
Fia sesenggukan tidur menghadap dinding. Badannya menggigil.
"Dek..!!" Sapa Bang Zeni mengusap rambut Fia. "Astagfirullah.. kamu demam dek??" Bang Zeni panik dan segera mencari obat dan handuk kecil di lemari.
...
Hingga siang, Bang Zeni hanya ikut berbaring memeluk Fia. Istrinya sudah menelan obat dan ia pun sudah mengompres keningnya tapi demam Fia tidak kunjung mereda.
"Masa gara-gara Abang bentak begitu kamu langsung sakit dek? Apa sebegitu kerasnya Abang menyakiti hatimu" tanya Bang Zeni.
Fia masih enggak bersuara. Bang Zeni mengambil ponselnya.
"Saya minta tolong siapkan uang baru, sepuluh juta rupiah ya..!!"
...
"Dek.. ada uang baru nih. Mau nggak?"
Fia tidak melirik sedikitpun tapi tangannya menyambar bungkusan uang tersebut dan menyimpannya di bawah bantal.
"Abang minta maaf dek..!!" Kata Bang Zeni.
Bibir Fia masih membisu. Bang Zeni kalang kabut di buatnya.
"Kamu minta apa dek? Kalau diam begini mana Abang tau maunya kamu"
"Mau dompet yang seperti tadi" jawab Fia.
"Abang belikan, tapi jangan yang itu. Tempatnya jelek, dari besi, gampang karatan" bujuk Bang Zeni.
"Fia mau dompet baru" kata Fia.
"Dek.. kamu menikah dengan seorang tentara. Menikah dengan tentara itu punya beberapa aturan termasuk tidak sembarang memakai inventaris, alat dan merusak fasilitas negara. Jadi yang kamu lakukan itu salah" dengan sabar Bang Zeni memberi pengertian pada istrinya. Ia pun heran tidak seperti biasanya Dia sangat sulit di beri pengertian dan sulit di arahkan. "Hmm.. Abang punya teman pengrajin kulit buaya yang ditangkarkan. Bagus lho dompet dan tas nya" bujuk Bang Zeni.
"Dimana tempatnya?"
"Nggak jauh kok. Sambil lihat Walabi. Kanguru kecil di perbatasan." Ajak Bang Zeni. "Mau nggak?"
Fia mengangguk dan Bang Zeni mengusap kening Fia lagi. Ada secercah kelegaan, demam Fia sedikit turun.
__ADS_1
...
Hari sudah siang dan Bang Zeni mengajak dia untuk makan siang terlebih dahulu di sebuah kedai makan ikan bakar. Pesanan Bang Zeni sudah terhidang dengan menu makanan terserah ala Fia khas seorang wanita ngambek.
"Abang suapi ya?" Baru Bang Zeni memegang centong nasi, Fia sudah mual melihat bentuk ikan bakar.
"Fia nggak kuat lihat ikan warna hitam Bang"
Bang Zeni segera menutup ikan tersebut dengan piring lain.
"Terus mau makan apa dek?"
"Nasi sama kacang panjang aja Bang" pinta Fia.
"Abang bawa kamu jauh-jauh makan di sini biar kamu sehat dek, bukan mau buat kamu tambah sakit. Masa makan hanya mau nasi sama kacang panjang aja. Ngenes hati Abang mikir kamu ini" jawab Bang Zeni memang sungguh sedih melihat inginnya Fia.
Bang Zeni mencoba membuka piring yang menutup ikan tapi seketika itu juga Fia mual mencium aroma ikan.
"Hhkkkk.. Fia nggak kuat Bang..!!" Saking tidak kuatnya Fia sampai bersandar di dinding samping bahu kirinya.
"Duuhh.. Bagaimana sih ini dek. Kalau soto ayam mau nggak, ikannya di bungkus saja" saran Bang Zeni.
:
Hati Bang Zeni susah dan sedih melihat Fia tidak bisa makan apapun sampai soto ayam pun tidak masuk ke dalam perutnya dan kembali muntah saat akan masuk ke dalam mobil.
"Ini mau lanjut cari dompet apa mau pulang saja dek. Abang takut kamu nggak kuat"
"Cari dompet" jawab Fia. Bang Zeni hanya bisa pasrah mendengarnya.
...
Bang Zeni menemui rekannya, si pengusaha dompet dan tas kulit penangkaran buaya di daerah tersebut. Sesaat tadi Fia terlihat sangat senang dengan tas dan dompet kulit buaya.
Sedang asyiknya mengobrol Bang Zeni melihat Fia memberi potongan paha ayam di dekat kandang buaya.
Buaya tersebut bereaksi dan melompat menyambar potongan paha ayam yang di pegang Fia.
"Allahu Akbar.." untung saja dengan cepat Bang Zeni bisa menangkap Fia. "Kamu ini mikir nggak, telat sedetik Abang menangkapmu.. kamu bisa jadi cemilan buaya..!!!" Bentak Bang Zeni bahkan lebih keras dari saat di rumah tadi.
__ADS_1
Fia begitu syok mendengar bentakan keras dari Bang Zeni untuk kedua kalinya. Nyalinya ciut, hatinya begitu sakit. Fia sedikit menunduk memberi salam untuk berpamitan pada pemilik toko di penangkaran tersebut tersebut kemudian berjalan meninggalkan tempat.
:
Fia menangis sejadi-jadinya di dalam mobil sampai nafasnya terasa sesak karena banyak terisak. Tak lama ada yang mengetuk pintu kaca mobil. Fia menghentikan tangisnya lalu menoleh pada sosok yang mengetuk pintu, ia membuka kaca mobilnya.
"Ini dompet dan tas mu dek" kata Bang Zeni berucap lembut merendahkan suaranya.
Fia tak bergeming hingga Bang Zeni meletakan kantong kecil itu di pangkuan Fia.
"Abang minta maaf ya..!! Abang salah" Ucapnya mengalah tapi ucap itu justru kembali melelehkan tangis Fia kembali. Bang Zeni menarik Fia dan menenggelamkan paras ayu itu di dada bidangnya. "Jangan nangis donk, cantiknya jadi hilang nih" tangan itu mengarahkan rambut Fia ke belakang punggung lalu ia membuka dashboard mobil dan mengambil ikat rambut yang biasa Fia simpan di sana. Dengan lembut Bang Zeni mengikatnya. "Jalan-jalan lihat Walabi yuk..!!"
Fia menggeleng. Rasanya ia sangat lelah dan tidak minat lagi berjalan-jalan. Suasana hatinya pun jadi kacau balau.
...
Meskipun Fia menolak tapi Bang Zeni tetap mengajaknya pergi ke taman yang penuh dengan Walabi.
"Turun dek. Lucu tuh Walabi nya"
"Nggak mau, perut Fia sakit" kata Fia.
Bang Zeni mengusap perut Fia dengan lembut. "Makanya perut diisi. Perutmu kosong ini dek."
:
Senyum Fia akhirnya merekah juga. Ia memeluk Walabi kecil yang sedang menggendong bayi dalam kantong. "Bang, Fia bawa pulang ya??"
"Yo nggak boleh to ndhuk. Ini khan di rawat baik-baik di lahan konservasi" kata Bang Zeni menyabarkan hati menghadapi Fia. Ia memandangi satu persatu Walabi yang lucu berlompatan di sekitar kakinya.
Fia tak lagi banyak berdebat karena takut Bang Zeni akan membentak dan memarahi nya lagi. Ia berdiri perlahan namun sesaat kemudian pandangan matanya berkunang-kunang. Kakinya seakan tidak menapak. "Abang.. Fia pu_sing" ucapnya kemudian ambruk menimpa Bang Zeni yang sedang membawa rokok hingga tak sengaja tangan Fia tersulut.
"Astaga.. dek.." Bang Zeni membuang puntung rokoknya dan menahan tubuh Fia. "Ya ampun dek.. kenapa sih kamu sayang..!!"
.
.
.
__ADS_1
.