
Fia mengangguk mengiyakan.
"Kamu kenapa nangis?? Siapa yang buat kamu nangis?? Dokter salah periksa???" Tanya Bang Rakit dengan segala kekakuan nya.
"Besok kalau Fia jadi istri Abang dan hanya di marahi.. Fia mau mengadu ke makam Bang Zeni." Ucap Fia.
"Memarahimu itu wajib. Mengadulah sekarang..!!" Bang Rakit masih bertahan dengan sikap kerasnya.
"Cukup Rakit. Fia bukan anak buahmu yang bisa kamu tekan mentalnya setiap saat" tegur Papa Galar.
"Karena Fia selalu salah paham padaku Pa." Jawab Bang Rakit.
"Bagaimana nggak salah paham kalau sikapmu begitu. Kurangi itu kelakuan cor-coran semen yang keras dan kaku begitu"
-_-_-_-
Fia mengusap makam Bang Zeni sebelum mereka pulang.
Bang Rakit memberikan penghormatan dirinya untuk sang sahabat. "Maafkan saya Pot. Hati saya sudah berbeda." Bang Rakit menyembunyikan rasa pedih dalam hatinya. "Mayor Zeni. Tolong ampuni saya. Saya akan penuhi wasiat terakhir mu. Tapi bukan seperti inginmu yang meminta keikhlasan ku, jujur saya sudah melewati batas sampai mencintai istrimu" ucapnya. "Tidurlah dengan tenang Pot, damailah kamu di sisiNya. Sudah Tunai tugasmu di dunia. Saya akan menjaga Fia dan Arsene dengan segenap jiwa raga saya. Tanggung jawab itu menjadi hak milik saya sekarang"
Fia mendongak mendengarnya. Seakan hanya mimpi mendengar kata-kata yang sudah lama tidak ia dengar lagi. Sendi-sendi Fia terasa lemas tidak dapat menerka ucapan Bang Rakit benar adanya hanya sebatas ucapan semata.
Bang Rakit meletakkan patahan plat nama kalung baja di atas pahatan nisan Bang Zeni. "Kami pamit ya Pot. Mulai detik ini.. mereka akan mengenal Fia sebagai Nyonya Nafia Senopati Rakit Padhuhan."
Bang Rakit mengulurkan tangan untuk membantu Fia berdiri tapi kaki Fia rasanya tidak sanggup untuk bergerak. Tanpa kata dirinya masih mengusap nisan Bang Zeni dan Bang Rakit sangat memahami perasaan Fia. Ia pun langsung menggendong Fia.
...
"Sah.."
"Alhamdulillah..!!" Bang Rakit mengusap wajahnya menyadari status dudanya sudah terlepas.
Air mata Fia berderai membasahi cadar. Memang kali ini dirinya meminta agar tertutup sangat rapat. Ia ingin cerita yang berbeda agar tidak mengingat mendiang Almarhum Bang Zeni demi menjaga perasaan Bang Rakit. Namun segala kenangan terlalu membekas kuat, bayang wajah Bang Zeni berputar dalam ingatannya, ia mengingat saat dulu pria itu membuatnya menjadi seorang istri. Dadanya terasa begitu sesak, matanya tergenang hingga seakan sosok Almarhum tersenyum di sudut ruangan memakai pakaian putih bersih. Sekilas seisi ruangan beraroma wangi. Sebegitu kuat menahan sesak hingga akhirnya ia tak mampu lagi merasakan tekanan dalam dada. Fia ambruk menimpa Bang Rakit.
"Allahu Akbar.. Fiaa..!!!"
...
Bang Rakit mondar-mandir menggenggam minyak angin. Kali ini dirinya kikuk sendiri. Entah mengapa Fia memilih bercadar membuatnya salah tingkah.
"Percuma kamu bawa minyak angin, tidak kamu oles juga khan?" Tegur Mama melihat kelakuan putranya.
"Duuh Ma, aku takut salah pegang. Perbedaannya sangat jauh dari Fia tidak berjilbab, lalu memakai jilbab dan sekarang malah bercadar. Aku ini merasa jadi iblis yang mengharapkan bidadari" jawabnya.
__ADS_1
Mama tidak bisa menahan tawanya. "Kamu ini ada-ada saja. Ayo cepat urus istrimu..!!"
~
Mama dan Papa sibuk mengintip dari celah lubang ventilasi di bantu Om Alvin dan Om Bastian yang menarik meja di ruang tamu.
Sejak tadi Bang Rakit masih saja mondar-mandir tidak berani menyentuh Fia hingga Papa Galar setengah mati merasa gemas.
"Sudah pernah menikah kenapa kelakuannya seperti perjaka saja. Begitu kemarin dia sesumbar mau buat adiknya Arsene. Sanggup betul nggak tuh" gerutu Papa Galar.
"Mama juga gemas Pa, lama sekali loading nya."
Samar suara Papa dan Mama terdengar di telinga Bang Rakit, ada rasa geram tapi tak mungkin dirinya menegur tingkah Papa Mamanya. Ia pun memilih menggunakan cara halus untuk meminta Mama Papanya pergi.
Apa nih maksud Papa? Aku sudah full tank begini. Sekali tembak kujamin bulan depan Fia batal kedatangan tamu.
Bang Rakit sengaja menekuk lengan kemeja Lalu membuka beberapa kancing bajunya. Meskipun tangannya sudah dingin, ia memberanikan diri untuk mendekati Fia.
Papa Galar tersenyum geli gemas sendiri. "Ayo turun Ma, Rakit mau perang" ajak Papa Galar.
Tapi baru saja kakinya bersiap turun.....
"Subhanallah.." terdengar suara Bang Rakit.
Papa Galar melihat Bang Rakit duduk di ranjang Fia sembari menutup wajahnya. Bang Rakit terlihat menghapus air matanya. Dari tempatnya Papa tau kalau Bang Rakit lumayan syok melihat cantiknya paras Nafia terlihat dari cadarnya yang sudah terbuka. Paham ada hal yang sangat rahasia. Papa pun turun.
"Ada apa Pa? Kenapa Rakit?" Tanya Mama.
"Putramu itu syok lihat cantiknya Fia sampai duduk lemas. Biar saja mereka saling mengenal satu sama lain" jawab Papa.
Mama mengerti dan ikut Papa meninggalkan tempat bersama dua ajudan.
~
Mata Fia perlahan tersadar dan melihat Bang Rakit terdiam duduk di sampingnya.
"Abang menyesal menikahi Fia?" Tanya Fia.
"Nggak" jawab Bang Rakit datar.
"Kenapa Abang nggak mau lihat Fia? Abang nyesel khan??" Fia bersiap beranjak dari posisinya.
"Nggak dek"
__ADS_1
"Lalu kenapa?? Fia khan sudah bilang, Abang tidak usah membantu Fia. Fia ini janda." Kata Fia kemudian berjalan ke kamar mandi.
Fia mencoba membuka nya tapi pintu kamar mandi tersebut tidak bisa terbuka.
"Abang kunci pintunya. Abang belum ganti lantainya. Nanti kamu terpeleset lagi"
"Jadi Abang yang ganti setiap lantai kamar mandi di rumah ini???"
"Apa salahnya?? Kalau kamu terpeleset lagi pasti merepotkan semua orang" jawab Bang Rakit.
"Fia kebelet. Mana bajunya berat banget. Terus bagaimana ini??" Protes Fia.
"Nanti terpeleset kamu nya. Abang lupa belum bilang ART sm ajudan buat bersihkan" kata Bang Rakit.
"Ini Khan lama nggak di pakai. Pasti nggak licin Bang"
"Nggak..!!"
"Aaaaa.. Fia mau p***s..!!"
Bang Rakit segera berdiri dan membuka pintu. Saat pintu terbuka, Fia segera menerjang masuk. Tak disangka Bang Rakit pun ikut menerobos masuk.
"Apa sih Abang.. keluar..!!" Teriak Fia.
"Nanti terpeleset dek..!!"
"Keluar nggak?? Atau Fia teriak bilang Abang mau per**sa Fia" ancam Fia.
"Iya.. iyaa Abang keluar" dengan paniknya Bang Rakit keluar dan Fia pun mengunci pintu, tapi sesaat setelahnya Bang Rakit tersadar. "Heehh.. kamu bagaimana sih dek. Kita sudah nikah..!!!!" Teriak Bang Rakit dari luar.
Tak lama pintu kembali terbuka. "Bang.. Fia nggak bisa lepas pengait bajunya.
Bang Rakit menyimpan senyum geli melihat Fia yang begitu polos sudah berjingkrakan menahan hasrat padahal bisa saja Fia mengangkat gaunnya. "Aduuhh.. nggak bisa ini dek, macet" kata Bang Rakit sambil mendorong Fia semakin masuk ke dalam kamar mandi sampai Fia terpojok di dudukan wastafel. Bang Rakit pun mengangkat rok Fia. Karena tidak tahan lagi Fia segera menyelesaikan inginnya. "Dasar sempit perkiraan. Ini tinggal di tarik dari bawah saja khan bisa. Kenapa harus buka resleting mu dari atas???? Kalau resleting Abang yang di sini ge'er bagaimana?" Ucapnya tanpa ekspresi dan lagi-lagi itu membuat Fia kesal.
Bang Rakit membuang pandangannya. Jantungnya jedag jedug tak karuan dalam wajah kakunya. Batinnya begitu tersiksa.
B******n, dulu mulutku pintar sekali merayu perempuan bahkan Sindy saja bisa ku rayu. Tapi kenapa di depan Fia.. bilang cantik saja rasanya tenggorokanku tersumbat.
.
.
.
__ADS_1
.