giras. Tante Amanda meninggal bunuh diri karena tidak kuat mendapatkan tekanan dari Nena." Jawab Papa Galar. "Saat SMA Rakit tau semua karena Nena mendatangi Papa dan mengatakan pada Rakit tanpa perhitungan. Rakit yang awalnya pendiam jadi brutal, suka berkelahi, tawuran, merokok, minum-minuman keras, berurusan dengan perempuan."
"Apa itu sebabnya karir Om Giras terhambat"
"Iya ndhuk. Dan sekarang kamu tau.. berbanding terbalik dengan sang Papa. Karir Rakit sedang menanjak. Prestasinya sangat baik."
"Apakah sifat kaku Abang karena hal ini Pa?"
"Rakit nggak kaku, dia penyayang kok. Percayalah sama Papa. Dia tidak mewarisi keburukan Papanya. Kami keluarga benar-benar mendidik pribadinya." Kata Papa membesarkan hati Fia. "Papa dengar Rakit minta nikah sore ini. Apa itu benar?"
"Iya Pa."
Papa Galar tersenyum. "Kamu mau khan jadi istri Rakit?"
Fia masih terdiam belum menjawabnya.
"Papa yang menjamin dia tidak seperti yang kamu bayangkan" bujuk Papa.
Beberapa detik kemudian Bang Rakit sudah terbangun. Sesaat tadi Papa Galar meminta dokter agar membuat Bang Rakit tertidur karena memang pria tersebut sedang dalam keadaan kelelahan.
"Pa, apa Bang Rakit tergantung dengan obat-obatan??" Bisik Fia cemas.
"Nggak.. kalau kejiwaannya buruk tidak mungkin dia jadi seorang perwira. Itu hanya reaksi alam bawah sadar saat seseorang sedang kelelahan. Kamu tenang saja." Kata Papa Galar. "Jadi bagaimana ndhuk?"
"Fi_a kenapa Pa?" Tanya Bang Rakit pertama kali saat matanya terbuka.
"Dengar sendiri khan? Kamu yang pertama dia tanya" senyum Papa Galar melihat keraguan di mata Fia.
.
.
__ADS_1
.
.