
Om Wahyu tak berani bertanya dan berkomentar apapun saat Dankinya tadi memintanya memundurkan mobil ke dekat kamar khusus komandan. Dankinya itu sangat mencemaskan istrinya sampai menggendongnya ke dalam mobil.
Sebagai pria yang sudah terbilang dewasa, sedikit banyak ia pun paham yang kemungkinan besar terjadi. Hanya yang tidak ia pahami.. mengapa Bu Zeni terlihat begitu menahan nyeri padahal setau dirinya Bu Zeni sudah melewati jauh hari dari malam pertama tapi ia memilih untuk memendam rasa penasaran.
...
Di sepanjang jalan Fia hanya tertidur saja dan tidak terganggu suasana yang membuatnya mabuk. Goncangan di tengah perjalanan pun tak menjadi gangguan berarti.
Om Wahyu mengintip Bang Zeni yang tak melepas dekapannya dari sang istri, sesekali senyum sang Danki tersungging manis menatap wajah istrinya. Tangan usilnya tak jarang mencolek hidung mancung istrinya atau hanya sekedar membenahi letak anak rambut ke belakang telinga.
"Byuuuhh.. ayune tenan iki bojone sopo to yoo..!!" Bang Zeni bergumam sendiri.
Om Wahyu tersenyum geli. Ini kali pertama sang Danki mau tersenyum setulus ini. Danki yang sudah temani perjalanan hidupnya sejak dirinya masih berpangkat Prada namun sungguh satu perkara yang dia ingat, junjungannya itu amat jarang membawanya ke tempat 'rusak'. Ia pun tak begitu paham sisi percintaan sang Danki termasuk bagaimana pertemuan Dankinya dengan Ibu Fia, yang ia tau kekasih Dankinya bernama Tamara. Kini ia menyadari keadaan Dankinya.
"Nanti kalau ada supermarket mampir dulu ya Yu..!! Saya lihat kemarin ada supermarket besar ada apotek di sampingnya" Pinta Bang Zeni.
"Siap..!!"
:
"Ijin Dan, ibu hamil??" Tanya Om Wahyu sebab setahu dirinya, Danki baru saja menikah sekitar hampir tiga minggu yang lalu.
"Kamu lihat, itu susu apa. Susu sebelum kehamilan. Persiapan dulu lah. Sebenarnya saya memang pengen punya anak tapi Fia masih sangat muda. Biar alami saja apa adanya. Kasihan juga kalau mentalnya belum siap" jawab Bang Zeni.
"Ijin Dan, saya lihat Ibu sangat dewasa. Kehamilan juga tidak bisa di prediksi kecuali kita paham pengaturan nya" kata pria yang umurnya satu tingkat di bawah Bang Zeni dan hanya beda pangkat saja.
"Istri saya dewasa karena tempaan hidup keras di luar sana. Fia tidak punya orang tua dan sejak kelas satu SD hidup sendiri. Hidupnya hanya tau sekolah dan mencari makan, tidak ada yang membimbing untuk detail kehidupannya." Jawab Bang Zeni serius, ia pun menghela nafas panjang. "Sudahlah.. untuk selanjutnya memang tugas saya sebagai suami untuk mengarahkan Fia. Harap di maklumi saja ibu Dankimu itu, saya pun sedang berproses, mengatur kesabaran ternyata tidak mudah Yu"
"Siap Danki.. saya paham. Semangat Dan. Manusia tidak ada yang sempurna..!!" Jawab Om Wahyu.
...
Dua setengah jam perjalanan telah usai, rombongan telah tiba di Kompi tak terkecuali mobil Bang Zeni dan Fia yang baru saja tersadar.
"Aduuhh.. paha Fia sakit sekali Bang" ucap jujur Fia tanpa melihat kondisi.
"Huusstt.. iyaa.. iyaaa... Nanti Abang pijat. Sini Abang bantu turun..!!" Bisik Bang Zeni membantu Fia.
__ADS_1
"Awwwhh.. sakit Bang"
Meminimalkan resiko tak di inginkan, Bang Zeni pun mengurungkan niatnya untuk membawa Fia turun dari mobil. "Kamu tunggu disini sebentar ya, Abang apel sebentar..!!"
"Fia mau ke toilet Bang, tapi kaki Fia sakit..!!!!" Rengek istri kecil Lettu Zeni.
"Duuuhh.. ada saja sih. Kalau laki mah masih bisa sembarangan. Masa iya Abang antar di kebun. Toilet masih di renovasi dek" Bang Zeni menepuk dahinya.
"Nggak apa-apa deh Bang, Fia berani" kata Fia.
"Ngawur aja, Abang yang nggak berani. Di sini banyak ular berbisa dan nggak sopan" Bang Zeni pun masuk ke dalam mobil lalu segera membawa Fia ke ruangannya. Sejak kejadian semalam ada rasa egois dan kepemilikan atas diri Fia. Hatinya resah dan tidak ikhlas pria lain memandang istrinya.
//
"Kamu ambil apel Fel. Langsung bubar istirahat. Saya nggak bisa ambil apel. Fia masih nggak enak badan"
"Siap laksanakan Abang..!!"
~
"Sudah di minum obat nyeri nya dek?" Tanya Bang Zeni melihat Fia masih meringis kesakitan apalagi usai keluar dari toilet.
"Ya sudah kalau nggak sakit jalannya jangan seperti kepiting. Biasa saja" kata Bang Zeni setengah meledek.
Seketika ekor mata Fia melirik Bang Zeni dengan tajam.
"Halaaahh.. ngono wae nesu" Bang Zeni mencolek pipi Fia dengan gemas.
"Abang nih sering pakai bahasa yang Fia nggak ngerti. Abang ngomong apa sih???" Fia semakin kesal karena terkadang tidak memahami bahasa Bang Zeni.
Bang Zeni tertawa dengarnya. "Masa nggak tau, artinyaaa.. kamu kok manis sekali"
Pipi Fia langsung memerah, ia memalingkan wajahnya menyembunyikan rasa gengsi dan malu di balik sikap sok tau dan sok tegasnya.
"Pulang yuk..!! Abang pijatin" Ajak Bang Zeni dengan senyum penuh tanda tanya.
Tak ada pikiran curiga sedikitpun pada Bang Zeni. Fia mengangguk menyambut ajakan Bang Zeni.
__ADS_1
...
Bang Zeni menegang dan mengejang kembali tak bisa membendung hasratnya yang membuncah pada Fia sampai ia tumpahkan tanpa sisa rasa rindunya dalam sebuah bujukan manis. Ia bukannya tidak tau tubuh Fia masih mengalami trauma. Ia juga tidak tau mengapa gadis kecilnya itu begitu mengusik perkara batinnya. Gadis polos yang sebenarnya masih banyak diam seakan cosplay gedebong pisang, hanya gerak kecil sebagai respon bahwa dirinya masih sadar di bawah dekapannya.
Bang Zeni melonggarkan diri agar Fia tidak merasa tersakiti "Sudah ya, nanti kamu capek meladeni Abang"
Tapi siapa sangka Fia malah menarik bahunya hingga ia kembali harus menindih istri kecilnya. "Sebentar Abaaang.. Fia mau yang seperti tadi" ucap Fia lirih, pipinya yang putih bersih kini bersemu merah jambu.
Bang Zeni cukup kaget mendengarnya, tapi suami mana yang tidak senang saat istrinya bernada merajuk manja. "Seperti tadi yang mana sich ma, bilang sama Papa..!!" Bisik Bang Zeni di telinga Fia.
Fia sedikit mengangkat kepalanya dan berbisik di telinga Bang Zeni. Senyum gemas nakal pun tersungging di wajah Bang Zeni.
"Hayoo.. siapa tadi yang nangis kejer??" Ucap Bang Zeni meledek kemudian mengigit kecil pucuk hidung Fia.
"Abaaaanngg.. iihhh..!!" Fia bersungut sebal.
Bang Zeni tersenyum tulus, ia menyelipkan jemarinya pada jemari sang istri lalu menggenggamnya erat. "Senyum donk..!!" Pinta Bang Zeni.
Fia masih bertahan dengan gengsinya.
"Asal kamu sanggup meladeni suamimu, empat kali naik turun pun Abang sanggup. Memulai juga tidak harus suami. Istri Sholehah adalah istri yang pintar membuat suami bergairah, jadi nggak perlu malu untuk urusan ini" kata Bang Zeni mengambil hati Fia.
"Fia nggak mau lagi" jawab Fia kembali gengsi tapi tak juga melepas dekapannya.
Bang Zeni terkikik melihat tingkah lucu sang istri. "Abang pengen cepat di panggil Ayah. Gimana donk..!!"
"Mana buktinya, perut Fia saja sampai hari ini belum besar" protes Fia.
"Memangnya ban motor, sekali pompa langsung melembung. Sabar Neng, ini Abang lagi usaha, si dedek juga belum mapan. Lagipula Abang khan sudah belikan kamu buku tentang wanita. Nggak di baca ya???"
"Itu bukunya, buat ganjel pintu" Fia memonyongkan bibirnya menunjuk buku di lantai.
"Amazing Bu Dankiiii..!! Sini Abang ganjel sendiri, materi nggak bisa ya terpaksa otodidak saja. Kesuwen.. sirahku wes ngelu ndhuk..!!" Bang Zeni pun kembali membalas dekapan Fia.
.
.
__ADS_1
.
.