
"Sah"
Hanya Bang Rakit yang tidak menjawabnya. Hatinya tidak ikhlas Abangnya menikahi Ariana tapi apa boleh buat, ia pun tidak bisa menantang hak seseorang.
Disana tak hanya Ariana yang menangis tapi Bang Rudra pun menitikan air mata. Entah apa yang di rasakannya hingga tatapan mata itu terlihat begitu sedih. Mungkin karena menikahi wanita yang tidak di cintai, menikahi adik penyebab kematian Zeni ataukah ada hal lain.
Tangan Ariana gemetar mencium punggung tangan Bang Rudra tak terkecuali Bang Rudra yang mengatur dirinya sendiri agar tidak terlalu kaku.
"Memangnya kenapa tiba-tiba Bang Rudra menikah?" Bisik Fia di telinga Bang Rakit.
"Ya karena cinta."
"Memangnya kapan mereka pacaran?" Bisik Fia lagi.
"Jangan tanya 'memangnya' terus. Biarkan saja mereka menikah, kamu nggak tau beratnya jadi duda" jawab Bang Rakit.
Fia melirik Bang Rakit tapi Bang Rakit segera menyuapkan roti strawberry dan menyelipkan selembar uang lima puluh ribu rupiah di tangan Fia agar istrinya itu berhenti meliriknya dengan marah.
~
Wadanyon setempat sempat menegur Bang Rudra karena sudah membuat tindakan di luar batas. Bang Rudra pun mengakui kesalahannya hingga mengurangi resiko kefatalan pada jenjang kerjanya.
"Ya sudahlah.. semua sudah terjadi. Nanti kalau skep mu sudah turun segera naikan pengajuan nikahmu.. 'berdua' sama Rakit ya, surat pernikahan Rakit sudah ada di markas besar tapi surat bukti nikahnya belum ada di Batalyon." Arahan Wadanyon karena hingga sekarang belum ada yang menduduki jabatan Danyon.
"Siap..!!"
:
Acara belum usai tapi Bang Rudra menyendiri di belakang rumah Bang Rakit. Acara sederhana yang hanya di hadiri beberapa pejabat Batalyon dan anggota agar mereka paham dan mengenal istri kapten Rudra Pasha.
Ia menggenggam erat foto Arina, tangisnya kembali pecah. "Maafin Abang ya dek" gumamnya pelan.
Pikirannya berantakan, hatinya gelisah merasakan beban dalam hati.
Ariana Mulia dan Arina Mulia binti Almarhum Muliana. Nama itu terasa membayang dan membekas dalam benaknya. Dua nama yang baru ia ketahui memiliki satu kesamaan. "Kenapa??? Kenapa bisa Abang menikahi saudara kembarmu dek????? Abang harus membalaskan dendam keluarga. Lalu bagaimana kalau yang harus Abang sakiti adalah saudaramu???" Bang Rudra mengacak rambutnya. Kini dirinya terkunci dalam masalahnya sendiri.
"Apa saat ini ada sesal dalam hatimu Bang?" Tegur Bang Rakit melihat wajah sendu Bang Rudra.
__ADS_1
"Nggak" jawab Bang Rudra terdengar datar.
"Apa Ariana tau kalau dia akan menjadi ibu untuk Patra??"
"Sudah, dia nggak mempermasalahkan karena memang kami ada dalam jalur perjanjian. Abang butuh info dan dia butuh perlindungan"
"Kadang aku berpikir, seberapa pintarnya dirimu Bang. Jika memang kau ingin membuatnya mati perlahan.. tak perlu lah kau menikahi dia ataupun melindungi dia. Katakan saja kau jatuh cinta padanya" kata Bang Rakit. "Perlu kau sadari Bang, cinta dan bodoh memang beda tipis.. jangan sampai kau menyadari perasaan itu saat dia sudah menangis dan terluka karena sikap kakumu."
"Kau ini bicara seakan dirimu tidak sekaku itu. Kau itu lebih parah dariku" jawab Bang Rakit.
"Setidaknya aku gentle Bang."
...
Malam ini tak masalah bagi Ariana yang tidak tidur sekamar dengan Bang Rudra, Fia juga bahagia bisa ngobrol dan berbagi cerita dengan Ariana. Bang Rudra pun stay cool, mengingat tak ada perasaan apapun untuk Ariana bahkan jiwa lelakinya sama sekali tidak tergerak namun berbeda dengan Bang Rakit yang gelisah karena tidak bisa mendekati Fia malam ini.
Bang Rakit menyadari Fia belum sehat dari trauma lukanya namun ada desak rasa yang tak sanggup ia tahan lama meskipun ia sudah berusaha keras menyingkirkan pikiran dari hasrat yang merangkak memanaskan batin.
"Kenapa belum tidur?" Sapa Bang Rudra yang sebenarnya paham permasalahan adiknya tapi ia berpura-pura tidak tau.
"Laahh, Abang malah rencana mau nginap disini sampai skep resmi kita turun ke Batalyon." Goda Bang Rudra.
"Yaelah Bang, amunisi ku minta di tajamkan nih" protes Bang Rakit.
"Hahaha... Abang punya nggak di asah lama tetap tajam" tak mau kalah Bang Rudra menyahuti protes adiknya.
Bang Rakit hanya mengacak rambutnya dengan kasar tanpa berkomentar apapun lagi.
//
"Iya Fia, jadi aku ini adik anggota juga"
"Oya, siapa??"
Ariana sedikit membatasi diri karena Bang Rudra sudah mewanti-wanti dirinya agar tidak membongkar jati dirinya terutama pada Fia.
"Bukan orang penting, nggak usah di bahas. Lebih baik kita pikir menu makanan buat besok" kata Ariana.
__ADS_1
"Ada menu apa ya buat besok?" Fia seperti menerawang memikirkan sesuatu. Meskipun dirinya sedang marah, tak pernah sehari pun ia lewatkan untuk memasak menu masakan kesukaan Arsene dan kini bertambah untuk Bang Rakit yang lebih suka makan makanan sederhana khas Jawa.
"Hmm.. aku pengen makan kepiting yang besar. Tapi nggak tau carinya dimana" Ariana hanya bisa membuang nafas panjang.
"Aku tau. Besok pagi waktu apel, kita pergi.. Kita cari di kebun bakau di pantai bawah. Soalnya kalau ijin sama Abang nggak bakalan boleh."
"Apa Bang Rakit galak??" Tanya Ariana penasaran.
"Bukan galak lagi, ada masalah kecil saja bisa jadi masalah besar kalau Abang yang tangani." Jawab Fia.
"Sesayang itu kah Bang rakit sama kamu??" Selidik Ariana yang menolak di panggil mbak oleh Fia karena mereka seumuran.
Fia mengangguk cepat. "Dulu aku tidak suka dengan Abang karena Abang galak, Abang termasuk pria yang dingin.. mana wajahnya angker nggak seperti orang Jawa"
Ariana menerawang melihat langit-langit kamar Fia. Ia melihat foto pernikahan yang biasa saja. Tapi ada sebuah foto yang mencuri perhatian nya. Foto Fia sedang duduk dan tersenyum menatap Arsene sedangkan tak jauh dari sana Bang Rakit sedang berpose memasukan kedua tangan ke dalam saku celana kemudian berjalan dan menatap keduanya. Bang Rakit memang terlihat tampan meskipun memang aura tatapan itu terkesan dingin. "Kalau kamu tidak cinta sama Bang Rakit.. kenapa bisa ada foto sebagus itu?"
"Itu foto candid camera. Aku tidak tau siapa yang mengambilnya dan kapan." Jawab Fia.
"Apa sekarang kamu masih tidak ada rasa sama Bang Rakit?? Ehmm.. maksudku tidak cinta" tanya Ariana.
Fia tersenyum lalu menoleh pada Ariana yang sedang berbaring di sampingnya. "Sekarang aku sedang hamil anak Bang Rakit. Begitulah cara Abang mendekatiku hingga aku jatuh cinta"
"Hmm.. Fia, apa aku harus hamil juga agar ada cinta?? Bagaimana caranya aku bilang sama Bang Rudra kalau aku juga mau hamil. Selama ini aku tidak pernah bicara sama pria sampai hamil. Mungkin itu sebabnya aku tidak di cintai" kata Ariana.
"Ahahaha.. kau ini polos sekali. Bilang saja 'Bang, aku mau hamil'..!!" Saran Fia ya sebenarnya sama polosnya dengan Ariana.
//
"Siap Bang, saya merapat..!!" Jawab Bang Rakit saat menerima tagihan janji pada ibu Wadanyon.
.
.
.
.
__ADS_1