Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
43. Menyelesaikan masalah.


__ADS_3

Bang Zeni dan Bang Rakit duduk bersama.


"Kau ini.. aku sedang mengawal panglima. Mana ada ajudan bau keringat" omel Bang Rakit.


"Nikmati saja. Besok khan Felix sudah menggantikanmu. Kapan kau masuk Batalyon tempur?" Tanya Bang Zeni.


"Satu Minggu lagi" jawab Bang Rakit sembari menyulut rokoknya.


"Bini lu nggak mual ya" selidik Bang Rakit.


"Belum kali.. nanti menjelang dua bulan baru mual" Jawab Bang Zeni. "Apa kabar Sindy?"


"Aku menggugat cerai. Sudah kutalak juga" Bang Rakit menghembuskan asap rokok ke segala arah.


"Heehh.. kenapa kamu??? Ada masalah apa? Kapan kamu cerai???????" Sungguh kaget Bang Zeni mendengar sahabatnya itu harus bercerai.


"Dua hari yang lalu" Mata Bang Rakit berkaca-kaca.


"Kok iso sih pot?? Bang Zeni mengusap punggung Bang Rakit agar sahabatnya itu bisa sedikit lebih tenang.


"Ini soal harga diri. Aku memaklumi pekerjaannya, kesibukannya. Aku tulus sayang padanya, tapi hatinya bukan untukku Zen." Jawab Bang Rakit berat mengatakannya.


"Maksudmu dia selingkuh?"


"Iya.. sampai hamil"


"Aahh jangan bercanda Kit..!! Kalau itu anakmu bagaimana??" Syok Bang Zeni sungguh tak terkira padahal dulu mereka saling mengenal satu sama lain.


"Aku serius. Pasalnya aku selalu pakai pengaman. Mana mungkin itu anakku??"


"Kamu tau darimana dia selingkuh????"


"Mataku melihat mereka bermesraan di kamarku. Di kamar yang aku sholati setiap hari" jawab Bang Rakit terlihat menguatkan batinnya.


"Astagfirullah hal adzim.. sabar bro. Perempuan masih banyak"


"Aku nggak minat lagi kenal sama perempuan. Hatiku sakit sekali Zen. Kalau butuh kehangatan tinggal cari saja di jalanan, tinggal pilih juga sudah dapat bidadari" ucap Bang Rakit terdengar begitu frustasi.


"Yo ojo ngono bro. Di tahan sedikit..!!" Bang Zeni tau sebenarnya sahabatnya itu tidak mungkin sebejat itu, mungkin di antara mereka berempat hanya Fabian saja yang salah jalan tapi hatinya meyakini Rakit bukanlah pria seperti itu.


"Rasanya aku ingin mati saja Zen. Malu, sakit hati, hancur sekali rasanya hidupku"


"Wees aahh.. Ojo ngomong aneh-aneh. Hidup masih panjang. Kencangkan ibadah biar hatimu tenang" saran Bang Zeni menguatkan sahabatnya.


Tak lama ada seorang gadis menghampiri. "Ijin Kapten Zeni dan Kapten Rakit. Panglima memanggil..!!" Ucap seorang gadis berpangkat Serda bernama Bella.


"Oke.. saya kesana. Terima kasih" jawab Bang Rakit.

__ADS_1


"Siap Kapten." Serda Bella tersenyum manis dan salah tingkah.


~


"Ku lihat Bella menaruh hati padamu"


"Kau jangan macam-macam. Aku nggak minat kenal perempuan manapun" bisik Bang Rakit.


"Bella cantik sekali Kit, masa kamu nggak naksir. Aku saja naksir lho" bujuk Bang Zeni.


"Abang naksir dia??" Tak di sangka Fia berdiri di belakang punggung Bang Zeni.


"Mati lu ayam..!!!!!" kata Bang Rakit. "Makanya aku tadi sudah bilang, kau diam saja. Sekarang kau tanggung sendiri akibatnya..!!" Bang Rakit pun meninggalkan Bang Zeni dan Fia.


~


"Ya Allah.. sumpah Abang hanya bercanda. Pengen godain Rakit aja. Dia sedang ada masalah"


"Alasan.. bilang aja Fia sudah nggak cantik. Abang bilang Serda Bella cantik sekali" Fia menangis dan tidak bisa menerima apapun ucap Bang Zeni.


"Ada apa sih Zen??" Tegur Mama melihat Fia menangis sesenggukan.


"Abang suka sama Serda Bella Ma"


"Duuh Zen.. kamu buat masalah apa sih??? Bisa nggak sih kamu nggak buat ulah. Papa pusing dengarnya. Papa sudah kehilangan cucu, nggak mau sampai hilang menantu juga" Papa Galar ikut pusing memikirkan keributan Bang Zeni dan istrinya.


"Apaa???? Rakit cerai??????" Panglima tak kalah kaget mendengar hal ini.


"Hmm.."


"Panggil Rakit kesini..!!"


~


"Siap.. benar Panglima..!! Sekembalinya saya dari penugasan ini, saya akan urus surat resminya..!!"


"Saya ini sudah kamu anggap orang tuamu khan le. Kenapa kamu melangkah sejauh ini? Apa yang terjadi?? Kenapa nggak cerita?? Papa akan usahakan bantu kalau memang alasanmu tepat"


"Beda prinsip saja Pa"


"Katakan yang benar Rakit..!!!!!" Pinta Papa Galar.


"Selama menikah, hubungan kami terasa hambar. Kami menunda momongan, kami pun jarang pendekatan layaknya suami istri pada umumnya. Sindy lebih sering menolak saya, tidak mau saya dekati dan kalau kami sampai melakukannya.. saya harus 'melindungi' diri. Saya merasa tidak punya harga diri, merasa di rendahkan sebagai seorang suami. Di saat ada hasrat saya yang tidak tersampaikan.. Sindy hamil bersama pria lain pa"


"Ya Allah.. ini serius??" Papa Galar tidak percaya pendengaran nya.


"Saya pertaruhkan seragam saya kalau saya bohong Pa" jawab Bang Rakit.

__ADS_1


"Apa dosaku sampai anak-anakku menerima cobaan seperti ini" Papa Galar sampai hampir tak sanggup berkata-kata.


Papa Galar memijat pangkal hidungnya. "Sekarang selesaikan dulu masalah Mayor Najib. Nanti sekembalinya dari sini kita urus masalahmu..!!"


"Apa tidak bisa di proses Pa."


"Papa takut talakmu tidak sah Le. Sindy masih hamil. Berapa usia kandungannya?" Tanya Papa Galar.


"Empat bulan Pa. Papa ingat khan, empat bulan lalu aku masih ada berada di Rusia" jawab Bang Rakit.


Mama pun ikut pusing memikirkan. "Apa kamu nggak salah hitung tanggal Le?"


"Aku nggak bodoh Maa" Bang Rakit sangat tepat menjawabnya.


...


Fia memalingkan wajahnya masih kesal dengan Bang Zeni.


"Abang harus bagaimana biar kamu nggak marah lagi?"


"Nggak usah, Fia marah" ucap Fia bersungut-sungut.


"Cantik sekali kalau sedang marah" Bang Zeni mencolek dagu Fia.


Wajah Fia memerah meskipun ia masih bertahan pada sikap ngambeknya.


"Abang bawa es krim nih. Mau nggak?" Bang Zeni hanya melewatkan benda dingin tersebut di depan mata Fia. "Nggak mau ya sudah"


Seketika Fia menyambarnya. "Siapa bilang nggak mau?" Kata Fia.


Bang Zeni pun tersenyum. "Habiskan dek..!!" Lalu mengecup kening Fia. Terasa sekali rasa sayang nya untuk Fia. "Abang temui Rakit dulu ya. Besok dia kembali pulang sama Papa"


...


"Kau gila. Apa sih maksudmu?? Mulut nggak di ayak ya lu?????" Bentak Bang Rakit.


"Apa dia nggak cantik?"


"Aku sudah bilang aku nggak mau dekat dengan perempuan manapun. Perempuan itu penyakit, racun..!!!!"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2