
Bang Rakit memejam kuat tak sanggup merasakan perjuangan Fia. Air matanya menetes ikut membasahi pipi Fia.
Dalam hati Fia terbayang wajah Bang Rakit. Perlahan hatinya tenang mendapat belai lembut suami tercintanya.
Bang Rakit tersentak. "Fiaaaaaa..!!!!"
"Sabar Rakiit..!!!!"
...
Tiga jam berlalu, Fia belum juga sadar dan itu membuatnya sangat cemas. Pandangan matanya beralih pada putra yang baru saja di lahirkan Fia. Bayi yang sejak USG terakhirnya berjenis kelamin perempuan kini harus dengan lapang dada ia terima karena bayinya ternyata berjenis kelamin laki-laki.
"Bangunlah sayang, dia laki-laki. Demi buah hati kita ini, kamu rela menahan semua sakitmu. Kelak jika dia membuatmu menangis, tangan Abang yang akan memberi pelajaran..!!" Bang Rakit mendekatkan bayinya pada Fia.
Bayi kecil itu menggeliat saat pipinya menyentuh pipi Fia. Bibirnya mencebik seakan mengerti itu adalah sentuhan dari sang Mama yang belum sadar.
"Uusshh.. anak Papa kangen Mama ya?" Bang Rakit terus berusaha membuat Fia sadar. "Dek, bangun sayang..!! Anak-anak butuh mamanya. Tolong sayang..!!" Bang Rakit duduk sembari menggendong baby kecilnya. "Abang akan memberinya nama Panji.. Raden Panji Upas Wilalung.. Abang berharap dia akan menjadi pribadi yang baik dan bisa mempertanggung jawabkan segala ucapan dan tindakan nya, serta berjiwa ksatria."
Tangis baby Panji pecah, ia terus meronta di samping Fia hingga tak lama Fia bereaksi. Tepat saat itu Papa Galar dan Mama tiba bersama Arsene.
"Biar Mama yang gendong..!!" Mama meminta baby Panji dan segera menggendongnya. bang Rakit pun pasrah dan kembali fokus pada Fia.
"Fiaaa..!! Dek..!!" Perlahan Bang Rakit berusaha membangunkan Fia. Di tepuknya pipi halus dan lembut itu perlahan.
"Bang Zen..." Rintih Fia saat perlahan matanya mulai terbuka.
"Sayang..!!" Bang Rakit terus berusaha menyadarkan Fia hingga mata itu benar-benar terbuka.
Mata Fia benar-benar terbuka, ia melihat wajah Bang Rakit sembab dan menahan tangisnya.
"Kamu rindu Zeni?" Tanya Bang Rakit.
"Nggak Bang, Fia bertemu Bang Zeni" jawab Fia.
"Oya.. apa katanya?" Meskipun ada sedikit rasa sakit di hatinya, namun ia tak akan menggunakan kecemburuan nya sebagai alat untuk menekan perasaan Fia.
__ADS_1
"Bang Zeni bilang, Fia harus bahagia karena Abang sudah bahagia dan Abang juga ingin melihat kita bahagia" jawab Fia.
Seulas senyum terbersit dari wajah tampan Bang Rakit. "Nanti Abang akan minta anggota di sana untuk menjenguk dan membersihkan makam Zeni. Mungkin dia juga menyapa anak kita"
"Iya Bang"
"Lalu bagaimana? Apa hatimu sudah baik-baik saja?" Tanya Bang Rakit.
Kini Fia yang tersenyum cantik meskipun paras wajahnya masih menyimpan aura pucat.
"Fia akan selalu baik-baik saja jika Abang selalu ada bersama Fia. Biarlah Papanya Arsene tenang di sana karena Papa Rakitnya sudah lebih dari cukup untuk untuknya.. juga untuk mamanya yang manja ini"
Bang Rakit merasa begitu lega. Tak ada lagi kegundahan yang mengganjal dalam hatinya. "Abang janji tidak akan pernah mengecewakan. Abang akan berusaha menyayangi mu melebihi sayangnya Zeni padamu"
"Sudaahh.. ada apa dengan kalian? Ini hari bahagia karena lahirnya jagoan kecil kalian." Tegur Mama kemudian menidurkan baby Panji di samping Fia.
"Wajahnya perpaduan kalian berdua. Adil dan terbagi rata." Papa Galar sangat bahagia karena sudah bertambah cucu lagi di tengah keluarga mereka.
Dari balik pintu, Papa Giras hanya bisa melihat tampannya baby Panji bersama Mama Rizka.
"Biarkan mereka bahagia ma, dosa Papa sudah terlalu banyak. Papa tidak ingin mengacaukan kebahagiaan mereka dengan kehadiran Opanya si kecil disini"
\=\=\=
Sepuluh tahun kemudian.
"Lailaha Illallah.. Allahu Akbar.. kuat sayang..!! kamu pasti bisa...!!!" Bang Rakit memberi semangat pada sang istri yang tengah berjuang dalam persalinan ke tiganya.
"Sakiiiit..!!!" Fia menjejakan kakinya dengan kuat karena tak tahan dengan rasa sakitnya.
"Maaf.. maaf, ini yang terakhir sayang.. Abang janji ini yang terakhir. Abang nggak tega lihat kamu kesakitan..!!" Bang Rakit sampai histeris saking takutnya melihat persalinan ketiga Fia.
"Hmmppphh"
"Alhamdulilah.. sudah lahir Pak Rakit. Perempuan" kata seorang bidan yang membantu persalinan Fia.
__ADS_1
"Puji Tuhan, ada anak perempuan. Jaraknya jauh sekali" dokter Ari memberi semangat pada Bang Rakit yang nampak syok berat melihat persalinan ketiga Fia.
"Cukup ini terakhir. Nggak kuat saya Bang." Tangis Bang Rakit pun pecah.
...
"Perempuan ya pa?" Tanya Bang Panji kecil.
"Iya, cantik ya seperti Mama" jawab Bang Rakit.
"Pa, aku boleh nggak gendong adik?" Tanya Bang Arsene yang sudah lebih dewasa dalam usianya yang sudah tiga belas tahun.
"Boleh, hati-hati Bang..!!" Bang Rakit pun menyerahkan gadis kecilnya pada gendongan Bang Arsene.
"Kamu adik perempuan ku satu-satunya. Siapa yang berani berulah sama kamu, hadapi dulu Abangnya.
"Panji juga donk Bang, Panji juga Abangnya.... Namanya siapa Pa???????"
Bang Rakit tersenyum. "Namanyaa....." Jawabnya menggantung menatap langit-langit kamar seakan menerawang berpikir keras.
.
.
.
.
END
.
.
.
__ADS_1
.