Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
90. Hukuman dari si cantik ( 2 ).


__ADS_3

"Mau sarapan apa Bang?" Tanya Bang Rakit saat pagi ini dirinya tetap menjadi seorang Fia.


"Telur mata sapi aja, di goreng setengah matang, garamnya sedikit dan hati-hati jangan sampai pecah" kata Fia yang juga menirukan detail gaya Bang Rakit. Sontak Bang Rakit juga cukup terkejut dengan gayanya yang sedingin es.


"Iya Bang" Bang Rakit segera menuju dapur.


~


Hingga telur di dalam rak nyaris habis sepuluh butir tapi dirinya belum bisa menggoreng telur yang diinginkan 'Bang Rakit'.


"Lama sekali, goreng telur apa ngaduk semen yank???" Terdengar suara protes dari dalam sana.


"Sabaaaaarr.. bisa diam nggak atau telur yang lain ikut pecah" begitulah jawaban Fia yang sesungguhnya saat dirinya tak sabar menunggu di meja makan.


Ya Allah.. ini hal kecil, tapi kamu sudah sabar menghadapi omelan Abang. Maaf ya dek.


"Ayo cepaat.. telat nih yank.. Abang ke kantin aja ya..!!"


"Berani Abang jalan, itu kaki jadi sop ceker..!!!" Ancam Bang Rakit persis seperti ancaman Fia.


...


Sampai di kantor Bang Rakit lebih banyak merenung. Ada sesal dalam hatinya karena masih ada sisi kasar dalam memperlakukan sang istri yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.


"Ngapa lu??? Sariawan????" Tegur Bang Cemar yang melihat sahabatnya itu hari ini lebih banyak diam.


"Iya nih, ada apa sih??" Bang Rudra ikut duduk di samping Bang Rakit usai kurve lapangan bola.


"Hukuman Fia.. buat aku melow" jawab jujur Bang Rakit.


Kedua sahabatnya itu tertawa terbahak melihat perubahan sikap Bang Rakit.


"Buat dosa apa lu sampai di hukum Fia begini???" Tanya Bang Cemar.


"Kemarin Sindy datang ke rumah. Dia minta rumahku yang ada di Jogja. Intinya begitu lah ya. Setelah dia pulang, Fia ngambek. Sungguh aku nggak tau dia bicara apa sampai Fia marah dan menghukumku seperti ini. Setiap pulang kerja.. aku harus berperan jadi Fia hingga batas waktu yang tidak di tentukan. Kata Fia karena ikatan batinku sama dia masih belum kuat" jawab Bang Rakit.


Bang Rudra dan Bang Cemar saling pandang kemudian mereka berdua tertawa terbahak seakan menertawakan penderitaan Bang Rakit.


"Baaaang..!!" Bang Cemar menyentuh jemari Bang Rudra untuk menggoda sahabatnya itu.


"Apa sayang??" Bang Rudra menanggapi keusilan Bang Cemar.


"Ke kamar yuk, adik ngantuk"

__ADS_1


"Ayoo.. sekalian Abang hantam bata ya, biar nyenyak..!!" Jawab Bang Rudra.


"Astagfirullah.. Ojo guyoooon..!!!!!!" Bang Rakit sampai emosi melihat tingkah kedua sahabatnya yang tidak berakhlak.


...


Fia meletakan sandal jepit di depan kaki Bang Rakit yang sedang menyapu halaman belakang rumah. "Pakai sandalnya.. nanti kakimu kena batu, injak kerikil, terpeleset yang licin"


"Iya Bang" Bang Rakit melanjutkan acara menyapunya.


"Halah nggak usah nyapu, Arsene lagi main tuh, ganti kurve kamar. Nanti halaman biar Abang yang sapu..!!"


Kali ini Bang Rakit tidak bisa menyembunyikan senyum geli nya. Memang begitulah dirinya jika sedang di rumah dan ia memang tidak bisa melihat Fia memakai daster rumahan yang membuat matanya selalu khilaf.


Bang Rakit berlari kecil meniru Fia saat istrinya itu seakan memberi kode alam padanya.


"Nggak usah lari..!!!" Kata Fia.


Bang Rakit setengah membungkuk kan badan di hadapan Fia yang sedang duduk. "Bisa nggak, sebentar saja kita nggak usah tukar peran. Kali ini Abang nggak akan bisa jadi kamu." Pinta Bang Rakit.


Fia mengangguk mengiyakan.


Bang Rakit pun segera melepas daster Fia menyisakan celena pendek yang masih melekat di badan. "I love you" Bang Rakit mengecup bibir Fia kemudian membawanya ke dalam kamar.


...


"Ini meniruku apa benar-benar capek ya?" Gumam Bang Rakit. Lama mengamati ternyata Fia benar-benar terlelap dalam tidur.


Bang Rakit terus memperhatikan wajah Fia, polos dan tidak di buat-buat. "Dia laki atau perempuan? Mengerjai Abang sampai seperti ini." Tangan Bang Rakit mengusap perut Fia lalu mengecup keningnya. "Terima kasih banyak sayang. Kamu sudah sabar menghadapi kakunya kelakuan Abang"


//


Di rumah Bang Rudra tak kalah penuh drama.


"Ayolah Bang..!!"


"Kamu pengen Abang mati di hajar Rakit??? Pakai acara nyolong di rumahnya. Abang nggak mungkin dandan jadi preman. Apalagi gelut lawan Rakit dan Cemar. Kamu ini ada aja mintanya." Bang Rudra pun menghindari Arin yang sejak tadi membuat kepalanya seakan mau pecah karena tingkahnya.


Tapi kali ini Bang Rudra melihat ekspresi wajah Arin begitu sedih, bahkan tanpa kata.. Arin masuk ke dalam kamar.


"Ya Tuhan, kekanakan sekali tingkahnya. Aku sudah hampir gila. Masa iya aku harus nyolong di rumah Rakit???" Gerutunya.


Namun bagaimana pun kekanakan nya sikap Arin.. Bang Rudra tetap punya rasa tidak tega. Ia bergegas menghampiri Arin di kamar. "Kamu kenapa sih? Beberapa hari ini tingkahmu aneh sekali"

__ADS_1


"Arin nggak tau Bang, Arin hanya mau itu. Kalau Abang nggak mau nyolong biar Arin yang nyolong" kata Arin tanpa rasa takut.


"Ya Allah.. paringi sabar Gustiiiii..!!" Gumam pelan Bang Rudra sembari mengelus dada. " Memangnya kamu mau nyolong apa sih dek?? Begini amat sampai nangis"


"Cabe sama tomat" jawab Arin pelan.


"Lailaha Illallah... Kamu mau nyambel?????"


"Iiiihh.. ya sudah Arin aja yang nyolong"


"Ya Tuhan.. iyaaa.. Abang nyolong. Mau bonyok ya bonyok dah.. Abang ikhlas." Jawab Bang Rudra.


***


Bang Rakit tidur memeluk Fia yang sedang manja sedangkan Arsene lebih senang tidur di sudut bersama bantal berbentuk pisang kesayangannya.


Gubraakk..


Terdengar suara benda terjatuh dari arah dapur dan itu lumayan mengagetkan Fia.


"Bang.. bangun..!!"


"Apa sayang?? Abang sudah lemas nih. Pagi lagi ya..!!"


"Baaaang.. ada maling..!!" Kata Fia.


"Mana ada asrama militer kemasukan maling" jawab Bang Rakit di sela kesadarannya yang tidak utuh.


Praang..


"Baaang..!!" Fia semakin menggoyang lengan Bang Rakit.


"Tikus itu yank"


"Rumah kita nggak ada tikus." Jawab Fia. "Baaaang..!!!!!" Fia menepak bahu Bang Rakit dengan jengkel.


Bang Rakit pun mengerjab membuka matanya. "Astagfirullah dek.. lutut Abang sakit sekali. Kenapa sih panik sekali sama suara nggak jelas" Bang Rakit memilih bangkit dan melihat keadaan di luar kamar dan berjalan menuju dapur.


Namun begitu dirinya membuka pintu ruang tengah, ia berhadapan dengan sosok bertopeng hitam. "Siapa kamu..!!" Suara Bang Rakit tenang menajam tanpa rasa takut.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2