
"Kamu lucu sekali.. terkejut seperti tidak pernah melakukannya saja" senyum wolfy licik
"Tentu saja, kamu adalah pria yang menyilaukan mataku.. kamu tampan sekali" kilah Lintar.
"Jangan macam-macam kamu disana dek!!!" Nada Bang Jenar mulai tegas dalam telinga Lintar dan Lintar sungguh tidak menyukainya.
Lintar membiarkan Wolfy merayunya tapi tangannya tetap mencegah perlakuan Wolfy. Lintar selalu mengalihkan cara apapun agar Wolfy tidak menyentuhnya. Bang Jenar bisa mendengarnya dengan jelas tapi pikirannya terlanjur kemana mana dan itu membuatnya begitu frustasi.
Pasukan sudah bergerak ke pelabuhan dan Robert sudah tertangkap melalui koordinat yang sudah di temukan melalui chip yang di bawa Lintar kemarin. Kini hanya tinggal giliran Wolfy.. ia mendapat panggilan telepone bahwa lokasi mereka telah di kepung dan anggota di tangkap. Mereka mengatakan jika mereka mencurigai salah satu wanita penghibur dan itu adalah Lintar.
Sontak saja Lintar mendapat tamparan keras dan perkelahian terjadi di dalam kamar tersebut. Bang Jenar segera berlari bersama anggotanya dan mendobrak pintu kamar dengan kuat. Lintar mendapat pukulan dan terpental ke arah tembok, dengan pakaian minimnya ia tidak leluasa bergerak.
Bang Jenar dan Wolfy saling menodongkan pistol. Langkah Bang Jenar berjalan mendekati Lintar dan melindunginya di balik tubuhnya. Wolfy menembakan pistolnya ke arah Bang Jenar tapi dengan sigap segera beralih dan menembak lengan serta paha Wolfi. Delon yang ada datang dari arah belakang segera membekuk dan mengamankan Wolfy. Gedung tersebut mendapatkan pengamanan ketat
Lintar tampak masih terkejut dengan apa yang di alaminya, belum lagi ia melihat lengan Bang Jenar yang terserempet luka tembak.
"Bang.. lengan Abang luka" Lintar mencoba menyentuh lengan Bang Jenar dengan perasaan ngeri.
"Ini luka kecil" Bang Jenar menepis tangan Lintar dan meminta rekannya untuk membalut luka tersebut, entah apa yang di pikirkan Bang Jenar hingga ia sangat kesal pada Lintar.
...
Lintar memperhatikan wajah Bang Jenar yang dingin sepanjang perjalanan. Bang Jenar diam tak bersuara membuat Lintar tidak tau harus mengatakan apa.
"Cckk.. pintar sekali" Bang Jenar terlihat gemas. Lintar menoleh tidak mengerti maksud dari perkataan Bang Jenar.
"Apa Bang?"
"Kamu pria yang menyilaukan mata, kamu tampan sekali... Pintar sekali kamu!!!!" Gaya ucapan Bang Jenar meniru suara wanita yang genit.
__ADS_1
"Oohh.. jadi Abang mau Lintar rayu seperti itu?? Lintar bekerja Bang.. bukan main gila dengan laki laki lain" kata Lintar kesal.
"Mau kamu rayu Abang seperti apapun, Abang tidak akan tertarik. Abang sudah biasa menemui wanita sepertimu" jawab Bang Jenar sesumbar.
Lintar tidak menanggapi ucapan Bang Jenar karena perutnya sangat sakit. Saat ini dia sedang haid. Lintar memilih memejamkan matanya untuk mengurangi rasa sakit.
***
Bang Jenar turun dari mobil dan membanting pintunya dengan keras. Lintar pun turun mengikutinya masuk ke dalam rumah dan membuka bahan di dapur karena dirinya ingin membuat sesuatu.
"Ibu kok disini sendiri? Ibu mau apa biar saya buatkan!" Bi Sumi bingung sambil memperhatikan raut wajah Lintar yang menahan sakit.
"Mau buat kunyit asam bi. Bibi kembali tidur saja ini sudah malam" Lintar tidak enak melihat bibi yang akan ikut membantunya.
"Nggak apa-apa bu, memangnya ada apa ibu mau buat kunyit asam malam begini?" tanya bibi
"Saya sedang haid bi.. tapi setiap bulan selalu seperti ini, sakit sekali bi. Saya hampir nggak kuat kerja karena sakitnya" Jawab Lintar.
"Kamu memang keterlaluan sekali..!! bukannya bilang sama Abang, malah ikut bekerja seperti tadi" Omel Bang Jenar sembari mengeringkan rambut.
Lintar meletakkan semua bahan yang dia pegang dan mulai kesal dengan Bang Jenar yang tidak hentinya mengomel.
"Lintar khan sudah bilang, Lintar kerja Bang. Tidak ada hubunganya dengan Lintar haid atau tidak. Abang kenapa sich marah terus, Lintar sedih setiap hari harus dapat omelanmu" Lintar masuk ke dalam kamar untuk mengambil handuk dan keluar lagi, ia membanting pintu sambil menangis menuju kamar mandi. Bibi hanya tersenyum melihat tuannya yang sangat kesal sambil tangannya sibuk membuat jamu.
"Astagfirullah.. hiiiiihhh"
Braaakk..
Bang Jenar memukul pintu dengan keras karena terlalu kesal. Bibi memberikan teh hangat sambil menunggu jamu yang di buatnya mendidih sempurna.
__ADS_1
"Ibu hanya sensitif karena sedang datang bulan pak, jangan di ambil hati" kata bibi
"Saya tau kok bi, saya hanya jengkel saja pada diri saya.. saya tau dan sadar dia bekerja bahkan saya sendiri yang mengawasi. Tapi hati saya ini kok nggak ikhlas ya bi dia bekerja seperti ini.. beresiko, berbahaya. Suami mana sich bi yang ikhlas istrinya bekerja dengan lelaki lain" Tanpa sadar Bang Jenar mengucapkan perkataan yang menyiratkan perasaanya.
Bibi pun tersenyum mengerti melihat tuannya yang baru kali ini bersikap seperti ini.
:
Lintar keluar dari kamar mandi dengan melirik kesal pada Bang Jenar lalu menuju kamar untuk berganti pakaian. Beberapa saat kemudian bibi menyiapkan kunyit asam untuk Lintar. Bibi mengetuk pintu kamar tapi tidak ada jawaban.
"Pak.. tidak mungkin ibu langsung tidur khan?" tanya bibi pada Bang Jenar. Bang Jenar pun langsung berdiri dan menuju kamarnya. Di bukanya pintu kamar secara perlahan. Ia melihat Lintar sedang memegang perutnya dan meringkuk di lantai menahan sakit.
"Astaga dek kenapa kamu?? Sakit sekali ya?" Bang Jenar sangat terkejut dan mengangkat tubuh Lintar ke tempat tidur. Bibi segera keluar dan mengambil kunyit asam untuk Lintar.
~
Bang Jenar mengambilnya dan menyuapi Lintar sesendok demi sesendok.
"Kalau keadaanmu seperti ini, seharusnya kamu bisa bilang tidak ikut. Kalau kamu sakit di sana dan di apa apakan orang bagaimana. Kenapa kamu ini tidak bisa berpikir cerdas. Keong saja bisa berlindung pada rumput karena tau dirinya tidak bertulang walaupun dia tau rumput itu tidak juga kuat melindunginya" Bang Jenar masih tetap saja mengomel
"Bang.. Lintar capek, perut Lintar juga sakit sekali. jangan marah lagi ya"
"Gimana nggak marah, bisa nggak sih kamu nggak buat Abang cemas?" Jawab Bang Jenar.
.
.
.
__ADS_1
.