Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
S 2. 21. Bagai bom bunuh diri.


__ADS_3

"Mau maafin Abang khan?" tanya Bang Jenar.


"Nggak.. Abang jahat. Abang sudah mau niat buruk"


"Iya.. Abang salah. Abang khilaf, sungguh nggak sengaja bilang seperti itu" Bang Jenar mencium bibir Lintar. Ada getar rasa yang ia rindukan.


"Abang kangen dek"


"Mas mau apa?" tanya Lintar.


"Ngejinakin singa betina" jawab Bang Jenar.


Lintar tersipu malu. Ia pun langsung menyandarkan diri di dada Bang Jenar. Suami Lintar itu pun langsung tersenyum, di balik sifat menyebalkan nya, Lintar masih punya sifat pemalu khas perempuan.


"Mana gaya suka pamer dan menantang mu itu?"


"Aku lagi malas bertengkar Bang" kesal Lintar.


"Oohh.. berarti minta damai sama Abang nih ceritanya?" goda Bang Jenar.


Lintar bangkit dari tidurnya, ia kesal sekali karena Bang Jenar terus menggodanya. Bang Jenar menarik tangan Lintar agar mau tidur di sampingnya lagi.


"Abang hanya bercanda. Abang benar kangen dek" kata Bang Jenar sambil mengecup lembut bibir Lintar.


"Abang, puasa dulu ya" ucap Lintar menghentikan Bang Jenar.


"Lho kok gitu, Abang sudah di ujung tanduk nih" protes Bang Jenar.


"Si adek masih kecil Bang" kata Lintar.


"Abang pelan-pelan, nggak akan lupa"


/////


/////


"Apanya yang pelan-pelan Bang?" kesal Lintar.


"Iya.. maaf.. kelupaan dikiiit" kata Bang Jenar.


Lintar masih bersungut kesal di tempat tidurnya.


***


Pagi hari Lintar memasak makanan untuk bekalnya di kantor. Belakangan ini Lintar lebih suka membawa bekal makan siang sendiri.


Hari ini menu yang ia bawa adalah rendang jengkol dan tahu tempe. Bang Jenar melihat istrinya yang sedang sibuk di dapur tidak tahan untuk tidak menggoda.


"Cieeee.. bumil bekalnya rendang jengkol"


Mata Lintar langsung berkilat tak tahan ingin mengomel juga.

__ADS_1


"Ini tuh makanan paling enak tau Bang. Abang jangan coba menghina ya!" kata Lintar.


"Siapa yang menghina, Abang cuma bilang.. bekalmu rendang jengkol"


Belum sempat tertutup bibir Bang Jenar, Lintar sudah menyuapkan rendang jengkol itu ke mulut suaminya.


"Naahh..enak nggak?" tanya Lintar.


"Biasa aja" jawab Bang Jenar datar.


"Hmm.. bawakan Abang bekal itu juga" perintahnya.


Lintar tertawa melihat suaminya yang sangat gengsian itu.


Dengan cekatan Lintar menyiapkan bekal yang sama untuk suaminya. "Jangan lupa kotak nasinya di bawa pulang ya Bang. Ini Tipuware punya Lintar" pesan Lintar mewanti-wanti suaminya.


"Iya aahh.. barang begini di pasar juga banyak" kata Bang Jenar.


"Ini punya Lintar" kata Lintar mengulang kata-kata nya.


"Iya.. Tipuware ini punyamu. Abang sudah dengar, Nyonya Jenar yang cantik" Bang Jenar mencubit gemas pipi Lintar.


"Oke Bang, kita berangkat sekarang!" ajak Lintar.


"Siap Nyonya tersayang"


Bibi tersenyum bahagia melihat keakraban majikannya.


Hari ini usai olahraga, perut Bang Jenar mulai keroncongan padahal hari masih pukul sembilan pagi. Ia terengah setelah berlari sepuluh kilometer.


Saat itu ia teringat tadi sudah membawa bekal yang disiapkan Lintar. Ia pun segera menuju ruangannya.


"Ternyata istriku pandai masak juga, tak tau kenapa jengkol ini jadi terasa enak" gumamnya sambil memakan bekal dari istrinya.


"Waahh.. ini istri perhatian atau pelit. Suami sampai bawa bekal makanan" goda Ilham litting Bang Jenar.


"Istriku tadi bawa bekal ini ke kantor nya, tapi waktu kucoba ternyata enak" kata Bang Jenar membanggakan Lintar.


"Istrimu masak daging apa sich?" tanya Ilham penasaran.


"Kancing Lev*s" jawab Bang Jenar.


"Opo iku?"


Bang Jenar menunjukan bekalnya pada Ilham.


"Astaga..jengkol to??" kesalnya.


***


"Ijin Kapten, ada surat perintah untuk kunjungan bakti sosial besok" lapor seorang anggota pada Bang Jenar yang sedang mencuci tempat makannya.

__ADS_1


Tak berapa lama ada beberapa ekor kambing berlarian masuk area Batalyon. Bang Jenar memerintahkan anak buahnya agar menangkap kambing tersebut. Bang Jenar yang tengah di sibukan dengan ulah kambing itu langsung meletakan begitu saja kotak bekal Tipuware milik Lintar.


-_-_-_-


"Mana kotak bekalnya Bang, mau Lintar cuci" kaya Lintar.


"Sudah Abang cuci kok" jawabnya santai.


"Terus dimana sekarang tipuware punya Lintar.


"Itu dek... di........"


"Aduuhh yank... Abang lupa di taruh mana"


"Ya ampun Baaang.. Cari dulu!!!. Itu mahal" pekik Lintar memekakkan telinga.


"Seingat Abang tadi ada di taman Batalyon"


Wajah Lintar kini langsung berubah tajam ingin menelan Bang Jenar bulat-bulat.


"Cari Bang..!!!!!! itu susah Lintar dapatnya" Lintar menghetakan kaki dengan kesal.


"Iya, ini Abang mau cari" alasan Bang Jenar yang langsung berdiri dari duduknya.


"Sampai ketemu ya Bang..!!!!" nada Lintar terdengar sangat mengintimidasi.


"Ya ampun. hilang tipuware taruhannya nyawa gini dek?" kesal Bang Jenar.


"Iya lah.. soalnya yang hilang itu limited edition"


"Astagfirullah hal adzim.. nyesel atau nggak ini kemarin ngehamilin kamu" gumamnya pelan.


"Telinga Lintar dengar ya Bang" kesal Lintar melotot. "Abang nyesel?????" Lintar mulai marah dan masuk kamar lagi.


"Gusti Allah.. paringi sabar!!!" Bang Jenar mengelus dadanya sendiri.


Ia berjalan menghampiri Lintar.


"Jangan marah donk sayang. Masa hanya gara-gara Tipuware kamu marah gini"


"Apa Bang????? Hanya gara-gara???"


"Salah lagiiii..!!!!!" Bang Jenar menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mendesah pasrah.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2