
Opa Huda menyergap Bang Rakit yang sangat emosi melihat Papa Giras.
"Tahan emosi mu le. Ayo duduk dulu, kita bicara baik-baik..!!" Bujuk Opa Huda.
"Bicara baik-baik???? Apa masih perlu bicara baik-baik setelah aku ada di dunia ini????" Bentak Bang Rakit yang sangat membenci sang Papa.
"Yang sudah terjadi tidak dapat di ubah. Tapi kita bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik"
"Apa alasanmu tidak mengakui aku??" Tanya Bang Rakit penuh kepedihan.
"Bukan seperti itu le. Papa ingin cerita, tapi kamu tidak mau dengar" jawab Papa Giras. "Jujur.. Papa syok saat mendengar Nena hamil. Karena kamu tau status Nena saat itu. Papa menemui Nena karena syok Papa Danar membawa Mama Nadine karena tidak ingin bersama papa. Papa bertanya-tanya dalam hati kenapa Nena bisa hamil. Tapi meskipun ada pertanyaan itu dalam hati.. Papa tetap mempertahankan kehamilan dan bertanggung jawab atas kehamilannya. Hanya saja Papa tidak pernah menikahi Nena, sampai Mama Amanda bunuh diri." Tak mudah bagi Papa Giras mengingat segala kepahitan dalam hidupnya.
"Lalu Mama Rizka??" Tanya Bang Rakit.
"Papa tidak pernah memberi tahu apapun karena Papa takut kehilangan istri untuk kesekian kalinya"
"B*d***h, pengecut.. kau hanya memikirkan perasaan mu saja. Kau lari dari kenyataan dan tanggung jawab" suara Bang Rakit kembali meninggi. "Kalau kamu tau arti sebuah tanggung jawab. Kau pasti mengungkapkan siapa jati diriku di hadapan istrimu dan mengakui kesalahan mu. Kenapa harus Papa Galar yang mengambil alih tanggung jawab itu?????" Dada Bang Rakit terasa sesak memikirkan alur hidupnya.
"Kembalilah dulu ke Mess dan istirahat. Papa akan bicara sama Rakit, dia sedang tidak bisa di ajak bicara" bujuk Opa Huda menengahi.
...
Huda menemani Bang Rakit ngopi di sebuah warung kopi kecil di dekat Batalyon. Sang Opa mengawasi cucunya agar tidak 'salah jalan'.
"Papa Giras juga sempat merawatmu le. Sebelum menikah dengan Mama Rizka. Tapi saat itu Mama mu ( istri Papa Galar ) sakit karena tidak sanggup berpisah sama kamu. Maklum kelahiran mu dan Zeni hanya berbeda bulan saja. Mama sudah sangat mencintaimu hingga Papa Galar memohon untuk merawat mu, Papa Giras juga tetap memenuhi kebutuhan mu layaknya seorang ayah karena setelah Bang Rudra ikut Papa Danar. Hanya kamu yang Papamu punya"
"Saya tidak mau dengar apapun lagi." Jawab Bang Rakit.
Opa menepuk pundak cucunya. Yang penting dirinya sudah mengungkapkan keadaan yang sebenarnya. "Pulang sana..!! Di saat seperti ini, obat terbaik laki-laki adalah istri. Penyaluran dari hati ke hati akan membuatmu tenang" saran Opa Huda.
Bang Rakit melirik Opanya dan Opa Huda memberinya semangat.
"Sana temui istrimu. Baikan..!! Opa mau main sama Arsene. Lama nggak momong anak kecil rasanya senang sekali. Jiwa muda Opa rasanya hidup dan kembali lagi" kata Opa Huda.
....
Rumah memang sepi. Tak ada siapapun di rumah itu. Bang Rakit mencari keberadaan Fia.
__ADS_1
"Kemana sih Fia. Rumah sepi sekali. Kabur nggak nih??" Gerutunya sambil mencari Fia ke seluruh sudut rumah.
Tak lama Fia keluar dari dalam kamar memakai baju tidur malam tertutup kimono satin berwarna hitam berenda.
Seketika mata Bang Rakit melotot dan menelan salivanya apalagi saat matanya melihat dua bongkah pepaya Thailand milik Fia, tapi karena persoalan kemarin.. ia pun tidak mau langsung menerkam Fia meskipun batinnya begitu ingin melampiaskan hasrat yang belum juga usai.
"Kenapa Abang baru pulang?" Tanya Fia sambil meraih kantong plastik yang pastinya berisi pakaian kotor milik suaminya yang sempat tertinggal di ruang kompi.
"Sibuk ada sedikit kerjaan" jawabnya santai padahal hatinya sama sekali tidak santai menahan ketegangan otot pada diri.
"Oohh.." Fia pun melangkah menuju arah belakang untuk meletakan pakaian kotor pada tempatnya.
Mata Bang Rakit tak lepas memperhatikan langkah Fia. Istrinya itu sudah tak lagi mengenakan jilbab seperti kemarin. Rambut itu menjuntai dengan indahnya menguarkan aroma wangi yang melekat pada indera penciuman Bang Rakit. Dalam hatinya mengumpat tak karuan sampai akhirnya Fia melintas lagi di hadapannya.
"Abang nggak tidur?" Tanya Fia menyibak rambutnya hingga menerpa wajah Bang Rakit. Refleks langkah kaki Bang Rakit mengikuti Fia yang sudah naik ke atas ranjang.
"Kamu beneran ngajak tidur? Apa ngajak ronda?" Tanya Bang Rakit akhirnya terpancing keadaan apalagi saat Fia melepas kimononya. Bola mata Bang Rakit seakan melompat dan menggelinding entah kemana.
"Sebenarnya mau tidur, tapi kalau Abang mau ronda ya nggak apa? Tadi ada maling nakal" Kata Fia.
"Dimana.. dimana??? Biar Abang bantu tangkap" jawab Bang Rakit mengikuti cuitan Fia yang menggemaskan.
"He'emb sayang.. sesuka hatimu, asal kamu senang" Bang Rakit memepet Fia lalu menarik selimut. Kepalanya sudah terlalu pening jika harus menunda untuk kesekian kalinya. "Abang pengen banget dek. Jangan nolak lagi ya"
Fia mengangguk, tangannya membantu Bang Rakit melepas kaosnya, hal kecil dari Fia itu membuat desiran kencang dalam dadanya. "Fia nggak akan nolak lagi"
Senyum Bang Rakit merekah. Ia pun mengecup kening Fia. "Bismillah..!!"
:
Fia melayang terbang merasakan kenikmatan kebersamaan berdua. Tak tau karena dirinya sudah lama tak tersentuh atau memang Bang Rakit yang begitu pintar memanjakannya.. yang jelas kini hatinya terus tertuju pada Bang Rakit.
Tak berbeda jauh dari Fia. Suara rintih kecil Fia serta respon tubuh untuk dirinya sungguh membuatnya lupa daratan. Fia begitu lekat membekas di dalam batinnya. Sungguh dirinya bertekuk lutut tak sanggup berpaling dari istri cantiknya.
Untuk kesekian kalinya Bang Rakit melepaskan peluru tajam di rahim Fia tanpa sisa. Ia begitu lega, lepas dan tuntas. De**hanya mengurai kepuasan batin yang selama ini ia tahan. "Alhamdulillah.." ucapnya lirih sekali karena kehabisan tenaga. Bang Rakit menciumi wajah Fia. "Terima kasih banyak dek"
Fia mengangguk lalu mengalungkan kedua tangan di belakang leher Bang Rakit, ia membalas ciuman hangat itu. Kedua mata itu saling menatap.
__ADS_1
"Kenapa ini??" Tanya Bang Rakit.
"Mau lagi" kata Fia sudah tak takut lagi pada suaminya itu.
Bang Rakit pun tertawa mendengarnya. "Dasar Bu Danki. Sudah tau enak sekarang minta lagi."
"Abaang..!!" Fia memonyongkan bibirnya, cemberut dengan ledekan Bang Rakit.
Melihat istrinya mulai merajuk, Bang Rakit pun tidak tinggal diam. "Manisnya istri Abang kalau lagi marah. Padahal ini malingnya nggak di penjara seumur hidup lho Neng. Tapi kalau maksa ya nggak apa-apa." Bang Rakit pun memulai lagi karena dirinya sudah kembali gelisah ingin di manjakan.
***
Pagi hari Fia sedikit cemberut karena usai subuh dirinya harus mandi lagi padahal cuaca sedang sangat dingin.
Bang Rakit mengambil pengering rambut lalu duduk di belakang sang istri untuk membantu mengeringkan rambutnya.
"Fia hanya minta satu kali, tapi Abang minta berkali-kali" protes Fia.
"Maaf.."
"Hanya maaf saja??????" Protes Fia lagi.
"Ya gimana sayang? Apa kamu mau di genapkan tiga juga biar impas? Lah yang nangkap cantik.. Abang pasrah aja lah" Kata Bang Rakit sambil mengeringkan rambut Fia.
...
Para anggota melihat Danki mereka menggandeng tangan Ibu Fia. Senyum Kapten Rakit sungguh menawan. Senyum yang hampir tidak pernah terlihat kini mengembang manis.
"Fia mulai kegiatan dulu ya Bang..!!" Pamitnya pada Bang Rakit.
"Iya, hati-hati ya. Nanti Abang tunggu di ruangan" Bang Rakit mengecup kening Fia dengan lembut sambil berbisik. "Jangan terlalu lama, malingnya belum makan"
Fia pun melirik Bang Rakit yang sudah tersenyum nakal.
.
.
__ADS_1
.
.