
Mohon maaf kakak semua. Berhubung Nara sedang tidak fit dan gk punya stok cerita.. hari ini up satu dulu ya😢🙏.
🌹🌹🌹
Bang Rakit melangkah perlahan lalu mengambil gitar di tangan Om Alvin.
"Eheemm" Bang Rakit berdehem melonggarkan suaranya. "Tolong jangan kecewa dengan suara saya..!!" Kata Bang Rakit membuka suaranya.
"Tak mampu melepasnya
Walau sudah tak ada...
Hatimu tetap merasa masih memilikinya..
Rasa kehilangan hanya akan ada...
Jika kau pernah merasa memilikinya" Bang Rakit mendendangkan lirik lagu L***o dengan suara yang merdu. Petikan gitar pun terasa pas terdengar di telinga. "Pernahkah kau mengira kalau dia kan sirna..
Walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa..
Rasa kehilangan hanya akan ada..
Jika kau pernah merasa memilikinya
Tiba-tiba air mata Fia menetes. Kata-kata itu sarat akan makna yang menyentil perasaan nya. Ia berpikir.. apakah selama ini dirinya masih terlampau memikirkan almarhum Bang Zeni sampai Bang Rakit merasa tidak nyaman.
Mata Bang Rakit masih terus menatap sang istri hingga Fia semakin salah tingkah. Lagu terus terlantun hingga selesai dan Fia berlari menghambur memeluk Bang Rakit begitu eratnya.
"Demi Allah, Fia sudah menepikan Bang Zeni di sela hati Fia. Saat ini hanya ada Abang di dalam hati Fia.. seluruhnya, tanpa ada celah sedikitpun.. hanya ada nama Abang."
"Heii sayang.. kamu kenapa? Abang hanya sekedar bernyanyi. Hati mu perasa sekali. Ada apa??" Bang Rakit menghapus air mata Fia.
"Fia takut Abang marah, sungguh Fia sudah nggak ingat Bang Zeni lagi" Fia sangat takut membuat suaminya marah jika mungkin saja dirinya tidak sengaja melakukan kesalahan.
"Mengingat pun tidak apa-apa. Tidak masalah, karena Zeni memang Papanya Arsene, tapi ingat.. Abang juga suamimu kurang-kurangi ngelindur memanggil Zeni. Papanya Arsene yang ini agak baperan" kata Bang Rakit menegur sang istri dengan cara yang sangat lembut.
__ADS_1
Seketika Fia menarik tangan Bang Rakit dan menciumi punggung tangannya. "Ya Allah Bang, Fia minta maaf.. Abang boleh pukul Fia..!!"
Bang Rakit melepaskan genggaman tangan Fia lalu mengarah ke atas.
Refleks Fia menyilangkan kedua tangan di depan wajah untuk melindungi diri. Mata Fia pun terpejam. Bang Rakit pun menurunkan tangan Fia lalu mencium keningnya.
"Jika Abang harus memohon ijin pada almarhum Mayor Zeni agar rela melepasmu untuk Abang, maka Kapten Rakitmu ini akan melakukan nya" tangan Bang Rakit mengusap pipi Fia. "Maafkan sifat Abang yang kekanakan.. mencemburui Papanya Arsene hingga hati Abang terasa sakit sendiri. Sungguh tak putus do'a Abang panjatkan untuknya"
Fia kembali memeluk Bang Rakit. Rasanya ia seakan kehabisan kata. Perasaannya campur aduk tak karuan.
"Tidak perlu, Fia sudah kepincut pesona Kapten Rakit dan Fia harap Pak Kapten jangan cemburu lagi.. Fia paling senang di manjakan Kapten Rakit."
Bang Rakit tersipu sendiri mendengarnya, pasalnya semakin hari Fia juga semakin pintar 'mengganggu' pikirannya dan 'menggoda' naluri nya, jadi ia menepis rasa cemburunya yang kekanakan.
Para anggota ikut tersipu melihat adegan romantis bagai skenario live show. Bang Cemar tersenyum penuh arti melihat kehidupan sahabatnya. Ia menoleh kesana kemari melihat suasana, jangan sampai apa yang di pertontonkan sahabatnya itu menjadi perbincangan di kalangan anggota. "Beri tepuk tangan donk.. masa KasieIntel memberi suguhan acara tapi anggota tidak ada yang maju...!!!" Tegurnya seketika menyadarkan Bang Rakit.
Tepuk tangan meriah mengisi malam itu. Untuk kesekian kalinya Bang Rakit mengecup kening Fia lagi dan lagi. "I love you" ucapnya.
"Perwira Intel kita ini terlalu romantis, saya khan jadi iri" kata Bang Cemar sengaja menghangatkan suasana. "Baiklah semua.. kini tiba saatnya Kapten Khobar unjuk kebolehan. Bang Cemar berdiri lalu mengambil gitar di tangan Bang Rakit. "Sana lu, giliran gue nih yang naik daun" usirnya melihat Bang Rakit selalu menggandeng tangan Fia.
"Naik dahan juga boleh. Itu juga kalau pohonnya terima." Jawab Bang Rakit.
Para anggota dan keluarga saling pandang dan berpikir keras kiranya lagu apa yang di sebutkan Pak Danki, pasalnya baru kali ini mereka mendengar judul lagu 'Thomas'. Bang Rakit pun tak kalah berpikir keras hingga mengerutkan keningnya.
Jreeenngg..
Petikan senar gitar mengalun. Para anggota sedikit tegang menunggu lagu apa yang akan di lantunkan.
"Naik kereta api.. tut.. tuut.. tuuut... Siapa hendak turuut........!!!!!!!"
"Kampreeeett.. wes marai mikir malah naik kereta api..!!!!" Teriak Bang Rakit tidak terima.
Sontak riuh menggelegar di acara api unggun. Anak-anak sangat ceria mendengar nya, sedangkan para anggota dan istri sudah sedemikian jengah.
"Turuun Maarr..!!!!"
__ADS_1
Tapi siapa sangka bocah-bocah kecil malah menyukai Kapten Cemar bahkan mengidolakan nya.
...
Berkali-kali Bang Rakit melihat jam tangannya. Hari sudah malam tapi Fia masih senang menikmati malam. Ia melihat Alvin memberikan segelas susu coklat hangat pada Fia.
"Laahh.. kenapa si Alvin jadi perhatian begitu sama Fia?" Gumam Bang Rakit.
Tak lama Wahyu memberikan camilan dan minyak kayu putih untuk Fia. Keduanya lalu berdiri di samping kanan dan kiri Fia, tidak jauh dari istri Kapten Rakit.
Tiba-tiba saja hati Bang Rakit merasa panas. Ia pun menghampiri Alvin dan Wahyu.
"Ada apa kalian perhatian dengan istri saya?? Kenapa tidak panggil saya???" Tegur Bang Rakit. Nada suaranya pun meninggi.
"Siap salah Dan."
"Baaaanngg..!!" Fia meraih tangan Bang Rakit.
"Kenapa sayang.. kenapa nggak panggil Abang??" Bang Rakit langsung berjongkok di hadapan Fia.
"Ponsel Fia ada sama Abang. Bagaimana caranya Fia hubungi Abang.. Om Alvin cari Abang tapi nggak tau Abang ada di mana. Fia tadi hanya minta Om Wahyu tolong carikan minyak kayu putih......"
"Kamu sakit dek??????" Seketika Bang Rakit panik. "Sebentar.. Abang telepon dokter Ari dulu..!!"
Secepatnya Fia mencegah Bang Rakit menghubungi dokter Ari karena takut efek kepanikan suaminya malah membuat ambulans yang datang. "Fia nggak apa-apa. Masuk tenda yuk..!!" Ajak Fia dengan senyum cantiknya.
Bang Rakit berkedip-kedip sejenak. "Arsene dimana??"
"Tidur di tenda tengah, di jaga ajudannya Bang Cemar sama anak-anak yang lain"
"Ya wes ayo, Abang kerokin di tenda" bisik Bang Rakit.
.
.
__ADS_1
.
.