
Delon mengetuk rumah Bang Jenar.
"Silahkan duduk! Ada apa?" tanya Bang Jenar datar. Ia meninggalkan Lintar yang masih meringkuk di tempat tidurnya.
"Begini kapten, komandan meminta saya menyampaikan langsung pada Kapten untuk memasukkan Lintar pada kelompok Lyta untuk menggantikan Lyta dalam soal perampokan untuk sementara waktu"
"Lalu??" lanjut Bang Jenar sambil melipat tangan di depan dada.
"Lintar harus menyamar lagi untuk memancing bandit itu, karena bandit itu sudah mempunyai kelompok dan jaringan yang besar" Delon menjelaskan.
"Saya tidak mengijinkan Lintar bergabung dengan kelompok Lyta!" tegas Bang Jenar.
"Tapi Kapten, Lintar sangat pandai menjaga diri meskipun kita lepaskan ke kandang macan sekalipun. Dia bisa beladiri"
"Tidak..gunakan cara lain selain memasukan wanita dan sampaikan pada komandan agar bekerja sesuai dengan bidangnya dan jangan memberi pekerjaan tanpa ada pelatihan khusus sebelumnya!!!"
Praaaaannngggg
Bang Jenar mendengar ada suara pecahan benda jatuh dari arah kamarnya.
"Bi..." panggil Lintar karena ia merasa tidak enak harus memanggil Bang Jenar.
"Siap Kapten, saya pamit pulang dulu" Delon pamit pergi.
Bang Jenar bergegas masuk ke dalam kamar meninggalkan Delon yang pura-pura tidak mendengar suara yang ia dengar.
Lintar memegang perutnya yang terasa di remas dan sangat sakit. Bang Jenar melihat banyak sekali darah di sekitar pakaian Lintar.
"Kamu sebenarnya sakit apa dek?? Kenapa bisa seperti ini??" Bang Jenar berubah cemas. Wajahnya memercing melihat darah. Bibi datang tergopoh-gopoh melihat suara dari kamar tuannya.
"Ya ampun pak, lebih baik ibu di bawa saja ke rumah sakit" usul bibi. Bang Jenar segera mengangkat Lintar.
Bang Jenar tampak tenang membawa mobil. Padahal hatinya cukup gelisah melirik Lintar yang kesakitan sampai menangis.
...
"Istri bapak tidak ada masalah yang serius. Hal ini sering terjadi pada wanita yang tingkat stressnya tinggi. Kalau nanti istri bapak sudah hamil biasanya bisa sembuh" ucap dokter
"Baiklah dok, terima kasih"
Bang Jenar pun melirik Lintar yang baru saja di antar perawat dan di bantu berjalan oleh bibi.
...
Sepanjang jalan Lintar hanya tidur saja karena pengaruh obat yang baru saja di minumnya.
"Kata dokter apa pak?"
__ADS_1
"Bisa sembuh kalau hamil bi" jawaban Bang Jenar cukup singkat padat dan jelas.
"Kalau begitu di segerakan saja pak. Punya anak akan menambah keharmonisan keluarga. Bapak dan ibu bisa semakin dekat"
"Insya Allah bi" ucap Bang Jenar sambil tersenyum.
Tak lama mereka sampai di rumah. Bibi sudah membangunkan Lintar tapi nyonya muda itu tidak juga bangun. Terpaksa Bang Jenar yang harus mengangkatnya.
***
Pagi hari Bang Jenar memakai seragam loreng berangkat ke kantor. Hari ini Bang Jenar tidak pergi ke markas Intel. Bang Jenar tampak gagah memakai loreng miliknya.
"Abang mau berangkat?" tanya Lintar lembut.
"Iya, kamu tidak perlu ke markas kita. Abang tidak kesana seminggu ini" larang Bang Jenar.
"Tapi pak Boy meminta Lintar untuk menggantikan Lyta selama ia liburan" balas Lintar.
"Abang sudah bilang pada Boy agar mencari penggantimu"
Lintar berjongkok berhadapan dengan Bang Jenar yang sedang memakai sepatu.
"Bang, Lintar ingin bekerja. Kalau Lintar tidak bekerja, Lintar tidak punya penghasilan untuk kebutuhan Lintar sendiri!"
Bang Jenar menghentikan tangannya yang sedang memakai sepatu.
"Istri Kapten Jenar Sentanu Rawisrengga"
"Apa yang kamu butuhkan akan di penuhi orang yang kamu sebut namanya barusan" tegas Bang Janar sambil membuka dompet, mengeluarkan dua ATM miliknya dan uang tunai sebesar satu setengah juta rupiah.
"Itu semua atas nama Abang. Gaji bulanan ada disana. Juga uang di luar gaji Abang ada di ATM satunya. Abang membawa dua ATM lagi dan kamu juga bisa mengecek di bank berapa isinya"
"Tapi Bang..!!"
"Kita menikah secara sah. Menurutmu.. Abang sedang membayarmu atau memenuhi kewajiban sebagai suami? tanya Bang Jenar.
"Kewajiban Bang"
"Kalau sudah paham jangan bertanya lagi. Cepat sarapan dan segera minum obatmu!" titah Bang Jenar tanpa bisa di bantah lagi oleh Lintar.
...
"Bi, Bang Jenar itu sangat keras. Aku tidak tahan dengan sikapnya" keluh Lintar sambil meminum susu hangat yang kini sudah biasa di minum olehnya.
"Pak Jenar orang yang sangat lembut Bu.. Sungguh. Bu..maaf kalau bibi lancang, lebih baik ibu membuka hati untuk bapak. Bibi yakin ibu tidak akan menyesal" mendengar ucapan bibi, Lintar hanya bisa tersenyum kecut sambil memakan telur setengah matang.
//
__ADS_1
Di kantor Batalyon
"Penangananmu pada kasus Wolfy mendapat apresiasi yang bagus. Mereka merekomendasikan Lintar lagi pada kasus serupa di Bali Minggu depan" ucap Komandan.
"Jangan lah Dan.. Saya mau menarik istri saya dari markas Intel" Bang Jenar menolak berita dari komandan dan Hanya Komandan serta beberapa orang saja yang tau kalau Bang Jenar sudah menikah.
"Tapi ini tugas, dan kamu tidak bisa menolak. Karena kamu kepala team. Lagipula istri kamu masih ada kontrak kerja selama delapan bulan lagi. Selama masa itu, istrimu di larang hamil. Kamu boleh ikut serta sebagai bentuk tanggung jawab pada pekerjaan"
Bang Jenar sangat kesal dengan pernyataan Komandan tapi ia hanya bisa mengeluh kesal dalam hati karena semua ini memang perintah dan tuntutan pekerjaan.
//
Boy menghubungi Lintar berulang kali hingga akhirnya Lintar mengangkat panggilan telepon dari Boy.
Boy : Kamu kemana saja, kenapa hari ini tidak masuk kerja? Kamu harus menggantikan Lyta!
Lintar : Maaf saya tidak enak badan dan saya belum bisa masuk entah sampai kapan.
Boy : Kamu sakit, saya antar ke dokter ya?
Lintar : Sudah ke Dokter pak, maaf saya masih harus banyak istirahat.
Lintar menutup panggilan telepon saat Bang Jenar masuk ke dalam kamarnya. Tatapan mata Bang Jenar sangat tajam penuh penekanan.
"Telepon dari siapa?" tanya Bang Jenar sambil melepas seragamnya.
"Pak Boy" jawab Lintar santai.
"Kamu di larang berhubungan dengan lelaki lain di luar urusan pekerjaan" tegas Bang Jenar walau pengucapannya begitu tenang.
"Dia bertanya tentang urusan pekerjaan. Tidak ada yang menggantikan Lyta saat ini dan Lintar harus pergi ke Bali"
"Siapkan baju dan kita akan pergi ke Bali. Kita akan menyewa dua kamar tapi connect room" jelas Bang Jenar.
"Kenapa harus connect room segala? Abang pikir kita ke Bali untuk liburan? Kita kerja" Ketus Lintar. Tapi sesaat kemudian dirinya menatap wajah Bang Jenar. "Oohh.. Apa jangan-jangan Abang mau titip saham disana" senyum Lintar sambil berjinjit mengalungkan tangannya pada leher Bang Jenar. Bibirnya hanya berjarak lima centimeter saja dari bibir Bang Jenar.
"Yang bilang Abang mau mengajakmu bulan madu juga siapa?? Lagipula semulus apapun tubuhmu.. Abang tidak akan tergoda. Kamu jauh dari kriteria Abang" jawaban Bang Jenar tak kalah ketusnya. Lintar pun melepas rangkulan tangannya lalu naik ke atas ranjang dan menarik selimutnya.
Bang Jenar memalingkan wajahnya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Tangannya mengambil kaos santai dan ikut tidur di sebelah Lintar tanpa bicara sepatah katapun.
.
.
.
.
__ADS_1