
"Baang...iihh" Lintar memalingkan wajahnya yang bersemu merah. Bang Jenar masih tertawa penuh kemenangan berhasil mengerjai istrinya.
"Kemana sikap wanita galakmu, malu-malu begitu" ejek Bang Jenar.
"Sudah lah, Abang hanya mengerjai ku saja!" kesal Lintar akan beranjak dari duduknya. Bang Jenar pun menarik tangan Lintar hingga jatuh menimpa tubuhnya.
"Abang beneran sakit!!" Bang Jenar menatap Lintar dengan sungguh-sungguh.
"Terus kenapa Abang harus mengerjai ku?" tanya Lintar.
"Apa perlu alasan jika seorang suami meminta perhatian istrinya?"
"Tidak Bang"
"Kita sudah menikah, tak ada yang salah khan dengan sikap Abang. Ayo mulai lagi!" perintah Bang Jenar.
Lintar mulai memijat Bang Jenar lagi, bahkan sekarang Lintar sudah lebih terbiasa pada Bang Jenar hingga suaminya tidur dengan pulas.
***
Bibi menyiapkan sarapan untuk Lintar dan Bang Jenar. Lintar juga membantu bibi menyiapkan makanan.
"Bapak belum bangun Bu?" sapa bibi.
"Tadi bangun sebentar bi. Badan Bang Jenar sempat demam. Mungkin saja terlalu lelah"
"Bibi masak apa hari ini?" tanya Lintar.
"Masak sayur asem, ikan asin, ayam goreng, tahu, tempe dan sambal Bu" jawab bibi.
"Apa makanan kesukaan Bang Jenar sesederhana ini bi?"
"Iya Bu, bapak bisa makan apa saja dan tidak pernah rewel"
...
Lintar masuk kedalam kamar dan melihat Bang Jenar ternyata sudah siap akan berangkat ke markas Intel. Ia pun tak tau kapan Bang Jenar bersiap. Mungkin saat dirinya sedang belanja sayur di depan rumah tadi.
"Abang pergi juga?" tanya Lintar yang juga sudah siap berangkat kerja.
"Abang sudah sehat, lagipula banyak pekerjaan yang menumpuk" jawab Bang Jenar sembari menyemprot parfum ke tubuhnya.
"Ya sudah sarapan dulu Bang..!!" ajak Lintar.
...
Bang Jenar mengoreksi banyak file hingga kepalanya pening.
Lintar sedang apa? Ingin berduaan dengan istri sulit sekali kalau begini.
Seorang gadis masuk ke dalam ruang intel Bang Jenar tanpa mengetuk pintu.
"Hai pak Jenar, ini saya bawakan secangkir kopi" ucap Lyta yang membawa dua cangkir kopi dan langsung duduk di pinggir meja Bang Jenar dan duduk menghadap pria tersebut.
__ADS_1
"Maaf saya tidak suka minum kopi" tolak Bang Jenar.
"Apa misi selanjutnya.. pak Jenar akan satu team lagi dengan Lintar? Saya juga pandai menyamar seperti Lintar lho pak"
"Saya sudah biasa bersama Lintar, saya tidak mau mengulang dan mengajari anggota team yang baru" jelas Bang Jenar.
"Tapi Lintar suka menggoda pria di luar tugasnya, banyak lelaki yang sering bersamanya. Lintar jadi tidak fokus" cerocos Lyta.
Mendengar istrinya di tuduh seperti itu jelas membuat Bang Jenar menjadi naik pitam.
"Jika tujuanmu hanya untuk merayu dan menjelekan Lintar, lebih baik kamu keluar" usir Bang Jenar.
Lyta keluar dengan kesal sambil melirik tajam pada Lintar yang sedang rapat untuk misi selanjutnya.
....
Lyta melihat Lintar sedang menyeduh secangkir kopi. Lyta tidak suka melihat lintar karena Lyta selalu melihat pak Jenar seperti memberi perhatian lebih kepada wanita seperti Lintar walaupun sikapnya masih nampak dingin.
"Untuk siapa kopi itu?" tanya Lyta ketus.
"Pak Jenar"
"What??? Pak Jenar? Dia tadi menolak kopi yang aku buatkan. Sebenarnya apa hubunganmu dengan pak Jenar??" ketus Lyta.
"Tidak ada, hanya atasan dan bawahan saja" Lintar masih tenang menghadapi Lyta.
"Kau sebaiknya menjaga jarak. Sejak pak Jenar masuk sini aku sudah mengincarnya. Kalau kau tetap membuntutinya seperti anak ayam akan menyulitkan aku"
"Aku tidak peduli, aku bekerja disini" Lintar meninggalkan Lyta yang masih kesal di pantry kantor.
~
"Iya.." jawab singkat Bang Jenar sambil terus menatap layar laptop di depannya.
"Pantas dia sewot denganku, Dia menyukaimu Bang"
"Aku tidak suka" jawab Bang Jenar lagi.
"Tidak ada yang tau kita sudah menikah Bang, hanya beberapa orang saja yang tau" ucap Lintar.
"Terus?? Apa kamu mau Abang dekat dengan Lyta dan menjalin hubungan dengannya?" tanya Bang Jenar kemudian mematikan laptop.
"Apa Abang mau selingkuh di belakang Lintar??" Lintar melotot mendengar ucapan Bang Jenar.
"Pikiranmu itu jelek sekali. Kalau dia suka sama Abang itu urusan dia, tapi Abang tidak suka padanya" Bang Jenar berdiri, bersandar pada meja kerjanya dan melingkarkan tangannya di pinggang Lintar.
"Jadi Abang suka dengan siapa?" lirih Lintar mulai berdebar, tak terasa tangan Lintar ikut melingkar di pinggang Bang Jenar.
Bang Jenar menekan tombol untuk menutup tirai jendela ruangannya.
"Apa kamu sebegitu ingin taunya?" Bang Jenar mendekatkan bibirnya ke bibir Lintar. Rasa rindu keduanya tak bisa di tahan lagi. Beberapa saat Lintar mulai kelimpungan merasakan respon di tubuhnya sedangkan mereka berada di tempat yang tidak tepat.
kreeeekk..
__ADS_1
Pintu ruangan Bang Jenar terbuka. Lyta melihat Bang Jenar dan Lintar sedang berciuman panas. Lyta sangat marah, ia maju ke arah Lintar dan menjambak rambut Lintar dengan kuat. Lyta pun sempat menampar pipi Lintar berkali kali.
"Astagaa.. Lytaaa...!!!" Kelabakan Bang Jenar memisahkan mereka.
"Apa yang aku bilang tadi? Kamu jangan menggoda pak Jenar. Dasar wanita murahan"
"Lyta.. lepas tanganmu!!" Bang Jenar melepas paksa cengkeraman Lyta lalu menarik Lintar kedalam pelukannya.
"Ini kantor pak, kenapa pak Jenar bisa tergoda wanita murahan ini??" kesal Lyta.
Bang Jenar sangat kesal, ingin sekali ia mengungkapkan siapa Lintar sebenarnya. Lintar menggenggam tangan Bang Jenar mencegahnya bicara.
"Maaf Lyta, aku tidak sengaja" lirih Lintar mendinginkan suasana.
"Cukup Lyta, kamu keluar dari ruangan saya!!" bentak Bang Jenar kehilangan kesabaran membuat Lyta keluar dari ruangan. Lintar segera mengikuti Lyta untuk keluar.
"Kamu tetap di ruangan ini Lintar..!!!"
Lintar tidak jadi melangkah sedangkan Lyta menoleh dengan kesal ke arah Lintar.
Bang Jenar mengunci rapat pintu ruangannya. "Kamu malu mengakui pernikahan kita???" suara Bang Jenar membuat Lintar tersentak.
"Bukan Bang, Lintar masih butuh pekerjaan ini" jelas Lintar.
"Kamu pikir, Abang tidak sanggup menghidupi kamu dan anak kita nantinya???" Bang Jenar sangat marah karena Lintar masih memberatkan pekerjaannya.
"Abang ingin anak dariku??" tanya Lintar dengan bodohnya.
Mata Bang Jenar melotot tajam, ia menggebrak meja hingga Lintar duduk lemas dalam ketakutannya.
"Kamu pikir Abang melakukannya sama kamu untuk apa? Apa kamu pikir Abang hanya mengajakmu bersenang senang saja??"
Lyta yang sempat mendengar suara gebrakan meja menjadi sangat senang. Ia mengira Bang Jenar sedang menghukum Lintar dan memberikannya pelajaran.
...
Bang Jenar membanting pintu mobilnya dengan kencang meninggalkan Lintar yang baru saja turun dari mobil.
Bibi memperhatikan tuannya sedang kesal juga wajah Lintar yang nampak murung. Lintar meletakkan tas kerjanya di atas meja lalu mengambil minum di dapur, tangannya gemetar memegang gelas di tangannya.
"Ibu cepat masuk ke kamar menyusul bapak. Kalau suami istri bertengkar, ada baiknya salah satunya mengalah untuk mencairkan suasana" nasehat bibi.
~
"Saya tidak mau ke markas Intel. Lebih baik saya di Batalyon saja fokus kerja kantor saja. Saya minta ganti personil" bentak Bang Jenar sambil menelepon seseorang.
Bang Jenar menutup panggilan teleponnya lalu membanting ponsel itu dengan kasar di atas kasur hingga terpental mengenai Lintar yang baru saja masuk ke dalam kamar.
Bang Jenar memijat tengkuknya dengan tangan sebelah berkacak pinggang melihat keluar jendela. Lintar meletakkan ponsel Bang Jenar di kasur lalu berjalan ke arah suaminya yang sedang marah.
.
.
__ADS_1
.
.