Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
S 2. 23. Cemas.


__ADS_3

Lintar duduk bersandar dengan tidak nyaman.


"Minggir dulu Bang..!!" kata Lintar menutup mulutnya karena mual. Bang Jenar menepikan mobilnya di tepi jalan berbatu.


Di pinggir jalan yang ramai Lintar mulai muntah lagi. Bang Jenar turun memijat tengkuk istrinya.


"Ya Allah.. kamu sendiri nggak kuat dek. ini pergi tugas satu minggu. Dalam satu minggu ini kamu pasti capek sekali" ucap cemas Bang Jenar karena tidak tega.


"Ini terakhir Bang, setelah ini Lintar mau minta cuti" kata Lintar sambil bersandar di bahu suaminya.


"Janji ya..!!" kata kata Bang Jenar tegas sembari memberikan kelingkingnya bak anak muda belajar kasmaran.


"Iya Bang" Lintar menyambut dan menyatukan jari kelingking nya juga.


...


Hari ini semua perisai ( pengawal ) berkumpul mengawal menteri sesuai tugasnya masing-masing. Seluruh perisai mendengar perdebatan tentang bahan pangan lokal yang akan dinaikan dengan sepihak. Bang Jenar bersikap netral karena ia adalah tentara. Hanya wajah Lintar yang setengah bersungut kesal khas seorang wanita yang secara alami bereaksi pada imbas dari kenaikan bahan pangan secara sepihak ini.


Menteri kali ini pergi ke luar negeri dalam acara kunjungan kerja, tapi kenyataannya adalah mereka jalan-jalan dan bahkan ada beberapa yang membawa istri simpanan secara diam-diam.


"Lintar.. nanti malam kamu ke kamar saya ya..!! saya ada perlu" ajak Pak Gunawan, menteri pangan.


Bang Jenar melirik ke arah Pak Gunawan yang menatap genit pada istrinya. Amarahnya seketika memuncak, tapi ia masih bisa menahan emosinya karena ia mencoba berpikiran positif.


...


Acara hari ini bersama menteri sudah usai, Bang Jenar mengendap masuk ke dalam kamar Lintar.


"Lagi apa dek?" tanya Bang Jenar melihat wajah kesal Lintar.


"Pak Gunawan itu mengirimiku pesan seperti ini Bang" kata Lintar sembari menunjukan pesan yang memang terlalu vulgar kalau untuk urusan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya. Bang Jenar pun membacanya.


"Mau mati dia rupanya" gumam Bang Jenar.


"Lintar nggak menanggapinya Bang" kata Lintar.


"Jelas saja tidak boleh kamu tanggapi. Untuk apa??" kesal Bang Jenar.

__ADS_1


tok..tok..tok..


"Ada orang Bang"


"Buka..!!! Awas aja kalau si mata keranjang itu yang datang" kata Bang Jenar.


Lintar berjalan membuka pintu, ternyata pelayan hotel memberikan sesuatu untuk Lintar.


"Apa itu dek?" tanya Bang Jenar penasaran.


"Nggak tau Bang, coba kita buka dulu" saran Lintar.


Lintar membuka paper bag dan melihat tulisan..


'dari Om Gunawan. Om tunggu di kamar'.


Bang Jenar meradang membaca nama pengirimnya. Ia merampas dan membuka paper bag itu dengan kasar. Matanya melotot, hatinya panas terbakar.


"Setan alas. Apa-apaan ini?????" Bang Jenar membanting kasar lingerie motif kelinci lalu menginjaknya.


"Abang tau, tapi dia menginjak harga diriku.. Akan kutunjukan di depan mukanya siapa aku" kesalnya sambil mengokang pistol yang ia ambil dari dari saku jas nya.


Lintar memeluk suaminya, ia tau saat ini suaminya sedang sangat marah besar.


"Biarkan saja dia menunggu, tapi malam ini kita habiskan saja berdua" Lintar kembali membujuk Bang Jenar dan perlahan mengambil pistol dari tangan suaminya.


Lintar paham sekali, pria rata-rata akan reda emosinya jika di bujuk rayu seperti ini.


"Makanya pakaianmu jangan terlalu ketat. Abang risih ada yang menatapmu dengan pandangan bejatnya" kesal Bang Jenar.


"Bagaimana dengan Abang sendiri? Bagaimana suami Lintar ini memandang dirik" tanya Lintar sambil memainkan jari di dada bidang Bang Jenar.


"Jangan tanya lagi. Fantasi liar entah sudah sampai mana" jawabnya dengan nada berat.


"Tidak usah berfantasi lagi. Langsung saja Bang" goda Lintar dengan sengaja.


"Tingkahmu ini hanya boleh untuk Abang saja. Kamu akan tau rasa kalau hal seperti ini kamu lakukan di depan pria lain" Bang Jenar begitu garang memainkan alisnya, tak luput penuh ancaman.

__ADS_1


***


"Kenapa semalam tidak datang??" bisik Pak Gunawan.


"Maaf pak, semalam saya lelah dan ketiduran" alasan Lintar.


Sedari tadi fokus Bang Jenar juga terbagi antara pekerjaan juga mengawasi istrinya.


"Waahh.. genit sekali Lintar. Apa semalam Pak Gunawan menghampirinya di kamar?" kata Lyta berbisik memanasi Bang Jenar.


"Istriku tidak seperti itu" tegas Bang Jenar.


"Wanita semakin nakal semakin kaya pak" ucapan Lyta membuat Bang semakin murka saja.


"Setidaknya dia nakal bersama saya semalam" seringainya langsung membungkam mulut Lyta.


...


Pengawalan hari ini, Lintar mulai kelelahan. Wajahnya sudah memucat menahan pusing dan mual.


"Abang antar ke toilet???" kata Bang Jenar.


"Nggak perlu Bang. Lagipula Lintar nggak bisa muntah. Tertahan di tenggorokan"


"Kamu takut ketahuan??" Bang Jenar melotot, ia sangat mencemaskan kondisi istrinya yang mulai memercing menahan rasa tidak nyaman.


"Bang.. sepertinya Lintar nggak kuat berdiri" ucapnya tak seimbang sampai menubruk Bang Jenar.


"Astagfirullah.. Sudahlah biar ketahuan sekalian.. Abang yang akan tanggung semua. Daripada kamu seperti ini terus. Membuat Abang cemas setengah mati" gerutu Bang Jenar.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2