
"Bisa, tapi harus kamu awasi dengan ketat ya obatnya.. juga untuk penyembuhan rahimnya tetap harus di perhatikan. Ini khan belum kebobolan Zen?" Tanya dokter senior yang juga merupakan kepala rumah sakit di daerah distrik tersebut.
"Siap.. su_dah Komandan" jawab Bang Zeni dengan salah tingkah, tapi mau bagaimana lagi.. ia tidak mungkin menyembunyikan fakta pada dokter.
Dokter menepuk dahinya. "Aduuuhh Zen..!!!"
"Ada masalah komandan??" Tanya Bang Zeni tidak paham.
"Yo masalah tenan to le. Fia belum sembuh.. rahimnya belum siap menerima benda asing" jawab Dokter kemudian melihat rekam medis Fia. "Perasaan saya nggak enak Zen..!!"
"Ada apa dok??"
"Aahh nggak, biasa.. analisa seorang dokter saja." Kata dokter Alam menepisnya.
***
Setelah menjalani perawatan satu malam di rumah sakit, Fia pun di ijinkan pulang pagi ini karena siang nanti mereka harus mengunjungi lokasi yang baru. Istri Letnan Zeni itu memang lebih banyak diam.
"Kamu mikir apa dek?" Sapa Bang Zeni karena melihat Fia hanya terdiam.
"Fia sudah berusaha keras untuk memperbaiki diri dan belajar untuk menjalani hidup sebagai istri Abang, belajar menjadi wanita yang seharusnya. Fia tidak mencari pembelaan diri.. Fia memang bodoh dan kurang pengetahuan. Sejak dulu Fia hidup sendiri, tidak ada yang mengajari."
Bang Zeni menepi dan menghentikan laju mobilnya. Tangan itu membelai rambut Fia. "Haruskah kita, terutama kamu selalu berlarut-larut dalam kesedihan yang tidak berujung? Berkali-kali Abang katakan.. masa lalu biarlah menjadi kenangan. Apa kamu mau hidup seperti ini terus?? Tidak ada yang mau menerima takdir hidup seperti ini, tapi inilah hidup yang harus kita jalani. Kalau kamu tidak sanggup memikirkan semua. Biar Abang saja yang memikirkan semua. Kamu hanya perlu jadi istri sholehah..!!"
Fia memeluk Bang Zeni. Kali ini ia menumpahkan tangisnya. Bang Zeni membiarkan Fia menangis hingga hatinya tenang.
...
Bang Ervan melirik ke mobil seniornya. Sudah ada Fia yang duduk disana. "Fia jadi ikut Bang?"
"Jadi.. kalau nggak ikut, mau sama siapa dia disini? Saya lebih cemas kalau dia disini. Biarlah susah senang Fia saya bawa" jawab Bang Zeni.
"Baiklah Bang, ayo berangkat sekarang. Takut keburu malam, kita belum paham medan" ajak Bang Ervan.
"Ayo.. kamu bawa mobil sendiri??" Tanya Bang Zeni.
"Siap Bang, nggak mungkin juga saya tinggal mobilnya"
__ADS_1
-_-_-_-
Om Wahyu berkali-kali harus menghentikan mobilnya karena Ibu Danki sedang mual.
"Minyak angin Yu.. di dashboard..!!" Perintah Bang Zeni yang sedang mengurus Fia di tepi jalan.
"Siaap..!!" Om Wahyu segera mencari minyak kayu putih tersebut. "Ijin Danki.. ini adanya minyak kayu putih" Om Wahyu menyerahkan minyak tersebut.
"Nggak apa-apa. Mana..!!"
...
Hari menjelang malam saat mereka tiba di lokasi yang baru.
"Sayang.. sudah sampai nih. Kamu langsung istirahat saja ya di kamar. Abang mau lihat lingkungan yang baru..!!"
Fia mengangguk karena badannya pun memang sudah sangat lelah.
"Truk bahan makanan sudah datang om?" Tanya Fia pada Om Wahyu.
"Siap.. sudah ibu, itu yang spion nya di ikat pita warna merah" jawab Om Wahyu.
"Iya Bang, Fia tau kok. Tapi om-om ini mau bekerja keras membenahi kompi yang baru, jadi butuh tenaga khan. Minimal nasi sama telur lah, jangan mie instan terus"
Bang Zeni tersenyum. "Baiklah.. sekarang Bu Danki mau buat apa?" Tanya Bang Zeni mengikuti keinginan sang istri.
"Masak nasi, goreng telur sama........" Fia terlihat berpikir melihat kondisi sekitar.
"Aman sayang.. nanti Abang yang pikir" jawab Bang Zeni yang paham maksud Fia. "Nanti Abang bagi dua kelompok. Shift satu memasak dan yang lain kurve, besok pagi yang bagian kurve rolling untuk bagian masak. Bagaimana?? Adil khan dek?"
Fia tersenyum karena Bang Zeni sangat memahami pemikirannya.
"Besok pagi.. Kalian panen itu daun pakis. Malam ini makan seadanya.. itu saja..!!" Arahan Bang Zeni.
"Maaf saya tidak bisa banyak membantu ya om-om semua. Badan saya agak rewel" pamit Fia dengan sopan.
"Siap ibu.. terima kasih banyak perhatiannya" jawab para anggota.
__ADS_1
-_-_-_-
Usai meninjau kantornya.. Bang Zeni menghampiri anggota yang sedang makan. "Ijin Danki.. apa mau saya ambilkan makan?"
"Kalian saja makan duluan. Jangan pikirkan saya..!!" Kata Bang Zeni.
"Siap.. kamu sudah siapkan untuk Danki, Danton dan ibu" jawab seorang anggota.
"Nggak perlu begitu lah. Disini kita sama-sama. Saya mau lihat istri dulu ya. Takut si Eneng nggak bisa tidur"
...
Bang Zeni menutup jendela kamarnya yang terbuka terhantam angin. Di lihatnya Fia sedang tertidur dengan gaya khasnya. "Duuuhh.. gaya kodok begini ini yang buat Abang cemas. Mana jendela kamar terbuka. Untung rumah kita ini rumah panggung" gerutu Bang Zeni sembari menyelimuti Fia. "Nasib baik nih masih Abang tutup. Kalau Abang buka.. selesai kamu dek"
Tak lama Fia malah membuang selimutnya.
"Lhoo.. piye to iki. Dingin begini malah buang selimut. Apa minta di panasin pakai yang lain??" Gumam Bang Zeni. Ia melangkah kembali menuju jendela dan membukanya sekedar mengintip dan celingukan mengawasi keadaan. "Waahh.. ini dindingnya kurang rapat. Besok harus di renovasi nih. Bahaya kalau ada rayap yang ngintip" tangannya masih sempat mengetik tembok memastikan keamanan kamarnya lalu kembali menutupnya rapat.
Dengan cepat Bang Zeni menghampiri Fia. "Yank.. makan dulu..!!" Suara lembut itu membangunkan Fia.
"Fia nggak lapar Bang, mau tidur aja" tolak Fia memalingkan setengah tubuhnya menghadap dinding.
"Abang lapar Neng. Bangun sebentar aja..!!" katanya sambil melonggarkan ikat pinggang.
Fia menoleh dan melihat Bang Zeni sudah siap dengan peralatan tempurnya membuat mata Fia melotot dan menghilangkan rasa kantuknya. "Iiihh Abaaang.. jangan nakal, jam berapa nih..!!"
"Yang begini ini mana tau waktu sih dek" Bang Zeni mendekati Fia.
tok..tok..tok..
"Abaang.. ijin..!!!!!!"
"Astagaaaaaaaa.. apa lagi sih..!!" Tiba-tiba suara ketukan pintu membuyarkan harapan indah Bang Zeni.
.
.
__ADS_1
.
.