
"Jadi begitu ya ibu-ibu. Mohon kerjasama nya untuk ikut partisipasi dalam lomba antar kompi, juga nanti di tingkat Matra."
"Baik Ibu, kami sudah siap"
"Nanti kita latihan dulu saja ya ibu-ibu. Oiya Bu, saya mau tanya tentang rencana kita untuk family gathering. Kita mau buat dimana? Nanti saya tanya suami dulu ya. Nggak apa-apa khan ibu-ibu??" Kata Fia yang sedang memimpin acara arisan kompi hari ini.
...
"Mau buat dimana?" Tanya Bang Rakit.
"Kata Ibu-ibu sih di pantai Bang, yang dekat pohon bakau" jawab Fia.
"Angin kencang sekali. Ombak juga besar. Disana ada tempat menginap atau pakai tenda?" Bang Rakit tetap menjawab pertanyaan Fia meskipun pandangan matanya terfokus pada layar laptop.
"Tenda Bang..!!"
"Sudah di pikirkan keamanan untuk anak-anak??" Tanya Bang Rakit.
"Belum sempat bicarakan itu Bang"
"Disini banyak anak-anak. Jangan sampai lalai apalagi ambil tempat di pantai." Kata Bang Rakit.
"Jadi bagaimana Bang? Boleh apa nggak?" tanya Fia memastikan.
"Nanti Abang runding dulu. Abang nggak mau kalau keamanan disana belum di perhatikan"
Fia mengangguk saja mendengarnya, ia tau suaminya memang sangat teliti dalam hal apapun.
...
"Kita pakai tenda yang besar. Ibu-ibu di tenda tersebut dan bapak-bapak di tenda yang lain"
"Apa harus menginap?" Tanya Bang Rakit.
"Ijin Danki.. Biasanya begitu"
"Saya nggak tega sama anak-anak. Kalau memang mau buat acara seperti itu, siapkan perlengkapan dengan benar. Tapi untuk keamanan dan kenyamanan perorangan masing-masing kepala keluarga harus tanggap darurat dengan keluarga masing-masing. Sanggup atau tidak??" Pinta Bang Rakit.
"Siap.. sanggup..!!"
\=\=\=
Pagi ini Fia sedang menyuapi Arsene. Banyaknya tugas pekerjaan di kompi, urusan rumah tangga dan mengurus Arsene yang sangat aktif membuat tubuhnya lelah.
"Hari ini kamu nggak usah berangkat dek. Abang saja yang berangkat..!! Wajahmu pucat. Istirahat saja..!!"
"Tapi ini khan final Bang, om-om kompi kita Final, ibu-ibu juga Final melawan Matra laut. Masa Fia nggak datang. Ini juga membawa nama Batalyon" jawab Fia.
"Tapi badan mu terlihat tidak fit, lebih baik nggak usah memaksakan diri. Sudah ada Abang yang mewakili juga" nasihat Bang Rakit, memang seharusnya Fia datang dalam acara tersebut tapi keadaan Fia membuat Bang Rakit sangat cemas.
__ADS_1
"Biarkan Fia ikut Bang, sebentar saja. Kalau badan Fia semakin nggak enak.. Fia istirahat di mobil" kata Fia.
"Yang jelas kamu jangan jauh dari Abang..!!"
"Iya Bang, Fia ngerti." Jawab Fia.
...
Wajah Bu Najib sangat tidak bersahabat, kompi yang di pimpin Kapten Rakit dan Ibu Fia Seno Rakit memenangkan pertandingan volly dan dirinya sebagai ibu Danyon terpaksa harus datang meskipun amat sangat tidak suka. Alasannya tak lain karena Kompi milik Kapten Rakit masih di bawah naungan suaminya.
Sorak sorai suporter volly terdengar membahana di seluruh lapangan.
Bang Rakit terlihat tampan berdiri di samping lapangan melihat Bang Ervan meneriakkan yel-yel kompi mereka. Disana Om Wahyu berdiri memukul galon sebagai gendang dan Om Alvin meniup terompet memekakkan telinga mirip di sebuah stadion.
"Satuuuu.. duaaaa.. tiiigaaaaaaa.... Yeeeeeeaaaa..." Seruan suporter Kompi begitu nyaring. Para anggota mengangkat Danki mereka yang selama ini turun tangan dalam latihan volly bahkan terkadang memantau jalannya latihan ibu-ibu. Kemenangan bola volly putra juga mengangkat nama Batalyon mereka.
~
"Hhkkkk.." Fia merasa mual mencium aroma tubuh Bang Rakit yang terbakar matahari meskipun wangi parfum tetap berbau tajam namun aroma terbakar lebih kuat menusuk hidungnya. Apalagi keringat dari kening Bang Rakit yang menetes Fia nggak tahan.
"Eeeehh.. kenapa kamu dek???" Bang Rakit mengangkat Arsene dari gendongan Fia. "Abang Arsene ikut Om Wahyu dulu ya..!!" Katanya sambil menyerahkan Arsene pada Om Wahyu.
"Fia pusing lihat keringat Abang" jawab Fia.
"Kamu nggak enak badan aja ini dek. Sampai keringat Abang saja kamu salahkan"
~
"Ya Allah, kamu kenapa sih dek??" Bang Rakit menyangga tubuh Fia yang bersandar lemas padanya.
"Bang, coba hapus keringat Abang. Tadi Fia selalu bilang nggak kuat lihat keringat Abang. Siapa tau kalau keringat Abang di hapus. Fia bisa baikan" saran Bang Ervan yang ikut panik juga melihat istri seniornya sampai lemas.
"Saya bau badan??" Tanya Bang Rakit mulai cemas sebab dirinya paling memperhatikan penampilan.
"Nggak Bang" jawab Bang Ervan.
"Yang benar. Saya malu nih kalau sampai bau badan" bisik Bang Rakit mulai kehilangan percaya diri.
"Sungguh Bang, demi Tuhan. Mungkin istri Abang memang sedang tidak enak badan. Abang masih fresh dan wangi. Hanya berkeringat saja"
"Saya tadi sudah larang Fia untuk berangkat kesini, tapi dia ngeyel. Memang beberapa hari ini Fia kecapekan Van, tau sendiri kamu.. tingkah Arsene lagi banyak-banyaknya." Kata Bang Rakit sambil mengusap keringatnya.
"Namanya manusia Bang, punya batas daya tahan tubuh" jawab Bang Ervan.
"Tolong ambilkan saya obat di bagian kesehatan..!!" Pinta Bang Rakit pada Om Alvin yang baru saja tiba disana.
"Siap Dan.. Obat apa?"
"Obat lambung, obat demam, obat flu, obat sariawan, obat mata.. semua yang ada kamu minta"
__ADS_1
"Ijin Dan.. apa harus semua?" Tanya Om Alvin.
"Semua..!! Bilang ini perintah Kapten Rakit..!!" Ucap Bang Rakit sangat jelas terdengar.
"Siaap..!!"
~
"Siap.. tidak berani. Ini perintah Kapten Rakit."
Seketika dokter Ari yang sedang bertugas di lapangan pun menoleh.
"Ya Tuhan.. Dankimu itu sungguh luar biasa. Memangnya kenapa Dankimu minta obat sebanyak itu?? Mau di jual??"
"Siap.. Ibu Fia Seno sedang sakit" jawab Om Alvin.
"Sakit apa?? Biar saya periksa"
~
"Kenapa Bang?? Fia nggak sakit parah khan?" Tanya Bang Rakit.
Dokter Ari menatap Bang Rakit dengan kesal. "Istrimu memang kecapekan. Pagi urus rumah, urus anak, lanjut kerja di kompi, malamnya kamu tung**ngi. Pantas lah capek begini"
"Eheemm.." Bang Rakit berdehem melonggarkan tenggorokannya karena malunya sudah menerjang muka. Ia melirik anggota nya yang seakan tuli mendengar penjelasan dokter Ari. Sikapnya tetap cool meskipun tak sengaja pesona gagahnya terbuka. "Ijin Bang. Efek pengantin baru. Masih 'ngajarin' Fia jinakan senjata"
"Senjata opo iku?"
"Ijin.. Magazen type BV12VNG"
Dokter Ari menerawang berpikir sejenak. "Woooo.. pekoook..!!!!!"
~
"Van.. Danki mu kenapa??"
"Ijin Bang, Ibu Fia lemas di lapangan. Mual lihat Bang Rakit keringetan" jawab Bang Ervan saat Bang Cemar baru bisa bertemu dengannya siang ini"
"Lho.. kok tumben??"
"Gara-gara magazen Bang" jawab Bang Ervan.
.
.
.
.
__ADS_1