Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
73. Panik.


__ADS_3

Bang Rakit memohon pengajuan meminjam tank untuk berjalan di sekitar Batalyon. Awalnya Wadanyon tidak mengijinkan karena tidak sesuai dengan SOP kedinasan, tapi Bang Rakit terus memohon.


"Saya minta tolong donk Bang. Moment saat tank nya di cuci juga nggak apa-apa, atau sedang di panaskan juga boleh asalkan istri saya merasakan duduk di dalam tank"


"Haduuh Rakit.. kamu ini ada-ada saja. Ya sudah lah. Tapi jangan sampai di sebar luaskan ya. Hanya intern kita saja..!!"


"Siap Abaaang.. beres. Nanti siang istri saya pulang dari rumah sakit. Lagi ngidam nih Bang" kata Bang Rakit lagi.


"Iyaaa.. ya sudah, tapi nanti boleh barter ya. Istri Abang juga ngidam. Hamil anak ke empat nih"


"Ijin Bang, ngidam apa??" Tanya Bang Rakit.


"Lihat om-om tentara makan cabe" jawab Wadan.


"Lailaha Illallah.." Bang Rakit mengusap wajahnya. "Ya sudah Bang, nanti saya makan cabe" jawab Bang Rakit menyanggupi.


...


"Fia cuma hamil Bang, nggak lumpuh. Nggak usah lah pakai kursi roda segala" protes Fia.


"Biar kamu nggak capek. Abang nggak mau kamu capek" jawab Bang Rakit sambil mendudukkan Arsene di pangkuan mamanya.


"Fia lari pun bisa Bang" cicitnya lagi.


"Nggak usah banyak nawar atau tank nya nggak jadi..!!" Ancam Bang Rakit.


"Abang mulai marah-marah terus. Fia mau cerai aja. Malas sama Abang"


"Eeehh.. ampun daahh.. tiap ngambek.. itu lagi.. itu lagii" kini Bang Rakit yang memprotes ucapan Fia. "Nggak baik selalu bicara begitu. Istri Sholehah pantang bicara begitu"


"Aban Asen juga mau celai"


"Huusshh..!!!!" Jawab Bang Rakit dan Fia bersamaan.


"Ini Abang bicara terakhir kalinya ya dek. Jaga ucapan dengan baik apalagi di depan anak. Arsene mulai paham dan meniru perkataan orang tuanya. Ucapan adalah do'a. Bicaralah yang baik..!!"


"Kalau Fia bilang mau pulang ke rumah orang tua juga nggak mungkin khan Bang, Fia nggak punya orang tua" kata Fia mematikan ucapan Bang Rakit.

__ADS_1


"Apa perceraian akan membuat segalanya jadi lebih baik?? Lihat anak yang akan jadi korban karena keegoisan orang tuanya" nada Bang Rakit sedikit lebih keras.


"Hhkkkk.." Fia menutup mulutnya, perutnya kembali mual. "Aaahh lukanya sakit" rintih Fia.


"Astagfirullah.. makanya kamu juga jangan mancing Abang untuk buang suara..!!!!!" Tegur Bang Rakit.


"Papa nggak boleh gitu, harus sayang Mama..!!" Kata si Arsene kecil menegur suara Papanya. "Ayo salim sama yang lebih tua..!! Jangan bandel..!!"


Deg...


Bang Rakit merasa tersentil tapi juga lucu mendengar kata-kata Arsene. Bang Rakit pun mengalah dan berjongkok di hadapan Mama Fia, sungkem untuk memberi contoh takzim untuk sang putra. "Papa minta maaf ya Ma, sudah kasar sama Mama, nggak sopan sama Mama. Papa nggak akan ulangi lagi bicara kasar sama Mama" Bang Rakit menunduk mencium tangan Fia kemudian mengecup keningnya.


Fia juga tidak bisa berbuat apapun. Ia juga harus memberikan contoh cara memaafkan yang baik pada putranya. "Iya Papa, Mama maafin Papa"


"Naah gitu khan bagus. Kalau nggak mau maaf-maafan nanti Aban Asen sentil" ancam Arsene sembari menjentikkan jarinya di hadapan Papanya.


"Maaf Bang" kata Bang Rakit. "Ngomong-ngomong siapa yang ajari Abang bicara begitu.


"Nggak ada, Aban Asen lihat akel Camar bicala sama Petin yang pukul Alya" jawab Arsene dengan tata bahasa yang masih belum sempurna.


"Oohh.. Uncle Camar bicara sama Petir?? Bagus donk... maaf-maafan itu harus. Jadi laki-laki harus punya tanggung jawab dan nggak boleh nakal apalagi sampai buat perempuan nangis. Dosa Bang.. nggak boleh ya..!!"


"Dengar ya Bang, mau seperti apa nakalnya perempuan.. Abang tidak boleh memukul. Tangan Abang khan lebih besar. Tangan Abang itu hanya boleh sentuh pipi seperti ini" Bang Rakit menyentuh pipi Fia dan memberikan kata-kata sederhana agar Arsene mudah mengerti. "Coba lihat otot Abang.. besar khan?? Otot ini untuk sayang sama perempuan seperti ini ya Bang..!!" Bang Rakit berdiri dan memeluk Fia.


Arsene mengangguk mengerti ucapan Papanya. Bang Rakit memberikan telapak tangannya dan tooss ala pria sejati.


Fia membuang nafasnya merasa lega. Mungkin jika saat ini dirinya masih sendiri, tak tau lagi bagaimana caranya mengajari hal yang mungkin saja terlewatkan dalam hidup ini.


"Bang..!!"


"Dalem ( Iya ) sayangku" Jawab Bang Rakit kemudian mendorong kursi roda Fia.


"Terima kasih ya"


Bang Rakit mengerutkan keningnya. "Untuk apa?" Tanya Bang Rakit.


"Untuk seluruh perhatian dan rasa sayang Abang buat Arsene, juga cinta Abang buat Fia."

__ADS_1


"Abang tidak perlu rasa terima kasih itu karena Abang tulus. Tapi maaf.. Abang ingin hal lebih. Abang ingin kamu juga membalas rasa cinta dan sayang Abang sama kamu" jawab Bang Rakit.


"Fia sayang kok sama Abang." Ucapnya pelan tapi masih terdengar jelas di telinga Bang Rakit.


Senyum Bang Rakit terkembang tampan. "Kamu ini tau aja kalau ada orang ganteng"


"Abang sendiri tau aja kalau ada janda ba*enol" kata Fia.


"Yo jelas, di umpani pemandangan indah masa nggak bereaksi. Jelas pengen punya yang begitu lah" Dengan cepat Bang Rakit mendorong kursi roda Fia hingga menuju mobilnya.


Fia menahan tawa gelinya karena sekarang dirinya sudah lebih pintar menerka maksud Bang Rakit.


...


Senyum Fia begitu gembira membuat anggota yang berada disana ikut gembira. Ibu Danki sudah jauh lebih sehat meskipun saat berjalan masih memercing menahan rasa sakit.


"Fia suka tank nya Bang" Fia mengusap tank besar itu lalu melebarkan kedua tangannya untuk memeluk tank yang ia idamkan. "Fia mau naik tank nya."


"Tolong buka Bas..!!" Perintah Bang Rakit pada Serda Bastian.


"Siap..!!"


Pintu tank terbuka, Fia segera masuk lalu menutupnya dengan cepat dan rapat , meninggalkan Bang Rakit yang baru saja melangsungkan kakinya untuk masuk bersama Fia. "Lho dek.. iki kok di tutup piye to. Bojomu belum masuk iki lho dek"


"Ijin Danki.. di dalam ada............."


Belum sempat mulut Bang Rakit tertutup. Ada suara berisik dari dalam tank.


guuuuuukkk..


"Abaaaaaaaaaaanngg ada anjiiiiiiiiing" teriak Fia membuat kepanikan para anggota tak terkecuali Bang Rakit.


"Siapa yang lepas herder di dalam sanaaaa??????" bentak Bang Rakit.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2