Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
55. Harus tegas.


__ADS_3

"Abang keluar, hati-hati disini..!!"


Fia mengangguk. Ia melihat punggung Bang Rakit meninggalkan dirinya di dalam kamar mandi. Denyut nadinya berdenyut kencang. Jantungnya berdetak kencang.


"Kenapa tiba-tiba perasaanku jadi aneh begini ya" gumamnya.


:


"Ayo keluar dari kamar..!! Di luar banyak orang takut disangka kita macam-macam" ajak Bang Rakit dengan nada khas nya.


Fia menurut dan tidak lagi memakai cadarnya karena Bang Rakit sudah melihat wajahnya untuk pertama kali usai mereka sah menjadi suami istri.


:


Litting Bang Rakit pun ikut bahagia mendengar kawannya itu menikah. Mereka menghabiskan hari sebelum akhirnya Bang Rakit harus benar-benar menjalankan tugasnya sebagai Danki di pelosok Negeri.


"Kurasa Fia sangat berbeda. Dulu Fia cantik tapi sekarang berkali-kali lipat cantiknya. Apa itu aura Mama muda?" Gumam seorang rekan Bang Rakit.


"Matamu.. nggak sungkan kamu sama suaminya?" Tegur Bang Rakit mulai terbawa aura panas.


"Bercanda bro.. gitu aja marah besar" kata rekannya. "Eehh.. usai tugas ini lu nggak penyelesaian acara purna tugas?"


"Sudah, hanya saja memang aku minta kembali lebih dulu karena suatu hal" jawab Bang Rakit yang pastinya mudah di mengerti semua orang kalau Bang Rakit memang ingin secepatnya melepas masa duda.


"Buru-buru amat??" Tanya rekannya.


"Tanki sudah terlalu penuh bro. Nggak sanggup ngaturnya" jawab Bang Rakit seenaknya mengundang gelak tawa rekannya.


...


Malam hari Bang Rakit bingung harus tidur di kamar mana. Jujur dirinya sudah ingin menguraikan rasa. Menahan diri selama dua tahun lebih juga bukan hal yang mudah. Dulu pikiran nakal sempat terbersit namun ia tepis segalanya. Kini saat dirinya sudah memiliki seorang istri masih saja ia harus memendam rasa yang begitu menyiksa. Malam ini hanya rokok dan kopi yang menemani sebagai pelipur lara. Tak mungkin ia mengungkapkan rasa gundah gulana dalam dada.


//


Di dalam kamar Fia pun gelisah. Ia takut Bang Rakit akan mendekatinya. Sungguh dirinya belum siap menerima hadirnya pria lain dalam hidupnya. Sosok Almarhum Bang Zeni masih melekat kuat dalam benaknya. Cara almarhum Bang Zeni memperlakukan dirinya sungguh ia rindukan. Berbeda dengan sosok Bang Rakit yang kasar dan sama sekali tidak peduli padanya. "Bagaimana kalau Bang Rakit memintanya padaku?? Aku tau Abang sudah menjadi suamiku, tapi aku belum siap" gumamnya.


Fia berguling di ranjang tak bisa memejamkan mata. Ia tak sanggup membayangkan harus melayani pria lain meskipun sebenarnya itu semua adalah hak Bang Rakit sebagai suaminya. "Aduuuuhh.. aku harus bagaimana?????"


Fia kebingungan sendiri sampai akhirnya ia tertidur pulas.


***


Lewat tengah malam Bang Rakit masuk ke dalam kamar Fia. Arsene sudah tidur bersama Oma dan Opanya. Di lihatnya Fia tidur telentang. Seperti biasa selalu memakai pose menantang dan Bang Rakit hanya bisa menelan ludah dan menurunkan mini dress Fia lalu menutupnya dengan selimut.


Bang Rakit merosot duduk di sisi ranjang. Begitu sulit menenangkan jiwa yang bergejolak hingga rasanya ingin mengguyur kepala menggunakan air es.


...

__ADS_1


"Ma_af Bang, Fia ketiduran" Fia membuka omongan lebih dulu daripada harus mendengar Bang Rakit mengomel.


"Nggak apa-apa" jawab Bang Rakit singkat.


"Lagipula Fia sedang datang bulan" kata Fia terbata.


Bang Rakit tersenyum kecut mendengar kebohongan sang istri. Pasalnya ia tau betul Fia sedang tidak datang bulan.


"Abang marah?" Tanya Fia merasa tidak enak.


"Kalau memang datang bulan.. Abang mau bilang apa? Itu berkah dan hadiah dari Tuhan. Kodratnya seorang wanita agar bisa lebih landai dan menjalani hidup. Karena segala yang berat adalah tanggung jawab kaum Adam" jawab Bang Rakit. "Asal kamu tidak bohong saja. Sebab kalau kamu lakukan, Abang tidak akan memberimu ampun. Dosa hukumnya melalaikan kebutuhan biologis suami" Bang Rakit meninggalkan meja makan dan mengurungkan niatnya untuk makan. Ia tidak ingin emosinya meluap atas kebohongan pertama sang istri padanya.


//


Bang Rakit duduk menyendiri memejamkan matanya di samping kebun Batalyon. Hatinya terasa sangat sakit, sesak. Ia mengacak rambutnya kemudian bersandar kasar.


"Kamu lihat Pot, istrimu begitu mencintaimu sampai seperti itu. Aku tau.. aku yang salah karena menyimpan perasaan untuk Fia, tapi sumpah demi apapun hatiku sakit sekali. Fia tidak menganggap ku ada. Bahkan dia selalu menolak ku" Sudut mata Bang Rakit sudah basah. "Aaaaarrrrgghhh" Bang Rakit berteriak sekuatnya meluapkan perasaan yang hancur berkeping.


Para anggota mendengar suara teriakan tapi mereka mengira suara teriakan dari liat Batalyon sebab batalyon itu bersebelahan dengan pemukiman warga.


...


"Abang mau makan?"


"Nggak" jawab Bang Rakit singkat.


Tapi begitu melihat Arsene menghampiri, senyum Bang Rakit tersinggung. Ia mengangkat tubuh kecil itu melayang tinggi. "Jagoan Papa.. ayo jalan-jalan naik motor sama Papa" ajaknya.


~


"Vin.. Panggilkan pedagang bakso di depan jalan itu. Borong semuanya. Jangan lupa buatkan bakso khusus untuk istri saya..!!" Perintah Bang Rakit sambil membenahi letak duduk Arsene di Tanki depan motor gagahnya.


"Siap Kapten. Ijin.. kapten mau kemana?" Tanya Prada Alvin.


"Ajak jalan-jalan si jago." Jawab Bang Rakit kemudian berlalu.


:


"Ijin Ibu.. Pak Rakit memborong satu gerobak bakso. Ini untuk ibu. Khusus dari tukang baksonya" kata Om Alvin salah menyampaikan bahwa bakso tersebut di pesan khusus dari Bang Rakit untuk Fia.


Fia pun berwajah datar saja. Wajahnya sembab karena terlalu banyak menangis.


...


"Kenapa kamu nangis?" Tanya Bang Rakit. Secepatnya ia memeriksa tempat sambal, saos cabai, kecap dan segala perlengkapan penunjang milik pedagang bakso.


"Alviin..!!" Teriak Bang Rakit.

__ADS_1


Prada Alvin yang masih menyantap baksonya masih kepedasan terpaksa masuk karena Kapten Rakit memanggil. "Si_ap..!!" Jawabnya dengan bibir kepanasan dan kepedasan menarik kesana kemari.


"Kenapa istri saya nangis? Tukang baksonya kurang ajar????" Tanya Bang Rakit.


Prada Alvin kebingungan menjawab dengan mulut penuh.


"Jawab yang benar? Apa sambalnya basi????" Bentak Bang Rakit.


"Fia nangis karena Abang" jawab Fia kemudian.


Mendengar jawaban istrinya, Bang Rakit mengibaskan tangan meminta Prada Alvin keluar karena ada masalah yang ingin ia selesaikan.


"Abang kenapa??" Tanya Bang Rakit.


"Kenapa Abang bersikap begitu sama Fia? Tidak bisakah Abang bersikap sedikit lembut??" Jawab Fia.


"Seperti Zeni maksudmu?"


Fia pun terdiam. Air matanya kembali menetes.


"Abang bukan Zeni. Ingat itu..!!" Bang Rakit beranjak meninggalkan Fia yang masih duduk sendirian.


Fia memberanikan diri menggapai tangan Bang Rakit. "Abaaang.. jangan seperti ini..!! Fia sangat tersiksa" ucap jujur Fia.


"Jawab jujur..!! Kamu sedang datang bulan atau tidak??"


Hati Fia tersentak mendengarnya. Ia menunduk dan takut tidak berani menatap wajah Bang Rakit.


"Kalau Abang mau, Abang bisa saja meng**ahimu semalam. Nggak ada yang sulit, apalagi kita sudah menikah. Kamu mau teriak sampai lehermu putus tidak akan ada yang peduli. Tapi Abang bukan binatang yang suka memaksa. Abang ingin memperlakukan kamu layaknya seorang istri. Seharusnya kamu bisa menyadari posisimu. Abang tidak pernah menyuruh mu melupakan Zeni. Tapi Abang ini laki-laki. Jiwa pemburu Abang terluka karena sikapmu. Kalau kamu masih tidak bisa menerima Abang.. Abang pahami. Tapi tidak dengan sebuah kebohongan."


"Fia minta maaf Baang" kata Fia terisak.


"Jangan nangis. Ada Arsene..!!" Kata Bang Rakit mengingatkan saat Arsene berjalan masuk.


"Mama nangis?" Tanya Arsene cemas.


Bang Rakit duduk di sebelah Fia dan mengatur nafasnya. Ia melebarkan senyumnya. "Nggak Bang, mata mama kena debu" Bang Rakit meniup lembut mata Fia kemudian mengusapnya.


"Jangan di ulang lagi. Kamu tau tidak.. Berat sekali pundak Abang memikul tanggung jawab menjadi imam keluarga. Kalau istri Abang salah, Abang yang lebih salah. Abang nggak mau nyemplung neraka bareng-bareng. Tolong jangan macam-macam ndhuk..!!" Bang Rakit mengecup kening Fia dengan lembut.


"Aban Asen belum Pa" protes Arsene karena hanya Mamanya saja yang mendapat kecup sayang sang Papa.


"Oohh iya. Papa lupa. Maaf ya Le" kata Bang Rakit lalu mengecup kening putranya juga. Ia sungguh menyayangi Arsene meskipun pria kecil itu tidak berasal dari benihnya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2