
"Dia memalukan anggota Pak. Mungkin saat operasi dia sempat merayu para target" Lyta mencecar Lintar tanpa tau pasti keluarga Lintar yang sedang berada disana, padahal Bang Jenar sudah menyebut Dan Rakit dengan sapaan 'Papa'.
Komandan team Intel yang sudah hadir merasa kecewa dengan kejadian ini. Bagaimana bisa seorang anggota agen rahasia bisa hamiil di tengah kontrak tugasnya. Hanya Komandan Lintar, Danyon dan beberapa staff anggota saja yang tau kalau mereka adalah pasangan suami istri.
...
Dokter selanjutnya keluar dari ruang tindakan. Lintar di dorong menuju ruang rawat. Bang Jenar mengikuti langkah dokter. Tangan Bang Jenar masih sempat mengusap kening Lintar. Banyak perasaan yang sulit ia ungkapkan.
"Kandungannya baik-baik saja" kata dokter setelah Lintar masuk ke dalam kamar rawat.
"Alhamdulillah.. " wajah Bang Jenar nampak bahagia dalam kecemasan yang teramat sangat.
"Di jaga ya pak, kandungannya masih muda. Masih enam minggu"
"Baik dok.. akan saya jaga sebaik mungkin. Terima kasih banyak dok atas bantuannya" jawab Bang Jenar.
Dokter pun pergi meninggalkan Bang Jenar dan para anggota di tempat.
"Apa ada penjelasan resmi tentang kehamilan Serda Gitarja.. Kapten Jenar??" selidik Komandan SatIntel.
"Siap.. ada" jawab Bang Jenar tegas.
"Jelaskan!!!!!"
"Ijin Komandan.. Saat ini Serda Gitarja sedang mengandung anak saya"
plaaaaakk
"Kamu menghamili Lintar saat bertugas???? Sembrono!!!! Dia masih dalam masa tugas beberapa bulan lagi Jenaarr..!!!" geram Komandan menegur Bang Jenar.
Boy yang mendengar dari balik pintu tak kalah kagetnya.
"Sudah Bang!! Mau bagaimana pun memang Jenar suami Lintar" Danyon menghentikan kemarahan DanSaTIntel yang menghajar Bang Jenar di tempat.
"Setelah Lintar sudah lebih baik, kamu segera masuk menghadap saya. Tanggung semua hukuman atas semua pelanggaran ini!!!!" tegas DanSaTIntel.
"Siap laksanakan sesuai perintah!!" tegas Bang Jenar.
DanSaTIntel meninggalkan tempat. Komandan Batalyon menggeleng kepala menegur Bang Jenar.
"Lihat.. ulahmu yang terlalu gegabah ini membuatmu harus menanggung akibatnya"
"Itu masalah kecil. Daripada saya harus kehilangan anak lebih baik badan saya yang remuk" ucap Bang Jenar membelai perut Lintar yang masih ramping itu.
"Papa akan jaga kamu dan mama baik-baik, sehat terus ya sayang!" Bang Jenar mengecup lembut perut Lintar.
"Oohh.. berarti semalam itu suara Lintar dan Komandan ya" Celetuk Delon.
Bang Jenar terperanjat kaget memelototi Delon.
"Diamlah mulutmu yang ember itu!!" kesal Bang Jenar.
__ADS_1
Tak lama bibi datang karena tadi Bang Jenar sempat menghubungi bibi.
"Ibuu..." pekik bibi, bibi menangis melihat kondisi Lintar.
"Masih pengaruh obat bi" senyum Bang Jenar.
"Ibu kenapa pak?" tanya bibi histeris.
"Tertembak"
"Astagfirullah hal adzim..ibuu" bibi membelai rambut Lintar.
"Lintar hamil bi" lirih Bang Jenar, wajahnya sangat cemas.
"Bapak tenang saja. Bibi akan bantu bapak jaga ibu. Bapak yang tenang kalau kerja" tangan bibi mengusap dada Bang Jenar seolah tau tuannya sangat cemas dengan keadaan Lintar.
:
"Dimana ini?" Lintar mengerjap melihat kesekeliling. Terlihat bibi yang tidur di sofa.
Bang Jenar membuka pintu kamar rawat Lintar.
"Dek..kamu sudah bangun?? Ya Allah akhirnya kamu sadar juga" Bang Jenar berlari mengecup kening Lintar lalu perut datarnya.
"Perut Lintar rasanya nyeri sekali Bang" keluh Lintar.
"Iya dek.. pelan-pelan saja jangan bangun dulu. Kasihan si dedek nanti kaget" cegah Bang Jenar sambil mengusap perut Lintar.
"Apa maksud Abang?"
"Ya Allah, terus gimana ini Bang?? Lintar masih terikat kontrak kerja" cemas Lintar.
"Abang sudah bilang akan tanggung semua resikonya. Abang akan terima apapun hukumannya asalkan kamu dan anak kita sehat dan bahagia selalu"
***
"Ijin tugasmu di cabut dan Lintar di kembalikan di kesatuan nya" tegas Danyon.
"Alhamdulillah" ucapnya pelan.
"Senang sekali kamu Kapten. Nggak ada tambahan uang karena tugasmu di cabut. Ada sedikit masalah. Nanti saya selidiki" kata Danyon melihat Bang Jenar lebih lega.
"Siap. Ijin Komandan.. rejeki bisa di cari, tapi bahagia bersama anak dan istri tidak bisa di beli dengan uang" jawabnya tegas.
"Ya sudah.. terserah mu sajalah Kapten"
...
"Pelan kalau jalan!!!!!" ucap Bang Jenar.
"Ini pelan Bang"
__ADS_1
"Jahitan mu belum kering betul. Kalau sampai lepas.. Abang sambung pakai lem pipa ya!!!" kesal Bang Jenar.
"Iyaaa Abaaang" Lintar berjalan jauh lebih pelan dan menuruti Bang Jenar.
...
Bang Jenar mengaduk susu buat Lintar, saat ini hatinya sedang berbunga, tak peduli apapun yang akan menjadi hukumannya esok hari.
"Sini bibi buat pak!"
"Biar saya saja bi. Biar saya melayani permaisuri dan penerus tahta" ucap Bang Jenar dengan senyum terus mengembang". Bibi pun ikut tersenyum mendengarnya.
"Malam mau makan apa pak?"
"Biar saya masak sop ayam kampung, lauknya mendoan bi. Biar anak ku sehat" ucap Bang Jenar bersemangat.
...
"Minum dulu dek!" Bang Jenar membawakan segelas susu hangat untuk Lintar.
"Abang yang buat??"
"Nggak.. bibi yang buat" ucapnya dengan cuek.
Tak lama bibi mengetuk pintu kamar Bang Jenar.
"Pak.. ini makan malam ibu"
"Oohh.. iya bi. Terima kasih!" jawab Bang Jenar.
"Wangi Bang. Lintar lapar. Masakan bibi paling enak" kata Lintar memuji bibi.
"Tapi Bu, ini....." Bang Jenar mengedipkan mata agar bibi diam dan tidak perlu bilang siapa yang memasak sop itu.
"Ini khusus buat bumil" jawab Bang Jenar sekenanya.
Bang Jenar pun meraih sop ayam dari tangan bibi. Setelah sop ayam itu dingin, Bang Jenar segera menyuapi Lintar. Tak disangka Lintar makan sampai tambah dua mangkok. Bang Jenar bisa tenang meskipun badannya besok harus remuk menghadapi hukuman Batalyon.
***
Bang Jenar berdiri di ruang kantor Danyon. Danyon bingung bagaimana harus menyampaikan status Bang Jenar yang sudah sah di kantor bahkan di tempat Lintar.
"Statusmu sudah menikah. Hanya saja di SatIntel yang naik adalah namamu dan Lyta. Maka dari itu DanSaTIntel marah" jelas Danyon.
"Astagfirullah.. cobaan apalagi ini?" Bang Jenar mengepalkan tangan karena amarah yang memuncak.
"Saya akan temui Lyta"
"Tunggu dulu!! Lebih baik kamu bicara dengan istri daripada ia tau dari orang dan salah paham" usul Danyon. Bang Jenar diam sejenak berpikir ulang.
"Siap Dan.. akan saya bicarakan dulu dengan istri" ucap Bang Jenar.
__ADS_1
.
.