Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
49. Demi siapa?.


__ADS_3

"Rakit, surat cerai mu sudah di kabulkan. Ini suratnya..!!" Danyon tempat tugas Bang Rakit yang baru menyerahkan surat cerai dari pusat dan kemarin pagi Bang Rakit sudah menerima surat cerai dari pengadilan agama.


"Siap Komandan.. Terima kasih..!!" Senyum Bang Rakit merekah luas, hatinya terasa lega karena sudah mendapatkan kejelasan status tentang dirinya.


...


Siang itu Bang Rakit sengaja bertandang ke rumah orang tuanya untuk mencari foto dirinya sebagai ijazah kelulusan dirinya dalam pendidikan. Malas sekali rasanya harus menunggu cetak foto.


Ia pun melihat Fia menuruni anak tangga rumah dinas Papanya. "Bawa tas mau kemana dek?" Sapa Bang Rakit.


"Mau ke makam Abang sekalian mau beli baju hamil. Baju Fia sudah sempit semua Bang, hanya tersisa dua yang longgar" jawab Fia tanpa menatap jelas wajah Bang Rakit.


"Abang antar saja. Kebetulan Abang juga mau keluar untuk cetak foto. Sekalian saja yuk..!!" Ajak Bang Rakit.


Sejenak Fia berpikir kemudian ia mengangguk. "Maaf ya, Fia merepotkan Abang"


"Abang suka kok direpoti bumil" jawabnya datar. "Pakai jaket Abang nih biar nggak dingin..!!" Bang Rakit melepas jaketnya lalu memberikan pada Fia.


Fia tidak menolak karena menyadari pakaiannya memang sedikit lebih ketat.


~


"Ijin Dan, mau kemana?" Tanya Prada Alvin.


"Saya saja yang bawa mobilnya. Kamu off sampai saya hubungi..!!" Bang Rakit mengeluarkan lima lembar uang merah. "Ini buatmu kencan" bisik Bang Rakit.


"Siap komandan.. Terima kasih banyak..!!" Lelah Prada Alvin rasanya lenyap setiap kali tuannya memiliki misi terselubung.


...


Setelah cetak foto instan, Bang Rakit mengajak Fia ke mall. Sebenarnya Fia selama menjadi istri Bang Zeni, ia jarang membeli macam-macam barang. Tak lain dan tak bukan karena ia tidak terlalu bisa menggunakan alat bernama kartu ATM.


"Bang.. Fia nggak biasa masuk disini"


"Ini khan Abang temani. Amaan..!!" Jawab Bang Rakit.


Fia kebingungan masuk di dalam mall seluas itu apalagi ada event yang membuat kondisi mall semakin ramai.


Tak ingin mengambil resiko apapun, Bang Rakit mengarahkan Fia agar berjalan di belakang punggung nya. Fia menolak tangan Bang Rakit tapi Bang Rakit tetap menggenggam tangannya. "Ramai sekali disini."


Ada sekelompok pemuda yang ribut di dalam mall dan nyaris menyenggol Fia jika tubuh Bang Rakit tidak menghadangnya.


"Waaahh.. lihat wajahnya.. ngajak perang cuyy..!!" kata pemuda belasan tahun tersebut.


Kawan pemuda tersebut berdiri seolah berniat menantang Bang Rakit. "Mundur kalian.. saya nggak ingin berdebat..!!"


"Dia takut cuyy.." pemuda tersebut melongok melihat ke arah belakang. "Ckckck.. memang perempuan hamil itu sangat menggoda"


Hati Bang Rakit rasanya terhantam dan terbakar. Tak menunggu pria tersebut menutup mulutnya, tangan itu menghajar pemuda itu tanpa ampun. "B******n.. bocah nggak tau diri..!!"

__ADS_1


"Abaaaanngg.. jangaaann..!!!" Pekik Fia ketakutan melihat Bang Rakit baku hantam menghajar pemuda urakan tersebut.


Pihak keamanan pun berlarian melerai perkelahian. "Ikut kami ke pos security..!!!!"


...


"Nggak usah banyak bicara kalian..!! Kalau kalian tidak membuat masalah lebih dulu. Saya juga tidak akan menghajar kalian..!!" Bentak Bang Rakit.


"Bang.. jangan marah-marah lagi. Fia nggak apa-apa kok. Nggak tersenggol kok" kata Fia.


"Ya tapi matanya itu jelalatan lihat kamu. Nggak sopan..!! Pengen Abang congkel saja matanya yang kurang ajar itu. Lancaaang..!!!!!" jawab Bang Rakit membuat para pemuda itu beringsut ketakutan.


Beberapa orang kepala security datang menghampiri pos dan akhirnya mereka memberi hormat pada Bang Rakit. "Selamat malam komandan..!!"


"Malam..!!! Kalian tangani itu anak-anak ABG kurang pengalaman itu" perintah Bang Rakit.


"Siap Komandan..!!" Kata seorang kepala security yang sebenarnya mendapat penghasilan tambahan dari Bang Rakit karena menjaga keamanan mall. Tak ada kegiatan yang terganggu jika semua terkoordinasi dan tidak menggangu jam dinas. "Bisa saya catat tadi ada kejadian apa Dan?"


"Keempat kutu kupret ini mengganggu istri saya..!!" Ucap Bang Rakit kemudian membawa Fia pergi dengan rasa jengkel masih mengendap di ubun-ubun kepala.


:


"Abang.. Terima kasih banyak sudah membantu Fia. Tapi Abang nggak perlu merendahkan diri hanya untuk wanita seperti Fia"


"Apa maksudmu?"


"Kamu keberatan?" Tanya Bang Rakit.


"Fia hanya akan merepotkan Abang dengan status Fia. Apalagi Fia sedang hamil"


"Lalu apa mau mu??"


"Tolong menjauh lah dari Fia. Fia tidak ingin ada hati yang terluka karena ucapan Abang seperti tadi. Pangkat seorang Kapten.. rata-rata pasti sudah beristri. Fia pun tau.. Bang Zeni pasti akan sakit hati melihat istrinya dekat dengan pria lain"


"Jika kamu menolak hadirnya Abang.. Abang mengerti. Setelah mengantarmu nanti. Abang tidak akan muncul di hadapanmu lagi..!!" Ucap Bang Rakit.


...


Fia sudah memilih beberapa pakaian dan berniat membayarnya tapi pihak kasir menolak.


"Ada apa mbak?"


"Khusus wanita yang bernama Nafia, dengan penulisan nama yang sesuai tersebut.. Salah satu pemilik bisnis keluarga ini tidak mengambil biaya apapun." Jawab kasir.


"Begitukah? Kenapa hanya Nafia saja?" Tanya Fia.


"Benar ibu. Sepertinya karena Pak Seno sangat mencintai wanita bernama Nafia"


Fia tertegun tapi kemudian tersenyum. "Tolong katakan pada beliau, terima kasih banyak. Semoga rejekinya berlipat ganda, selalu sehat dan selalu bahagia bersama ibu Nafia"

__ADS_1


"Aamiin..!!" Ucap seluruh staff toko baju yang mendengarnya.


"Aamiin..!!" Suara Bang Rakit pelan tapi masih terdengar di telinga Fia sampai bumil menoleh padanya. "Allah akan selalu mengabulkan do'a yang baik" imbuh Bang Rakit tanpa memandang wajah Fia.


...


Bang Rakit memandangi langkah Fia yang masuk ke dalam rumah dinas jabatan Papanya.


"Jaga dirimu dek. Sehat selalu ya..!!" Pamit Bang Rakit sebelum meninggalkan rumah.


"Iya Bang, terima kasih" jawab Fia.


\=\=\=


"Ijin Dan. Ibu Fia berjalan kaki di taman sendirian karena bapak dan ibu panglima sedang keluar kota" laporan Serda Bastian.


"Lalu posisimu??" Tanya Bang Rakit.


"Ijin Dan.. saya sedang di pos"


"Di pos?????? Kamu biarkan Fia jalan sendirian di pagi buta??????? Di ujung jalan banyak preman Bas..!!!!!! Cari Fia sekarang. Sempat Fia lecet sedikit saja.. saya tempeleng betul kamu Bas..!!!!!" Ancam Bang Rakit.


"Si_ap Dan..!!" Nyali Serda Bastian sedikit ciut karena ancaman Kapten berdarah dingin. Terdengar sambungan telepon sudah terputus.


"Kenapa Bang?" Tanya Prada Alvin yang baru saja tiba dari patroli kediaman.


"Aku baru tau kalau penjagaan terhadap ibu Fia seketat itu"


Prada Alvin pun terkikik. "Bang.. Baang.. ibu Fia yang meleng tersandung batu di depan rumah.. jalan itu langsung di aspal. Memangnya Abang kira jalan di depan jadi rapi tanpa kerikil itu permintaan siapa??? Kapten Rakit lah. Setiap pagi piket jaga harus menyapu pelataran supaya Bu Fia nggak sakit saat berjalan-jalan di sekitar rumah. Kalau Abang masih belum percaya.. tanya saja sama petugas di rumah sakit juga. Ibu Fia mengusap punggung.. team dokter di salahkan.. padahal sudah jelas bumil memang sering sakit punggung"


"Sampai segitunya???"


"Eehh nggak percaya. Kapten seperti kehilangan akal setiap menghadapi ibu Fia. Sudah kapten Rakit itu dinginnya setengah mati, pelit senyum, ngomong sepatah kata. Anak-anak di asrama tuh nangis jejeritan lihat wajah Kapten Rakit yang seperti teror. Ini nih ya, ibarat kata Bu Fia tersenggol sedikit saja.. kita satu markas bisa the end terbawa-bawa. Lihat nih saya. Pakarnya langganan di sambar gledek" tawa Prada Alvin mengisi seisi ruangan pos kecil di depan kediaman.


"Mati aku..!!!!!" Serda Bastian menepuk dahinya.


"Ada apa sih Bang??"


"Bu Fia jalan sendirian ke ujung jalan" jawab Serda Bastian.


"Aduuuuh Baaaang, ayo kita susul. Jangan sampai Bu Fia tertimpa debu. Bisa di gantung kita berdua..!!" Prada Alvin ikut kelabakan bersama Serda Bastian.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2