
"Papa sedih ya Mama marah?" Tanya Arsene.
"Sedih lah Bang, Papa khan nggak sengaja salah bicara" jawab Bang Rakit pusing sendiri memikirkan Fia.
"Pa_pa minta maaf sama Mama" kata Arsene kecil kemudian matanya tertutup. Sudah sejak pagi jagoan kecil Bang Rakit belum kembali tidur dan mungkin sudah waktunya si kecil sudah sangat lelah.
Bang Rakit mengibaskan pelan telapak tangannya dan benar saja jagoannya sudah tidur.
"Papa tinggal bujuk Mama sebentar ya le, anak gantengnya Papa Rakit tidur disini dulu..!!" Bisik Bang Rakit dan di jawab anggukan setengah sadar oleh sang putra. Bang Rakit segera menyelimuti Arsene lalu menyalakan pendingin ruangan agar tidur putranya lebih nyenyak.
~
"Maaf untuk hari ini yang sudah membuatmu marah. Abang nggak bermaksud seperti itu, Abang hanya menanggapi Bang Rudra dan Cemar saja"
"Beraninya Abang memuji wanita lain" kata Fia tetap tidak bisa menerima ucapan Bang Rakit. "Dasar dingin, jutek, kaku, galak, pemarah, pendiam..!!" Fia mengungkap segala sifat buruk Bang Rakit karena terlalu kesal.
"Iya, maaf. Abang memang pendiam. Diam-diam suka kamu, diam-diam jatuh cinta sama kamu, diam-diam ingin menyentuh hatimu" tak tau darimana Bang Rakit bisa mengucap kata yang terdengar bagai gombalan belaka. "Maafkan mulut Abang yang tidak tau aturan, yang berani memuji wanita lain tapi di dalam hati Abang hanya ada satu bidadari dari khayangan."
"Rayu saja perempuan lain, Fia nggak bisa dirayu..!! Memangnya Fia perempuan apaan mau kembali sama laki-laki yang suka sama perempuan lain? Sudah tiap hari minta jatah seperti minum obat, matanya masih jelalatan." Omel Fia masih dengan tekanan darah yang masih meninggi. "Fia nyesel.. ketemu Abang yang kaku, dingin, hitam, nggak mau senyum, jahil, pokoknya Abang jelek..!!!!!!!!!!" Teriak Fia mengungkapkan rasa kesalnya.
Bang Rakit menepuk dahinya, ia seakan kehilangan akal membujuk bumilnya yang tengah marah besar. Sebegitu sensitif nya perasaan wanita hamil. "Dek, roti strawberry mu nih" hanya itu kata dari Bang Rakit.
"Gantung di pintu..!!"
Bang Rakit segera menggantung roti strawberry yang baru saja datang. "Ada uang tunjangan kemahalan nih dek. Apa Bang taruh dimana?"
"Selipkan di bawah pintu...!!!"
Bang Rakit tersenyum tipis, sifat dasar wanita atas perlakuan masing-masing benda. Satu persatu Bang rakit menyelipkan tiap lembar uang, ada warna biru dan merah disana hingga berjumlah empat puluh lembar.
"Sudah sayang..!! Abang di maafin nggak?" Tanya Bang Rakit penuh harap.
"Nggak..!!!!!!" Jawab Fia mantap.
Entah kenapa perasaan Bang Rakit sangat sedih, mengena sakitnya sampai terasa hingga menekan ulu hati. Dadanya berdenyut ngilu. Tiba-tiba perutnya terasa teraduk bagai gilingan semen.
"Hhhkkkkk.." Bang Rakit berlari menuju kamar mandi, tak ada angin tak ada hujan.. dirinya bisa masuk angin separah itu.
~
__ADS_1
"Kiiiitt.. Rakiiiitt..!!!!!!" Sedari tadi Bang Rudra mengetuk pintu rumah adiknya itu namun tak ada sahutan jawaban sampai akhirnya Fia yang membuka pintu dengan wajah sembab.
Fia melihat ada seorang wanita berdiri di belakang Bang Rudra. Tangis Fia kembali meleleh.
"Siapa dek?" Tanya Bang Rakit.
Fia menghampiri Bang Rakit dan tiba-tiba tanpa kata langsung menghajar suaminya itu tanpa ampun.
"Astagfirullah.. sabar dek. Apa salah Abang??" Bang Rakit hanya bisa menghindari pukulan tanpa bayangan dari Fia.
"Beraninya Abang bawa perempuan lain ke rumah ini..!!" Pekik Fia.
"Perempuan apa?? Yang mana sayang???"
Bang Rudra secepatnya menenangkan Fia. "Sabar Fia..!!"
"Fia nggak sabar" tangan Fia melayang keras di pipi Bang Rudra.
Plaaakk..
"Busyeeett.. ajur tenan musuh bumil" gumam Bang Rudra.
Bang Rakit pun secepatnya memeluk Fia.
Bang Rakit terbelalak tapi ia memilih diam daripada Fia semakin mengamuk.
~
"Tolong Bang, aku menolak perempuan lain di rumah ini" jawab tegas Bang Rakit.
"Dua hari saja" pinta Bang Rudra lagi.
"Kau mau lihat nafasku tidak kurang dari empat puluh delapan jam?? Bumilku lagi cemburuan parah. Karena ulah kalian berdua, sekarang Fia masih marah. Enak sekali kau bilang titip" kata Bang Rakit sembari memijat pangkal hidungnya. Kepalanya masih terasa berat, perutnya mual.
"Tapi mereka terlihat akrab sekali" ekor mata Bang Rudra melirik Fia dan Riana yang tengah tertawa bersama.
"Kau jangan terbujuk tampilan luarnya. Nanti juga aku di musuhi" sambar Bang Rakit.
"Ya sudah, aku nggak tinggal di mess transit. Aku tidur sama Ariana saja"
__ADS_1
"Kau gila Bang???? Rumahku bukan area mesum. Mau buat sial kau di rumahku???" jawab Bang Rakit.
Bang Rudra tertawa saja mendengarnya tapi kemudian tawa itu hilang. "Aku akan mengganti seluruh identitas Ariana, dia adik kandung Najib"
Refleks tatapan tajam Bang Rakit mengarah pada Bang Rudra. "Kamu mau menikahi adik seorang pengkhianat??? Dia menghilangkan nyawa saudara kita Bang"
"Jika membayar nyawa harus dengan nyawa, maka akan kulakukan. Meskipun Najib menjual Ariana pada pengkhianat bangsa tapi hati seorang kakak tetap akan tersakiti jika melihat adiknya mendapat perlakukan buruk dari pria lain. Aku akan membunuh mentalnya secara perlahan." Jawab Bang Rudra.
"Kau tidak bisa mempermainkan perasaan perempuan Bang. Ariana hanya alat."
"Kakak dan adik sama saja" kini hati Bang Rudra sungguh keras. Ia ingin membalas sakit hati keluarganya dengan menikahi Ariana. "Ariana perempuan yang polos. Bukankah lebih mengasyikan menyakiti hati seorang Abang dengan menyiksa adik perempuannya. Sedikit bermanis mulut saja dia akan terpengaruh ucapanku"
"Kau jangan main-main soal perasaan Bang, apalagi berkhianat atas nama Tuhan. Setelah menikah kau punya tanggung jawab pada anak dan istri. Soal nafkah lahir dan batinnya. Jangan mempermainkan perempuan"
"Dosanya biar ku tanggung sendiri..!!"
Bang Rakit punya perasaan tidak tega, tapi saat ini dirinya juga dilema.. belum tau bagaimana cara menyelamatkan Ariana, tapi juga tidak ingin Fia salah sangka atas sikapnya untuk Ariana. Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya. Ia lebih ingin menjaga kondisi mental sang istri yang tengah mengandung buah hatinya.
Tok..tok..tok..
"Selamat sore, ijin Komandan..!!"
Bang Rakit beranjak karena mendengar sapaan ajudannya.. Bastian.
"Kenapa Bas??"
"Ijin.. ini penghulunya sudah datang" jawab Om Bastian.
"Ya Allah, secepat ini Bang?? Apa kau tidak memikirkan baik buruknya????" Tegur Bang Rakit.
"Ini urusanku..!! Kau diam saja kalau tidak ingin terlibat"
"B******n kau Bang, jangan sampai kau seperti Giras. Aku orang pertama yang akan menghajarmu kalau kau sampai melakukannya" Ancam Bang Rakit.
"Dan kau harus ingat. Ibuku Nadine dan aku tidak mewarisi sifat b******n Giras" jawab Bang Rudra tegas dan jelas.
.
.
__ADS_1
.
.