
Dengan dalih membangun mainan anak-anak di lokasi kompi, Fia sengaja mencuri kesempatan untuk membahas acara besok untuk kedatangan Panglima. Disana sama sekali tidak ada anggota batalyon. Seluruh istri anggota yang sibuk hanya berasal dari anak ranting kompi yang Fia pimpin.
"Siap ibu, semua sudah beres" Jawab Bu Nurdin saat Fia menanyakan kesiapan acara besok di Matra darat.
"Terima kasih banyak Bu, besok kita hanya perlu berangkat untuk hari H" kata Fia. "Besok tolong jangan membahas apapun di hadapan suami saya. Katakan saja kita memang bekerja sama dengan pihak batalyon" arahan dari Fia.
"Siap ibu"
"Ada pekerjaan apa yang kamu bicarakan???" Tegur Bang Rakit tiba-tiba. Entah sejak kapan Danki sudah muncul di belakang mereka.
Fia gugup bukan main lalu mengambil kertas rancangan kerja yang masih ada di tangan Fia.
Bang Rakit membacanya satu persatu dengan sangat teliti. "Semuanya bisa keluar. Tolong tinggalkan saya bersama Bu Danki..!!" Perintah Bang Rakit.
~
Braaakk....
Sekuatnya Bang Rakit menendang meja karena jengkel dengan apa yang sudah Fia lakukan. "Kamu melangkahi Abang???? Mati-matian Abang jaga kamu tapi kamu diam-diam punya urusan sama istri Najib itu. Apa maumu? Kamu pikir siapa yang akan sakit hati dan pontang panting mikir kalau ada apa-apa sama kamu.. Abang dek.. Abang yang paling sakit hati" bentak Bang Rakit.
Fia sudah mual setengah mati mendengar suara kasar dari Bang Rakit dan itu semua sukses membuat Bang Rakit jengkel karena harus merendahkan suaranya saat emosinya sedang meninggi.
"Jangan teriak Bang..!!" Susah payah Fia memintanya pada Bang Rakit.
"Sekarang apalagi?? Alasan nggak kuat dengan suara Abang???" Akhirnya suara itu semakin meninggi dan terlepas dari bibir Bang Rakit.
Tak lama mengucur cairan berwarna merah dari hidung Fia sampai dirinya lemas.
"Astagfirullah.. dek..!!!!!" Bang Rakit kelabakan, ia mengambil tissue di meja kerja Fia lalu mengusap hidung istrinya. "Kamu masih nggak enak badan dek?? Bilang sama Abang..!!"
Karena terlalu banyak darah yang mengucur, Fia sampai gelagapan tidak bisa bicara.
"Sayaaang.. kita pulang ya..!!!" Sambil menyandarkan Fia pada pundaknya.. Bang Rakit tetep telaten membersihkan lelehan darah dari hidung Fia.
"Fia nggak tau Bang, seluruh badan Fia rasanya sakit, Fia mual, pusing.......... Hhkkkk..!!!" Fia kembali mual sampai tubuhnya menegang.
__ADS_1
"Lailaha Illallah.. cek lab seluruh badan..!!" Bang Rakit menggendong Fia keluar dari ruangan. "Alviiiiiiinn..!!!" Teriak Bang Rakit dari luar ruangan Fia.
"Siap..!!!" Sambil berlari, Om Alvin menghampiri Dankinya. "Ijin arahan Dan..!!"
"Siapkan mobil.. saya mau ke rumah sakit..!!"
:
"Hasilnya besok Kapten..!!"
"Kenapa harus besok.. saya maunya sekarang juga..!!" Suara Bang Rakit mulai menggemparkan seisi ruang tunggu rumah sakit hingga beberapa anggota dan dokter datang menghampiri Bang Rakit.
"Ya Bapa kami.. ada apa sih????" Dokter Ari menegur anggota di rumah sakitnya.
"Siap salah dokter. Kapten Rakit meminta hasil lab nya sekarang tapi Kepala rumah sakit sedang tidak ada si tempat." Jawab seorang anggota rumah sakit.
"Rakiiiiiiittt?????? Oohh Tuhan.. kau lagi. Ada masalah apa sih sampai kau marah-marah di rumah sakitku?????" Dokter Ari sampai pusing jika Kapten Rakit sudah bertandang di wilayah kerjanya.
"Siap salah Abang.. saya hanya mau lihat hasil lab riwayat kesehatan istri saya Bang"
"Kepala rumah sakit tidak ada. Malam baru datang kesini. Besok saja pagi sekali saya antarkan ke kompimu..!!" Bujuk dokter Ari agar Kapten Rakit tidak semakin membuat keributan.
Setelah mendengar suara Fia barulah Bang Rakit mau tenang.
"Ya sudah.. besok pagi saya mau lihat hasilnya ya Bang, karena saya mau ada acara kunjungan panglima di kantor pusat Matra darat" Bang Rakit akhirnya bisa sedikit berbesar hati.
-_-_-_-_-
"Mama Aban Asen sakit Pa?" Tanya Arsene saat melihat mamanya tidur di saja di kamar.
"Iya, Abang Arsene main dulu sama Papa nggak apa-apa khan? Sekarang kita ngaji dulu yuk.. do'akan Papa Zeni biar tenang di surga" jawab Bang Rakit sembari menasihati putranya.
"Papa sayang Aban Asen??"
"Sayang donk.. sayang sekali." Bang Rakit menciumi putranya lalu memeluknya.
__ADS_1
"Aban juga sayang Papa. Jangan kerja lagi ya Pa" pinta Arsene yang sangat takut jauh dari Papanya.
"Papa harus kerja le.. dan laki-laki wajib kerja. Besok Abang juga harus begitu. Itu namanya tanggung jawab pada keluarga. Kalau Papa nggak kerja.. Bang Arsene nggak bisa beli jajan donk. Bagaimana bisa beli baju Ultraman kalau Papa nggak kerja" jawab Bang Rakit. Ia memang ingin mengajarkan tanggung jawab dan kemandirian pada putranya sejak dini.
"Iya Papa. Aban juga kerja"
"Pintaar.. habiskan dulu susu botol nya, setelah itu kita ngaji.. oke jagoan????" Bang Rakit mengarahkan tinjunya, tinju ala pria sejati yang pantang ingkar janji sampai Arsene menyambutnya.
...
Arsene sudah tidur pulas di sudut ranjang. Putra kecil Bang Rakit memang tidak bisa diam dan memang bakat merajai wilayah ranjang sampai terkadang sang Papa harus mengalah tidur di tepian ranjang yang hanya muat untuk badannya saja karena Fia pun ikut mepet tidur di lengannya.
"Dek, bangun sebentar..!!" Bang Rakit mencium pundak Fia yang wangi meskipun hari sudah sangat malam.
Fia menggeliat merespon kecupan Bang Rakit. Refleks Fia menurunkan tali dress-nya. "Jangan lama-lama ya Bang, Fia capek" kata Fia mengundang senyum geli Bang Rakit.
"Abang nggak minta jatah sayangkuu.. Abang buatin kamu sup ayam, jamur sama jagung biar perutmu hangat" Bang Rakit membantu Fia untuk duduk. "Cepat sehat ya, sini Abang suapin...!!"
Fia tersenyum, wajahnya memang sangat pucat membuat Bang Rakit semakin tidak tega.
"Besok Abang yang temui istri Najib itu. Abang mau bicara langsung sama si gembrot itu" kata Bang Rakit.
"Nggak usah Bang, Fia selesaikan sendiri saja. Ini urusan perempuan" jawab Fia.
Darah Bang Rakit sudah merangkak naik, namun ia mengingat Fia tidak bisa mendengar suara tinggi dan kasar darinya. Ia pun menahan suaranya yang sudah mirip bass pecah. "Kalau kamu memang bisa menyelesaikan nya pasti sudah kamu tolak perintah si gembrot. Lalu apa alasan mu menuruti perintah dia daripada permintaan Abang???"
"Kalau Fia tidak turun tangan, Fia tau Bu Najib akan menyusahkan anggota kita. Banyak yang ada kan jadi korban kalau Fia tidak mengalah dan pekerjaan akan semakin banyak. Batalyon yang tersorot.. maka para anggota juga kena imbasnya." Jawab Fia.
Bang Rakit berpikir sejenak, memang ada benarnya ucap Fia. Jika Bu Najib mendapat masalah maka ia akan semakin menekan anak buahnya. Ia menyuapi Fia sup yang sudah hangat.
"Abang terima alasanmu. Kamu mungkin tidak bisa dan tidak sanggup menghentikan ulahnya, tapi Abang sanggup. Suamimu ini yang akan menyelesaikan..!!" Ucap tegas Bang Rakit. "Ini sudah urusan di luar jalur kedinasan dan organisasi."
.
.
__ADS_1
.
.